Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Adik Gak Ada Akhlak


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Hhhmmm.... kakak mau tanya soal sakit kepala kami pas di sekolah tadi."


'Waduh, gawat.' Batin Sinta gelisah.


"O..oohh, memangnya ada apa kak?" Berusaha menutupi kegugupannya.


"Kamu bohongin kakak kan?"


"Bo... bohong? Enggak"


"Jawab jujur Sinta." David mendesak.


"Jujur apanya? Iistt... aku gak tahu ah maksud kak David."


"Ck, tadi pagi kenapa kamu mau pulang, apa ada masalah di sekolah?"


"Ya, ma... masalahnya karena aku sakit kak."


"Kamu nih, masih aja gak mau jujur. Kakak tuh tahu banget kalau kamu lagi bohong. Kamu gak akan berani tatap mata kakak dan bicaranya pasti gugup begitu. Sekarang kamu mau jujur atau kakak akan kasi tahu papa sekarang juga?"


Mendengar nama ayahnya, spontan nyalinya langsung menciut. Sinta mensedekapkan tangannya di dada dan menatap kesal ke arah kakaknya.


"Iya, aku bohong, puas!"


David menghela nafas panjang.


"Alasannya?"


"Aku lagi kesel sama teman kelas aku. Tadi pagi dia ngerjain aku dan....." Menceritakan.


David dengan serius mendengarkan cerita adiknya. Namun saat sampai pada cerita air liur Sinta yang belepotan saat tertidur, bibirnya berkedut. Susah payah ia menahan tawa agar Sinta tidak marah kalau sampai ia juga menertawai adiknya itu. Ia yang tadinya akan marah malah merasa lucu dan kasihan.


"Gitu, hah! Ngeselin kan?" Mengakhiri cerita dengan ekspresi tampang marah dan malu, jika mengingat tatapan teman-temannya yang mengejek.


Se tomboi-tomboinya ia, Sinta adalah seorang wanita. Yang memiliki hati lembut walau tersamarkan oleh penampilan dan mulut garangnya.


"Kakak kenapa ekspresinya kayak gitu?" Sinta melihat David yang sedang menahan senyumnya.


"Hah, kayak gimana?" Berpura-pura tidak tahu.


"Itu, kak David juga ngejekin aku?" Ucap Sinta yang berdiri sambil berkacak pinggang.


"Ih, kamu ini duduk-duduk." David menarik tangan Sinta untuk kembali duduk di sofa.

__ADS_1


"Bukan ngejekin Sin, cuma ketawa aja, abisnya lucu." Ucapnya kembali tersenyum.


"Ck, sama saja." Berdecak.


"Habisnya kamu juga yang salah, kenapa tidur di dalam kelas, udah tahu kamu kalau tidur penampakannya jauh dari kata cantik, masih aja dilakuin."


Sinta memelototkan matanya, melihat itu David buru-buru meredam kemarahan adiknya.


"Ekkhhmm,, iya iya, oke... gak lagi." David berusaha memasang wajah serius.


"Ck."


"Baiklah, lain kali jangan diulangi lagi. Istirahatlah yang cukup, jangan begadang supaya kamu tidak mengantuk di sekolah, dan..." Ucapan David mengambang.


Sinta menaikkan kedua alisnya, bertanya.


"Dan, teman-teman kamu tidak akan melihat pemandangan jelek lagi karena air liur kamu yang belepotan kemana-mana, hahh." David kembali tertawa dengan keras.


"Isstt... kak DAVIDDD!" Teriak Sinta seraya melempar sebuah bantal sofa ke arah kakaknya.


"Ya udah, kakak ke kamar dulu yah, kamu langsung tidur, ini sudah pukul 21:10." Ucapnya seraya berdiri dan melangkah setelah melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Hhmm..."


Saat akan keluar, tiba-tiba David menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Sinta yang masih duduk dengan malas.


"Ingat kamu gak usah bales perbuatan teman yang sudah ejek kamu tadi, siapa tadi namanya? Adit atau siapa tadi?" Berpikir.


" Apalagi sampai kamu berkelahi lagi di sekolah, kakak tidak akan tutup-tutupin lagi yah sama ayah, kakak akan langsung aksi surat peringatan dari sekolah ke ayah, dan ayah pasti gak akan kasi kamu uang jajan selama sebulan."


Sinta mencebik.


