
Lelaki itu cukup terkejut dengan sikap Indah. Rupanya wanita yang ada di depannya saat ini begitu berbeda dengan kebanyakan wanita yang ia temui. Mengatur kembali raut wajahnya yang sempat di buat kicep karena tak sengaja melihat wajah Indah dari balik kain hitam itu.
Sungguh, untuk pertama kalinya ia di buat takjub oleh seorang wanita. Dan ia rasa ia telah jatuh cinta padanya, rasa ingin memiliki menguar dalam dirinya, ia harus mendapatkan wanita itu.
"Namaku Dimas Aksara, aku adalah wali dari murid anda Naya Clarissa." Ucapnya memperkenalkan diri.
Indah masih menatapnya dingin.
"Pagi ini aku melihat kaki Naya terluka, jadi.... Jadi aku ingin tahu apa yang terjadi?" Gugup.
'Si*l, kenapa aku jadi gugup begini, baru pertama kali aku seperti ini menghadapi perempuan, oh Dimas ayolah.' Merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Kemarin Naya terjatuh saat bermain kejar-kejaran bersama temannya Pak."
'Pak? Apa aku sudah setua itu?' Kesal.
"Lalu? Anda kan wali kelasnya, seharusnya anda bisa melindungi anak-anak murid anda kan, bukannya anda harusnya selalu ada di samping mereka, saya tidak terima jika keponakan saya terluka." Kembali pada mode angkuhnya.
"Pak sebelumnya saya minta maaf atas apa yang terjadi kemarin. Saya memang wali kelas untuk murid-murid saya, tapi saya juga tidak bisa selalu mengawasi mereka, adakalanya saya harus berada di sini untuk mengerjakan pekerjaan lain, lagi pula mereka anak-anak. Mereka perlu bermain, mengeksplor banyak hal, tidak mungkin kan saya melarang mereka untuk bermain. Tapi yah... Mungkin kemarin juga kelalaian saya, untuk itu saya minta maaf, lain kali saya akan lebih berhati-hati." Masih berbicara dengan datar.
Pembicaraan itu berlangsung cukup lama, dengan Dimas yang ingin agar Indah melarang Naya untuk bermain kejar-kejaran lagi. Indah tidak terima, anak-anak harus tetap bermain karena itulah sifat alami mereka. Melarang mereka malah akan menimbulkan dampak yang tidak baik.
Untuk beberapa lama kemudian, akhirnya Dimas menyerah, perempuan di depannya itu memang cerdik. Mampu memberikan semua jawaban dan meyakinkan dirinya, baiklah ia akan mengalah untuk saat ini.
Kembali pada mode dingin, ia berpamitan pada Indah.
"Terima kasih karena sudah mengobati luka ponakan saya." Hasil dari pembicaraan yang tadi.
"Tentu, itu sudah menjadi tugas saya." Indah menjawab tak kalah dinginnya.
"Saya permisi."
Hanya anggukan kepala yang di lakukan oleh gadis itu.
__ADS_1
...
Daniel yang baru kembali ke mansion setelah bertemu dengan keluarganya itu kembali di buat bingung dengan Adnan yang belum juga ada di rumah itu.
Jangan bilang untuk menelponnya, ia sudah berkali-kali melakukannya, bahkan panggilnya mungkin sudah hampir untuk yang ke-90 kalinya, tapi bosnya itu tidak juga mengangkat teleponnya.
Bertanya pada orang-orang di mansion pun percuma, mereka juga tidak tahu di mana keberadaan Tuannya. Ia hanya pergi pagi kemarin dan belum datang sampai sekarang. Sopir yang Daniel tanya pun tak memiliki jawaban, karena Adnan memilih untuk membawa mobilnya sendiri.
Daniel kembali masuk ke kamar dengan kesal. Sekali lagi mencoba ingin menghubungi Adnan, berdering, pria itu menunggu.
"Halo, Assalamualaikum." Suara Adnan di seberang telepon membuat Daniel bernafas lega.
"Kamu dari mana saja sih Adnan, dari kemarin aku terus menelpon mu tapi tidak kamu angkat, ada apa? Apa terjadi sesuatu? Kenapa tidak memberitahuku dulu?" Rempong.
