Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Berjalan Pulang Bersama


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


Bu Rahma mengawasi jalannya ujian dengan teliti, sampai kemudian ia berjalan menuju meja Indah.


"Sinta belum datang ke sekolah juga, Indah?" Ia menengok bangku yang masih kosong di samping Indah.


"Belum Bu." Jawab Indah kemudian melihat juga ke arah kursi Sinta.


"Kalau kapan-kapan kamu punya waktu, sebaiknya kamu pergi ke rumah Sinta, Indah. Sebagai teman yang dekat dengan dia kamu harus melihat keadaan dia kan?"


"Iya Bu, rencananya sore ini Indah memang ingin ke rumah Sinta Bu."


"Bagus nak, dan jangan lupa bawakan buku catatan dan tugas yang sudah Sinta lewatkan, agar dia tidak terlalu ketinggalan banyak pelajaran."


"Baik Bu."


Bu Rahma tersenyum, memegang lembut kepala Indah dan kembali mengawasi ujian yang masih berlangsung.


Sore nanti Indah memang berniat untuk pergi ke rumah Sinta. Ia ingin melihat keadaan sahabatnya itu, mengapa dia tidak masuk sekolah selama seminggu lebih ini. Meskipun hatinya masih sedikit sedih memikirkan apa yang telah dilakukan oleh Sinta, namun Indah berusaha untuk tidak mengingat hal tersebut terus-menerus. Dan ia sangat yakin Sinta memiliki alasan yang kuat untuk itu. Seperti Widia dan Dewi yang melakukan hal buruk karena takut kepada Ayu, mungkin Sinta juga berada dalam tekanan.


Beberapa jam kemudian, siswa-siswi mengumpulkan hasil ujian mereka dan menunggu pelajaran selanjutnya masuk.


...***...


Indah berjalan sendiri saat pulang dari sekolah. Yah, semenjak Sinta tidak masuk sekolah, ia selalu berjalan pulang sendirian. Ia berjalan perlahan dengan lamunan tentang sahabatnya itu. Sampai kemudian terkejut oleh kedatangan seseorang dengan tiba-tiba di sampingnya.


"Apa kamu merindukan sahabatmu?" Ucapnya.


Indah tersentak, reflek menengok ke samping kanannya.


"Kak Adnan?"


Adnan tersenyum melihat ke arah Indah sebentar.


"Kak Adnan kenapa ada di sini?"


"Aku ingin pulang." Jawabnya santai.


"Maaf, maksudku biasanya kak Adnan kan pulang dengan mengendarai sepeda motor, tapi kenapa hari ini..."


"Hari ini aku sengaja tidak membawa motor Indah."


"Kenapa?"


"Karena aku ingin berjalan pulang bersamamu."


Indah reflek menghentikan langkahnya, membuat Adnan yang berjalan di sampingnya juga ikut terhenti.


"Kenapa berhenti Indah?"


"Ti... tidak apa-apa." Indah kembali melangkah.


Mereka berjalan beriringan. Untuk beberapa saat tidak ada yang memulai percakapan lagi, hanya terdengar suara bising kendaraan di sekitar mereka.

__ADS_1


Indah sedikit gugup, tapi ia sudah bisa mengendalikan kegugupannya itu saat berada di dekat Adnan. Saat ini ada rasa senang, namun juga seperti ada beban yang mengganggu hatinya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu Indah." Ucap Adnan tanpa menoleh pada Indah.


"Tentang apa kak?"


"Tentang Sinta."


Indah mengarahkan pandangannya pada Adnan saat ia menyebut nama Sinta.


"Aku tahu semua yang telah terjadi, bahwa hubungan persahabatan mu dengan Sinta sedang tidak baik, tapi aku ingin meluruskan semua itu."


"Maksud kakak?" Indah tidak mengerti.


"Aku tahu jika Sinta lah yang sudah membuatmu datang ke sekolah hari itu, hingga Ayu dan teman-temannya bisa mengganggumu di sana."


Indah tertunduk mendengarnya.


"Tapi apa kamu tahu kenapa aku bisa berada di sana?"


Indah menggeleng pelan.


"Aku ada di sana karena Sinta yang telah memanggilku Indah."


Indah kembali terhenti, ia merasa bingung dengan semua penjelasan Adnan.


"Yah, Sinta menjebak kamu untuk datang ke tempat itu, tapi dia juga berusaha untuk menolong mu dengan memberitahuku kalau Ayu dan teman-temannya akan melakukan hal yang buruk padamu. Hari itu, dia datang ke rumahku dalam keadaan yang ketakutan, dan dia segera memintaku untuk menolong mu. Saat itu aku tidak sempat bertanya apapun padanya karena aku hanya mencemaskan keadaanmu. Lalu ketika sampai ke tempat itu... Indah tolong maafkan aku." Adnan terlihat begitu sedih.


"Mengapa kak Adnan meminta maaf padaku, bukankah justru kakak telah menolongku."


"Sebenarnya... hari itu aku datang saat Ayu dan teman-temannya belum sempat menyakitimu. Tapi, aku tidak langsung menolong kamu karena aku harus merekam kejadian itu."


