
Sekarang Indah berada di rumah Sinta, meski berada di rumah besar nyatanya gadis itu juga tidak bisa tenang. Terutama ia memikirkan Adnan dan David yang kini mungkin sedang menghadapi masalah di rumahnya. Ia yang terduduk di sofa mini itu terus saja menggigiti kukunya karena khawatir.
Sinta yang baru saja keluar dari kamar mandi memperhatikan Indah.
“Indah kalau kamu gigitin kuku kamu terus, lama-lama jari kamu juga tinggal separuh, mau?” Ucap Sinta menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah.
“Aku sedang tidak ingin bercanda Sinta. aku begitu khawatir memikirkan kak Adnan dan kak David di sana, kamu jangan mencoba membuatku tertawa.” Ucap Indah tapi masih dengan kegiatannya sebelumnya.
Yah, gadis polos itu memang memiliki kebiasaan aneh, saat dia merasa takut atau mengkhawatirkan sesuatu maka ia akan menggigiti kuku-kuku jarinya. Untung saja kukunya gak panjang, bisa jadi akan banyak kuman di sana (hahaha).
“Anak ini, siapa juga yang sedang mengajaknya bercanda, aku kan memang mengatakan hal yang benar.” Bisik Sinta, sejujurnya dia tidak nyaman melihat tingkah Indah yang terus menggigit kukunya itu.
“Aduh… aku mau ke rumah saja yah Sin, aku khawatir….” Indah beranjak dari tempatnya duduk.
Melihat itu Sinta dengan cepat menghentikannya.
“Ehh… kamu mau ngapain.” Sinta menghalangi di pintu kamar.
“Aku mau lihat keadaan kak Adnan dan kak David, aku gak bisa tenang kalau begini terus. Kalau benar ada penjahat bagaimana? Kalau mereka kenapa-napa gimana? Aku tidak mau merasa bersalah seumur hidupku Sin. Membahayakan hidup orang lain demi aku.” Marah Indah.
“Huufftt..” Sinta menghembuskan nafas kasar.
“Sekarang gini.” Sinta mendekati Indah dan membawanya kembali duduk di sofa.
“Tapi…”
“Udah dengerin dulu.”
“Kak David dan kak Adnan itu bisa menjaga diri mereka sendiri. Mereka tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang akan mereka hadapi. Kamu belum tau saja, aku, Kak David dan kak Adnan itu pernah bersama dalam satu perguruan Karate. Gini-gini kami semua sudah memegang sabuk hitam loh. Apalagi kak Adnan, wah di antara kita bertiga dialah yang paling hebat, sering memenangkan kejuaraan entah sudah yang ke berapa kalinya, jadi kamu tidak usah mengkhawatirkannya.” Sinta menjelaskan.
“Tapi… tetap saja kan, kalau penjahat itu bawa senjata bagaimana?”
Plak
Sinta memukul kepala Indah….
“Auugghh… Sinta sakit tahu!” Marah Indah memegang kepalanya.
“Habisnya kamu juga bikin aku tambah kesel aja, dari tadi tuh, aku sudah berusaha menjadi perempuan yang anggun dan menjelaskan dengan baik sama kamu. Tapi kamu malah mikir macam-macam.”
Indah cemberut….
“Kan aku hanya mengutarakan sesuatu yang mungkin saja terjadi, kamu jangan galak gitu dong, kalau kepala aku yang kamu pukul terus, lama-lama aku biasa oon kayak kamu.”
‘Eh, apa itu tadi, sebuah permohonan untuk tidak memukulnya lagi, atau dia sedang mengejekku? Sabar Sin… sabar…’ Batin Sinta.
__ADS_1
“Huufftt…. Indah, udah yah, kamu jangan ngomong lagi, sebelum tanganku ini mendarat di dahi kamu, mau?!” Ancam Sinta.
Indah dengan cepat menggeleng, menutup dahinya.
“Nah gitu dong, kamu tentang saja, aku yakin mereka akan baik-baik saja.” Ucap Sinta.
Indah mengangguk.
‘Aamiin.’ Ucapnya berbisik.
…
“Kamu udah siap kan, untuk semua resiko yang mungkin akan kita hadapi?” Adnan berkata.
Saat ini ia dan David masih berada di ruang tamu, mereka baru saja pulang dari Masjid untuk sholat isya, David yang biasanya masih bolong-bolong dalam sholatnya mendadak rajin selama 2 hari ini, karena Adnan yang selalu mengajaknya untuk ke Masjid. Ingin menolak pun rasanya gengsi yah…
“Iya lah, kalau aku gak siap, untuk apa aku di sini sekarang.” David nyolot.
