
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
Setelah menunaikan sholat Isya, Indah berjalan pulang menuju tangga Masjid, diikuti dengan jamaah yang lain. Saat sholat Magrib dan Isya tadi Indah tak melihat sosok Adnan. Biasanya saat adzan berkumandang, Adnan akan terlihat menaiki tangga Masjid, hal yang selalu Indah tunggu-tunggu saat laki-laki itu muncul dari arah sana. Dan setelah sholat Maghrib Adnan akan duduk sambil membaca Al-Qur'an, menunggu sholat Isya tiba. Dan saat itu, Indah akan menatap sosok dirinya, tapi tak ingin lama-lama. Takut Adnan akan menyadari hal itu, lagi pula tidak baik jika menatap seseorang seperti itu terus, pikir Indah. Dan setelah itu, Indah juga akan membaca Al-Qur'an yang selalu ia bawa, untuk menunggu waktu isya tiba sambil menambah pahala.
Indah menuruni anak tangga perlahan, batinnya memikirkan sesuatu. Tentang Adnan yang tidak terlihat hari ini.
'Apa dia tidak datang? Apakah Adnan menghindari ku? Atau tidak ingin melihatku?' Batinnya bertanya.
Sikap Adnan yang dingin padanya, membuat Indah berpikir bahwa jawaban dari pertanyaannya itu adalah 'iya, mungkin karena itu.'
Saat sampai di anak tangga terakhir, Indah mencoba mencari sesuatu. Dilihatnya dari sisi kanan tangga sampai ke sisi kiri, tetapi Indah tidak menemukannya. Ya, salah satu sepatu Indah hilang.
Dilihatnya satu persatu sandal dan sepatu yang masih ada di Masjid itu, Di baliknya sepatu yang terbalik, mencoba memastikan apakah itu miliknya atau tidak. Lalu Indah mulai berjalan di sisi kanan tangga, tempat dia dulu menemukan sepatu Humairah, berharap dia juga akan menemukan sepatunya di sana, dengan tangan kanannya memegang sepatunya yg lain. Tapi tidak ada apapun di sana. Indah mulai tampak cemas, jika memikirkan harus pulang tanpa memakai alas kaki. Indah kembali berjalan menuju sisi tangga yang lainnya, tapi tetap saja dia juga tidak menemukan apa-apa di sana.
"Ada apa ini, mengapa sekarang sepatuku juga hilang?" Indah menggerutu pelan.
Terlihat hanya tinggal beberapa alas kaki yang ada di dasar tangga itu. Setelah cukup lama mencari, Indah mulai lelah, akhirnya ia memutuskan untuk pulang tanpa menggunakan alas kaki. Namun, saat berbalik hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba di depannya telah ada lelaki yang sedari tadi terus ia pikirkan. Terlihat ia memegang sebuah sepatu balet berwarna hitam dengan hiasan pita kecil.
"Apa ini milikmu?" Tanya Adnan sambil memperlihatkan sepatu yang ia pegang.
Beberapa detik Indah terpaku melihatnya, tak percaya jika Adnan kini ada di depannya. Untuk kemudian kembali sadar dalam lamunannya itu.
"Apa ini milikmu?" Tanyanya lagi. Kali ini dengan intonasi yang cukup keras.
"Eehh... i... iya." Indah gugup.
" Aku menemukannya di sana." Sambil menunjuk arah semak-semak yang ada di sekitar Masjid.
"Kelihatannya ada anak-anak yang iseng." Sambungnya.
'Pantas saja aku tidak menemukannya, ternyata ada di sana. Sementara aku terus saja mencari di sini.' Indah berkata dalam hati.
"Ini, pakailah." Adnan menunduk dan meletakkan sepatu itu di dekat kaki Indah.
Deg.....
Indah tersentak, jantungnya berdetak begitu kencang. Ia tidak menyangka Adnan akan bersikap seperti itu. Bagi Indah, yang Adnan lakukan adalah sesuatu yang sangat istimewa.
'Ya ampun,, ya Allah, jantungku... jantungku... tenanglah... tenanglah....' Batinnya terus menerus.
