
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
"Kamu tidak perlu terus mengucapkan terima kasih, dengan tersenyum seperti ini saja, itu sudah cukup untukku."
indah terdiam mendengar ucapan Adnan.
"Hari ini sangat berat dalam hidupku kak, aku sangat sedih karena seseorang memperlakukan ku seperti itu, aku..." Mata Indah mulai berkaca-kaca kembali.
"Tolong jangan bersedih lagi Indah. Aku tidak ingin melihatmu menangis."
"Aku tahu yang kak Ayu lakukan ini bukanlah hal yang benar, tapi aku juga memahami mengapa dia melakukan ini semua. Kak Ayu marah karena dia salah paham tentang kita. Kita memang jarang bersama kak, tapi kak Adnan selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan, di saat aku sedang dalam masalah. Kak Adnan selalu membantu ku, dan itu yang membuat kak Ayu merasa tidak suka, dia mungkin cemburu kak, rasa sayangnya untuk kak Adnan sangat besar, dan......"
"Tapi aku tidak pernah mencintai dia Indah." Adnan menatap Indah lekat, Indah mengalihkan pandangannya.
"Dan apakah aku akan melihatmu diperlakukan seperti itu oleh mereka?
"Bukan seperti itu kak, aku hanya...."
"Kita tidak perlu membahas mereka lagi. Aku janji sama kamu hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, dan Ayu juga teman-temannya akan mendapatkan hukuman atas apa yang telah mereka lakukan."
"Maksud kakak?"
"Hhmm.... tidak ada, kamu tidak perlu memikirkannya."
Indah terdiam, suasana hening sejenak. Indah tampak Ragu melanjutkan percakapan itu. Ia tampak gugup meminum minumannya.
"Ii... ini sangat enak." Ia berkata-kata pelan, berusaha mencairkan suasana.
Adnan tersenyum ke arahnya.
'Anda bisa ku katakan padamu bahwa aku sangat bersyukur telah mengenalmu. Kamu memang bukan teman ataupun seorang sahabat yang menemani hari-hariku, namun lebih dari itu. Entah mengapa kamu selalu ada di saat aku membutuhkanmu. Dan hari ini aku yakin Allah telah mengirim kamu untuk menyelamatkanku. Entah apa jadinya jika kamu tidak datang. Sungguh andai aku memiliki keberanian untuk mengatakan semua ini kepadamu kak Adnan.' Indah menatap wajah laki-laki itu sebentar.
Beberapa saat kemudian...
"Indah, lihat!" Adnan menunjuk ke depan.
Indah yang sedang sibuk melihat sekelilingnya segera mengarahkan pandangannya ke arah Adnan menunjuk.
Ia terdiam sejenak, terpana menyaksikan pemandangan di depannya.
"Inilah yang ingin ku perlihatkan padamu, Indah bukan? Seperti namamu." Ucap Adnan tersenyum pada Indah.
"Masya Allah, sangat Indah kak." Indah balas tersenyum.
Di depan mereka kini terlihat 2 pemandangan yang sangat menakjubkan. Pertama hamparan laut biru yang begitu luas, kedua Indahnya sunset sore yang terlihat di langit itu. Warna jingganya memenuhi angkasa, pertanda mentari kembali menghilang di bawah garis cakrawala.
__ADS_1
"Kak Adnan tahu, aku sangat menyukai senja. Aku selalu melihatnya dari balik jendela kamarku. Sangat Indah, tapi hari ini jauh lebih Indah."
"Hampir semua orang memang menyukainya, aku pun seperti itu."
"Terkadang senja menyimpan hal tersendiri bagi seseorang kak. Yah, ada hal istimewa tentangnya sejak aku pertama kali datang ke kota ini." Indah tersenyum menunduk.
Mereka berdua terdiam, menikmati senja hari itu, menyimpan perasan yang terpendam.
...***...
Indah pulang saat Masjid telah berbunyi, menandakan sholat Maghrib akan tiba. Ia mengetuk pintu ragu-ragu.
"Assalamualaikum." Indah mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." Bu Dania datang dengan terburu-buru, membuka pintu dengan cepat.
"Indah kamu dari mana saja nak? Mama sangat khawatir sama kamu." Bu Dania memeluk Indah.
"Maaf ma, Indah pulang terlambat." Indah tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Ayo masuk dulu!' Perintah Bu Dania.
