
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
"Kak Adnan..." Jawab Indah malu-malu.
"Kak David." Sinta terkejut, takut-takut.
Adnan dan David masih memperhatikan Indah dan Sinta yang memegang kedua telinga mereka juga mengangkat satu kakinya, sedetik kemudian mereka saling menatap satu sama lain, seolah saling bertanya mereka dihukum? Kenapa?
"Kalian di hukum?" Tanya David.
Indah membalas dengan anggukan, sementara Sinta cengengesan melihat raut wajah kakaknya yang menatapnya kesal.
"Hehe, iya kak." Sinta tersenyum kikuk.
Adnan yang berada di samping Indah menatap gadis itu khawatir. Indah terlihat sangat kelelahan.
"Kamu gak papa kan Indah?" Tanya Adnan.
"Hhmmm... aku ti..."
"Ekkhmm." Deheman Bu Dinda lantas membuat ke empat orang tersebut beralih pandang ke arahnya.
"Selamat pagi Bu." Sapa Adnan sopan.
"Iya, pagi." Bu Dinda yang tadinya memasang wajah datar, mendadak tersenyum renyah saat mendapat sapaan dari Adnan.
'Orang ganteng mah emang bikin mata jadi segar yah, mood Bu Dinda saja langsung berubah, hehe.' Batin Sinta.
Pandangan Bu Dinda beralih pada Sinta dan Indah yang kini menatapnya dengan raut memohon.
"Kalian berdua sudah boleh masuk." Ucap Bu Dinda yang langsung di sambut senyum kelegaan di wajah Indah dan Sinta.
"Alhamdulillah, terima kasih Bu." Dengan cepat Indah menurunkan satu kakinya yang sedari tadi ia angkat, pegal sekali rasanya, sedangkan Sinta menghembuskan nafas lega.
"Terima kasih Bu." Ucap Sinta.
"Iya, lain kali kalau kalian masih ribut di kelas, ibu hukum lari keliling lapangan di siang bolong."
__ADS_1
"I.. iya Bu, maaf." Indah menunduk.
Setelah memberikan peringatan untuk kedua siswi itu, Bu Dinda melenggang menuju ruang guru, huufftt... ia juga harus beristirahat untuk mengajar di jam pelajaran selanjutnya di kelas lain.
...
Indah dan Sinta kini duduk di bangku mereka, sedangkan Adnan dan David duduk di bangku depan dengan menghadap pada kedua gadis tersebut.
"Apa kakimu sakit Indah?" Adnan memulai obrolan setelah beberapa lama mereka berempat dalam keheningan.
Indah malu, yah tentu saja. gadis mana yang tidak akan malu saat laki-laki yang ia sukai tengah melihatnya di hukum dengan mengangkat satu kaki dan menjewer kedua telinganya?
'Kamu sangat konyol Indah.' Indah merutuki kebodohannya sendiri.
"Sedikit kak." Indah menjawab pelan.
"Apa kita perlu ke UKS, supaya kamu bisa istirahat dulu di sana?"
"Tidak perlu kak Adnan, aku baik-baik saja, hanya pegal sedikit karena terus mengangkat satu kakiku tadi." Indah merasa sangat senang mendapat perhatian dari pria yang kini duduk di depannya itu.
"Hai kak Adnan."
"Hai kak."
Indah mengerucutkan bibirnya saat melihat seorang temannya yang cantik sedari tadi terus menatap Adnan dan tersenyum.
'Apalah dirimu jika dibandingkan dengan Siska, Indah huufftt...' Ada rasa tak rela di benaknya melihat sang pujaan hati dikagumi wanita lain.
"Kalau kamu merasa pusing, nanti langsung bilang aja ke aku Indah, biar aku yang mengantarmu ke UKS." Ucap David tak mau kalah memberi perhatian.
Adnan memutar bola matanya jengah.
"Yakkk... kalian berdua, yang dihukum itu bukan cuma Indah tapi aku juga, kenapa kalian hanya menanyakan keadaannya saja? Lagian kita cuma dihukum dengan berdiri sambil mengangkat satu kaki, bukan dari berperang, Huh!" Teriak Sinta tak terima, ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Kesal, dia sungguh sangat kesal.