"Te... terima kasih."Ucap Indah dengan pandangan menunduk saat Adnan telah selesai meletakkan sepatunya.
Tanpa membalas ucapan Indah, Adnan berlalu dari hadapannya. Meninggalkan Indah yang masih mematung, tarpaku, atas apa yang terjadi.
...***...
Indah terus memikirkan kejadian tadi, hingga ia yang setiap malam selalu membaca novel kini hanya berbaring membayangkan Adnan, saat Adnan menunduk dan meletakkan sepatu Indah di dekat kakinya. Indah terus saja tersenyum. Ia berpikir hari ini kejadian yang ia alami mirip seperti kisah Cinderella dalam dongeng. Ketika sang Pangeran membawakan dan memberikan sebuah sepatu untuk dicocokkan di kaki Cinderella. Namun bedanya malam ini, Pangeran itu bersikap begitu dingin.
"Terkadang aku tidak mengerti dengan dirimu Adnan. Di satu sisi kamu bersikap begitu dingin padaku. Namun di sisi lain, perhatian yang kamu berikan seakan membuatku menyadari satu hal, KAMU TIDAK TERGANGGU DENGAN KEHADIRANKU. Dan hari ini adalah hari yang sangat spesial untukku. Di sekolah kamu menolongku saat kepalaku hampir saja tertimpa buku. Dan malam ini, kamu kembali membantuku. Bukan hanya membantu, tetapi memperlakukanmu seakan aku ini istimewa untukmu. Hhuufftt.... mengapa perasaanku ini begitu dalam, pada seseorang yang belum lama ku kenal. Tapi mengapa dia bisa menemukan sepatuku? Apakah sedari tadi dia melihatku sedang mencari sepatu itu?
...***...
"Indah, kamu sudah siap, Nak?"
"Ia Ma, tunggu sebentar."
"Cepat Nak, mama udah telat ini."
Indah kembali merapikan seragam sekolahnya, berdiri menatap bayangannya di cermin. Merapikan jilbabnya yang agak miring. Kemudian mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar, menuju teras, ibunya sudah menunggunya dari tadi.
__ADS_1
"Yuk Ma." Ucap Indah saat sampai di teras. Bu Dania terlihat duduk dengan ditemani segelas teh yang hampir habis.
"Ya udah, Yuk." Meraih kunci motor yang telah disiapkan dari tadi di atas meja, memakai helm, lalu segera berangkat bersama Indah.
Sesampainya di sekolah...
"Indah masuk dulu yah Ma." Indah meraih tangan Bu Dania dan menciumnya.
"Iya sayang, belajar yang rajin yah."
"Siap Ma, hehe... Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
Indah berjalan menuju gerbang sekolah, dan Bu Dania segera berangkat menuju tempat kerjanya.
Pagi itu, keadaan sekolah sudah cukup ramai. Lalu-lalang sepeda motor memasuki lingkungan sekolah. Ada juga beberapa murid yang datang dengan diantar oleh orang tua atau keluarga mereka yang lain, dan ada pula yang memilih untuk berjalan kaki.
Indah berjalan santai memasuki gerbang sekolah, namun tiba-tiba seorang siswa dengan mengendarai sepeda motor juga memasuki gerbang dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sampai-sampai dia tidak memperhatikan jika ada siswa lain di depannya, dan hasilnya...
"Indah!!! Awas!!!" Seseorang meraih tangan kanan Indah dengan cepat. sedikit merangkulnya dari belakang untuk melindungi Indah dari sepeda motor yang hampir menyambarnya.
"Aarrgghh..." Teriak Adnan.
Meskipun berhasil menyelamatkan Indah, tapi Adnan kurang cepat. Tangan kirinya yang ia gunakan untuk melindungi tubuh Indah malah terserempet setir sepeda motor itu.
Suasana cukup panik menyelimuti orang-orang yang melihat kejadian tersebut. Indah yang awalnya kebingungan dengan apa yang terjadi sangat terkejut ketika melihat Adnan kesakitan, sambil memegang lengan kirinya.t
"Kak Adnan, kak... kakak gak apa-apa?" Tanya Indah yang reflek berbalik dan langsung memegang lengan kiri Adnan.