"Maafkan aku, ku pikir aku harus memiliki bukti yang kuat agar hal buruk yang telah dilakukan Ayu selama ini bisa terbongkar. Aku tahu dia selalu menjahili dan menyakitimu, karena itu ku putuskan untuk merekam kejadian itu. Tapi saat dia ingin melepas jilbabmu...... aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi." Adnan mengepalkan salah satu tangannya, menahan kekesalan dan rasa bersalah.


"Jadi kak Adnan yang sudah memberikan video itu kepada Pak Setya?" Tanya Indah tenang.


Adnan mengangguk mengiyakan.


"Aku minta maaf karena tidak bisa menolong mu lebih awal."


Indah tersenyum, menoleh pada lelaki itu.


"Seperti yang dikatakan orang-orang kak, apapun yang terjadi itu semua untuk kebaikan. Kak Adnan tidak perlu merasa bersalah seperti itu, karena apapun yang sudah kak Adnan lakukan itu semua untuk kebaikan Indah juga kan? Buktinya sekarang, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Aku ingin melupakan semuanya kak, jadi kita tidak perlu membahas ini lagi. Dan soal Sinta, Insya Allah sebentar Indah akan ke rumah dia kak. Bagaimanapun Indah percaya kalau Sinta adalah orang yang baik, dia tidak akan melakukan hal ini jika tidak memiliki alasan yang kuat."


Adnan mengangguk mengiyakan, ia merasa lega mendengar jawaban dari Indah.


'Sungguh aneh, aku jatuh hati pada seseorang pada pandangan pertama. Tak pernah ku bayangkan jika kini aku bisa mengenalnya sedekat ini. Seseorang yang dulu hanya bisa ku lihat dengan diam-diam, kini menjadi sangat peduli padaku. Aku yakin telah jatuh cinta padamu, dan rasa ini begitu dalam ku rasakan. Namun apa mau di kata, cinta yang kurasakan untukmu hanya bisa ku pendam. Biarlah rasa ini tetap menjadi rahasia, yang hanya aku dan Tuhan yang tahu.' Indah berjalan sambil membayangkan momen saat ia dan Adnan duduk bersama menyaksikan senja kembali ke peraduannya.


...***...


Tok tok tok


"Assalamualaikum." Indah mengucapkan salam saat sampai di depan pintu rumah Sinta.


Tak ada jawaban, Indah mengetuk pintu sekali lagi.


tok tok tok


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab seseorang dari dalam. Beberapa detik kemudian, seseorang membukakan pintu untuk Indah.

__ADS_1


"Oh Indah, ayo masuk!" Ucap seorang pria mempersilahkan, ia tampak sumringah menyambut kedatangan gadis itu.


Indah mengangguk mengiyakan.


"Ayo, duduk dulu."


Indah duduk di ruang tamu.


"Kamu mau ketemu Sinta?" Tanyanya.


Pria itu adalah David, kakak kandung Sinta sekaligus kakak kelas Indah. Yah, bukan hanya Sinta yang sering ke rumah Indah, tapi Indah juga sering bertamu ke rumah Sinta sekedar untuk kain atau mengerjakan tugas bersama, ia sudah sering bertemu dengan David.


"Iya kak, Sintanya ada?"


"Sinta masih di rumah sakit, dia..."


"Sinta masuk Rumah Sakit kak?" Indah memotong perkataan David ketika mendengar kata Rumah Sakit.


"Bukan, bukan Sinta yang masuk Rumah Sakit, tapi mama aku. Dia lagi jagain mama di sana."


"Oh, aku kira Sinta kak."


"Bukan, aku kira Sinta sudah memberitahu kamu, tumben sekali anak itu."


"Belum kak."


"Dia kan selalu ketemu kamu di sekolah, anak itu.... dia memang suka memendam masalahnya sendiri."


"Selalu ke sekolah?" Indah bingung dengan perkataan David.


"Iya, kalian setiap hari kan ketemu di sekolah."


Indah berpikir sejenak...


'Mengapa kak David berkata seperti itu? Apa dia tidak tahu kalau Sinta sudah cukup lama tidak masuk ke sekolah? Jika memang ia, sebaiknya aku tidak memberitahunya sekarang.


"I... iya kak."


"Mungkin dia tidak ingin membuat Indah cemas, jadi dia tidak mengatakan apa-apa." Sambung Indah.


"Iya." David mengangguk.


"Oh iya kak. Apa Indah boleh tahu Tante Siska di rawat di Rumah Sakit mana? Indah ingin menjenguknya sekalian bertemu dengan Sinta." Tante Siska adalah mama dari Sinta dan David.


"Mama di rawat di Rumah Sakit regional, di jalan Soekarno Hatta."


"Di ruangan mana kak?"


"Ruangan Mawar nomor 3."


"Baiklah kak, Insya Allah nanti Indah ke sana, kalau gitu Indah pulang dulu yah." Pamit Indah.


"Mau aku antar ke sana Indah?" David menawarkan.


"Eh, tidak perlu kak terima kasih, aku bisa sendiri kok."


"Hhmm... ya sudah, hati-hati yah." David tampak murung.


"Iya kak, assalamualaikum."


"Wa''alaikumsalam." Jawabnya seraya melihat Indah berlalu hingga tak lagi terlihat.

__ADS_1


__ADS_2