Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Makhluk Aneh


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Menunggu beberapa saat berharap pesannya akan dibalas oleh Indah. Namun hingga 10 menit berlalu tak ada balasan dari sahabatnya itu. Sinta menyerah, ia kembali melempar ponselnya ke atas tempat tidur diikuti dengan dia yang merebahkan dirinya juga Lalu menatap langit-langit kamarnya. Sekarang, dia hanya bisa berdo'a semoga Indah baik-baik saja.


Di tempat lain...


Indah yang sedari tadi mendengar dering ponselnya masih tak bergeming dari tempat tidur. Ia enggan melakukan apa-apa, masih nyaman dengan posisi yang berbaring dengan menghadap ke arah kiri dengan pandangan melihat ke arah jendela. Terlihat bantal yang digunakan sedikit basah karena air matanya.


Beberapa saat kemudian, Indah melirik jam yang ada di tangannya. Ia melirik jam yang masih melingkar di tangannya. sudah pukul 16:15 tak lama lagi ibunya akan pulang. Jangan sampai ibunya menanyakan banyak pertanyaan karena melihat matanya yang sembab akibat terlalu lama menangis.


Indah berusaha mengontrol perasaannya, lalu berjalan menuju kamar mandi, mencuci muka. Berusaha menghapus jejak kesedihannya.


...***...


Adnan menatap langit-langit kamarnya. Baginya ini adalah hari yang begitu melelahkan. Bukan hanya lelah pada fisiknya, namun juga batinnya.


Ia sangat lelah menghadapi sikap Celine. Gadis itu terlihat agak berbeda hari ini. Yah, Adnan memperhatikan temperamen Celine yang kini lebih cepat marah.


"Apa sifatnya yang dulu kembali lagi?" Ucap Adnan pelan.


Awal ia mengenal Celine, gadis itu memang memiliki sifat yang sangat mudah marah, bahkan ia bisa saja menghancurkan benda-benda yang ada di dekatnya. Namun, beberapa tahun ini Adnan melihat perubahan pada Celine. Ia bisa melihat jika gadis itu sudah bisa mengendalikan amarahnya. Ia melihat Celine Sekarang adalah gadis yang penurut dan cukup sabar meski sifat manjanya tidak pernah berubah. Berbeda dengan dulu yang setiap keinginannya harus dikabulkan. Jika tidak ia akan uring-uringan dengan mengunci dirinya di dalam kamar dan berhenti makan, atau memilih untuk kabur dari rumah.


Namun hari ini Adnan melihat kembali sifat itu pada diri Celine. Amarahnya, dan kata-katanya yang seakan mengancam. Bahkan sewaktu mereka kembali ke rumah Adnan.


Adnan yang langsung masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan Celine lantas membuat gadis itu marah. Ia lalu melampiaskan kekesalannya itu pada Bi Ina seorang asisten rumah tangga di rumah tersebut dengan melempar gelas berisi jus jeruk yang Bi Ina bawakan untuknya. Hasilnya, pecahan kaca berserakan di ruang tamu. Beruntung saat itu ayah Adnan dan Bu Ratih tidak berada di rumah. Setelah melakukan itu, Celine pergi begitu saja dari rumah tersebut.


'Apa aku begitu menyakiti perasaannya?" Ucap Adnan merasa bersalah.


"Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya. Jika aku berbohong, itu hanya akan lebih menyakitinya lagi, dan bagaimana mungkin aku bisa bersamanya sementara hatiku telah memiliki pilihannya sendiri."


"Indah... Kamu pasti terluka, tolong maafkan aku." Lirih Adnan.


...***...


Keesokan harinya...

__ADS_1


Sinta sedang menunggu Indah di depan pintu kelasnya. Sesekali membalikkan badan melihat ke arah jendela yang memperlihatkan gerbang depan.


Suasana sekolah mulai tampak ramai, 20 menit lagi bel akan berbunyi, namun Indah belum juga datang.


"Kayaknya Indah memang gak datang deh." Gumam Sinta dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.


Beberapa saat kemudian tenggelam dalam lamunannya sendiri, dengan posisi menyandarkan dirinya pada salah satu sisi pintu.


Adit yang baru saja datang dan hendak masuk ke kelas seketika menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada gadis tomboi yang sedang melamun. Ia yang masih berada beberapa meter lagi dari pintu itu memperhatikan wajah Sinta sejenak. Berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celananya, senyum hadir di bibir Adit.


