
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
"Kalaupun aku marah untuk apa kak Adnan? Memangnya aku siapa?" Indah kembali tersenyum getir, lalu berdiri dari tempatnya duduk. Dan berjalan meninggalkan Adnan.
"Aku duluan yah kak." Ucap Indah sembari meninggalkan Adnan.
"Indah, tunggu!" Panggil Adnan.
Namun Indah tak bergeming, Ia tidak ingin berhenti ataupun berbalik pada laki-laki itu. Berjalan cepat keluar dari perpustakaan.
Sementara Adnan, Masih dalam posisi berdiri terpaku, hanya bisa menatap Indah berlalu.
"Sinta, ayo!" Indah yang baru keluar dari perpustakaan langsung menarik tangan Sinta.
"Eh, kamu sudah selesai?" Tanya Sinta dengan bingung.
Ia heran melihat raut wajah Indah yang tampak sedih sekaligus kesal. Dilihatnya juga novel yang masih ada digenggaman Indah.
Indah tak menjawab, ia hanya terus menarik Sinta, berjalan cepat menuju kantin.
Di kantin.
"Bukannya kamu ke perpustakaan buat kembalikan buku itu yah? Terus kenapa bukunya masih ada sama kamu?" Tanya Sinta memulai kembali percakapan.
Sinta dan Indah sedang menunggu makanan pesanan mereka di salah satu meja kantin itu. Terlihat suasana pagi ini cukup ramai sehingga mereka harus sabar mengantri, beberapa teriakan siswa terdengar karena sudah tidak sabar menunggu pesanan mereka.
"Hhmm... iya tadi Bu Lena tidak ada, jadi aku bawa lagi." Jawab Indah datar.
"Kalau gak ada ngapain kamu tadi di dalamnya lama banget?"
"Iya, tadi aku tungguin Bu Lena, tapi..."
"Tapi apa?"
"ah, bukan apa-apa." Indah mengurungkan niatnya untuk bercerita.
Sinta mengerutkan dahinya, ia memperhatikan sekali lagi bagaimana suasana hati Indah yang tiba-tiba berubah saat keluar dari perpustakaan.
"Oh iya, di perpustakaan tadi ada kak Adnan juga kan?! Aku tadi liat dia masuk." Ucap Sinta kembali.
"Iya tadi ada kak Adnan."
"Kenapa tadi kamu gak ngobrol dulu aja sama dia Ndah." Sinta menarik turunkan alisnya, tersenyum menggoda sahabatnya.
__ADS_1
"Hhmm... aku... aku sebenarnya sedang mar..." Belum selesai Indah berbicara, seorang pelayan kantin datang.
"Permisi neng, ini makanannya." Ucap pelayan kantin membawakan dua bakso kesukaan Sinta dan Indah.
"Wahh.... akhirnya datang juga, aku udah lapar banget." Sahut Sinta kegirangan.
Sementara Indah hanya tersenyum datar menanggapi.
Dua mangkok bakso di depan mereka mengeluarkan kepulan asap yang beraroma sedap, terlihat sangat nikmat.
Sinta menelan salivanya, tak sabar menikmati makanan di depannya itu.
Sementara Indah, sebenarnya tidak berselera untuk makan sekarang. Walau perutnya juga keroncongan, tetapi suasana hatinya yang sedang tak karuan membuat dia sedikit melupakan rasa lapar itu.
Sinta dengan cepat memakan makanannya, mengingat waktu istirahat sebentar lagi akan berakhir. Sementara Indah, dengan malas-malasan mengayun sendoknya.
"Ah... aku sampai lupa bertanya, kenapa kamu tidak menunggu Bu Lena, memangnya kenapa kalau ada kak Adnan? Bukankah kalian dekat yah?" Sinta kembali mengajukan beberapa pertanyaan.
"Hhmm..." Indah hanya bergumam.
Melihat reaksi Indah, Sinta mejadi tidak enak sendiri. Dibukanya air mineral yang ada di samping mangkok baksonya itu, meneguknya beberapa kali.
"Tuh bakso kenapa di anggurin sih....? Mubazir tau, mau aku yang habisin, hehe" Canda Sinta berusaha mencairkan suasana.
"Hhmm..." Lagi-lagi Indah hanya bergumam, namun kali ini ia menampilkan senyum kakunya.
"Maaf yah kalau pertanyaan ku tadi membuatmu sedih." Sahut Sinta merasa bersalah.
tidak ingin membahas tentang kak Adnan dulu." Indah berkata datar.
"Baiklah, tapi kamu harus habiskan bakso kamu itu. Sayang tahu makanan enak kek gitu disia-siain."
