Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Ayu melancarkan rencananya


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


Dapur mereka tidak begitu luas, namun juga tidak terlalu sempit. Ada 1 meja makan di bagian tengah dan 4 kursi yang mengelilinginya. Di sudut kanan terdapat sebuah wastafel dan di sampingnya terdapat kompor gas yang dilengkapi dengan gas di bagian bawahnya. Ada pula kulkas yang terletak di sudut kiri ruangan itu dan sebuah rak lemari untuk menyimpan makanan dan peralatan dapur lainnya.


Beberapa jam kemudian mereka telah selesai dan sudah siap menikmati menu makanan hari ini. Indah makan dengan lahap, Bu Dania tersenyum melihatnya.


"Bagaimana sekolahmu Nak? Tidak teras sudah 4 bulan kita tinggal di kota ini yah." Bu Dania membuka percakapan.


"Alhamdulillah baik Ma, tidak ada masalah dalam pelajaran Indah."


"Alhasil kalau begitu. Kamu tidak ada masalah yang lain kan? Maksud mama selain dalam pelajaran kamu? Kamu merasa bahagia kan tinggal di sini?"


"Ti... tidak kok ma, semuanya baik. Indah senang sekolah dan tinggal di sini."


"Mama senang nak kalau kamu bahagia kita tinggal di kota ini." Bu Dania tersenyum, Indah membalas senyum ibunya ragu-ragu.


Yah, Indah memang bahagia tinggal di kota ini. Rumah, sekolah, dan teman-teman yang menyenangkan. Dia suka semuanya, hanya satu yang membuatnya khawatir. Sikap Ayu, tapi Indah selalu berpikir positif. Indah yakin suatu hari nanti Ayu akan lebih bersikap baik padanya, dan melupakan semua masalah di antara mereka.


Di Kamar


Pukul 02.02 Indah masih duduk di meja belajar. Sejak tadi ia sibuk membaca sebuah novel. Yah, novel yang waktu itu ia pinjam di perpustakaan. Ia sudah mencapai bagian tengah novel itu. Kalau urusan membaca, indah akan menghabiskan waktunya. Apalagi ia sangat suka dengan ceritanya. Bahkan dia bisa saja tidak keluar kamar seharian demi menyelesaikan buku yang ia baca. Dan Bu Dania akan datang ke kamarnya dan memarahi dia karena belum makan.


Pukul 02.30


There's faith in my world


It comes back to your teachings and all your words


From your life I have learnt


To be patient and caring at every turn


The reason I'm strong


You're where I belong

__ADS_1


Nasyid Maher Zain mengalun lembut dari handphone Indah yang ia letakkan di atas tempat tidur.


"Siapa yang memanggil sih, ganggu aja." Indah belum beranjak dari tempat duduknya. Hingga nada dering yang ketiga kalinya berbunyi barulah ia berdiri dan meraih handphone itu.


Saat menyalakannya terlihat nama Sinta di sana.


"Mengapa Sinta terus menelpon ku? Apakah semuanya baik-baik saja? Sebaiknya aku telepon balik dia." Ucapnya cemas.


"Assalamualaikum Sinta."


"Wa... wa'alaikumu sa... salam Indah."


"Sinta ada apa? kenapa gugup seperti itu? Apa semuanya baik-baik saja? Aku minta maaf yah, aku tidak mengangkat telepon mu tadi."


"Iya Indah tidak apa-apa. Ap... apa yang sedang kamu lakukan?"


"Tidak ada, aku hanya sedang membaca novel tadi. Kenapa? Apa kamu mau datang ke sini?_


"Tidak Indah, aku justru ingin meminta bantuan mu."


"Bantuan? Bantuan apa?"


"Sekarang aku ada di sekolah."


"Sebenarnya....... Indah nanti saja aku ceritakan, aku mohon sekarang kamu ke sini yah, aku sangat butuh bantuan mu."


"Iya... iya, baiklah. Tunggu yah, aku akan ke sana sekarang, aku siap-siap dulu." Indah bergegas mulai khawatir terhadap sahabatnya.


