
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
“Maaf Pak, tapi saya bukan wanita yang akan tega merebut suami orang lain, saya bukan wanita gampangan Pak.”
Jayadi mengeratkan rahangnya, berusaha menahan amarahnya.
“Tenanglah nona Sarah, mengapa kamu menanggapi ucapanku dengan serius, aku hanya bercanda.” Ucapnya.
“Lagipula saya adalah tipe lelaki yang setia pada satu wanita, dan itu adalah istri saya.”Ucap Jayadi berbohong.
“Ma… maafkan saya Pak, saya sudah kasar sama bapak.” Sarah sedikit merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, mungkin bercanda saya juga terlalu kelewatan. Saya hanya mau mengatakan kalau menikah itu sangatlah menyenangkan. Kau bisa bersenang-senang dengan istrimu kapanpun kamu mau, iya kan?” Lagi-lagi Jayadi seakan menunjukkan kesetiaannya sekaligus sikap kurang pantasnya saat berbicara dengan Sarah sekarang.
‘Apa-apaan laki-laki ini, memangnya ia menganggap istrinya itu hanya sebagai pemuas nafsunya saja? Dasar lelaki hidung belang.’ Batin Sarah mengatai.
“Iya, Pak.” Demi agar pembicaraan itu tak berlanjut panjang, Sarah hanya mengangguk mengiyakan pernyataan Jayadi.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah hotel mewah berbintang 5. Sarah segera menghampiri Dania saat ia keluar dari mobil. Beberapa menit bersama Jayadi dalam 1 mobil membuatnya begitu merasa gerah. Gerah akan emosi karena ucapannya yang kurang baik itu, dan tatapan Jayadi yang tak lepas dari tubuhnya.
…
Setelah sarapan dan berpamitan pada Siska, Indah dan Sinta yang telah rapi dengan seragam batiknya itu akhirnya berjalan keluar rumah. Rencananya hari ini Sinta akan diantar oleh Pak Budi, tapi baru saja kedua gadis itu ingin membuka pintu mobil, David sudah menghentikan mereka.
“Sin, hari ini berangkatnya bareng kak David yah.” Ucap David memohon.
“Ck, kan ada Pak Budi, lagian aku tahu kalau kakak lagi modus kan?” Sinta bertolak pinggang.
Indah hanya mendengar adik kakak itu berbincang.
“Ini bukan modus, tapi kakak lagi berusaha. Lagian kita ini kan searah, malah memang sedang menuju tempat yg sama.” David berbisik.
“huh! Sebelas dua belas aja, gak beda jauh.” Sewot Sinta.
__ADS_1
“Ayolah, kakak mohon. Nanti kakak beliin deh apa yang kamu mau.” David berusaha bernegosiasi.
Sinta tampak berpikir.
“Beneran nih?” Tanya Sinta mulai tertarik.
“Iya beneran, apapun yang kamu mau. Asalkan selama Indah di sini, kalian akan berangkat ke sekolah dan pulang bersamaku.” David masih berbisik.
“Hhmmm… ya sudah lah, aku setuju.”
“Deal yah.” David mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Sinta.
“Deal.” Gadis itu menerima, dan bersalaman dengan kakaknya, sebagai ungkapan jika ia setuju dengan ide David itu. Eh, maksudnya modus David itu untuk mendekati Indah.
“Kak David sama Sinta ngapain salam-salaman? Lagi maaf-maafan yah?” Ucap Indah bingung.
“Ia, Sinta lagi minta maaf sama kakak, soalnya kemarin dia sudah mengambil uang kakaknya ini tanpa permisi.” Jawab David asal.
“Hah! Itukan namanya mencuri Sin, tidak baik seperti itu. Lagian kamu kan punya banyak uang kenapa masih mengambil uang kak David juga sih.”
Sinta menatap kesal bergantian pada David dan Indah. Enak saja dia dibilang pencuri, ingin sekali ia menjedotkan kepala gadis di depannya ini ke pintu supaya dia kembali sadar ke mode normal. Sementara David masih berusaha untuk menahan tawanya, bisa gawat kalau tawanya sampai meledak bisa-bisa kesepakatannya dengan adik keras kepalanya ini batal. Kan jarang-jarang bisa membujuk Sinta seperti ini.
