Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Di Kira Kerasukan


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Adit bersiul sembari dengan santai mengendarai sepeda motornya. Perasaanya hari ini begitu bahagia. Seakan bunga-bunga tengah bermekaran dihatinya.


Meski langit hari ini tampak sedikit mendung, tapi semangat Adit untuk datang ke rumah sang calon gebetan (menurutnya) tak surut. Lalu lalang kendaraan pun mulai terlihat, bunyi klakson sesekali terdengar, aktivitas penduduk di kota J kembali berjalan seperti biasa.


Adit berhenti tepat di depan salah satu rumah yang cukup mewah. Ia yang tadi begitu ceria tampak mulai ragu.


"Duh, kenapa jadi deg-degan gini yah? Kan cuma mau nawarin Sinta berangkat bareng, udah kayak mau ke Medan perang aja." Adit berbicara pada dirinya sendiri, memegangi dadanya.


Saat satu kakinya ingin melangkah, ia kembali menarik, dan mengurungkan niatnya.


"Tapi, apa Sinta mau? Dia kan masih marah sama aku karena kejadian kemarin." Ia tampak ragu, dengan mengelus dagunya, berpikir.


"Masuk gak yah?"


"Ah, aku kan sudah di sini, lagian kamu jadi cowok kok pengecut banget sih Dit."


"Ayo, kamu bisa. Huufftt..." Menyemangati dirinya sendiri, menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri lalu kemudian mengangkatnya ke atas.


Setelah menghembuskan nafas, dan berolahraga sedikit 🤣 akhirnya Adit melangkah. Namun baru saja ia ingin membuka pintu pagar Sinta, gadis itu sudah terlihat keluar dari pintu utama. Nampak sedang sibuk mengikat rambutnya yang panjangnya sebahu.


Adit diam mematung di tempat, menunggu gadis pujaannya itu membuka pintu gerbang.


"Ka... kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Sinta begitu terkejut saat melihat Adit ada di depannya dengan memperlihatkan senyum konyol.


"Aku sedang menunggu tukang bakso lewat." Ucap Adit asal.


"Tukang bakso?" Beo Sinta, mengerutkan keningnya.


Sementara Adit sedang menahan senyumnya.


"Kalau kamu ingin menunggu tukang bakso, tunggu saja di tempat lain. Kenapa juga berdiri di depan rumahku. Lagian mana ada tukang bakso yang jualan pagi-pagi begini?" Ucap Sinta ketus, ia masih belum sadar kalau Adit sedang mengerjainya.


Adit tak menjawab ucapan Sinta, ia sibuk memandangi wajah manis gadis tomboi dihadapannya itu.


Di pandangi seperti itu, bulu kuduk Sinta berdiri.


'Kenapa nih anak? Senyum-senyum gak jelas begini, masa ia dia kesambet. Apa tadi dia melewati pohon besar yang ada di ujung komplek itu? Menurut cerita orang-orang kan pohon itu angker, bisa saja kan makhluk halus mengikuti Adit dan duduk di jok belakang motor.' Batin Sinta menatap motor sport Adit.


"Iihhh...." Sinta bergidik.


"Ka... kamu kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Sinta takut-takut.


Adit tak bergeming, ia masih menyandarkan tubuhnya ke pagar dengan tangan yang ia silangkan ke depan dada.

__ADS_1


"Dit! Adit!"


Adit masih tak bergeming.


'Wah, gawat. Nih anak kayaknya beneran kesambet. Aku harus gimana? Rukyah aja kali yah... eh, tunggu tunggu, gimana caranya mau ngerukyah, baca Al-fatihah saja aku gak lancar.' Sinta kembali berbicara pada dirinya sendiri, ia panik, menggigit kukunya, berusaha memikirkan cara lain.


'Aha, aku tahu.' Ia menaikkan telunjuknya sejajar dengan kepala.


Dan tiba-tiba...


BUGH


Satu bogem mentah yang keras mendarat tepat di perut Adit.


"Aauugghh..." Adit meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Sin, kamu apa-apaan sih?"


"Huufftt... akhirnya... kamu sadar juga." Sinta mengelus dadanya lega.


"Sadar? Maksud kamu apa? Kenapa memukul perutku sekeras ini?"


"Kamu tuh harusnya berterima kasih sama aku karena sudah berhasil menyadarkan kamu dari kerasukan tadi." Ucap Sinta bangga.


"Ke... kerasukan? Siapa yang kerasukan?" Adit Cengoh.


"Kamu lah!" Sinta sewot.


"Kamu tadi melamun terus, aku terus memanggil mu tapi kamu tidak mendengarnya. Jadi kamu pasti kerasukan penghuni pohon besar di ujung sana. Tanya saja sama orang-orang yang tinggal di dekat sana, mereka tahu ceritanya. Memangnya kamu sudah melakukan apa, sampai penghuni pohon itu mengikutimu?" Sinta serius berbicara setengah berbisik.


