
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
Cewek emosian: Ya enggak mungkin lah Indah, aku sama Adit? Ck, lagian yah aku itu udah kenal dia sejak SMP, dan kita memang gak pernah akur, kamu lihat sendiri kan bagaimana dia selalu aja ngerjain aku.
Gadis lugu: Siapa tahu karena hal itu dia jadi suka sama kamu.
Cewek emosian: Maksud kamu?
Gadis lugu: Yah... karena kebersamaan kalian selama ini. Kamu kan tadi bilang kamu sama Adit sudah kenal sejak SMP, siapa tahu aja Adit selalu jahilin kamu karena cuma pengen dapat perhatian kamu aja. Bukankah rasa suka bisa tumbuh karena selalu bersama, iya kan?
Sinta berpikir sejenak.
"Ah, tidak mungkin makhluk astral itu suka sama aku. Memangnya apa yang dia lihat dari aku? Aku bukan cewek cantik yang anggun. Memakai bedak tebal dan lipstik, iyyuuhh... ah gak mungkin." Sinta mengoceh sendiri di kamarnya.
Gadis lugu: Sin, kamu belum tidur kan?
Cewek emosian: Belum.
Gadis lugu: Terus kenapa chat aku cuma di read?
Cewek emosian: Aku lagi berpikir.
Gadis lugu: Berpikir tentang apa?
Cewek emosian: Ah, sudahlah. Aku gak mau bahas yang enggak-enggak lagi. Aku mau tidur aja, daripada pusing.
Indah cemberut menatap pesan Sinta.
"Yah, dia udah mau tidur. Mana aku belum ngantuk lagi... Ck, gak ada teman ngobrol dong." Indah memanyunkan bibirnya.
Gadis lugu: Jangan tidur dulu dong Sin, kan ceritanya belum selesai.
Cewek emosian: Kamu selesai-in aja sendiri, aku gak mau cerita yang enggak-enggak apalagi bahas makhluk astral itu. Lagipula mengingatnya saja aku jadi ingin balas dendam dengan menarik rambutnya itu sampai dia botak.
Gadis lugu: Iihh, kamu nyeremin banget sih. Ini masih Sinta yang balas kan?
Cewek emosian: Indah!!!! Kamu kira aku siapa? Hantu?
Gadis lugu: Hehe.. siapa tahu aja kan. 😁
Cewek emosian: Aku jadi makin emosi tahu gak kalau ngobrol sama kamu, udah ah Bye.
Gadis lugu: Yah, jangan tidur dulu dong.
Gadis lugu: Sinta!
Gadis lugu: Sin!
Gadis lugu: Piu
Indah kembali mengerucutkan bibirnya saat Sinta tak lagi membalas pesannya.
"Kelihatannya memang sudah tidur."
__ADS_1
Ia menghembuskan nafas kasar.
Indah melihat jam weker di atas meja mininya. Jam menunjukkan pukul 22:00.
"Ternyata sudah pukul 22:00, tapi aku kok belum ngantuk yah?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Hhmm... lebih baik aku ngaji aja."
Indah lalu berjalan menuju kamar mandi, mengambil air wudhu. Setelah itu, ia memakai mukenah-nya yang berwarna putih dengan corak Bunga menghiasinya. Lalu ia mengambil sebuah Al-Qur'an di rak buku yang paling atas.
Indah menghamparkan sajadah, duduk dengan khidmat sembari mengalunkan ayat-ayat suci.
...
Setelah beberapa lama Indah kembali menutup Al-Qur'an nya, ia melirik lagi jam weker di atas mejanya, sudah pukul 23:15 menit.
Bahkan sampai sekarang ia belum mengantuk.
Dibukanya mukenah yang ia pakai, melipatnya kembali dengan rapi lalu menyimpan dengan baik Al-Quran nya kembali di rak.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, berusaha menutup mata, namun rasa kantuk belum memenuhi matanya, akhirnya ia kembali membaca novel yang tadi sempat ia hentikan saat berbincang dengan Sinta melalui chat.
"Membaca aja deh, nanti juga ngantuk sendiri." Matanya mulai membuka novel yang tergeletak di tempat tidurnya.
Akhirnya ia kembali melanjutkan malam itu dengan sibuk membaca buku, hingga pukul 01:20 dini hari barulah matanya bisa terlelap.
...***...
Ting.........
Bunyi nyaring jam weker di kamar gadis bermata cokelat itu terdengar memekakkan telinga. Namun tidak untuk Indah, ia masih tenggelam dalam dunia mimpi dan tidak mendengarnya sama sekali.
"Indah, kamu udah bangun nak?" Teriak Bu Dania dari luar, mengetuk kamar putrinya itu beberapa kali.
Karena tak ada jawaban, Bu Dania pun memutuskan untuk masuk. Yah, Indah memang tidak pernah mengunci kamarnya di malam hari.
