Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Curiga


__ADS_3

Kini mereka kembali berhadap-hadapan.


“Kak ayo kita telepon sekarang!” Indah berucap tidak sabaran.


“Iya… iya… tunggu sebentar yah…”


Adnan mulai menekan nomor ponsel yang tadi di berikan resepsionis wanita itu. Sinta pun tampak tegang.


Drrtt…. Drrtt….


(Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silakan tinggalkan pesan……) terdengar suara operator.


“Nomornya sedang sibuk Indah.” Ucap Adnan.


Indah tampak kecewa.


“Ayo terus di coba kembali nan.” David berkata.


Adnan mengangguk.


Setelah percobaan yang ke lima kalinya, akhirnya terdengar suara di seberang telepon.


“Halo.”


“Diangkat.” Bisik Adnan memberitahu semuanya.


“Speaker kak.” Bisik Sinta.


Indah mengangguk, juga ingin mendengarkan.


“Halo, assalamu’alaikum, dengan Pak Jayadi?”


“Iya saya sendiri, ada apa yah?


“Pak saya adalah Adnan, anak dari…"


“Oh, yeah, saya sangat dekat dengan ayahmu. Sayang sekali kita belum pernah bertemu nak.”


“Iya Pak, saya…”


“Panggil om saja Adnan, kamu sudah seperti anak buat om.” Jayadi berkata manis, namun tanpa di ketahui oleh Adnan Jayadi memiliki niat tersendiri menerima telepon darinya.


Mendengar itu satu alis David terangkat.


“Baik om.”


“Oh yah, ada apa kamu menelpon om? Apa kamu membutuhkan sesuatu atau yang lainnya?”


“Iya om karena itulah saya menghubungi om. Ini tentang mama teman saya. Namanya tante Dania. Dia adalah salah satu karyawan yang bekerja di kantor om, beberapa hari yang lalu ia melakukan perjalanan bisnis keluar kota bersama seorang wanita yang bernama Sarah, dan aku rasa mereka tidak hanya pergi berdua pasti ada pihak dari kantor juga yang menemani mereka. Sebelumnya Tante Dania mengatakan akan pulang, tapi sampai sekarang kami belum juga mendapat kabar darinya, anaknya di sini begitu khawatir om, karena tante Dania tidak bisa di hubungi.”


“Perjalanan bisnis?”


“Iya om.”


“Setahu om, kantor belum mengadakan perjalanan bisnis keluar kota selama sebulan ini, apa temanmu itu tidak salah memberikan informasinya?”

__ADS_1


Adnan melihat ke arah Indah,


Air mata Indah mulai tergenang, ia menggeleng.


“Tidak om, dia yakin informasinya tidak salah.”


“Tapi memang benar nak, tidak ada yang melakukan perjalan bisnis bulan ini, dan siapa tadi namanya? Dania dan Sarah ya?”


“Iya, om.”


“Yah, om ingat tentang mereka beberapa hari yang lalu mereka sudah di pecat dari kantor ini karena melakukan kesalahan yang fatal terkait dengan data-data perusahaan, jadi om tidak tahu lagi ke mana mereka pergi.”


“Apa! Di pecat om?” Kaget Adnan, cerita ini semakin membuatnya bingung saja.


Indah yang mendengarnya pun merasa tak percaya.


“Oh yah, di mana ruymha teman kamu itu? Siapa tahu saja ada yang bisa om bantu nanti.”


Sebenarnya Adnan sudah ingin mematikan ponselnya melihat Indah yang kini menangis dipelukan Sinta, tapi karena merasa tak enak ia tetap melanjutkan pembicaraan itu sebentar.


“Dia tinggal tidak jauh dari rumahku om, kami hanya berbeda blok saja.”


“Anak tente Dania ada di lorong Dahlia 3, blok a nomor 07.”


“Oh, baiklah. Jadi selama ibunya tidak pulang dia tinggal bersama siapa?”


“Dia tinggal bersama teman sekelasnya om.”


“Hanya berdua?”


“Hmm… baiklah om mengerti, om akan cek kembali di kantor dan akan langsung menanyakan tentang Dania dan Sarah.”


“Baik om, terima kasih atas bantuannya. Aku sangat berharap om bisa membantu kami.”


“Tentu… tentu om akan bantu.”


“Baiklah om, saya tutup dulu yah teleponnya.”