David yang tadi menaikkan telunjuknya untuk memperingati Sinta itu akhirnya kembali melangkah , tapi baru saja memegang gagang pintu ia kembali membalikkan tubuhnya.


"Dengerin kakak yah Sin."


"Iya iya, iihh, bawel deh." Dengan langkah seribu Sinta menuju ke arah David dan mendorongnya keluar.


Namun saat akan menutup pintunya, David kembali menahan pintu itu.


"Tunggu!"


"Huuftt... ada apa lagi kakakku sayang."


"Hhmm... kakak lupa nanyain sesuatu." Ucap David serius.


Sinta memutar bola matanya, jengah.


" Apa?"


"Apa Adnan suka sama Indah?" Tanyanya.

__ADS_1


Sinta mengernyitkan keningnya.


'Rupanya bernar, sepertinya kak David memang suka sama Indah. Kamu juga sih Ndah, kenapa terlalu manis jadinya kan kamu banyak yang suka, belum lagi laki-laki yang deketin kamu di sekolah. Untung aku selalu ada untuk menumpas para buaya di sekolah. Aku memang hebat.' Sinta membanggakan dirinya sendiri.


"Sin! Sinta!" Panggil David membuyarkan lamunan Sinta yang tersenyum-senyum sendiri.


"Eh, iya... kenapa?" Sinta cengoh.


"Kamu bukannya jawab malah ngelamun, dasar." David menyentil dahi Sinta.


"Aduuhh.... sakit kak, jahat banget sih." Sinta mengeluh sambil memegang keningnya.


"Jadi?" Tanya David kembali.


"Jadi?" Sinta bingung.


"Ck, kamu ini. Jadi bener gak Adnan suka sama Indah?" David kembali mengulang pertanyaan yang sama.


"Oohh.... yah, Aku rasa memang seperti itu. Kak Adnan memang suka sama Indah."


Wajah David mendadak nampak cemas, Ternyata ia dan sahabatnya menyukai perempuan yang sama, pikirnya.


"Bukan cuma itu kak, Indah juga menyukai kak Adnan, bahkan sejak pertama mereka bertemu. Jadi aku saranin sama kak David agar tidak mengganggu kedekatan hubungan dua sejoli itu." Ucap Sinta menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kamu ini sebenarnya adiknya siapa sih? Adnan atau aku?" David tampak tak suka dengan jawaban adiknya.


"Aku adiknya kak David, tapi aku juga tidak mau membuat Indah jadi merasa sedih kalau kak David menjadi orang ketiga diantara mereka. No no no." Sinta menggoyangkan telunjuknya di depan wajah David yang masih bersandar di depan pintu kamar Sinta.


"Hubungan apa? Mereka kan tidak terikat hubungan apapun, selain saling menyimpan perasaan satu sama lain tanpa mengungkapkannya, iya kan? Jadi kakak masih punya peluang untuk merebut hati Indah." Jawab David kekeh.


Sinta tampak berpikir, ia membenarkan jawaban kakaknya.


"Terserah kak David lah, aku rasa memang tidak ada salahnya kalau kak David mau berusaha. Tapi dalam usaha itu, kakak harus bersaing dengan sehat, harus suportif dan tidak boleh curang. Dan kalaupun akhirnya Indah memilih kak Adnan, maka kak David harus menerima itu " Sinta menjelaskan panjang lebar.


"Hhmm... baiklah kakak setuju."


David yang awalnya tampak ragu akhirnya mengangguk setuju, ia telah berjanji pada hatinya sendiri untuk mendapatkan Indah.


"Ya sudahlah, sana aku mau tidur kak, udah ngantuk. Bye." Sinta mendorong pelan kakaknya dan segera menutup pintu kamarnya, sembari melambaikan tangan sekilas.


David mendengus.


"Dasar adik gak ada akhlak."


Dengan perasaan yang bercampur aduk antara kesal dan khawatir. David meninggalkan kamar Sinta dan segera masuk ke kamarnya sendiri.


"Mulai sekarang aku harus memikirkan cara apa yang harus di lakukan untuk menarik hati Indah." Gumamnya sambil tersenyum sendiri.


...****************...


Keesokan harinya, tampak seorang pria yang telah bersiap dengan begitu rapi. Memakai seragam SMA, ia mengendarai motor sportnya, dengan tidak sabar menuju ke rumah perempuan yang ia sukai.

__ADS_1


__ADS_2