Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
"Cepat Sembuh Ma"


__ADS_3

...***...


“Maaf Bu, ini adalah beberapa data yang sudah kami dapatkan mengenai perusahaan Jayadi Group Industry.” Memberikan berkas kepada seorang wanita yang duduk dengan anggun di meja kerjanya.


Wanita muda dengan pakaian formal itu nampak memeriksa setiap lembar yang ada dalam berkas tersebut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


“Kerja yang bagus, terus kumpulkan informasi selanjutnya, aku mau kalian mendapatkannya segera.” Ucapnya tegas.


“Baik Bu, kami akan melaksanakannya segera, saya permisi dulu.”


Wanita itu mengangguk, mengiyakan.


“Bagus, selangkah lagi aku akan bisa menghancurkan perusahaan kamu Pak J A Y A D I, tunggu saja tanggal mainnya.” Ucapnya senang.


Ia kemudian membuka laci meja kerjanya, di sana terdapat sebuah foto yang terbingkai, juga sebuah kertas putih yang terlipat rapi namun sudah tampak menguning, foto tersebut memperlihatkan dua gadis yang memakai seragam SMA, yang satu tersenyum manis menelungkupkan kedua telapak tangannya di dagu, sedang yang satu lagi tampak berfoto dengan pose memperlihatkan otot tangannya ke kamera. Wanita itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihatnya.


“Aku kangen banget sama kamu Indah, kamu di mana sekarang?” mengusap foto gadis berkerudung itu.


Ia kemudian membuka surat dengan kertas usang itu, membacanya sekali lagi.


“Aku janji, aku akan balas perlakuan Jayadi itu atas apa yang sudah dia lakukan ke kamu dan tante Dania. Karena dia kamu harus pergi ninggalin aku kan, aku berharap kita bisa bertemu kembali, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, sahabatku yang manis.” Menyunggingkan senyum.


Ruangan itu lengang, dia bekerja terlalu keras hingga menjadikannya sebagai rumah kedua yang sangat dekat dengannya. Di atas meja itu, terdapat papan nama dengan kata DIREKTUR “Alifia Sinta Najah.”.


Untuk sahabatku Sinta


Begitu kamu membaca surat ini mungkin aku sudah berada di tempat yang jauh darimu. Maafkan aku yah karena tidak bisa memberitahu kamu terlebih dahulu. Tadinya aku ingin mengirimkan pesan padamu, tapi aku tidak mau itu akan mengganggu konsentrasimu di sekolah.

__ADS_1


Aku dan mama pamit yah, kami harus meninggalkan kota ini, aku juga tidak tahu kalau mama akan mengajakku pindah hari ini juga, ini semua mendadak, dan kamu sudah tahu kan bagaimana situasi keluargaku saat ini, mama mengkhawatirkan keselamatanku dan dirinya, karena itu kami harus pergi meninggalkan kota ini secepatnya. Jadi jangan marah padaku, aku mohon.


Terima kasih untuk hari-hari menyenangkan yang pernah kita lalui bersama, kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Meskipun agak rada-rada, hehe… aku berharap jika situasinya nanti sudah membaik, kita akan bertemu kembali. Maaf karena aku juga harus mengganti nomor ponselku, akun media sosialku, jadi mungkin kita tidak akan berkirim pesan untuk waktu yang lama, maafkan aku. Dan jangan lupa yah, sampaikan salamku juga pada kak David. Aku menyayanginya seperti aku menyayangimu, bagiku kalian berdua adalah saudaraku.


Jaga diri kamu baik-baik yah, belajar yang rajin jangan hanya memikirkan main bola. Kamu yang akur dengan Adit jangan terus bertengkar dengannya karena yakin deh, dia itu suka sama kamu. Dan bersihkanlah kamarmu, jangan sampai kecoa akan betah berada di sana.


Sampai jumpa, aku akan selalu berdo’a sama Allah, semoga kita bisa bertemu kembali.


