
“Halo Sin.”
“Halo kak ini Indah, apa aku sudah bisa pulang ke rumah sekarang! Kak David dan kak Adnan baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan? Apa semalam benar-benar ada seseorang yang Mencari aku kak?” Suara Indah di seberang telepon.
“Iya Indah, kamu sudah boleh kemari, aku dan Adnan baik-baik saja. Dan kami punya kejutan untukmu.” Jawab David.
Dania menyunggingkan senyum lebar, saat tahu David sedang berbicara dengan Indah, ia sudah tidak sabar bertemu dengan putrinya itu.
“Kejutan apa kak?”
“Nanti kamu juga akan tahu, cepatlah kemari.” David berkata riang. Adnan yang duduk di sebelahnya pun menyunggingkan senyum.
‘Indah pasti akan sangat senang melihat tante Dania, terima kasih Ya Allah, semuanya baik-baik saja.’ Batin Adnan bersyukur.
David menutup teleponnya dengan menggelengkan kepala, ia yakin saat ini Indah pasti sedang menarik tangan Sinta untuk secepatnya pulang ke rumahnya. Membayangkan wajah Sinta yang dibuat kesal, hehe sangat lucu pastinya.
“Kalau aku boleh tahu tante, sebenarnya apa yang terjadi? Tante kemana saja selama beberapa hari ini? Indah begitu mengkhawatirkan keadaan tante, ia selalu menangis.” Adnan bertanya penasaran.
“Maafkan aku jika lancang tan, kalau tante tidak ingin bercerita tidak apa-apa.” Sambung Adnan merasa tak enak, karena raut wajah Dania yang tampak sendu kembali.
“Tidak… tidak apa-apa nak, kalian berdua sudah menyelamatkan Indah, dan tante sangat bersyukur akan hal itu, tante marasa sudah dekat dengan kalian. Kalian berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Dania menatap Adnan dan David bergantian.
“Sebenarnya tante di culik oleh bos tante sendiri dan…”
“Pak Jayadi? Dia menculik tante?” Adnan terkejut.
“Yah, kamu mengenalnya nak?”
“Tidak tan, kami mengetahuinya hanya sewaktu kami ke kantor tante saja.” David yang menjawab.
Adnan ragu-ragu mengangguk.
“Lalu apa yang terjadi tan?” David kembali bertanya.
“Setelah itu…” Dania lalu menceritakan semuanya pada Adnan dan David, Adnan dan David yang mendengarnya pun ikut emosi di buatnya.
Dania juga menceritakan tentang para pembunuh suaminya, termasuk salah satunya adalah Jayadi.
“Mereka sangat kejam.” David mengepalkan tangannya.
“Lalu apa yang terjadi pada tante Sarah, tan?”
Dania menggelengkan kepala, sedih.
__ADS_1
“Tante tidak tahu bagaimana keadaan dia sekarang, bagaimana tante harus menolongnya? Tante sungguh merasa bersalah.” Dania kembali menangis.
“Bagaimana kalau kita melaporkan hal ini ke polisi? Ini tidak bisa di biarkan.” Ucap Adnan.
“Yah kamu benar nan.” Semangat David menggebu.
"Aku pun begitu ingin melihat wajah si Tonson dan Jayadi itu, laki-laki yang kejam. Ingin sekali aku memukulnya dengan tanganku ini.” David mengangkat tangannya, mengepalkannya.
“Mereka bukan orang biasa nak, dan orang-orang di balik ini semua jauh lebih berbahaya dari pada Jayadi dan Tonson. orang itu memiliki kekuasaan yang kuat, hingga ia bisa memutar balikkan fakta, bahkan melapor pada pihak kepolisian saja tidak ada gunanya. Buktinya mereka bisa lepas dari jeratan hukum setelah tante melaporkan mereka. Setelah dua tahun ini mereka masih bisa menghirup udara bebas.” Ucap Dania.
“Tante orang-orang yang ingin menculik Indah, menyebutkan tentang sesuatu. Selain mencari Indah mereka juga mencari sebuah dokumen.” Ucap Adnan.
“Yah, kamu benar mereka mencari sebuah dokumen, dokumen apa tan?” David bertanya. Farid yang sudah mengetahui semua cerita Dania hanya menjadi pendengar.
