
Dania membuka matanya perlahan, silau sinar mentari yang masuk lewat celah jendela membangunkan wanita itu.
“Sstt…” ia mengadu tertahan hendak memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Namun wanita paruh baya itu menyadari sesuatu. Ia terkejut mendapati dirinya yang kini duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang terikat. Memaksakan kesadarannya untuk penuh seketika, walau kepalanya terasa sangat berat. Menatap sekeliling ruangan yang gelap yang hanya disinari secuil mentari. Ruangan yang pengap dan berantakan.
“A… ada apa ini? Di mana ini? Sarah!” Teriak Dania.
“Sarah kamu di mana? Tolong aku!”
“Tolong! Siapapun yang ada di luar.”
Dania terus berteriak, namun gema suaranya hanya kembali padanya . Tak ada yang datang, tak ada yang menolong. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, mengapa sekarang ia ada di rungan ini? Di mana ini? Apa aku masih berada di villa? Lalu apa yang terjadi, mengapa aku di ikat dan di sekap seperti ini? Siapa yang melakukannya?
Semua pertanyaan itu memenuhi kepala Dania. Ia berusaha untuk membuka tali yang mengikat tangannya di masing-masing sisi kursi itu, tapi nihil, ikatan itu terlalu kuat dilepaskan.
Bingung dengan semua yang terjadi, rasa takut mulai menghantui dirinya. Bayangan suaminya yang telah meninggal 2 tahun yang lalu itu kembali hadir, bayangan anaknya yang kini menantinya pulang, ia menangis sejadi-jadinya. Suara pilu itu terdengar mengisi kekosongan ruangan itu. Apa ini adalah akhir dari perjalanan hidupnya?
***
“Eeuugghh….” Sarah yang sudah perlahan bangun itu melenguh.
Wanita itu membuka matanya perlahan, beberapa kali mengedipkannya secara berulang karena penglihatannya yang masih tampak buram. Perlahan langit-langit kamar itu dapat terlihat. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Belum lagi seluruh tubuhnya yang terasa remuk semua, sangat sakit. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya.
“Aku di kamar?” ia bertanya perlahan, Sarah kembali melihat sekelilingnya. Namun kamar itu tampak asing, bukan seperti kamar yang ia tempati sebelumnya, atau ia yang salah mengingatnya?
Saat akan berdiri dari tidurnya, wanita itu tampak shock mendapati dirinya yang tidak memakai apa-apa. Tubuhnya hanya tertutupi selimut merah.
“A… apa ini? Apa yang terjadi?” Sarah panik, ia mendapati bajunya yang semalam ia pakai sudah berhamburan di lantai kamar itu.
“Apa yang sudah terjadi padaku? Siapa yang melakukan ini?” Sarah menangis ketakutan.
Di tengah ketakutannya itu saat ia ingin segera beranjak untuk mengambil bajunya yang sudah berserakan dilantai seseorang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi.
“Oh rupanya anda sudah bangun, selamat pagi nona Sarah.” Sapa Jayadi yang sudah mengenakan pakaian lengkapnya. Ia tampak sudah bersiap-siap.
Melihat bosnya itu, Sarah buru-buru kembali menyelimuti seluruh badannya dengan selimut. Sekali lagi ia di buat schok dan tidak mengerti dengan keadaan ini. Ia tidak mengingat apapun selain makan malam bersama Dania, Jayadi dan Tonson.
Sarah ketakutan mendapati Jayadi yang kini berjalan ke arahnya.
“P… Pak Jayadi? Apa… apa yang anda lakukan di sini?” Tangan Sarah mulai bergetar, ia mundur terduduk di tepi ranjang dengan selimut yang ia pegang rapat-rapat.
“Pak saya mohon bapak keluar dari kamar saya.” Sarah membentak.
__ADS_1
“Hahahhh…..” Jayadi tertawa lepas, kini ia duduk di samping Sarah, nyali Sarah semakin menciut.
“Kamar kamu? Apa kamu tidak bisa melihat sekelilingmu? Apa ini adalah kamar yang kamu gunakan kemarin?”Tanya Jayadi.
Sarah kembali melihat sekelilingnya, memang benar ini bukanlah kamar yang ia gunakan kemarin. Lalu apa yang terjadi? Kenapa dia bisa ada di sana?
“Apa yang sudah bapak lakukan pada saya?” Sarah bertanya tegas. Matanya yang memerah karena amarah dan kesedihan menatap tajam lelaki yang duduk di dekatnya itu.
“Apa kamu tidak ingat semalam? Bukankah kita sudah melalui malam yang indah bersama? Nona… Sarah!” Jayadi menekankan.
“Tidak… tidak mungkin, tidak mungin, hiks… bapak pasti bohong, tidak mungkin hiks...” Sekali lagi Sarah histeris terisak.
Jayadi tersenyum meremehkan, ia beranjak dari tempatnya duduk. Lelaki itu sekali lagi memandang Sarah yang terus menangis dan memegang erat selimut yang ia kenakan.