"Astaghfirullah, kamu belum bangun Indah, ini sudah jam berapa nak, nanti kamu terlambat ke sekolah." Bu Dania duduk di samping Indah, menggoyang-goyangkan tangan putrinya.
"Indah! Indah bangun!" Bu Dania meraih jam weker yang masih berbunyi itu, lalu mematikannya. Kemudian kembali ke samping Indah.
"Indah bangun! Kamu gak ke sekolah?"
Begitu mendengar kata sekolah, perlahan Indah membuka matanya walau enggan.
"Hhmm..." Indah bergumam.
"Ini udah jam berapa ma?" Indah duduk dan mengucek matanya.
"Sudah mau pukul 07:00."
"Hah!" Mata Indah yang sedari tadi sulit untuk terbuka mendadak melotot mendengar kata pukul 07:00.
Di raihnya jam weker di sampingnya itu, jam menunjukkan pukul 06:45.
"Astaghfirullah aku telat." Indah segera melompat dari tempat tidur.
"Mama kok gak bangunin Indah sih." Ia segera menyambar baju seragamnya yang tergantung di belakang pintu juga handuk di sampingnya. Lalu berlari menuju kamar mandi, tanpa menunggu jawaban dari Bu Dania.
"Indah jangan lari-lari begitu nak." Teriak Bu Dania sembari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Indah.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Indah keluar dari kamar mandi Ia sudah rapi dengan seragam putih abu-abu nya tinggal memakai jilbab saja.
Tiba-tiba ia teringat belum sholat subuh.
"Huufftt... kayaknya gak apa-apa kan yah sholat subuh jam segini, kan aku gak sengaja bangun telat." Ucap Indah sembari mengenakan mukenah-nya.
Setelah sholat dan bersiap-siap, ia langsung menuju teras, segera memakai sepatu.
"Kamu tidak sarapan dulu nak?" Bu Dania yang sudah rapi dengan pakaian kantornya itu menghampiri Indah.
"Gak usah yah ma, Indah udah telat banget ini." Jawabnya melirik jam yang melingkar ditangannya.
"Ya udah, ayo. Tapi jangan lupa yah, kamu harus tetap sarapan di sekolah, mama gak mau kalau maag kamu sampai kambuh lagi."
"Iya mamaku sayang."
Bu Dania mengelus pelan puncak kepala Indah.
"Kita berangkat sekarang."
"Iya ma."
...***...
Sesampainya di sekolah...
"Yah, aku benaran telat yah..." Ucap Indah dengan wajah memelas. Ia melihat siswa lain yang juga terlambat datang sedang berbaris. Mungkin menanti hukuman dari guru yang bertugas hari ini.
"Ya udah gak apa-apa, yang penting kamu tetap ke sekolah." Bu Dania menghibur.
"Hhmmm...." Gumamnya lirih.
"Indah masuk dulu yah ma." Meraih tangan Bu Dania dan menciumnya.
"Iya, semangat yah sayang."
"Iya, ma." Indah menyunggingkan senyum tipis.
Sebenarnya ia sedikit takut. Wajar saja, sejujurnya ia belum pernah terlambat dan sampai di hukum, jadi ini untuk yang pertama kalinya. Jadi jangan salahkan jantungnya yang sedari tadi dah dig dug ser di dalam sana. Apalagi saat melihat guru yang sedang memarahi seorang siswa, wajah galak guru itu membuat Indah ingin lari saja dari sana.
"Huufftt.... baru aja kemarin di hukum sama Bu Dinda, sekarang aku akan dihukum karena terlambat. Mana gurunya lebih galak lagi dari Bu Dinda."
Indah memperhatikan guru itu, dengan kumis lebat, kulit berwarna cokelat, dan matanya yang terus melotot pada siswa di depannya.
Ia bergidik ngeri.
"Jangan takut Indah, jangan takut, kamu gak sendiri kok, masih ada siswa lain juga. Semangat Indah, bismillah." Indah menyemangati dirinya sendiri.
Indah berjalan menuju barisan dengan kepala yang menunduk. Tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang, alhasil ia pun terpental ke depan. Dahi dan wajahnya mendarat tepat di punggung orang yang ada di depannya
"Aduh.... sakit." Indah memegang hidungnya, yah karena bagian itu yang paling sakit.
seseorang tersebut berbalik, dan melihat gadis yang sedang meringis, mengelus pelan hidungnya yang ramping dan mancung.
"Indah..." Ucap cowok itu.
Indah yang sangat mengenal suara itu segera fokus, ia mendongakkan kepalanya melihat wajah syahdu itu.
"Kak Adnan!" Ia melebarkan matanya, terkejut melihat sosok pria pujaannya juga ada di sana.
__ADS_1