
...***...
Adnan mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ah, andai saja ia memiliki pintu ajaib milik doraemon, tentu ia sudah berada di tempat tujuannya saat ini.
“Indah tolong jangan lakukan ini, aku mohon…” Adnan terus mengucapkan kalimat itu di sepanjang perjalanan.
Beberapa menit kemudian, ia telah sampai di sana, persis saat para penjaga yang ia tugaskan akan meninggalkan rumah tersebut.
“Tuan muda? Anda…”
Adnan tidak mempedulikan dan malah membuka pintu rumah tersebut, masuk ke dalam.
“Indah! Indah!” Memanggil nama Indah, tapi tak ada jawaban.
Adnan mulai masuk lebih dalam.
“Tante Dania!”
Sampai kemudian ia memberanikan diri untuk membuka kamar Indah, saat ia membukanya…
Adnan terdiam, kedua kakinya terasa lemas sekali, tenaganya mendadak hilang di ikuti hatinya yang kini begitu hancur. Ia jatuh berlutut di depan kamar kosong gadis itu, menunduk. Setetes cairan bening terjatuh ke lantai, Adnan menangis tanpa suara, mengepalkan tangannya erat-erat.
“Mengapa kamu pergi? Mengapa kamu meninggalkan aku Indah?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, lirih…
…
Sinta yang merasa begitu khawatir karena sikap Adnan buru-buru mencari David. Ia mencari kakaknya itu di kelas, tapi tidak menemukannya di sana, kesal.
“Kak David mana sih? Di saat penting seperti ini malah susah sekali mencarinya.” Meninggalkan kelas David. Namun saat akan berbelok di koridor, ia bertabrakan dengan Adit yang sejak tadi mengawasinya, dan sekarang mengikutinya.
“Aduh… kalau jalan lihat-lih… Adit? Ngapain kamu di sini?” Memegang bahu kanannya yang terserempet dengan pundak Adit tadi.
“Maaf Sin, aku tidak sengaja.” Merasa bersalah.
“Apa masih sakit?”
“Ck, sudahlah…” Meninggalkan Adit, ada hal yang jauh lebih penting daripada bertengkar dengan cowok itu.
Setengah berlari Sinta menuju ke kantin, menyusuri di sana. Tapi tetap saja kakaknya itu tidak ada di sana.
“Arrgghh… menyebalkan, kak David mana sih? Bukannya teman kelasnya bilang dia ke kantin ya!” Lagi ia semakin kesal.
“Kamu mencari kakakmu?” Suara Adit tiba-tiba membuatnya terkejut.
Yah… cowok itu masih mengikutinya juga.
“Kamu ngapain lagi di sini? Ngikutin aku? Kamu gak punya kerjaan apa?” Kesal kembali meninggalkan Adit.
“Sin, tunggu!” Kembali mengikuti gadis itu.
Karena tidak menemukan kakaknya, dan lagi Adit yang membuatnya semakin bad mood saja, akhirnya ia kembali ke kelas.
Sinta duduk di bangkunya dengan cemas, bingung ingin melakukan apa, tadinya ia akan mengajak kakaknya untuk meminta izin kepada guru agar ia bisa pulang secepatnya, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Indah, tapi David malah tidak bisa di temukan, entah dimana dia.
“Sinta kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?” Adit menghampiri Sinta dan duduk di samping gadis itu, mengacuhkan tatapan teman-teman sekelasnya yang kini menatap mereka heran.
“Adit please jangan ganggu aku dulu bisa gak, aku pusing banget sekarang, aku mengkhawatirkan keadaan Indah.”
Mendengar hal itu Adit merasa cukup lega. Tadinya dia mengikuti Sinta karena ia merasa cemburu melihatnya berbicara dengan serius bersama kakak kelasnya yang super ganteng itu. Adit pikir Sinta tengah mengkhawatirkannya, jadilah ia terus mengikutinya.
__ADS_1
“Memangnya, Indah kenapa?”
“Ceritanya panjang, intinya aku ingin pulang sekarang dan ingin menemui Indah, tapi bagaimana caranya? Ingin meminta bantuan dari kak David, tapi dia entah ke mana, menyebalkan sekali kakakku itu. Kalau ada dia, aku bisa dengan mudah keluar dari sini, dia bisa membuat alasan yang kuat agar guru percaya.” Menggerutu, tidak sadar kalau mereka tengah berbicara dengan akrab.
Adit terdiam, memikirkan sesuatu.
“Kamu mau keluar dari sini kan? Aku tahu caranya.” Adit berkata mantap.
Sinta berbalik, menatap serius lawan bicaranya itu.
“Caranya?”
“Ambil tasmu dan ikut denganku!”
“Kita mau ke mana?” Sinta menghentikan Adit yang hendak beranjak.
“Kamu mau keluar dari sini kan?” Menatap Sinta.
Sinta manggut-manggut.
“Ya sudah, ayo!”
Setelah mengambil tas mereka berdua, Adit membawa Sinta ke halaman belakang sekolah. Halaman yang cukup luas, dengan beberapa pepohonan yang rindang di sana.