'Yang benar saja! Kerasukan? Aku melamun karena memikirkan dirinya, tapi dia malah menyangka aku kemasukan makhluk halus. Benar-benar yah gadis ini, sangat langkah.' Batin Adit.


Adit menghembuskan nafas kasar.


"Bagaimana? Apa kamu sudah sadar sepenuhnya? Makhluk halus itu sudah keluar dari tubuhmu kan?" Sinta bertanya serius.


'Huufft.... sabar Dit, sudahlah jangan berdebat, mengalah saja.' Adit kembali membatin.


"Sudahlah, aku tidak mau membahas hal-hal yang aneh lagi." Adit mengibaskan tangannya di udara.


"Ya sudah." Sinta acuh.


"Aarrgghh..." Adit memegang perutnya yang kembali merasa keram karena pukulan tadi.


"Eh, apa masih sakit?"


"Ck, tentu saja, kamu memukulnya sangat keras tadi."


"Hhmm.. baru begitu saja, tampangnya sudah sangat menyedihkan, Cemen sekali." Sinta menghadapkan telunjuknya ke bawah.


Adit yang mendengar nada ejekan dari Sinta yang meremehkannya itu segera menegakkan tubuhnya. Ia tidak mau harga dirinya sebagai seorang pria jatuh di hadapan gadis yang ia sukai.

__ADS_1


"Tapi aku tidak masalah, ini sama sekali tidak ada apa-apanya." Ucap Adit bangga.


"Oh, benarkah? Apa kamu mau mencobanya sekali lagi." Sinta kembali mengepalkan tangannya.


"Eeh, tidak-tidak, kamu apa-apaan sih, enak aja main pukul sembarangan."


Sinta tertawa pelan. Sementara Adit masih menggerutu sendiri, dia tampak kesal.


"Sekarang cepat katakan, untuk apa kamu ada di sini?" Tanya Sinta.


"Hhmmm... aku kan tadi bilang kalau nungguin..."


"Aku tahu kamu bohong. Cepat katakan, aku bisa terlambat ke sekolah kalau terus meladeni kekonyolan mu ini Adit." Sinta kembali jutek saat menyadari yang dikatakan Adit tadi itu hanya alasan saja.


"Hhmm... aku ke sini karena ingin mengajakmu berangkat bareng." Adit berkata pelan.


Mulut Sinta menganga, merasa tak percaya dengan yang ia dengar, sedang Adit merasa tergelitik dengan respon Sinta yang seperti itu.


"Tutup nih mulut, nanti kalau nyamuk masuk dan bertelur di sana kan bisa gawat." Ucap Adit serasa menutup mulut Sinta dengan mendorong dagu gadis itu ke atas.


"Lagian se senang itu yah, karena mau berangkat bareng aku. "


Sinta tersadar.


"Apa-apaan kamu, GeEr banget." Sinta membuang muka.


"Bilang aja, gak usah malu-malu gitu."


"Apaan sih, udah sana. Aku bisa pergi sendiri, gak usah repot-repot, bye." Sinta melangkah pergi menuju jalan raya.


"Sin! Sinta!" Mengikuti langkah Sinta.


"Kamu kenapa sih ikutin aku?" Sinta mulai kesal karena Adit terus mengikutinya.


Dengan langkah cepat ia berjalan, dan tentu saja laki-laki itu juga tidak akan kalah cepat.


Yah, Adit meninggalkan motornya di depan rumah Sinta demi bisa menyusul gadis ini.


"Aku kan bilang mau berangkat bareng kamu, kalau kamu menolak ikut bersamaku, maka aku yang akan ikut bersamamu." Jawab Adit santai.


Sinta menunggu di tepi jalan raya, tepat saat itu ia memberhentikan taksi yang lewat di depannya.


"Taksi." Ucapnya sambil melambaikan tangan.


Kendaraan itu pun berhenti tepat didepannya, Sinta merasa senang karena ia berpikir Adit tidak akan mengikutinya lagi, tapi ternyata dugaannya salah. Di saat akan membuka pintu taksi itu, dengan sigap Adit mendahuluinya dan mempersilahkannya masuk. Jadilah, cowok itu juga ikut masuk ke taksi dan duduk dengan manis setelah menyuruh Sinta untuk bergeser.


"Kamu apa-apaan sih Dit, keluar sana. Kamu kan bawa motor, pakai motor saja sana." Usir Sinta.


"Sudah ku bilang aku ingin bersamamu. Sudahlah jangan cerewet lagi nanti kita terlambat."


Sinta diam melihat Adit yang kembali menatapnya dalam.

__ADS_1


Setelah Adit mengatakan tempat tujuannya, Supir taksi pun bergegas tancap gas.


'Misi berhasil, walau tidak sesuai rencana.' Batin Adit tersenyum.


__ADS_2