Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Mungkin Inilah Saat Yang Tepat


__ADS_3

Setelah makan malam, Dania, Indah dan Farid bercakap-cakap di ruang tengah, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Indah banyak menceritakan tentang sekolahnya kepada Farid, juga beberapa universitas yang ia tahu di sana, walau belum berkunjung secara langsung namun ia banyak tahu dari cerita Sinta, yang mulai membahas tentang bagaimana nanti jika mereka sudah masuk perguruan tinggi, di kampus mana yang menjadi impian mereka untuk menimbah ilmu nantinya.


“Oh yah kak, kak Farid belum menceritakan apapun tentang kakak padaku, dari tadi aku terus yang cerita, sekarang gentian kak Farid yang cerita tentang desa kak Farid, pasti di sana sangat menyenangkan yah, alam yang asri, pemandangan yang indah, udara yang sejuk. Wah… aku jadi ingin tinggal di tempat seperti itu.” Indah mengoceh sendiri membayangkan desa impiannya.


“Hhmm… aku…” Farid bingung.


“Ayo kak, cerita!” Indah memaksa.


“Sudah Indah... ceritanya nanti saja yah, ini sudah hampir pukul sepuluh kamu harus tidur sekarang, besok kan kamu harus sekolah nak.” Dania mencoba untuk mengalihkan perhatian anaknya.


“Tapi mama kan udah janji juga mau cerita semuanya sama Indah.” Indah tampak sedih, padahal sembari bercerita sebenarnya dia juga sedang menunggu mamanya untuk menceritakan semua kejadian yang menimpanya, dan kemana mamanya beberapa hari ini.”


“Iya… iya, besok mama janji akan cerita sama kamu, sekarang kamu masuk ke kamar yah, nanti mama menyusul.”


Indah mengerucutkan bibirnya.


“Iya deh…” Ucapnya lesu lalu berlalu dari tempat tersebut.



“Bagaimana ini tan, apa kita harus menceritakan semuanya pada Indah?”


“Tante juga bingung Farid, tante tidak tega kalau Indah tahu semuanya. Dia masih terlalu muda untuk mengetahui semua ini.” Dania bingung harus bagaimana.


“Tapi apa yang akan tante katakan jika Indah bertanya mengapa tante dan dia harus segera meninggalkan kota ini?”


Prak


Sebuah gelas pecah berantakan, terjatuh dari tangan Indah yang tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Dania dan Farid.


Tadinya dia akan tidur, tapi setelah melihat gelas di kamarnya sudah kosong, ia berniat untuk mengisinya kembali di dapur, tapi ia malah mendengar hal tersebut, hal yang membuatnya berpikir jauh ke depan.


Reflek Farid dan Dania berbalik ke sumber suara, melihat Indah yang mematung di sana, raut wajahnya tampak bingung dan sedih.

__ADS_1


“Indah?” Dania terkejut, pun dengan Farid yang sepertinya merasa bersalah karena telah membahas hal itu terlebih dahulu.


“Indah.” Dania beranjak dari duduknya menghampiri Indah.


“Ayo sini nak duduk.” Menuntun Indah untuk duduk di sofa.


“Indah kamu kenapa belum tidur nak?” Tidak tahu harus mengatakan apa, hanya itu yang keluar dari mulut Dania.


“Ma, apa maksud kak Farid, kita mau pindah? Kita mau pindah dari kota ini?” Tak menjawab pertanyaan ibunya, dan malah mengajukan pertanyaan lain.


“Ma, jawab! Kenapa kita harus pindah dari kota ini ma? Indah sudah merasa senang di sini, Indah punya sahabat dan teman-teman yang baik, jawab ma!” gadis itu merengek hampir menangis.


“Kita harus secepatnya meninggalkan kota ini nak.” Dania berkata pelan.


“Tapi kenapa ma? Indah butuh penjelasan.”


Farid hanya diam, tak ingin ikut campur pembicaraan antara Dania dan Indah.


Indah tak mengerti.


“Maksud mama apa?”


“Sebenarnya mama tidak ingin menceritakan hal ini, tapi… mama juga tidak mungkin menyembunyikannya terus dari kamu.” Dania mengusap pipi Indah.


“Indah…” Dania menarik nafas panjang, Indah menunggu dengan tegang.


“Sayang, sebenarnya kematian ayahmu bukan di sebabkan karena kecelakaan, melainkan karena di rencanakan nak.”


Indah begitu terkejut mendengar hal tersebut.


“Maksud mama?”


“Ada beberapa orang yang telah merencakan kecelakaan itu, dan… itulah kenapa kita harus meninggalkan rumah kita, agar kamu aman sayang, mama tidak mau orang-orang itu mengejar kita, tapi yang terjadi malah…” Dania mulai menceritakan semuanya pada Indah. Gadis itu tampak scok mendengarnya, ada rasa amarah, takut, dendam, benci dan sedih yang ia rasakan.

__ADS_1


“Hiks… hiks…” Indah menghambur ke pelukan Dania, Farid tampak sedih melihat gadis itu menangis.


“Maafin Indah ma, Indah terlalu egois sampai tidak mempedulikan perasaan mama. Mama sudah banyak berkorban untuk Indah, mama menyimpan semuanya sendiri, maafkan Indah ma.”


“Tidak nak, ini bukan salah kamu. Kamu jangan bicara seperti itu lagi yah.” Sebenarnya Dania tidak tega jika Indah mengetahui semua ini, tapi mau bagaimana lagi, suatu hari nanti dia memang harus mengetahuinya, dan mungkin inilah waktu yang tepat. Jika harus terus di sembunyikan, bagaimana ia akan mengerti mengapa Dania melakukan semua hal ini padanya.


“Kamu jangan sedih lagi yah…” Melepas pelukan Indah, menghapus jejak air matanya.


Indah mengangguk.


Indah berbalik menatap Farid yang duduk di sofa yang berbeda.


“Kak Farid… terima kasih yah sudah menyelamatkan dan melindungi mama Indah, padahal kak Farid sendiri tahu kalau kak Farid akan berada dalam bahaya, kak Farid sangat baik.”


Farid tersenyum, menatap Indah yang kini mengusap cairan yang keluar dari hidungnya dengan menggunakan jilbab yang ia kenakan. Farid mengambilkan tisu yang ada di atas meja, memberikannya pada gadis imut itu.


“Tidak perlu berterima kasih Indah, aku melakukan semuanya dengan ikhlas, kamu jangan menangis lagi yah.”


Indah mengangguk, mengambil tisu itu dari Farid.


“Sekarang kamu dan tante masuk ke kamar saja, biar aku berjaga di sini dulu.”


Mendengar Farid mengatakan itu, Indah menatap Dania, ia mulai cemas kalau-kalau penjahat itu datang kembali, dan berniat untuk menculiknya atau menyakiti ibunya.


“Tidak perlu khawatir, Adnan sudah menugaskan beberapa orang untuk berjaga di luar rumah, dan aku juga akan berada di sini dulu untuk memeriksa keadaan, oke!”


‘Kak Adnan…” Mendengar nama Adnan raut wajah gadis itu menyendu kembali.


Yah, Adnan memang menugaskan 4 orang penjaga di rumah Indah, ia khawatir jika para penjahat itu kembali mengirim seseorang untuk menyakiti Indah ataupun Dania.


“Ayo, nak!” Dania menuntun Indah untuk masuk ke kamar.


Farid melihat 2 perempuan itu dari belakang, ia merasa seperti menjadi kewajiban baginya untuk melindungi Indah dan Dania.

__ADS_1


__ADS_2