Sejenak, terlintas ide jahil di benaknya.


Dengan ekspresi menahan senyum sambil berjalan dengan sedikit berjinjit, Adit melangkah mendekati Sinta. Sampai akhirnya...


"DUAAARRR!!!" Teriak Adit yang sontak membuat Sinta kelimpungan karena terkejut.


"Astaghfirullah..." Sinta reflek memegang dadanya dan menoleh pada suara yang mengagetkannya.


"Adiiitttt!!!"


PLAK


Sinta langsung menjitak kepala teman sekelasnya itu.


"Sukurin." Sinta mengerucutkan bibirnya.


"Tumben banget istighfar, biasanya juga kamu bilangnya astaga naga." Ucap Adit dengan nada yang dibuat-buat seperti Sinta.


"Atau kamu lagi sakit yah, mana sini aku lihat." Lanjutnya seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Sinta.


"Iihh.... apaan sih, aku tuh emang harus istighfar karena ada makhluk aneh kayak kamu yang gangguin aku terus." Sinta menepiskan tangan Adit dari dahinya.


"Makhluk apaan.... emang aku makhluk luar angkasa apa? Enak aja..."


"Yeee.... siapa bilang?! Kamu tuh harus tahu kalau kamu lebih parah lagi dari alien." Sinta berlagak serius.


"Memangnya apa?" Dengan tampang polos Adit bertanya.


"Itu tuh yang suka bisikin kejahatan ke manusia sampai bisa berbuat dosa." Jawab Sinta sambil menggigit bibir bawahnya, menahan senyum.


Adit mengernyitkan dahinya, tampak berpikir. Sementara Sinta semakin menahan tawanya.

__ADS_1


Tiba-tiba mata Adit membulat sempurna saat sudah mencerna kata-kata Sinta.


"Maksud kamu setan gitu???" Adit terkejut sendiri. Sementara Sinta akhirnya melepaskan tawanya kencang.


"Haahaa.... loading banget sih, kayak komputer rusak." Sinta terus tertawa sambil memukul lengan Adit pelan.


"Enak aja dibilang setan, mana ada setan mukanya ganteng kayak gini." Adit memegang wajahnya dan mendekatkan wajahnya ke Sinta.


"Ganteng pale Lo peang." Sinta mendong wajah Adit mundur dengan jari telunjuknya.


"Sono gih pulang, terus ngaca. Beli sekalian kaca yang besar supaya kamu sadar dengan tampang mu sendiri." Lanjut Sinta.


"Ehh,, jangan salah.... Cermin di kamar aku aja besarnya 2x4m, dan dilihat dari sisi mana pun aku emang ganteng." Ucap Adit membanggakan diri, memegang kerah bajunya bergaya sok cool.


"Iihh.... mau muntah aku liat kamu kek gitu, Lagian kamu bakalan ganteng Kalau dilihat pakai kacamata rusak. Hahhhh...." Sinta menjulurkan lidahnya mengejek Adit.


"Enak aja......" Adit menyandarkan tubuhnya di sisi pintu yang lain. Ia memperhatikan Sinta yang sedang tertawa lepas. Ada rasa senang saat melihat gadis di depannya itu tampak bahagia.


Sinta yang menyadari tatapan lekat Adit lantas terdiam.


"Kenapa kamu? Kok diem?" Sinta menautkan alisnya bingung.


"eehh.... e... enggak, nggak kenapa-kenapa." Ucap Adit gugup.


"Udah sana, ngapain juga masih disini, ganggu aja."


"Kamu sendiri kenapa berdiri terus di sini gak pegel tuh kaki?"


"Ya terserah aku lah."


"Ya udah, aku juga terserah aku." Adit menyilangkan tangannya di depan dada.


"Iihhh,,, rese banget sih, dasar pengganggu."


Adit hanya tersenyum melihat wajah kesal Sinta. Baginya Sinta terlihat sangat menggemaskan saat marah.


"Gue culik juga nih cewek, bawa pulang ke rumah. Hihihi...." Gumam Adit kecil.


"Ha? Kamu bilang apa?" Tanya Sinta.


"Tidak... tidak." Jawab Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Sinta akhirnya masuk ke kelas, dan duduk di bangkunya dengan wajah kesal. Sementara Adit terus tersenyum ke arah Sinta.


__ADS_2