“Terima kasih untuk malam indah yang sudah kita lewati nona Sarah, hahhhh.” Jayadi tertawa sembari beranjak keluar ruangan.
“Dasar lelaki biadab, kuran*aja*r. kembali kau Jayadi, kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa? Apa salahku padamu? Kembali kau bajin*an!” Teriak Sarah frustasi. Namun sekeras apapun ia berteriak, Jayadi tetap terus melangkah, tak mempedulikan.
“Hiks… hiks…”
Ruangan kembali sepi setelah teriakan Sarah, hanya menyisakan suara tangis yang menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.
***
Indah terbangun saat suara adzan di masjid berkumandang. Fajar di ufuk timur sedikit demi sedikit telah menyingsing.
Awalnya ia bimbang apakah harus masuk sekolah hari ini atau tidak. Bagaimana kalau ibunya marah karena ia membolos hari ini? Tapi demi rasa rindunya itu, ia mengabaikan semuanya. Hai ini ia hanya ingin bertemu dengan ibunya, memeluknya dan meluapkan rasa rindunya.
Setelah mandi dan bersiap-siap Indah segera keluar kamar, ada banyak pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan.
Ia mulai dengan menyapu seisi rumah, kemudian mengepel lantai, mencuci piring, mengelap meja dan kaca jendela yang kotor, kemudian mencuci baju. Setelah semua selesai ia pun kembali ke kamar mengambil ponsel dan tas selempang miliknya, ia akan berbelanja bahan-bahan makanan untuk menyiapkan hidangan spesial untuk ibunya. Tadi sewaktu ia mengecek kulkas di sana hanya ada beberapa sayur yang sudah tampak layu dan tidak segar lagi, 2 butir telur dan beberapa wortel.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk berbelanja di pasar.
Untung saja di jaman sekarang semuanya sudah cukup mudah, tidak ada kendaraan Indah bisa langsung memesan ojek online. setelah mencatat bahan-bahan apa saja yang akan ia beli Indah pun menunggu ojek online itu di depan rumahnya. 5 menit kemudian yang di tunggu-tunggu pun datang ( jodoh kali yang ditunggu-tunggu). Dengan senyum yang terus saja menghiasi bibirnya, Indah pun berangkat.
Skip
Tak begitu lama, 30 menit memilih bahan-bahan makanan Indah telah membeli semuanya, gadis itu lalu bersiap untuk pulang, ia berdiri di tepi jalan, mengeluarkan ponselnya hendak memesan ojek online lagi.
Menekan tombol ponselnya namun tak juga menyala.
“Eh… ini kenapa mati?” terus menekan berulang kali.
__ADS_1
“Ya ampun, jangan-jangan lobet lagi. Kenapa aku tidak memperhatikan baterainya sih tadi.” Ia mengeluh sendiri.
“Naik ojek aja yah, di sini pasti banyak kan.”
(iyalah kan pasar, tukang ojek pasti banyak di sana).
“Nah itu dia.”
“Ojeknya Pak.” Ucap gadis itu melambaikan tangan.
“Iya neng, mau ke mana?” Tanyanya saat sampai di depan Indah.
“Ke jalan Martadinata, kompleks Dahlia yah.”
“Iya neng, ayo.”
Di perjalanan, baru saja 10 menit berlalu motor yang di kendarai oleh Indah itu mendadak berhenti.
“Eh… ok berhenti Pak?” Tanya Indah.
“Iya neng ga tahu ini, sepertinya mogok. Saya periksa dulu yah.” Turun dari motor.
Indah menunggu di tepi jalan.
“Maaf yah neng, sepertinya ini harus di bawa ke bengkel.”
“Ke bengkel? Terus saya gimana dong Pak?” Indah menunjuk dirinya sendiri.
“Maaf yah neng, neng cari ojek yang lain aja dulu yah…” Ucap si tukang ojek merasa bersalah.
Indah sedikit cemberut.
“Ya udah deh Pak, makasih yah. Ini ongkosnya.” Indah memberikan uang pecahan sepuluh ribuan.
“Eh, gak usah neng, gak papa.” Si tukang ojek menolak.
“Gak papa Pak, kan bapak juga sudah anterin saya setengah jalan.” Indah masih menyodorkan uang itu.
Dengan ragu-ragu si tukang ojek itu menerima.
“Terima kasih banyak yah neng.”
“Iya Pak, sama-sama.”
__ADS_1
Jadilah sekarang Indah kembali berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan umum yang lewat. Beberapa kali terus saja mengecek jam di tangan kirinya kalau-kalau ia akan terlambat memasak.
10 menit menunggu belum ada satu pun kendaraan yang lewat, ia memutuskan untuk berjalan, siapa tahu saja diseberang sana ada kendaraan umum yang lewat atau kosong penumpangnya. Sampai kemudian ia tiba di sebuah lorong yang sepi.