
"Kak Adnan dan kak David ada apa datang ke rumah Indah? Perasaan aku gak ngundang siapa-siapa deh, Cuma Sinta aja.” Ucapnya polos.
Reflek Adnan dan David saling pandang, mereka tersenyum kaku. Sinta geleng-geleng kepala mendengar perkataan Indah.
“Aku yang udah nyuruh mereka buat datang ke sini Indah.” Sinta yang menjawab.
“Kenapa?”
“Buat bantu kita atau hibur kamu lah… dari tadi kan kamu nangis terus. Tuh ingus kamu udah belepotan di jilbab,” Sinta mengejek.
Indah memanyunkan bibirnya, ia kembali nampak sedih ketika mengingat lagi di mana ibunya yang belum ada kabar itu. Saat akan menangis…
“Indah kalau ada masalah kita memang boleh nangis, tapi jangan terlalu lama meratapi kesedihan itu, bukankah kita juga harus memikirkan jalan keluarnya.” Adnan menasehati.
“Nah, bener tuh kata kak Adnan. Mana nangisnya kenceng banget lagi, tau gak kak tadi tuh tetangga datang ke sini. Mereka kirain Indah kenapa-kenapa, malu aku tuh.” Sinta curhat.
David dan Adnan yang mendengar itu tersenyum tipis. Sebenarnya sih lucu, tapi mana bisa mereka tertawa sementara sang gadis pujaan hati sekarang sedang sangat sedih.
Indah yang mendengar perkataan Adnan itu terdiam, berpikir.
Beberapa saat kemudian setetes air mata kembali jatuh di pipinya, namun gadis itu langsung menghapusnya.
“Kak Adnan bener, harusnya aku gak boleh nangis terus, aku harus berusaha cari keberadaan mama dan terus berdo’a semoga mama baik-baik saja di sana. Maafkan aku yah Sin, udah repotin kamu.” Indah merasa bersalah pada Sinta.
“aku gak akan cengeng lagi.” Sambungnya.
Sinta tersenyum, memeluk penuh sayang Indah.
“Kamu gak pernah repotin aku kok, kita kan sahabat sudah seharusnya selalu ada untuk sahabat kita kan. Tapi kalau masalah cengeng, boleh sih sedikit asal tetangga gak sampai datang lagi ke sini, hehe…” Canda Sinta.
Terukir senyum tipis di bibir Indah, ia memeluk Sinta dengan tulus, merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti Sinta.
Keuda cowok itu tersenyum.
Indah mulai menceritakan tentang ibunya yang melakukan perjalanan bisnis, sampai kemudian ia sampai pada cerita kemarin malam saat ibunya bilang ia akan pulang pagi ini.
Kali ini Indah tampak tegar menceritakannya, meski sebagian orang mengatakan ia lebay… tapi terserahlah… hanya ibunya lah yang kini ada bersamanya, hanya ibunyalah kini keluarga yang ia punya.
“Gitu kak, aku mungkin tidak akan khawatir seperti ini kalau mama ada kabar walau sebentar. Tapi ini… sampai sekarang belum ada kabar dari mama. Aku juga sudah menelfon tante Sarah, tapi sama hp tante juga gak aktif.”
“Kamu tenang dulu yah… siapa tahu aja perjalanan bisnis itu diperpanjang dan di daerah tempat tante sekarang gak ada sinyalnya. Makanya gak bisa di hubungin. Kamu jangan cemas dulu.” Adnan menebak-nebak.
__ADS_1
“Kita tunggu sampai besok, kalau tante belum juga ada kabar kita akan pergi ke tempat kerjanya untuk menanyakan hal ini.” David angkat bicara.
“Iya, kamu benar Vid. Indah kamu tau kan di mana tempat kerja tante?”
“Tahu kak, di perusahaan Jayadi Group Industy” Indah berucap cepat.
Mendengar itu Adnan merasa tak asing, seperti pernah mendengarnya sebelumnya.
“Kenapa?” David bertanya saat melihat Adnan yang termenung, seperti memikirkan sesuatu.
“Tidak apa-apa,hanya sepertinya pernah mendengar papaku menyebutkan nama perusahaan itu.”
“Nah itu lebih baik, kamu tanya saja nanti sama papa kamu.” David berkata semangat.
Adnan terdiam.
