Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Pulang Bersama


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


"Kamu suka sama dia?" Tanya Radit tiba-tiba yang kini telah berdiri di belakang Adit.


Adit yang saat itu tengah duduk sendiri di taman sekolah, nampak sedang menahan amarahnya. Enggan berbalik pada sumber suara, karena dia tahu betul siapa yang berbicara itu.


"Mau apa kamu ke sini?" Tanyanya ketus.


"Ya elah, jangan galak-galak gitu napa sih?" Ucap Radit sembari duduk di samping teman sebangkunya itu.


Tampak sangat jelas di wajah Adit kalau ia sedang sangat kesal.


"Kamu suka kan sama dia?" Ulang Radit.


"Maksud kamu?"


"Udah deh, tidak usah pura-pura bego kayak gitu. Kamu jatuh cinta kan sama Sinta?" Mata Adit membulat sempurna mendengar penuturan Radit.


"Udah gak usah malu-malu, rahasiamu aman di tanganku. Lagian sudah sangat terlihat kalau kamu menaruh hati padannya." Dengan tingkah jahilnya, Radit menyenggol lengan Adit dan menaik turunkan alisnya.


Adit tak menjawab, ia hanya memasang wajah datar.


"Kenapa juga kamu gak bilang dari awal. Tau gitu kan aku bisa bantuin kamu buat deket sama dia."


"Gak nyangka yah selera kamu cewek bar-bar kayak Sinta, hehe..." Radit terkekeh.


Radit yang masih terus berbicara sendiri akhirnya mendadakbmencebik saat Adit kembali membulatkan matanya, menatapnya tajam. Ia tidak suka mendengar perempuan yang ia suka di jelekkan.


"Ish, santai tuh muka, aku cuma bercanda."


"Apa sih." Adit acuh tak acuh, namun ia sungguh mendengar dengan baik apa yang dikatakan Radit.


"Kalau kamu memang suka sama dia, yah perjuangin. Aku akan dukung kamu kok, jangan sungkan kalau kamu butuh bantuan. Karena aku yakin merebut hati seorang Sinta pasti tidak akan mudah. Sampaikan permintaan maaf ku juga kalau kamu apel ke rumahnya yah, bye." Setelah mengucapkan semua itu, Radit menepuk bahu Adit dan meninggalkan pria itu, yang masih merasa nyaman berada di tempat tersebut.


Membayangkan gadisnya yang tengah marah, dan menatapnya benci membuat ia merasa gelisah.


"Cih, apel ke rumahnya? Hah! Dekat saja belum, yang ada sekarang dia lagi benci banget sama aku. Kenapa juga dia sekarang jadi cerewet begitu sih." Adit mencebik sendiri.


Namun sedetik kemudian sebuah senyum terbit di bibirnya. Pemuda dengan kulit kuning Langsat itu mendapatkan sebuah ide yang akan membuatnya dekat dengan pujaan hatinya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha untuk mendapatkan maaf mu, dan aku juga akan berusaha untuk mendapatkan kamu Sinta, karena kamu adalah perempuan pertama yang membuatku merasakan getaran aneh, selalu merindu." Ucap Adit senang.


...


Indah merapikan buku-bukunya dengan malas, ia harus pulang sendiri hari ini, mengingat Sinta sudah berpura-pura sakit dan harus pulang lebih dulu.


Dia bukannya tidak mau ataupun tidak mampu untuk naik angkutan umum, namun sebisa mungkin yang yang diberikan oleh ibunya akan Indah tabung. Ia tidak ingin boros, Indah sangat tidak tega saat melihat ibunya yang sudah sangat berkerja keras untuk menghidupi kebutuhan mereka. Lagi pula jarak rumah dan sekolahnya tidak begitu jauh. Lebih baik uangnya ia tabung untuk digunakan ketika ada keperluan yang mendesak, jadi ia tidak terlalu merepotkan ibunya, pikir Indah.


Baru saja ia melangkah keluar gerbang, seseorang tiba-tiba berhenti disebelahnya, dengan helm yang menutupi seluruh wajah lelaki tersebut.


Lelaki tersebut lalu membuka helmnya, tampaklah wajah yang selalu ada dibenak Indah.


Sambil tersenyum ia menatap Indah lama, ia sangat gemas melihat wajah terkejut perempuan di depannya itu.


"Indah, ayo pulang bersama! Biar ku antar." Ajaknya ramah.


Indah terperangah, merasa heran melihat pria di depannya itu, tampak berbeda namun terlihat lebih tampan dan keren, dengan jaket jeans biru tua dan motor sport yang ia gunakan.


