
Dania tidak bisa berkomentar apa-apa. Dia hanya diam, mengusap bahu sang nenek.
Nenek yang merasa sudah terbawa emosi itu kembali menata hatinya.
“Kami sudah tidak ingin mengingat dirinya lagi. Bagi nenek dan kakek, Farid adalah satu-satunya keluarga kami sekarang. Dan nenek sangat bersyukur karena memiliki dia.”
“Iya, nenek benar, yang terpenting sekarang adalah nenek masih memiliki Farid.”
Nenek mengangguk.
Namanya adalah Sarimah, orang-orang memanggilnya dengan nek Sarimah. Dan yang selalu di panggil kakek oleh Dania bernama suryo. Sewaktu masih muda, kakek Suryo dan nek Sarimah sangat sulit mendapatkan keturunan. Mereka berdo’a sepanjang siang dan malam kepada yang Maha Kuasa agar mereka di beri buah hati dalam pernikahan mereka. Berbagai usaha pun telah mereka lakukan tentu dengan cara tradisional menurut pemahaman penduduk di sana. Namun usaha mereka belum juga mendapatkan hasil. Bertahun-tahun menunggu, Kakek Suryo tetap setia pada istri tercintanya, hingga di usia pernikahan mereka yang ke-15 tahun barulah doa mereka terkabul. Pasangan itu akhirnya di karunia seorang putri yang sangat cantik.
Meski usia mereka tidak lagi muda saat mereka memiliki putri, namun putri mereka tidak pernah kehilangan kasih sayang.
“Ya sudah ndo, kamu tidur yah… ini sudah tengah malam.” Nenek mengakhiri percakapan mereka.
Dania mengangguk.
“Nenek juga istirahat yah…”
“Iya.”
Nenek Sarimah lalu keluar dari kamar Dania.
Setelah nenek keluar Dania membaringkan tubuhnya, menarik selimut tipis itu.
“Kasihan sekali nenek, tapi dia juga beruntung karena memiliki cucu sebaik Farid.” Lirih Dania.
Perlahan ia memejamkan matanya dan masuk ke dunia mimpi.
...***...
Tiga pria yang turun dari mobil tadi mulai memasuki pekarangan rumah Indah, mengendap-endap di sunyi-nya malam. Semuanya memakai pakaian yang senada. Jaket hitam dan topi yang sedikit menutupi wajah mereka.
Seorang mulai mencungkil jendela di rumah itu, tidak lama, jendela itu pun terbuka. Sementara David bersembunyi di balik sofa yang ada di sana. Menyaksikan tiga pria tersebut masuk melalui jendela yang di rusak dengan sangat mudah.
‘Wah…. Entah mereka yang sudah professional dalam membobol jendela rumah orang, atau rumah Indah ini yang tidak aman. Mudah sekali mereka masuk.’ Batin David.
[Mereka sudah masuk ke dalam rumah, lebih waspadalah.] Bunyi pesan David kepada Adnan.
__ADS_1
“Sekarang kita menyebar dan cari anak perempuan dan dokumen itu.” Salah satu dari pria tersebut memerintahkan temannya yang lain.
Kedua temannya mengangguk.
David masih terus memperhatikan mereka dari balik sofa.
“Kau tetap berada di sini, dan awasi situasi.” Tunjuknya pada pria di sebelah kanan.
“Dan kau carilah kamar utama rumah ini, dapatkan dokumen yang tuan minta, sementara aku akan mencari anak perempuan itu, mengerti!”
“Baik.” Jawab mereka kompak.
Kedua pria itu mulai masuk lebih dalam ke rumah tersebut, sementara satunya lagi masih berjaga di depan jendela. Mengawasi sekeliling.
'Dokumen? Dokumen apa?' Batin David tak mengerti.
Setelah di rasa kedua pria yang lain telah cukup jauh, dalam kegelapan itu, David mengendap-endap ke arah pria yang berdiri di dekat jendela, dan dalam dua kali pukulan saja, pria tesebut sudah terkapar di lantai.
Tak tak
David memukul tepat di leher si pria, dengan pukulan karate menggunakan kepalan tangan atau telapak tangan untuk menyerang. Ada serangan dengan sisi tangan. Meskipun gerakannya lembut dan sempit, pukulan ini bisa memberikan kerusakan ganda.
