Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Teman Dekat


__ADS_3

...***...


Malam yang Indah di temani bulan dan bintang-gemintang yang memancarkan pesona cahayanya. Malam ini ada hati yang tengah merasakan suka citanya rasa rindu yang berbuah manis dengan pertemuan yang haru. Ada hati yang sedang merasa tenang karena berada di sekitar orang-orang yang ia merasa sangat dekat dengannya. Ada hati yang merasa senang melihat orang yang ia sayangi akhirnya bisa mengukir kembali senyum di bibirnya dan ada hati yang tengah gundah gulana, karena kebingungan dengan perasaan yang namanya cinta.


Setelah melaksanakan sholat maghrib Indah kembali ke dapur, ia ingin selalu berada di dekat ibunya. Jadilah ia dengan terburu-buru kembali ke sisi ibunya itu. Terlihat Dania sedang menghidangkan makan malam untuk mereka bertiga, Indah segera membantu.


Sementara itu, Farid tengah termenung di kamarnya, yah… karena di rumah tersebut hanya ada dua kamar jadilah ia berada di kamar Dania sekarang. Awalnya ia menolak, ia akan memilih untuk tidur di sofa saja, tapi dengan lembut Dania menyuruhnya untuk menempati kamar itu, sementara ia akan tidur bersama dengan Indah. Seperti merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri, bahkan ia hanya mengenal ibunya dari sebuah foto usang yang di simpan nenek Sarimah di lemari bajunya.


“Mengapa aku merasa sangat dekat dengan mereka? Tante Dania dan Indah.” Gumamnya pelan.


“Aku seperti sedang pulang ke rumah keluargaku sendiri, aku merasa tenang.” Sambungnya.


Dalam kebingungan itu, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok


“Kak Farid!” Indah memanggil di luar.


Tok tok tok


“Kak Fa…” Panggilannya terhenti saat Farid muncul dari balik pintu.


“Kak, mama memanggil untuk makan malam.” Ucap Indah ramah.


David tersenyum, gadis manis di depannya itu tampak sangat polos dan lucu, pantas saja dua cowok pagi tadi sepertinya menyukai gadis di depannya ini.


Farid menganggukkan kepala.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan.


“Ayo sini, kita makan dulu nak.” Dania mempersilahkan saat melihat Indah dan Farid.


“Iya tante.” Farid duduk di samping Indah.


Malam itu Farid merasa memiliki keluarga yang baru kembali, seorang ibu dan adik perempuan.



Di tempat lain, Adit tengah berjalan mondar-mandir di depan rumah Sinta. Cowok itu tengah kebingungan antara ingin masuk dan memilih untuk pulang saja. Beberapa kali ia juga menyalakan mesin motornya berniat untuk pulang, namun karena masih dilema nih, ia mematikannya kembali, terus begitu hingga untuk yang ketiga kalinya ia benar-benar mematikan mesin motornya itu. Namun sekarang, ia kembali bingung antara meneruskan langkahnya untuk masuk ke rumah Sinta, atau tidak.


“Ck, masuk atau tidak yah? Apa yang akan ku katakan padanya? Adit kenapa kamu jadi tolol begini sih?” Adit merutuki dirinya sendiri, memukuli kepalanya.

__ADS_1


“Apa yang harus ku katakan? Ayolah Adit berpikir…..” memegang dagunya, berpikir keras.


“Hei, kamu sedang apa dari tadi mondar-mandir di depan rumah ini?” Satpam rumah Sinta akhirnya keluar. Sebenarnya ia sudah melihat Adit dari tadi, tapi ia masih tidak mempedulikannya, namun setelah melihat remaja itu terus saja mondar-mandir di depan rumah majikannya, akhirnya ia keluar untuk memastikan.


“Kamu mau mencuri, ia!” Bertanya dengan garang.


“Eh, enak saja aku di bilang mau mencuri, mana ada pak pencuri yang wajahnya setampan saya.” Adit tidak terima.