"Iya maaf aku lupa mengabari mu." Adnan berbicara sembari keluar dari ruangan ibunya, tak ingin mengganggu Bu Ratih yang sedang tidur, memilih untuk duduk di taman rumah sakit.
"Kau ini, mentang-mentang sudah di Indonesia sampai melupakanku, apa terlalu sibuk dengan kakak ipar?" Menggoda namun setengah kesal.
"Kakak ipar?" Tidak mengerti.
"Sudahlah, jangan membahas hal yang tidak-tidak. Ada apa kamu menelpon ku?"
"Aku menelpon mu karena kamu atasanku, aku ini sekertaris pribadi yang harus selalu ada di sisimu. Apalagi kamu pergi sendiri tanpa pengawalan." Mendramatisir.
Adnan menghela nafas.
"Tugasku ini sangat penting untuk menjaga kamu tetap..."
"Daniel..." Penuh penekanan.
"Iya iya, huh." Kesal.
"Sekarang kamu di mana? Aku ke sana sekarang."
__ADS_1
"Rumah sakit." Jawab Adnan pendek.
Daniel begitu terkejut mendengarnya, pria itu mulai bertanya mengapa Adnan bisa ada di sana? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi? Apa kamu terluka?Bertanya terus menerus tanpa memberi kesempatan pada Adnan untuk menjawabnya.
Beberapa saat heboh sendiri tanpa adanya jawaban dari bosnya itu ia mulai terdiam juga, melihat kembali ke layar ponsel, memastikan bahwa telepon itu masih terhubung.
"Halo, halo, Adnan."
"Aku baik-baik saja, bukan aku yang sakit tapi mamaku. nanti ku kirimkan alamat rumah sakitnya kalau kamu mau berkunjung. Assalamualaikum." Menutup telepon.
"kebiasaan main tutup-tutup telepon saja. Huh, emang enak yah jadi bos, akan selalu di khawatirkan sama bawahannya." Menggerutu.
Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk di ponselnya. Pesan dari Adnan, bertuliskan nama rumah sakit dan kamar yang di tempati oleh Bu Ratih.
"Oh, baiklah tuanku, aku akan ke sana sekarang." Sedikit kesal.
Daniel kemudian menuju rumah sakit dengan beberapa pengawal yang mengikuti dari belakang.
...
Indah menunggu di gerbang sekolah, 15 menit menatap jam di tangannya, namun Farid tak kunjung datang. Moodnya yang sangat berantakan hari ini membawa kakinya melangkah. Gadis itu memberhentikan sebuah taksi, memberitahu supir tempat tujuannya.
"Berhenti di sini pak!" Membayar ongkos taksi dan keluar dari mobil.
Lihatlah apa yang ada di hadapan gadis itu sekarang. Hamparan pasir pantai yang luas, dan lautan yang tak berujung.
Gadis itu mulai melepas sepatunya, berjalan perlahan ke arah pantai. Setiap langkah, setiap jejak kakinya, mengingatkannya pada seseorang.
Kenangan itu kembali mengembara memenuhi jiwanya, yah.... Indah begitu merindukan Adnan, setiap kali ia bertemu dengan seseorang yang sombong atau pun kasar, maka saat itu juga ia kembali teringat oleh Adnan yang lembut dan penyayang. Laki-laki itu walau sudah bertahun-tahun berlalu, Indah masih tak bisa melupakannya.
Gadis itu duduk di atas pasir pantai yang bersih dan berteduh di bawah rindangnya pohon kelapa.
__ADS_1
"Aku begitu merindukanmu kak, entah di mana kamu sekarang. Aku ingin sekali mencari keberadaan mu, mungkin hanya lewat di depan rumahmu, dan berharap nasib baik menghampiri ku sehingga aku bisa melihatmu. Tapi aku tidak memiliki keberanian itu. Aku takut, telah ada wanita lain di sampingmu sekarang." Bisiknya, butiran bening itu kembali terjatuh tanpa di minta.
Oh kasih sayang dua insan yang saling mencintai, nyatanya masih saling menunggu. Ingin bertemu namun berbagai pikiran-pikiran sendiri menghambat pertemuan itu. Cinta kadang membingungkan, saat ia bisa saja meraihnya namun ia pun terus saja mengulur waktu.