"Kak Adnan...." Ucap Indah pelan.


"Iya, yuk!" Ajaknya kembali.


Indah mengerlingkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya sendiri.


"Tidak perlu kak, terima kasih."


Setiap hari pun sebenarnya dia tidak ingin jika Indah harus pulang dengan berjalan kaki. Walaupun ada Sinta tapi tetap saja. Lagi pula, ia heran kenapa Sinta tidak diantar supir atau David saja ketika pulang, mengingat keluarga itu memiliki beberapa mobil dan juga motor yang terparkir di rumahnya.


"Tidak apa-apa kok kak."


Adnan menarik nafas kasar, tampak berpikir sejenak.


"Kalau gitu aku juga akan pulang dengan berjalan kaki bersamamu." Ucap Adnan sembari turun dari motornya dan melepas helm yang ia gunakan.


"Eh, kak... kak Adnan ngapain?" Tanya Indah panik.


"Mau jalan bersamamu." Ucapnya santai.


"Aduh... kenapa harus jalan bersamaku kak, Indah gak apa-apa kak, kak Adnan pulang duluan saja." .


"Pokoknya kalau kamu tidak ingin pulang bersamaku maka aku yang akan pulang bersamamu dengan berjalan kaki." Ucap Adnan seraya mensedekapkan kedua tangannya di dada.


Indah jadi merasa tak enak kalau-kalau Adnan harus pulang bersamanya dengan berjalan kaki. Dengan ragu-ragu akhirnya ia setuju.


"Baiklah, aku mau."

__ADS_1


Adnan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, merasa sangat senang akhirnya Indah mau pulang bersamanya.


Dengan cepat ia kembali mengenakan helmnya dan kembali naik ke motor sportnya itu.


"Kamu tenang saja, ada tasku yang menjadi penghalang kita, dan kalau kamu takut jatuh berpegangan di tasku saja yah."


"Iya kak." Balas Indah dengan senyum.


Akhirnya Adnan pun melajukan sepeda motornya dengan perasaan yang membuncah, tanpa tahu ada tatapan mata tak suka yang sedang melihatnya dengan tajam.


...***...


Indah masih setia berada di tempat ternyamannya di rumah. Yah, kamarnya. Tempatnya mencurahkan segala isi hati dan juga rahasianya. Duduk santai di dekat jendela, sembari memegang sebuah buku. Tapi tidak, fokusnya bukan pada buku itu, melainkan mengingat kejadian tadi siang, saat Adnan mengantarnya pulang. Lagi-lagi sebuah senyum terbit di bibir tipis nan ranum gadis cantik dengan hijab biru muda itu.


...


Tiupan angin yang kencang, dan banyaknya kendaraan siang itu, menemani perjalanan mereka pulang ke rumah.


"Kalau sedang tidak ada Sinta kamu bisa menungguku, aku akan mengantarmu pulang." Adnan memulai obrolan, sembari melihat Indah dari kaca spion motornya.


"Hah! Kak Adnan mau bawa aku pulang ke rumah Sinta? Kenapa ke rumah Sinta kak? Indah bukan mau ke sana, langsung antar ke rumah Indah saja. Untuk apa ke rumah Sinta?" Tanya Indah yang bingung bertubi-tubi.


"Bukan... bukan, aku bilang lain kali kalau kamu pulang sendiri, kamu bisa tunggu aku."


Mendadak Indah memasang wajah sedih, Adnan jadi bingung dibuatnya.


"Ka... kamu kenapa Indah?"


"Kak Adnan nyuruh Indah pulang sendiri yah?"


"Eh... kok? Bu...." Adnan mulai panik.


"Terus kenapa ngajakin Indah pulang bareng tadi?" Wajah Indah semakin tampak lemas. Lemas apa sedih?😅


"Bukan gitu Indah, aku..."


"Ya udah Indah turun di sini saja kak." Lagi-lagi Indah memotong perkataan Adnan.


Adnan panik.


'Duh, kenapa jadi gini? Kenapa Indah mendadak budek gini sih? Apa karena angin yang kencang dan suara bising yah?' Batin Adnan gelisah.


"Kak, Indah turun di sini aja." Indah membuyarkan lamunan Adnan.


Adnan yang sudah tampak kesal akhirnya menepikan sepeda motornya. Bukan kesal pada Indah, tapi pada angin yang membawa suaranya, sehingga gadis cantik yang duduk dibelakangnya tidak mendengar dengan baik apa yang ia ucapkan. Eh? tapi emang bener yah angin yang bawa? Emang bisa?🙄

__ADS_1


Komen di bawa yah 😁


__ADS_2