^^^Dari Indah^^^


...***...


Indah menunggu dengan rasa cemas dan takut di ruang UGD saat dokter tengah memeriksa keadaan Dania di dalam ruangan. Gadis itu berkali-kali menghubungi Farid tapi pemuda tersebut tidak mengangkat teleponnya.


“Kak Farid, kak Farid ke mana? Indah takut sendiri di sini.” Sambil menghubungi Farid, kembali menggigit kukunya yang pendek karena cemas.


Beberapa saat kemudian seorang dokter dan perawat keluar dari ruangan. Indah dengan cepat menghampiri.


“Tenang nak, ibumu baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya.” Ucap dokter laki-laki berusia 40-an tahun.


Indah bernafas lega.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mama saya dok?”


“Dia terkena serangan jantung, sepertinya pasien memang memiliki riwayat penyakit jantung, kamu tidak tahu tentang hal ini?”


Indah terkejut mendengarnya, ia menggeleng. Dania memang tidak pernah menceritakan apapun tentang hal tersebut, yang ia tahu ibunya sehat-sehat saja.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu jaga ibumu dengan lebih hati-hati lagi yah, shock dan pikiran yang berat juga bisa mengganggu kesehatannya.” Dokter itu memberi saran.


“Baik dok.” Indah menjawab cemas.


“Kalau begitu saya permisi.”


“Iya dok, terima kasih.” Indah mengangguk hormat.


Setelah dokter itu pergi ia langsung masuk ke ruangan Dania.


Dania masih belum sadar saat ini, Indah kembali menangis, ingin berbagi dengan siapa? Ingin meminta bantuan kepada siapa? Ia tidak mengerti semuanya? Tentang surat-surat atau apapun itu. Ia mencoba untuk menghubungi Farid kembali. Namun lagi, pemuda yang ia anggap sebagai kakaknya itu masih belum mengangkat teleponnya, ia menduga Farid dan ibunya sedang ada masalah, sebab itulah Dania terus memanggil nama Farid sebelum ia terkena serangan jantung.


Indah memutuskan untuk mengirim pesan pada Farid, berharap pemuda tersebut segera membacanya dan menyusulnya di rumah sakit.


Indah duduk di sebuah bangku yang ada di samping Dania. Memegang lembut tangan ibunya yang tampak pucat.


“Mama kenapa tidak pernah bilang ke Indah kalau mama punya penyakit jantung?” Lirih Indah.


“Cepat sembuh yah ma, Indah tidak mau sendiri.” Sambungnya.



Farid terus mengendarai sepeda motornya tanpa tujuan, beberapa kali ia mendengar ponselnya berbunyi, namun pemuda itu sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya, ataupun melihat siapa gerangan yang menghubunginya.


Saat ini, hatinya begitu hancur karena kebenaran yang baru saja terbuka, ia tidak menyangka, sama sekali tidak bila wanita yang ia selamatkan bersama kakeknya itu adalah istri kedua ayahnya yang tega meninggalkan ibunya yang sedang mengandung. Mengapa dunia ini begitu sempit? Mengapa dia harus bertemu dengan Dania? Bukankah ini adalah kebetulan yang menyakitkan?


Ah… tahukah kamu tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini melainkan semuanya sudah di atur oleh yang maha kuasa.

__ADS_1


Adzan maghrib berkumandang saat Farid sedang berada di tepi pantai, duduk sendirian di sana, berteriak dalam hati, menangis dalam sepi. Pemuda tersebut beranjak dari duduknya. Membersihkan butiran pasir yang menempel di celana dan baju yang ia kenakan.


Dengan langkah sedikit sempoyongan Farid kembali naik ke sepeda motornya, mencari Masjid terdekat. Barangkali hatinya akan merasa lebih baik setelah ia sholat. Tak lama pemuda itu mendapatkannya, memarkirkan kendaraannya dan segera masuk ke Masjid tersebut.


__ADS_2