Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


David berlari menuju ke UKS diikuti dengan Adnan yang berjalan cukup cepat dibelakangnya. Yah, sebenarnya laki-laki itu tak ingin ikut, ia masih merasa sedikit kesal pada David karena melihatnya mengobrol dengan Indah. Namun ia juga tidak bisa menyalahkannya karena David tidak mengetahui perasannya kalau ia menyukai Indah.


Ia dan David yang sedang duduk di kantin mendapat kabar dari salah satu siswa kalau Sinta masuk ke UKS segera menuju ke ruangan tersebut, begitupun dengan Adnan. Adnan yakin kalau saat ini, Indah pasti juga ada di sana. Ia seperti tidak rela bila harus melihat Indah berdekatan lagi dengan David, walau mereka bertemu hanya karena Sinta sedang sakit. Bukankah David bisa saja memanfaaatkan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Indah? 😅


Adnan hanya menggeleng-gelengkan kepala saat melihat David masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Yah, mungkin dia sangat khawatir dengan adiknya, pikirnya.


"Assalamualaikum Bu." Ucapnya setelah melihat ibu penjaga UKS yang kaget karena ulah David tadi.


"Wa'alaikumussalam." Jawabnya setelah menarik nafas panjang.


Indah yang melihat kedatangan Adnan merasa sangat senang. Ia menundukkan pandangannya kala pandangan mereka tak sengaja bertemu, tersenyum malu-malu. Adnan yang melihat pipi wanitanya merona pun sangat bahagia.


"Dek, kamu gak apa-apa kan? Kamu sakit apa? Demam? Mananya yang sakit." Tanya David bertubi-tubi serasa terus mengecek suhu badan Sinta dengan menempelkan punggung tangannya di dahi gadis tomboi yang sedang berbaring di tempat tidur itu.


"Kak David, tanyanya satu-satu dong. Aku malah tambah pusing dengernya?" Ucap Sinta sewot.


"Kamu nih, lagi sakit juga masih aja marah-marah."


Sinta tidak menanggapi perkataan David, ia hanya mengerucutkan bibirnya, merasa kesal.


David merasa lucu melihat adiknya yang kini melihatnya dengan tampang cemberut.


"Sekarang bagaimana keadaan kamu?" Tanyanya lembut.


"Aku gak apa-apa kok. cuma sedikit pusing saja dan kepalaku sakit." Jawab Sinta sedikit salah tingkah.


Sementara Indah yang mendengar perkataan sahabatnya itu, tiba-tiba terbatuk.


Uhukk uhukk...


"Indah kamu gak papa? Tunggu sebentar." Adnan terlihat panik, langsung mengambilkan segelas air untuk Indah.


"Minum dulu." Katanya menyodorkan air tersebut.


Sementara Adnan memberikan perhatian kepada Indah, David menatapnya heran juga tak suka.

__ADS_1


"Kamu gak papa kan?" David bertanya tak mau kalah.


Indah hanya menganggukkan kepala mendapat perhatian dari 2 cowok tampan itu.


"Yakkk.... kenapa kalian malah perhatian sih sama Indah, memangnya di sini siapa yang sakit?" Teriak Sinta kesal.


Semua yang ada di ruangan tersebut lantas terkejut. Beruntung ibu penjaga kantin sedang keluar.


"Iya... iya maaf." Ucap David tersenyum kikuk.


'Sakit apanya? Sinta kan cuma pura-pura supaya bisa pulang lebih awal, karena dia masih kesal sama duo Dit itu.' Indah kembali mengerucutkan bibirnya.


Kalau bukan karena paksaan dan bujukan sahabatnya itu, dia tidak akan ikut andil untuk berbohong. Ia tidak tega melihat Sinta merasa malu di depan teman-teman kelasnya.


"Kamu gak papa kan Indah?" Tanya Adnan, kekhawatirannya masih belum hilang.


"Iya kak, aku tidak papa." Indah menjawab sembari menghadiahi senyum untuk laki-laki yang ia sukai itu.


Ada rasa iri saat David melihat senyuman itu, yang diberikan untuk Adnan, bukan untuk dia.