“Udah ah, males. Kalau ngeladenin Indah yang lagi mode oon gini, gak akan selesai-selesai.” Ucap Sinta yang melenggang masuk ke mobil David. Indah mengerucutkan bibirnya, David tersenyum melihat gadis itu, sangat menggemaskan.
“Kamu duduk di depan yah Indah.” Ucap David mempersilakan Indah untuk duduk di kursi samping kemudi.
“Tapi… Sinta bagaimana kak, apa tidak apa-apa aku duduk di sini?” Indah ragu, ia tidak enak jika harus duduk samping cowok itu, sementara sahabatnya sendiri di belakang.
“Tidak apa-apa, dia tidak akan keberatan kok. Lagi pula aku butuh teman ngobrol.” David masih membujuk Indah.
“Hhmm… baiklah kak.” Indah akhirnya masuk ke mobil.
Sinta memutar bola matanya jengah, kakaknya ini sungguh pandai membujuk seseorang.
Mobil David pun melaju menuju sekolah, di dalam mobil suasana tampak sepi. Sinta asyik memainkan benda pipih di tangannya, berseluncur di dunia maya. Indah terus melihat ke arah luar jendela, sementara David sedang berpikir bahan obrolan yang akan membuat ia bisa semakin mengenal Indah.
Beberapa saat kemudian,,,
“Indah, sebelumnya kamu sekolah dan tinggal di mana?” David memulai obrolan.
Indah berbalik menatap cowok yang duduk di sampingnya itu.
__ADS_1
“Aku tinggal di kota P kak, dan sekolah di SMA Negeri 1 P.” Jawab Indah singkat.
“Hmm… kalau boleh tahu alasan kamu pindah ke kota ini kenapa?”
Mendengar pertanyaan kedua David, Indah terdiam. Ada bagian dari hatinya yang sakit saat ia harus mengingat kenapa ia dan ibunya harus pindah ke kota ini.
Raut wajah gadis itu mendadak sendu, Sinta yang juga mendengar pertanyaan itu merutuki kakaknya dalam hati. Ia tahu Indah pasti akan merasa sedih setelah ini.
‘Duh, tuh mulut. Nanya sih nanya, tapi kak David salah pilih pertanyaan.’ Rutuk Sinta dalam hati.
“Hhmm… kak David, tadi ibu bilang kakak jangan lupa mampir ke toko kue buat ambilin jahitan ibu di tante Keisha.” Sinta mengalihkan perhatian David agar tak menunggu Indah untuk menjawab.
“Iya, kakak ingat kok. Lagian kita pulangnya kan barengan, kamu ingetin aku aja lagi kalau aku lupa.” David sewot
“Terus gimana ndah?”
Melihat kakaknya yang tidak pekaan itu, Sinta memukul lengan kiri David dengan buku yang ada di sampingnya.
Bukk
“Aughh, sakit Sin. Kamu apa-apaan sih? Kakak kan lagi nyetir kalau nabrak gimana?” Kesal David memarahi Sinta, memelototi adiknya lewat kaca di depannya.
Saat David melihat ke arahnya, dengan cepat Sinta memberi kode dengan matanya, agar ia bisa melihat Indah dengan tampang murungnya sekarang. Sinta menggelengkan kepala berharap David mengerti dengan kode yang ia berikan.
Awalnya David mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa masud Sinta, tapi saat ia melihat Indah yang tampak sedih, ia sadar mungkin pertanyaannya tadi sudah membuat Indah sedih. Cowok itu jadi merasa bersalah, seharusnya ia tidak terburu-buru menanyakan kehidupan pribadi Indah.
Permintaan maafnya pun ia urungkan, saat mereka telah masuk ke lingkungan sekolah.
David memarkirkan mobilnya, tak di sangka seorang cowok yang tidak lain adalah Adnan, juga datang dan memarkirkan motor sportnya di samping mobil David.
David yang melihat Adnan, memikirkan sebuah ide.
‘Ini adalah moment yang pas untuk membuat Adnan menyadari kalau Indah akan memilihku.’ Pikir David percaya diri.
“Indah, biar aku yang bukain.” Ucap David cepat.
Indah yang akan membuka pintu mobil itu menghentikan gerakannya, ia hanya menurut saja.
“Silakan tuan putri.” Kata David mempersilakan Indah dengan berlebihan. Tentu saja Adnan melihat semua itu.
“Terima kasih kak.”Jawabnya datar
__ADS_1
David tersenyum menanggapi, ia melirik ke arah Adnan, Adnan memasang wajah dingin.