Kini mereka berdua berdiri persis di depan tembok setinggi dua meter yang menjadi pembatas lingkungan sekolah dengan dunia luar.
“Dit, jangan bilang kalau kita akan melewati tembok ini?” Sinta menatap Adit yang berdiri di sampingnya, cowok itu tersenyum.
“Tentu saja, ada apa? Apa kau takut? Masa sih seorang Sinta tidak bisa melewati tembok ini.” Mengejek.
“Hei, jangan meremehkan ku yah.” Menunjuk Adit, sewot.
“Lalu? Tunggu apa lagi?” mempersilahkan Sinta untuk memanjat duluan.
Yah, bukannya tidak bisa memanjat hanya saja Sinta bingung mau memanjat dengan menggunakan apa? Tingginya hanya 155cm dan tembok di depannya… Aduh, wahai para wanita pemilik tinggi imut-imut, kalian pasti tahu bagaimana perasaan Sinta sekarang.
Beberapa kali mencoba untuk menggapai ujung tembok, tapi tetap saja ia tak dapat meraihnya, Adit yang berada di belakangnya hanya tersenyum lucu.
Sinta menyerah, sekuat apapun ia berusaha ia tidak akan bisa melakukannya sendiri, berbalik kembali menatap Adit, cemberut.
Adit terkekeh,
“Makanya jangan pendek.” Ejeknya.
“Memangnya aku bisa reques gitu, supaya aku gak pendek.” Sewot.
“Udah jangan marah lagi, ayo naik!” Adit menunduk, memposisikan dirinya berlutut di depan tembok itu.
Cengo, Sinta malah terdiam dengan mulut menganga.
Adit yang merasa lucu, kembali menggodanya.
“Kalau mulut kamu terbuka terus kayak gitu, sebentar lagi lalat akan masuk dan buang air di sana, hahhh…” Tertawa.
Mendengarnya, Sinta buru-buru menutup mulutnya kembali.
‘Apa-apaan makhluk aneh ini, gak jelas banget ngomongnya.’ Ocehnya dalam hati.
“Kamu mau jadi patung penunggu taman belakang yah Sin? Kenapa malah bengong kayak gitu, ntar kita ketahuan gimana?” Kembali ke mode menyebalkan.
__ADS_1
Sinta mendekat.
“Terus mau ngapain lagi? Kamu ngapain jongkok kayak gitu?”
“Ck, sekarang kamu naik ke belakang bahu aku.” Menunjuk bagian belakang bahunya.
“Idih… mau ngapain? Ogah!” membuang muka.
“Katanya mau keluar dari sini, ayo cepat naik!”
Sinta berpikir, mau sih… tapi masa ia dia harus nginjak bahu cowok itu… Ehh… sebentar, dia kan memakai rok sekarang.
Sinta menatap roknya.
Tapi oh, tunggu... dia kan selalu memakai celana olahraga sebelum rok yang ia anggap merepotkan itu, hahhh… ia tenang sekarang, Sinta tertawa dalam hati.
“Sin, kamu ngapain sih bengong gitu? Capek nih aku nungguin kamu dari tadi.” Ngomel.
“Ck, ia ia, sabar sedikit kenapa sih.” Siap naik ke atas bahu Adit.
“Dasar cowok selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, tapi hello… itu semua gak mempan sama aku.” Ucap Sinta pelan.
“Hah? kamu bilang apa?”
“Ah, tidak… tidak, aku Cuma bilang gak papa nih aku nginjek bahu kamu?”
“Tidak papa, cepatlah, kalau kita ketahuan kita akan berakhir di ruang BK.”
Sinta mengangguk, mulai memanjat. Agak segan ia menginjak bahu cowok itu, menggunakan sepatu lagi.
“Gak papa nih Dit?” Berdiri di bahu Adit.
“Sin, kalau kamu terus ngomong, bisa-bisa tulang aku remuk semua nih.” Tertunduk menahan berat badan Sinta.
“Eh, iya… iya.”
Dengan gerakan cepat Sinta akhirnya bisa meraih tembok itu dan mencapai puncak tembok itu. Sesaat kemudian ia pun meloncat dari sana.
“Huufftt… akhirnya.” Ucapnya setelah melewati tembok pembatas itu.
“Dit… kamu gimana?” setengah berbisik, setengah berteriak. Eh… maksudnya apa.
Tak butuh waktu lama, Adit pun berhasil melewati tembok itu juga dengan mudah, yah…. Berkat bantuan tinggi badannya, hehe.
“Gampang banget kan.” Ucapnya sombong pada Sinta.
Sinta mencebik.
“Gitu aja bangga, udah ayo pergi!” Ajak Sinta.
Adit tertegun, tersenyum malu-malu kembali, ia terdiam di tempat saat Sinta sudah berjalan lima langkah di depannya.
“Kamu mengajakku?”
Sinta menghentikan langkahnya. Eh, apa yang ia katakan barusan? Sepertinya ia kembali salah bicara.
“Ya udah kalau gak mau.” Meninggalkan Adit.
“Eh, iya iya, tunggu.” Mengejar Sinta.
__ADS_1