Sinta yang melihat tatapan 3 anak manusia itu langsung mencium bau-bau cinta segitiga diantara mereka.


'Duh... bisa berabe nih urusannya kalau apa yang aku pikirkan itu benar? Kenapa mesti kak David sih?' Batin Sinta gelisah.


Tak ingin membiarkan hatinya semakin panas, ia memutuskan untuk segera membawa Sinta pulang. Kebetulan hari ini dia memakai mobil, bukan motor. Jadi Sinta akan merasa jauh lebih nyaman.


"Ayo Sinta kakak antar pulang!" David memegangi tangan Sinta, penuh perhatian.


'Duh, kalau kayak gini jadi gak tega liat kak David, dia pasti marah banget kalau tahu aku cuma pura-pura.' Batin Sinta merasa bersalah.


"Iya." Meraih tangan David.


"Kamu bisa jalan sampai ke parkiran kan? Atau apa perlu kakak gendong?"


"Yakk... kak David!! Aku ini sakit kepala bukannya gak bisa jalan." Marah Sinta.


"Iya... iya, kakak cuma khawatir kamu nanti pingsan di jalan."


"Aku gak selemah itu kak. Aku kan bukan Indah, yang baru kenna bola aja langsung pingsan, hehe." Tawa Sinta.


"Eh, kok jadi aku sih." Indah tak terima.


Dan menatap kesal pada Sinta. Wajah cemberutnya justru terlihat sangat menggemaskan di mata Adnan.

__ADS_1


Adnan tersenyum kecil.


"Awas yah, nanti aku aduin kalau kamu itu sebenarnya cuma Pur... hemmpphh..." Dengan cepat Sinta turun dari ranjang dan menutup mulut Indah yang hampir saja membongkar rahasia mereka berdua di hadapan para cowok tampan itu.


"Indah... mulut kamu direm sedikit dong, kalau sampai kak David tahu aku cuma pura-pura sakit, aku bisa kena omel." Bisik Sinta.


Indah menganggukkan kepala, menurut melihat sahabatnya yang masih menutup mulutnya.


Melihat ekspresi Indah, Sinta jadi merasa geli sendiri. Matanya yang bulat terlihat begitu lucu.


"Kalian ngapain sih? Lagi bisik-bisik apa." Tanya David curiga.


"Ah, tidak kok kak." Jawab Sinta melepas tangannya dari mulut Indah.


"Terus kenapa mulut Indah kamu bekap gitu?"


"Eh... bekap, kayak aku mau culik dia aja. Itu tuh, Indah tadi tuh hampir salah ngomong makanya aku cegah." Sinta beralasan.


"Emang tadi kamu mau ngomong apa Indah?" Suara lembut Adnan terdengar.


"Hhmm... itu kak aku...."


"Itu rahasia sesama perempuan kak Adnan, para cowok gak boleh tau." Sergah Sinta memotong.


"Apaan? Emangnya kamu perempuan?" Ucap David mengejek.


"Yakkk... kak David, aku memang perempuan bukan cowok jadi-jadian. Huufftt...." Ucapnya jengkel seraya melipat kedua tangannya ke depan dada.


Indah dan Adnan hanya bisa tertawa kecil, melihat perdebatan adik kakak itu.


"Iya deh iya, Adik kakak yang paling cantik. Yuk pulang, katanya sakit tapi kenapa masih kelihatan semangat gini yah... gak ada lemes-lemesnya."


Sinta memilih untuk diam dan membuang pandangannya ke arah lain, kalau dijawab pun dia takut malah akan semakin ribet, dan ujung-ujungnya pasti kebohongannya pasti akan terbongkar.


Ia memilih untuk segera keluar dari ruangan itu setelah berpamitan dengan Indah dan juga Adnan.


"Ayo, kita juga kembali ke kelas, biar aku antar ke kelas kamu dulu." Ucap Adnan lembut.


"Ehh,,, gak usah kak, aku sendiri aja." Indah menjawab malu-malu.


"Gak apa-apa, sekalian juga bisa ngobrol sama kamu sebentar."


Indah hanya tersenyum, menatap manik mata hitam Adnan sejenak, merasakan jantungnya kini kembali berpacu.

__ADS_1


__ADS_2