“Aku kan hanya bertanya, kalau nanti keadaannya tidak memungkinkan kamu harus segera pergi dari sini.”
“Hei, aku bukan cowok pengecut yang akan melarikan diri dari medan perang.” David membusungkan dadanya.
Melihat itu Adnan tersenyum geli.
“kita akan menghadapi penjahat, itu kan sama saja.”
“Yaahh… terserah kamu saja lah…” cowok itu melipat kedua tangannya di dada.
“Jadi rencana kamu gimana?” Tanya David.
Adnan menyenderkan tubuhnya, berpikir.
"Jika memang mereka akan datang malam ini, bukankah kita juga sudah bahas kalau mereka pasti akan mencari Indah. Jadi harus ada yang tidur di kamar Indah sebagai umpan dan yang lain akan menyerang mereka dari belakang.”
Setelah mengatakan hal itu Adnan dan David saling tatap sejenak sebelum mereka akhirnya bersamaan berlari menuju kamar Indah. Mereka berdua saling dorong saat akan masuk ke kamar terebut.
“Aku saja yang tidur di sini Adnan. Aku yang akan berpura-pura menjadi Indah.”
“Tidak, aku yang akan berada di sini.”
“Oh, ayolah tidak usah berdebat kalau penjahat itu datang bagaimana? Kita bisa ketahuan sekarang. Kau akan menggagalkan rencana kita.” David mencari alasan. Pemuda itu sudah akan duduk di tempat tidur Indah. Namun Adnan dengan sigap menarik kerah bajunya, menghentikannya.
“Nan, kamu ngapain sih?” Mencoba melepaskan diri dari Adnan.
“Dengar yah, penjahat itu tidak akan datang di jam seperti ini, tapi mereka pasti akan datang saat semuanya sepi. Itu berarti ya tengah malam, dan jika kamu yang ada di kamar ini, kamu akan benar-benar di culik penjahat itu karena apa? Karena saat itu kamu sudah ada dalam dunia mimpimu sendiri.”
__ADS_1
“Ck.” David akhirnya terdiam mendengar itu. Adnan memang benar jika dia tetap memaksa bisa-bisa ia mengacaukan semuanya. Sebab jika kepalanya sudah menyentuh bantal tunggu beberapa menit saja, lelaki itu pasti akan tertidur.
“Nah kan!” Adnan tertawa.
“Kamu tidak akan bisa begadang, dasar tukang tidur.” Mengejek.
“Yah… yah… yah… oke aku ngalah, puas!” Cemberut.
Adnan tertawa kecil, memilih duduk di tempat tidur. Cowok itu sangat puas melihat wajah David saat ini.
“Udah sana keluar, sebaiknya kamu duduk di sofa saja, jika sudah mendengar ada pergerakan cepat sembunyi. Dan satu lagi, jangan sampai berbaring, cukup duduk saja.” Adnan serius.
“Iya iya, bawel banget kayak cewek.”
Adnan mendengus mendengar itu, namun sebelum David akan beranjak ia jadi teringat sesuatu. Ia kembali membalik badannya.
“Oh iya nan,”
“Apa lagi sih?”
“Kalau kamu berpura-pura menjadi Indah seharusnya kamu pakai jilbab dong, penjahat itu tidak akan percaya jika melihat perempuan dengan potongan rambut sepertimu itu, iya kan….. hem hem.” David menggoda.
‘Aduh, kenapa aku gak kepikiran itu sih.’ Batin Adnan, cowok itu terdiam.
David mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Tak lama, pandangannya tertuju pada sebuah mukenah putih di atas tempat tidur.
“Nah, ini nih cocok buat kamu pakai.” Ucapnya dengan tawa memegang mukenah itu.
Tak ada pilihan lain, Adnan hanya bisa pasrah membiarkan David kini memakaikan mukenah itu untuknya.
Sedetik kemudian…
“Whahahhhh…” Tawa David pecah melihat tampang Adnan kini.
“Kamu lucu banget, kamu terlihat cantik dengan mukenah itu nan, hahhh….” Tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perutnya.
Adnan hanya terdiam dengan ekspresi dinginnya.
“Tunggu… tunggu sebentar yah, ini harus di abadikan.”
Cekrek
“Wah… cantik sekali, memperlihatkan foto itu pada Adnan.”
“David!!! Keluar gak sekarang!” Marah Adnan, memukul David dengan bantal berkali-kali. Begitu berhasil lepas dari kemarahan sahabatnya itu, David segera berlari dengan tawanya, meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1