Indah segera bersiap-siap. Mengganti bajunya dengan gamis berwarna hitam dan jilbab berwarna pink soft yang memanjang menutupi hingga ke pinggangnya. Dia tampak sangat manis. Tak lupa ia meraih sebuah tas kecil berwarna senada dengan gamisnya. Lalu menyimpan handphone dan sebuah dompet mini di dalamnya. Setelah siap, Indah keluar kamar dan langsung menemui Bu Dania.


"Ma, Indah boleh pinjam motor mama sebentar?" Sambil duduk di samping Bu Dania. Bu Dania yang sedang duduk di ruang tengah masih tampak sibuk menjahit sebuah baju yang kini ada di tangannya.


"Kamu mau ke mana sayang siang-siang begini?" Tanpa menoleh ke arah Indah.


"Aku mau ke sekolah Ma, tadi Sinta telepon, katanya dia butuh bantuan."


"Sekolah?" Bu Dania menghentikan gerakan tangannya, menoleh pada Indah.


"Apa yang kamu lakukan ke sana nak?"


"Aku juga tidak tahu, tadi Sinta belum sempat mengatakannya, sepertinya dia sedang terburu-buru. Dia hanya berpesan untuk segera menemuinya di sana."


"Tapi mama khawatir sayang kalau kamu pergi ke sana. Mungkin di sana juga tidak ada orang, Atau mama temenin kamu yah." Bu Dania mulai khawatir.

__ADS_1


"Tidak perlu Ma, mama jangan khawatir. Kan Indah bareng Sinta. Sinta adalah sahabat Indah, dia akan selalu menjaga Indah." Indah memeluk ibunya.


"Hhmm... ya sudah, tapi kamu hati-hati yah."


"Iya."


"Kuncinya ada atas meja sayang, mama tadi meninggalkannya di ruang tamu."


"Iya Ma, Indah pamit yah." Seraya meraih tangan Bu Dania dan menciumnya.


Di sekolah pukul 02:50


Indah memarkirkan motornya di depan gerbang sekolah, melihat ke kanan dan ke kiri, namun tak ada siapapun di sana, lalu ia memutuskan untuk masuk ke kelasnya, barangkali Sinta menunggunya di sana.


"Sinta mana yah? di depan gak ada, di sini juga gak ada. Malah kelas terkunci. Sebaiknya aku telepon dia saja."


Indah mengeluarkan handphone di tasnya, membuka panggilan terakhir.


"Assalamualaikum Sin, aku sudah ada di sekolah. Tadi aku cari kamu di depan sekolah, tapi kamu gak ada, sekarang aku juga ada di depan kelas kita, kamu juga gak ada. Kamu di mana?"


"Wa'alaikumussalam, I.. iya Indah. Aku...a... aku ada di halaman belakang gedung biru. Ka... kamu ke sini yah."


"Halaman belakang? Kamu ngapain di halaman belakang?"


"Aku lagi cari sesuatu, kamu cepat ke sini yah."


"Ya sudah, aku ke situ, aku tidak usah mematikan teleponnya yah. Indah bergegas menuju halaman belakang salah satu gedung sekolah. Jaraknya cukup jauh, dari kelas Indah yang berada tidak jauh dari gerbang sekolah.


Beberapa menit kemudian, Indah sampai di sana.


"Sin, aku sudah di sini. kamu di mana?"


"Halo.... halo Sin, Sinta?!"


Tak ada jawaban.


"Sin, halo!"


Karena tidak ada jawaban, Indah mematikan teleponnya, ia melihat ke sekelilingnya. Begitu sunyi dan hanya terdengar siulan burung sesekali. Banyak pohon-pohon yang menjulang tinggi, dan tumbuhan lain di sana. Indah merasa sedikit takut, beberapa kali ia memanggil nama Sinta, mau tidak ada jawaban.


"Sin! Sinta! Kamu di mana?" Indah kembali memanggil.


"Jangan nakut-nakutin aku deh, aku gak suka Sin."

__ADS_1


"Ya udah, kalau kamu gak mau keluar, aku pulang nih."


__ADS_2