Satpam itu memperhatikan wajah Adit, tapi ia sendiri tidak menghilangkan raut garang dari wajahnya.


“Alah… bohong, terus sedang apa kamu dari tadi mondar-mandir di depan rumah orang kalau bukan mau mencuri? Hah! ayo sana cepat pulang!” Bentaknya.


“Eh, saya ke sini mau ketemu sama anak pemilik ruman ini Pak, Sinta, saya teman sekolahnya.” Adit menjawab cepat, daripada dia di usir, iya kan.


“Oh, non Sinta?” Satpam itu sedikit melunak.


“Iya, saya boleh masuk kan?!”


“Ya sudah sana masuk, seharusnya kamu bilang dari tadi, bukan malah mondar-mandir depan rumah orang kayak tadi.” Masih sewot.


“Bapak juga, kalau ada apa-apa tuh, jangan langsung marah-marah Tanya baik-baik dulu kek, malah langsung nuduh orang pencuri saja. Bapak pasti baru kan di sini.” Adit malah mengajak ngobrol satpam itu.


“Eh, kok tahu?”


Satpam itu terkejut bukan main.


“Eh, den jangan begitu dong, maafkan saya yah… saya kan tidak tahu kalau den ini teman dekatnya non Sinta. saya janji tidak akan marah-marah seperti itu lagi.” Pak satpam itu tampak takut.


Adit menahan tawanya.


‘Dosa gak yah ngerjain orang tua kayak gini?’ Batinnya.


“Ya sudah kali ini saya maafin bapak, nanti jangan di ulang lagi yah…” Ucapnya dengan kepala terangkat.


“Iya den.” Jawabnya hormat.


“Silakan masuk den.” Mempersilakan adit masuk dan menunggu di ruang tamu.


Setelah asisten rumah tangga tersebut di beri tahu tentang kedatangan Adit yang mencari Sinta, ia pun segera memanggil anak majikannya itu.


__ADS_1


Di kamar…


Tok tok tok


Sinta masih sibuk bermain ponsel divtempat tidurnya, tidak terlalu mempedulikan siapa yang mengetuk pintu, di pikir itu adalah kakaknya yang sering mengerjainya dengan mengetuk pintunya lalu kabur, namun saat mendengar suara yang mengetuk ia mengerutkan dahinya.


Tok tok tok


“Siapa?” Tanyanya mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


“Ini bibi non.”


“Masuk aja bi, pintunya tidak di kunci.


Asisten rumah tangga itu membuka pintu, masuk, lalu berdiri di dekat Sinta.


“Itu non, di bawa ada teman non katanya dia ingin bertemu dengan non.” Bibi menunjuk.


“Teman? Indah?”


“Bukan non, yang ini laki-laki. Kata satpam di depan sih, teman dekatnya non.” Si bibi tersenyum menggoda.


“Teman dekat?” Sinta bergumam.


‘perasaan aku tidak punya teman dekat cowok, lalu siapa yang di bilang bibi, apa…’ batinnya, terhenti saat nama seseorang terlintas di benaknya.


“Jangan-jangan si makhluk aneh itu lagi?” Wajah Sinta tampak garang.


Tapi berbeda dengan bibi yang masih saja tersenyum diam-diam.


“Ih bibi ngapain senyum-senyum kayak gitu. Dia bukan teman dekat aku.” Sinta ketus.


“Maaf non maaf, iya juga kan bagus, dia anak yang tampan dan kelihatannya baik.” Si bibi mengacungkan jempolnya.


“Bibi ini ngomong apa sih, udah ah aku gak mau bahas lagi soal dia, udah ah bibi keluar saja.” Kesal Sinta.


Si bibi cekikikan.


“Iya non, iya.” Lalu berlalu keluar dari kamar gadis itu.


“Taman dekat? What? Ngapain anak itu ngomong kek gitu ke bibi, menyebalkan sekali awas saja kamu yah.”

__ADS_1


Ia dengan tampang garangnya segera menuju ke bawah menemui si tamu tak di undang malam itu.


__ADS_2