"Ma, Indah sholat Maghrib dulu yah, Sudah adzan."
Sebelum Bu Dania sempat berbicara dan akan mengajukan banyak pertanyaan, Indah segera mengalihkan perhatiannya.
"Ya sudah kamu mandi dulu, ganti baju terus sholat yah. Setelah itu kita makan malam"
"Baik Ma." Indah mengiyakan, menorehkan senyum dengan terpaksa.
Di kamar, Indah segera mandi dan mengganti pakaiannya. Kemudian melaksanakan sholat Maghrib. Setelah itu, Membaca Al-Qur'an selama 20 menit. Setelah selesai, ia duduk di lantai menyandarkan dirinya di tempat tidur, masuk dalam lamunan tentang kejadian di pantai dan di sekolah tadi.
...~~~...
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Ibu dan ayahmu mungkin mencemaskan mu sekarang."
Indah terdiam, mendengar kata Ayah dari Adnan.
"Indah!" Adnan menyadarkan lamunannya.
"Ehh,, iya kak, ayo!" Indah dan Adnan kembali berjalan menuju tempat mereka memarkirkan sepeda motor. Sambil berjalan Indah mengambil handphone di tasnya.
"Ternyata handphone ku mati, ibu pasti menelpon ku terus tadi." Ia cemas, berbicara pada diri sendiri.
"Aku akan mengantarmu sampai di depan rumahmu."
"Tidak perlu kak, aku bisa sendiri."
"Jangan menolak Indah, aku akan memastikan kamu baik-baik saja sampai rumah, agar aku juga merasa........" Adnan menghentikan ucapannya.
"Kenapa kak?"
'Agar aku juga merasa tenang.' Adnan bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ayo!"
Indah tersenyum, mengangguk pelan mengiyakan.
...~~~...
"Terima kasih banyak Ya Robbi, Allah telah menolong ku melalui kak Adnan." Indah terisak mengingat saat Ayu menampar pipinya, meringkuk memeluk lututnya. Indah sangat takut jika Ayu melakukan hal itu lagi padanya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuatnya tersentak, Indah yang masih menggunakan mukena segera melepasnya, kemudian segera menghapus air matanya.
"Indah!" Bu Dania memanggil.
"Indah, makan dulu nak!"
"Iya ma sebentar, mama duluan saja nanti Indah menyusul." Indah takut, jika ia keluar sekarang maka akan ketahuan jika ia sedang menangis.
"Baiklah, cepat yah nak! Nanti makanannya dingin loh."
"Iya ma."
Indah segera masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya. setelah keadaannya lebih baik ia segera menuju meja makan.
"kenapa tadi kamu pulang terlambat Indah? Mama sangat khawatir sama kamu. Mama telepon kamu terus, tapi hp kamu tidak aktif. " Bu Dania membuka percakapan di meja makan.
"maafin indah ya mah. In..Indah... tadi pulang terlambat karena.... karena nolongin Sinta." Jawab Indah berbohong.
"Memangnya Sinta kenapa nak?"
"Itu... itu ma, Anting.... yah, anting-anting Sinta." Indah gugup mencari alasan.
Bu Dania mengernyitkan dahi, menghabiskan makanan di mulutnya lalu kembali bertanya.
"Memangnya Sinta kenapa nak?"
"Anting-anting Sinta kenapa?"
"Iya ma, anting-anting Sinta kemarin hilang di sekolah. Jadi dia memintaku untuk membantunya mencari di kelas tadi."
"Tapi setahu mama Sinta tidak memakai anting Indah. Yah, dia kan sudah beberapa kali main ke rumah, dan mama perhatikan dia tidak pernah memakai anting nak." Selidik Bu Dania.
Indah bingung, berusaha keras untuk berpikir.
"Iya ma Sinta juga baru beberapa hari ini memakainya."
"Kalau antingnya hilang kemarin kenapa dia baru mencarinya Indah?"
Indah menelan ludah, dia dalam masalah besar dengan terus berbohong.
"Aku juga tidak tahu ma. Ah mama, mama menanyakan semua itu seperti seorang detektif saja." Indah tersenyum kaku.
"Mama cuma khawatir sama kamu sayang, kamu kan belum begitu tahu tentang jalan-jalan di kota ini."
__ADS_1
Bu Dania tersenyum.