“Iya nak.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


Telepon tertutup


“Akhirnya, aku tahu bagaimana kondisi rumahnya, memang tidak sulit menemukan tempat tinggal mu, tapi aku juga membutuhkan informasi bukan tentang kondisi di sana, dan tentang anakmu, hahhh.” Tawa Jayadi.


"Jika ada yang mudah, mengapa harus membayar orang lagi untuk memata-matai, hahahaa."



Hiks… hiks… bagaimana ini Sinta kenapa bos mamaku tidak tahu keberadaan mama? Apa benar mama sudah di pecat? Tidak… mama gak mungkin bohong sama aku, aku percaya sama mama, karena aku juga sering mendengar suara tante Sarah bersamanya, mama gak mungkin bohongin aku kan Sin?” Indah berceloteh sedih mengutarakan isi hatinya, masih dalam pelukan Sinta.


Sinta semakin tidak tega saja melihat keadaan Indah.

__ADS_1


“Tidak mungkin Indah, tante Dania tidak mungkin berbohong sama kamu. Aku yakin, kamu tenang dulu yah… kita coba memikirkan sesuatu, dan mencari solusinya.”


Indah melepaskan pelukannya dari Sinta.


“Tapi solusi apa lagi Sin, pemilik perusahaan tempat mamaku bekerja saja sudah bilang kalau dia tidak tahu mama ada di mana, lalu kita harus mencari mamaku di mana, hiks hiks.” Tangisan Indah semakin keras. Adnan dan David bingung harus melakukan apa.


“Huusstt… udah, kamu jangan nangis lagi yah...” Sinta mencoba membuat Indah diam.


“Kak Adnan, kak David gimana nih?” Sinta bertanya tanpa mengeluarkan suara, hanya gerakan bibirnya yang terbaca.


Kedua cowok itu hanya diam, bingung harus mengatakan apa.


Ruangan itu mendadak sunyi, hanya terdengar isakan Indah yang membuat Adnan dan David merasa tak tega melihatnya.


Beberapa saat kemudian…


“Indah…” Panggil Adnan lirih.


“Indah, kamu…”


Indah melepas pelukannya pada Sinta, dengan cepat berkata.


“Aku ingin sendiri dulu kak.” Indah melihat satu per satu David dan Sinta. kemudian berlari masuk ke kamarnya.


Saat Sinta akan menyusulnya David melarang.


“Tapi kak, aku khawatir sama Indah.” Protes Sinta.


“David benar Sinta, Indah perlu waktu untuk sendiri. biarkan ia menangis dulu agar hatinya lega, Insya Allah dia akan baik-baik saja.” Timpal Adnan.


Akhirnya Sinta mengalah, ia kembali duduk, gadis itu menghembuskan nafas kasar.



“Ini semua membingungkan.” Adnan berucap memecah keheningan setelah hampir 15 menit mereka bertiga tenggelam dalam pikiran masing-masing.


David dan Sinta mengerutkan keningnya.


“Membingungkan? Maksud kamu?” David bingung.


“iya, bukankah ada dua pendapat yang berbeda.”


“Maksud kakak bagaimana?” Sinta ikut angkat bicara.


“yah, kita semua kan sudah tahu dari Indah bahkan waktu itu ada Sinta juga saat tante Dania mengatakan akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota bersama tante Sarah. Lalu kenapa pemilik perusahaan itu, Pak… Jayadi bilang kalau tidak ada perjalanan bisnis yang perusahaan mereka lakukan ke luar kota? Dan mengapa ia bilang kalau tante Dania dan Sarah sudah di pecat? Tante Dania gak mungkin bohong kan sama anaknya sendiri.”


David dan Sinta masih mendengarkan.


“Lalu Vid, waktu kita di kantornya kan mba yang ada di meja resepsionis itu bilang kalau Pak Jayadi sedang ada di luar kota, tapi tadi kenapa dia bilang dia akan mengeceknya sendiri ke kantor nanti. Kalau memang dia di luar kota sekarang apa ia kalau dia yang akan mengeceknya secara langsung. Aku merasa ada kebohongan di balik kata-katanya.” Adnan berpikir.


'Dan lagi papa tadi bilang kalau dia sudah bertemu dengan Pak Jayadi... sementara Pak Jayadi tidak ada di kota ini.' Batin Adnan


“Kalau di pikir-pikir memang benar sih nan, yah kamu memang benar… ada apa ini? Mungkinkah kalau hilangnya tante Dania dan tante Sarah itu sudah di rencanakan?” David menimpali.


Adnan mengangguk.

__ADS_1


“Di rencanakan? Maksud kakak?”


__ADS_2