Cemburu? Sedikit, karena perhatian kakaknya David, terbagi ke Indah.
"Kamu gadis yang tangguh, di hukum berlari keliling lapangan sepuluh putaran pun itu tidak ada apa-apanya untuk kamu, lagian kamu juga sudah sering di hukum, jadi ini sudah biasa untuk kakak." David berucap dengan santai.
"Ck, kamu jahat sekali kak David." Kesal Sinta.
"Ya sudah nanti kakak akan memperhatikan kamu lagi dengan memberitahu Ibu dan Ayah kalau hari ini kamu di hukum lagi karena ketahuan ribut di kelas saat guru sedang menjelaskan, mau?" Ancam David.
"Tidak mau." Jawab Sinta cepat, yang benar saja bisa-bisa ia tidak mendapat uang jajan bulan ini.
__ADS_1
"Mau tidak mau kakak akan tetap
mengatakannya pada ibu dan ayah."
"Kak David jangan gitu dong, aku janji deh gak akan ulang lagi yah." Sinta meraih tangan David yang duduk didepannya, mengguncang lengan pria itu.
"Gak, kamu sudah sering bilang kayak gitu, tapi ujung-ujungnya ke ulang lagi kan."
"Kak David, jangan gitu dong. Nanti kalau aku gak dapat uang jajan gimana." Sinta melas.
"Itu salah kamu sendiri."
Sinta tampak sedih karena tak berhasil membujuk David. Indah yang melihat hal itu menjadi tak tega, ia memberanikan diri untuk meyakinkan pria berambut cokelat itu.
"Kak David jangan marah sama Sinta, ini bukan sepenuhnya salah dia kok, aku juga salah, karena terus mengajaknya mengobrol tadi. Maafin dia yah kak, dia kan udah janji gak akan mengulang kesalahan dia lagi. Hhmmm... aku juga janji."
"Baiklah, demi kamu aku akan memaafkannya kali ini." Bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, David langsung mengiyakan keinginan Indah.
"Ck." Adnan berdecak pelan, sementara Indah hanya menatap polos manik David, dia sudah menganggap lelaki itu seperti kakaknya sendiri.
Sinta cengo melihat kelakuan kakaknya. Mentang-mentang yang bicara itu perempuan yang ia sukai, ia secara gamblang menampakkan rasa tertariknya pada gadis itu, ia langsung tunduk pada perkataannya. Namun Indah, gadis itu malah tidak menyadari apa-apa.
'Huufftt... karena itu aku tidak ingin jatuh cinta, cinta membuat semuanya menjadi lebih rumit. Orang jenius pun akan nampak bodoh saat berhadapan dengan yang namanya cinta itu.' Sinta membatin.
"Indah, kita ke kantin aja yuk, aku laper nih." Ajaknya yang sudah muak melihat wajah kakaknya yang tidak berhenti memperlihatkan deretan giginya yang putih itu kepada Indah.
Indah mengangguk, ia memang sedang lapar sekarang.
"Iya, aku juga lapar. Ya udah, yuk!" Ajaknya yang kini menarik tangan Sinta, namun belum sempat mereka berdiri...
"Aku ikut." Ucap Adnan dan David bersamaan. Setelah itu mereka saling menatap tak suka ke arah masing-masing.
'Kenapa juga nih anak mau ikut sih, dia kan gak suka ke kantin. Sehari-hari juga dia nongkrongnya di perpustakaan, tapi sekarang... ck, pasti karena ingin dekat dengan Indah.' Kesal David membatin.
'Hhuufft... kenapa sainganku harus sahabat sendiri sih, merepotkan sekali.' Adnan menghembus nafas kasar.
"Kalau mau ikut ya udah ayo, kenapa masih pada lihat-lihatan gitu, kalian lagi gak jatuh cinta kan?" Ucap Sinta dengan sengaja.
"Enak saja, aku masih normal Sin." David segera mengalihkan pandangannya dari Adnan.
Sementara Adnan hanya diam, ia tidak ingin berdebat.
"Ya udah, yuk kakak-kakak." Ajak Indah girang, ia berjalan sembari menggandeng tangan Sinta.
__ADS_1
Adnan dan David segera berebut posisi untuk bisa berjalan di dekat gadis manis berjilbab abu-abu itu.