Bertanya pada ayahnya? Huh, sekedar menyapa saja Adnan pun sebenarnya tak sudi. Tapi jika memang sampai besok tak ada kabar dari Ibu Indah, ia akan memikirkannya. Ia juga tak tega melihat Indah terus sedih dan menangis.
“Gimana Nan?” Tanya David, Indah dan Sinta menatap Adnan.
“Iya, Insya Allah.” Jawabnya.
Indah dan Sinta tersenyum lega, sementara David merasa ada yang di sembunyikan Adnan tentang ayahnya itu. Karena ketika membahasnya, ia seketika murung.
Kedua pria itu mengangguk.
Sahabat itu orang yang paling mengenal kita setelah keluarga. Bahkan dari ekspresi wajah pun mereka bisa tahu apa yang kita rasakan.
Adnan menatap jam dinding di sana, sudah pukul 17:30
“Ini sudah hampir maghrib, tidak baik kalau kita tetap ada di sini, saat tidak ada orang tua Vid.” David juga menatap jam yang melingkar di tangannya.
“Iya, kamu benar.”
“Indah kami pulang dulu yah, kamu tidak perlu khawatir, jika besok belum ada kabar dari tante Dania, aku dan David akan membantu untuk mencari tahu ke kantor tante.” Adnan berdiri dari tempatnya duduk.
Indah tersenyum, mengangguk, melihat itu Adnan jadi lega untuk meninggalkan gadis tersebut. Setidaknya dia tidak menangis lagi.
Melihat hal tersebut, ada rasa cemburu yang di rasakan David. Namun cowok itu berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Sinta menatap kakaknya prihatin.
“Kak sampaiin sama mama kalau aku nginep di sini yah, nemenin Indah.” Sinta berucap memutus pandang Indah dan Adnan.
__ADS_1
“Iya, kakak akan bilang ke mama, kamu jagain Indah aja.” David berkata lirih.
Mendengar hal itu, Adnan pun menatap David, dugaannya akan David dan Indah yang kini telah menjalin hubungan itu kembali memenuhi hatinya.
David dan Adnan keluar dari rumah Indah bersamaan, Sinta menutup pintu dan mengajak Indah untuk kembali masuk ke kamar.
Saat akan menaiki motor mereka masing-masing…
“Selamat yah… kamu sudah menang dan aku udah kalah.” Ucap David dengan senyum kesedihannya.
Adnan reflek berbalik, merasa heran dengan apa yang dikatakan David.
“Maksud kamu apa?”
Kedua lelaki itu kini saling berhadap-hadapan.
“Yah, soal Indah.” David mengendikkan bahunya.
Adnan mengerutkan keningnya.
“Bukannya… Indah sudah nerima cinta kamu yah? Aku melihat kalian…..” Adnan terhenti.
“Ekhm… maksudku aku tidak sengaja melihat kalian berdua di pantai itu, dan…”
“Yah… dan Indah nolak aku.”
Garis bibir Adnan terangkat, senyum tipis tampak dari lelaki itu, merasa senang karena dugaannya antara Indah dan David ternyata salah.
“Kalau mau senyum, yah senyum aja kali…” David memukul pelan bahu Adnan. Cowok itu sepertinya sudah lebih bisa menerima semua yang terjadi.
“Ck, siapa juga yang mau senyum.” Adnan berbohong.
“Alah…. Udah kelihatan juga, masih aja bohong.”
“Kamu makin ngaco, sudahlah aku mau pulang.” Adnan mengenakan helmnya, dia harus segera pergi sebelum David benar-benar membuatnya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya lagi.
“Cemen banget, pakai kabur lagi.” Ucap David pelan, namun Adnan bisa mendengar ucapan sahabatnya itu.
Adnan lebih dulu meninggalkan rumah Indah, di susul David yang juga kini telah naik ke motornya. Sebelum pulang, sekali lagi cowok itu menatap pintu rumah Indah.
Sungguh, rasanya begitu berat ketika ia harus mengikhlaskan orang yang ia cintai bersama dengan orang lain. Tapi apa benar ia sudah mengikhlaskannya? Mungkin tidak, namun ia akan berusaha untuk mengubur rasa di hatinya itu.
__ADS_1
Sebuah senyum terukir di bibirnya, senyum yang tulus namun tampak luka di sana.