
....
David berdiri di depan pintu gerbang rumah orang tuanya. Rumah di mana ia tumbuh dengan penuh kasih sayang, tak ada kebencian di dalamnya hanya saja ia sendiri yang ingin menarik dirinya dan memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri.
Perlahan ia membuka pintu, terlihat suasana rumah yang tidak pernah berubah. Yah.... Meski baru berminggu-minggu tidak kembali ke rumah ini, dia tentu rindu, namun kesendirian menenggelamkannya jauh lebih dalam. Perasaan yang belum selesai masih menguasai dirinya.
David terus berjalan masuk. Hingga mendengar suara seseorang dari dapur.
"Untuk makan siangnya siapkan makanan kesukaan David dan Sinta, sisanya seperti biasa saja." Ucap nyonya rumah itu.
"Tapi nyonya den David kan tidak ada di sini, mengapa nyonya selalu memasak makanan kesukaannya?" Sekarang asisten rumah tangga yang selama ini selalu penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Wanita itu terdiam....
Seorang asisten rumah tangga yang lain menyikut lengan rekan kerjanya itu, berbisik karena begitu lancang bertanya pada nyonya pemilik rumah.
Merasa bersalah, asisten rumah tangga yang masih tampak cukup muda itu meminta maaf. Menunduk dengan raut Wajah penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf. Walaupun anak saya tidak ada di sini, dengan memasak makanan kesukaannya saya merasa dia selalu ada makan bersama kami, seperti dulu." Menjawab dengan senyum, namun dengan raut wajah yang sendu.
David yang tidak sengaja mendengar itu merasa sangat bersalah. Ia tahu karena telah egois dengan dirinya sendiri. Terus tenggelam pada perasaan patah hati selama bertahun-tahun, tak pernah lepas dari bayangan cinta pertama yang begitu membekas di hatinya. Meski tahu itu salah, namun ia juga tak tahu bagaimana cara untuk membuka lembaran yang baru.
Bu Ratna bukannya tak pernah mengunjungi putranya itu di rumahnya, namun David selalu saja sibuk, hanya bertemu sebentar lalu kembali bekerja, menghabiskan waktunya di rumah sakit.
Mengatur perasaannya, David melangkah masuk ke dapur.
"Ma."
Satu kata itu sukses membuat Bu Ratna terdiam, berbalik, mendapati David yang kini berdiri di belakangnya, tersenyum.
...
Setelah berbicara dengan Daniel Adnan masih setia duduk sendirian di bangku taman. Ucapan kakak ipar yang Daniel katakan masih terus terngiang di kepalanya. Senyum kecil tampak di bibirnya, ia menertawakan akan perasaannya sendiri, entahlah bagaimana menjelaskannya, mungkin ia tertawa akan kisah cintanya yang membingungkan.
__ADS_1
Mengingat Indah membuat Adnan teringat akan tempat itu. Tempat yang begitu berkesan dan memiliki kenangan yang besar untuknya. Pantai itu, di mana ia dan Indah berbicara dengan santai, layaknya seorang teman baik.
Tanpa pikir panjang Adnan segera melangkah pergi ke sana. Mengirimkan pesan pada Humairah bahwa ia akan keluar sebentar, dan akan kembali sore nanti.
...
Indah masih menatap hamparan lautan di depannya.
Siang-siang seperti ini tidak banyak pengunjung di tempat itu, hanya ada beberapa di sekitar pantai yang terdapat kafe maupun restoran kecil di sana.
Sedari tadi ia sudah berusaha untuk menahan sesak di dada. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa namun hatinya hancur karena Dimas, ia masih menyalahkan dirinya sendiri, karena kecerobohannya seseorang telah melihat wajahnya, yang ia sendiri sudah berjanji kepada Rabb-nya agar selalu menjaga wajah itu dari lelaki ajnabi. Tapi hari ini ia gagal, butiran bening itu tak bisa tertahan lagi, gadis itu menangis.
Puas mengeluarkan sendu hatinya, Indah mengambil sebuah kain kotak di tasnya. Gadis itu kembali terdiam. Sapu tangan milik Adnan masih ada padanya, masih ia jaga dengan baik dan selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Nama lelaki itu juga masih tertulis indah di atas sapu tangan miliknya, Indah tersenyum kala mengingat kenangan sewaktu Adnan memberikan sapu tangan itu untuknya.
Konyol sekali bahwa mereka saling bertukar sapu tangan di moment yang berbeda.
"Apa kak Adnan masih menyimpan sapu tangan milikku juga?" Tanyanya kecil.
Indah menggunakannya, menghapus jejak air mata di pipinya, ia sudah merasa lebih tenang sekarang.
Gadis itu memang selalu mengatakan kalimat tersebut saat ia sedang bersedih akan sesuatu. Ia selalu ingat pepatah yang mengatakan kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah anugerah dan esok adalah misteri. Maka jalani saja sesuai dengan takdir yang akan terjadi, tugas kita hanyalah berusaha melakukan yang terbaik.
Setelah merasa lebih baik, Indah beranjak dari duduknya, menghempas-hempaskan baju dan jilbabnya yang terkena pasir pantai, melangkah pergi.
...
Adnan baru saja turun dari mobilnya, menatap jauh ke depan, hamparan air laut yang biru menyejukkan mata. Walau masih siang, cuaca hari ini mendung hingga panas matahari tak begitu tampak. Ia mulai melangkah ke bibir pantai, entah mengapa kakinya membawa ia ke sana.
Drrtt... Drtt....
Ponsel pria itu berdering, mengalihkan perhatiannya.
Mengambil benda pipih itu di saku celana, tertera nama Daniel. Kesal ia pun menonaktifkan ponselnya namun saat kembali fokus pada jalan di depannya....
__ADS_1
Bruk....
Indah yang juga sedang mengangkat telepon dari Farid tak begitu memperhatikan jalan. Sapu tangan yang ia pegang terjatuh, namun gadis itu tak menyadarinya.
"Astaghfirullah, hiisstt..." Mendesis, bahunya sakit.
"Ma, maafkan saya nona, saya tidak sengaja." Adnan meminta maaf, menatap wanita di depannya itu sebentar.
Sementara Indah masih menundukkan pandangannya, berucap tidak apa-apa. Lalu kembali berjalan.
Saat akan melanjutkan langkahnya juga Adnan terhenti, melihat sepotong kain di pasir pantai, sepertinya milik wanita tersebut, pikirnya.
Ia lalu mengambilnya dan dengan cepat menyusul Indah.
"Nona, maaf." Memanggil, ia setengah berlari.
Indah berbalik.
"Iya ada ap..." Ucapan Indah terhenti melihat wajah itu.
"Apa ini sapu tangan milikmu." Memperlihatkan sapu tangan yang ia pegang.
"Tadi aku melihatnya di..."
Adnan terhenti melihat kembali dengan seksama sapu tangan tersebut. seperti familiar untuknya.
Adnan menarik kembali tangannya yang terulur, mengecek sapu tangan itu, dan.... namanya tertulis di sana.
Adnan terdiam, terpaku.
Menatap wanita yang kini ada di depannya itu kembali. Mata itu, ia mengenalnya dengan baik, pemilik mata itu adalah...
"Indah..." Ucapnya bergetar.
__ADS_1
"Kak Adnan." Setetes air mata jatuh ke pipi gadis tersebut.