“Mereka mencari dokumen aset-aset peninggalan ayah Indah nak, itulah yang mereka incar, itulah yang mereka inginkan hingga tega menghilangkan nyawa seseorang.”
‘Itu berarti Indah dan tante Dania bukanlah orang sembarangan, mereka masih memiliki semuanya, tapi memilih untuk hidup sederhana.’ Gumam David dalam hati.
Adnan menganggukkan kepala, mengerti.
“Apa tidak apa-apa jika Indah tahu tentang semua ini tante?” Farid akhirnya angkat bicara.
“Iya, aku juga mengkhawatirkan hal yang sama.” Ucap Adnan.
...
Dengan tergesa-gesa Indah turun dari motor Sinta dan berlari masuk ke rumahnya.
“Kak Adnan, kak David kalian tidak apa-a…” Ucapan Indah terhenti saat melihat wanita yang duduk di sofa, ia terdiam mematung.
“Apa ini mimpi?” Gumam Indah pelan, air matanya tertahan.
Dania yang melihat putrinya itu segera berdiri dari duduknya.
“Sayang ini mama.” Ucap Dania lirih.
“Mama?” Indah membulatkan matanya, dengan segera berlari ke arah Dania.
“Mama… ini beneran mama kan?”Indah bertanya dalam tangisnya.
“Ia sayang ini mama.” Dania memeluk erat putrinya.
“Mama kemana saja, Indah sangat khawatir ma, Indah takut sekali, jangan pergi lagi ma Indah takut di tinggal mama, hiks… hiks…” Tangis Indah semakin pilu.
__ADS_1
Adnan, David, Farid dan Sinta yang melihatnya ikut terharu. Sinta yang berdiri di belakang Indah bahkan menangis. Andai situasinya berbeda, David pasti akan mengabadikan moment itu di ponselnya dan akan menjadi bahan candaannya setiap saat. Kan jarang-jarang bisa melihat Sinta menangis seperti ini, bahkan ini adalah moment yang langka.
“Maafkan mama yah sayang, mama janji tidak akan pernah jauh-jauh lagi dari kamu.”
Indah mengangguk dalam tangisnya.
…
Setelah Adnan, David dan Sinta pulang, Indah terus berada di dekat Dania. Kali ini, takut sekali dia kalau ibunya itu akan pergi lagi. Ia belum mengetahui apapun, bahkan Adnan dan David tidak menceritakan kejadian semalam. Indah pun melupakan hal tersebut karena begitu senangnya ibunya telah kembali.
“Indah, kamu duduk dulu mama mau masak dulu sayang.” Ucap Dania, Indah masih memeluknya saat ia telah selesai mencuci beberapa sayuran yang di beli Indah waktu itu.
“Indah masih kangen sama mama.” Indah mengeratkan pelukannya.
“Mama juga sangat rindu sama kamu nak.” Dania membalas pelukan putrinya.
“Sebenarnya apa yang terjadi ma? Mama ke mana saja? Kenapa Indah tidak bisa menghubungi mama?” Indah kembali mengajukan pertanyaaan yang sama untuk yang kedua kalinya.
Yah, sedari tadi dia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.
“Ceritanya panjang sayang, nanti mama akan cerita ke kamu yah…”
"Janji yah mah?"
Dania mengangguk.
“Lalu siapa laki-laki yang bersama mama?”
Dania tersenyum.
Farid kini tengah beristirahat di kamar Dania, dan dia akan bersama dengan Indah di kamar anaknya itu hari ini.
“Dia adalah orang yang sudah menolong mama sayang, namanya Farid, kamu harus panggil dia kak Farid yah.”
Indah mengangguk.
“Kalau dia yang sudah menolong mama, berarti dia adalah orang yang baik.”
“Kamu benar sayang, sekarang kamu masuk ke kamar dan sholat maghrib yah… setelah itu kita akan makan malam bersama kak Farid.”
“Hhmm… baiklah, mama jangan kemana-mana yah.” Ucap Indah.
“Iya.” Dania mengerti perasaan Indah, dia pasti sangat takut kehilangannya, mereka hanya memiliki satu sama lain.
__ADS_1
Akhirnya dengan sedikit enggan, Indah masuk ke kamarnya, dia memang belum sholat maghrib tadi.