"Tinggal dua lagi.” Ucap David pelan, setelah itu ia kembali mengendap-endap dalam kegelapan.
Sementara itu…
Adnan yang berpura-pura tertidur itu, mendengar suara pintu yang terbuka. Merasakan pergerakan yang semakin dekat dengannya, Ia sudah bersiap-siap sejak tadi, menunggu.
Yah, satu pria itu, tepatnya si pemimpin penjahat tersebut berhasil masuk ke kamar Indah. Remangnya cahaya lampu memperlihatkan seseorang dengan memakai jilbab tertidur dengan posisi membelakanginya. Ia yakin itu adalah gadis yang mereka cari.
Pria itu berjalan semakin dekat, dengan sebuah sapu tangan yang telah di baluri obat tidur di tangannya. Siap untuk membekap mulut yang ia kira adalah Indah.
Dan saat sapu tangan itu sudah berada di depan wajah Adnan, dengan cepat Adnan menarik tangan sang pria dan mendaratkan kepalan tangan yang keras di wajah pria tersebut.
Bugh…
Pria itu terdorong mundur memegang hidungnya yang berdarah, Adnan segera menyingkirkan selimut dan mukenah yang ia gunakan.
Pria tersebut begitu terkejut melihat ternyata bukan gadis yang ia temui melainkan anak laki-laki.
__ADS_1
“Sial*n, siapa kau?”
“Bukankah pertanyaan itu harusnya untukmu?” Sindir Adnan.
“Di mana gadis itu, anak kurangaj*r?” Bentak sang pria.
Mendengar pria tersebut mencari Indah, Adnan semakin marah.
“Mengapa kalian mencarinya? Siapa yang mengirim kalian?”
“Siapa yang mengirim kami itu bukan urusanmu anak bau kencur, di mana gadis itu?” Teriak pria itu lagi.
Sementara pria yang sedang berada di kamar Dania mendengar temannya berteriak, ia segera menuju ke sana, meninggalkan berkas-berkas dan isi lemari yang berantakan.
“Kalaupun aku tahu, sampai mati pun aku tidak akan memberitahu kalian.” Ucap Adnan penuh amarah.
“Siala*n, anak kecil kayak kau bisa ku habisi hanya dengan satu tangan.” Si pria tertawa, mengejek.
“Masa?” Tantang Adnan.
Di tantang seperti itu oleh anak yang umurnya dua kali lipat darinya membuatnya sangat marah, dengan kekesalannya itu si pria mulai menyerang.
“hiyaaa!!!.”
Pria itu mulai menyerang Adnan, mendaratkan pukulan, tinju dan tendangan. Namun ia yang hanya melihat Adnan sebagai anak ingusan itu tak tahu jika anak yang ia hadapi sekarang, sudah berkali-kali memenangkan kejuaraan bela diri.
Adnan dengan mudah menghindari setiap serangan pria tersebut, dan berhasil menyerangnya balik dengan menendang perut si pria.
Pria itu kembali terbentur ke dinding. Meringis memegangi perutnya.
“Arrgghh…” Teriak pria tersebut sembari kembali menyerang Adnan, kali ini berhasil mendaratkan tinjunya ke wajah cowok tampan itu.
Adnan tak gentar, saat pria itu kembali akan memukulnya ia dengan gerakan cepat mengunci tangan si pria ke belakang. Lalu menendang kakinya hingga ia terduduk di lantai. Kemudian memukul kepala belakang sang pria hingga pria tersebut pingsan tak sadarkan diri.
Namun tanpa ia ketahui seorang pria lainnya yang telah sampai di kamar itu dan melihat bosnya sudah pingsan, akan menyerang Adnan secara diam-diam, dengan sebilah pisau ditangannya.
Adnan tidak menyadari seseorang di belakangnya sudah siap menusukkan benda tajam itu ke punggungnya namun tepat saat itu…..
“Adnan!!!” David berteriak melihat hal tersebut, Adnan reflek berbalik begitu juga si pria yang memegang pisau, pandangannya teralihkan. Sebelum ia kembali fokus akan menghujamkan senjata itu, Adnan lebih dulu, menangkis tangannya, mematahkannya hingga pisau itu jatuh dari genggaman si pria, lalu dengan gerakan yang sama dengan David ia memukul leher si pria dengan pukulan lengan tangannya hingga ia tak sadarkan diri seperti temannya yang lain.
__ADS_1