"Iya... iya." Senyum Indah kembali terlihat, walau tak selepas biasanya.
...***...
Ting... Ting...
Dering ponsel Indah berbunyi kalai ia sedang termenung di kamarnya.
Pesan masuk dengan nama Sinta pada notifikasinya.
[Ndah, sore nanti jadi kan?] Bunyi pesan Sinta.
[Insya Allah jadi, tapi kamu jemput kan?] Balas Indah.
Ting
Notifikasi pesan Indah kembali berdenting.
__ADS_1
[Iya aku sudah pinjam motor kak David, nanti aku jemput.]
[Iya.]
Indah mengakhiri percakapan mereka lewat via pesan.
Sebenarnya Indah sedang tidak mood untuk keluar hari ini. Terlebih lagi dia memang tipe anak rumahan yang lebih senang menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan buku-buku di tangannya. Namun Sinta terus memaksanya. Apalagi sejak menjalin pertemanan, mereka belum pernah keluar sekedar untuk makan bersama atau jalan-jalan ke mall. Dan akhirnya Indah mengiyakan ajakan sahabatnya itu. Dia tidak ingin membuat Sinta kecewa. Lagi pula... mungkin hatinya akan lebih membaik, setidaknya dia bisa melupakan tentang Adnan dan Celine untuk beberapa waktu.
Pukul 16:01
Indah sedang bersiap-siap di kamarnya. Terlihat anggun dengan gamis cream soft dengan lukisan bunga-bunga kecil di bagian bawah pada ujung gamis itu. Tak lupa juga jilbab berwarna cream yang senada dengan lukisan bunga di gamisnya. Semakin tampak menawan menutupi hingga ke bawah pinggang gadis cantik itu. Dengan polesan bedak tipis diwajahnya, juga pelembab di bibir tampak membuatnya begitu sederhana, memancarkan kecantikan alami seorang gadis SMA.
Sebuah tas dan dompet yang sudah ia siapkan di atas meja, ia juga sudah meminta izin pada Bu Dania, walau mungkin memang nantinya ia yang tetap akan sampai lebih dulu ke rumah karena ibunya itu akan lembur malam ini di tempat kerjanya.
Setelah selesai, Indah duduk menunggu Sinta sembari memainkan ponselnya, meluncur ke sosial media.
10 menit berlalu saat suara ketukan pintu terdengar dari luar, bersamaan dengan suara panggilan masuk dari ponsel Indah.
[ Indah, aku udah di depan nih. ] Ucap Sinta di ujung telepon.
[ Ia ini juga mau keluar, tapi kamu telepon. ]
[ Hehe sewot banget sih mbak. Aku kira kan kamu gak denger ]
[ Aku denger tau ] Jawab Indah bersamaan dengan pintu yang dibuka.
"Assalamualaikum." Ucap Sinta saat pintu rumah Indah baru saja terbuka, sembari mematikan teleponnya.
"Waalaikumussalam warahmatullah, kita berangkat sekarang!?"
"Iya, ayo!"
Sinta tampak manis dengan celana jeans hitam juga baju over size berwarna biru tua yang ia gunakan. Rambut yang memang selalu di kucir satu kebelakang dan sebuah topi yang menghiasi kepalanya. Tak lupa pula sepatu kets hitam kesayangannya yang selalu ia gunakan ketika bepergian.
Mereka lalu menuju mall terdekat dengan mengendarai sepeda motor milik David.
...***...
Saat di Mall.
"Oh iya, kamu mau beli sesuatu gak?" Tanya Sinta.
"Hhmm.... kayaknya enggak deh. Aku sedang tidak membutuhkan apa-apa."
Yah, bukan terlalu hemat ataupun pelit. Sejak dulu Indah memang diajarkan agar lebih mengutamakan membeli sesuatu yang ia butuhkan saja. Kalaupun dia ingin membeli barang yang ia sukai, ia akan memilih yang bisa bermanfaat untuk dirinya.
"Kalau gitu temenin aku beli sepatu yuk!"
"Ok!" Indah mengikuti langkah Sinta menuju salah satu toko sepatu di sana.
__ADS_1
"Indah bantu aku pilih yah!"
"Ok!" Ucap Indah mengacungkan ibu jarinya pada Sinta. Moodnya kini telah berangsur membaik. Dan memang inilah tujuan Sinta mengajak Indah ke Mall. Ia yang sedari pagi melihat kesedihan di wajah sahabatnya itu akhirnya memiliki ide untuk mengajaknya jalan-jalan. Setidaknya bisa melupakan sebentar rasa sedih yang Indah alami. Dan kelihatannya rencananya berjalan dengan baik.