"Kamu gak papa kan?" Adnan berbalik bertanya.
"Gak ada yang luka kan?" Dengan wajah yang menahan sakit, Adnan terus bertanya pada Indah tentang keadaannya.
Indah sempat diam sejenak, memandang wajah laki-laki yang kini terlihat sangat menghawatirkan nya, tanpa mempedulikan dirinya sendiri.
"A.... aku gak apa-apa kak. Tidak.... tidak ada yang luka."
"Huufftt... Alhamdulillah." Adnan menghembuskan nafas lega.
Segera seorang guru dan Pak Wawan yang ada di tempat tersebut, membawa Adnan ke UKS, diikuti oleh Indah. Sementara siswa yang menyerempet lengan Adnan langsung dibawa ke ruang BK.
Ruang UKS
"Izinkan saya untuk ada di sini dulu Bu, kak Adnan terluka karena menolong saya tadi." Ucap Indah saat sampai di depan ruang UKS.
"Tidak perlu nak, sebentar lagi kan sudah bel, kamu harus masuk kelas."Jawab Bu Eka. Bu Eka adalah yang bertanggung jawab di ruang UKS.
"Tapi Bu..."
"Saat istirahat nanti, kamu bisa ke sini untuk melihat Adnan, yahh..."
Indah terdiam sejenak
"Aku tidak apa-apa, tidak perlu khawatir." Ucap Adnan tanpa melihat ke arah Indah. Masih dengan posisi tangan kanannya memegang lengan kirinya yang terluka.
Indah menatap Adnan sejenak, ia sangat khawatir pada laki-laki ini.
"Baiklah Bu." Ucap Indah pelan, dengan nada kecewa.
Bu Eka kemudian membawa Adnan masuk ke ruang UKS dan mengobatinya. Sementara Indah, dengan langkah ragu menuju kelas.
Sesampainya di kelas Indah menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi tadi kepada Sinta. Sinta mendengar dengan seksama.
"Kak Adnan sampai terluka seperti itu. Ini semua salah aku Sin?" Indah menunduk sedih.
" Itu adalah kecelakaan Indah, bukan salah kamu. Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Aku salut banget sama kak Adnan, karena dia berada di waktu dan tempat yang tepat. Untung saja ada dia, kalau tidak mungkin keadaanmu akan lebih parah dari dia sekarang." Sinta berpikir.
__ADS_1
"Hhmm.... Hhuufftt...." Indah menghembuskan nafas panjang, memikirkan perkataan Sinta.
Indah mengikuti pembelajaran dengan sangat gelisah. Tubuhnya mungkin ada di kelas, tapi hati dan pikirannya berada di tempat lain. Dia terus saja memikirkan keadaan Adnan, hingga beberapa kali harus menerima teguran dari guru yang mengajar lagi itu, karena Indah terus melamun dan hanya memperhatikan jam yang ada di lengannya.
Kkrriiinnggg.....
Bel tanda istirahat berbunyi dengan nyaring. Dengan tidak sabaran Indah berjalan keluar kelas saat guru telah mengakhiri pelajaran. Melangkah cepat, menuju ruang UKS.
Dengan nafas terengah-engah Indah sampai di ruang UKS. Terlihat Adnan sedang duduk di atas salah satu tempat tidur yang ada di pojok kanan ruang itu.
Ruang UKS di sekolah ini tidak terlalu besar, hanya seukuran 10x8m, dengan jendela kaca yang cukup besar persis di bagian depan saat kita memasuki ruang UKS itu. Tapi kali ini, jendela besar itu ditutup dengan gorden berwarna abu-abu. Terdapat 2 tempat tidur di masing-masing pojok ruangan tersebut, khas tempat tidur yang ada di puskesmas atau rumah sakit. Terdapat pula 1 lemari kaca yang diletakkan di antara kedua tempat tidur. Dan satu meja juga kursi di dekat pintu masuknya.
Indah mengatur nafas sejenak. Sebenarnya Indah selalu gugup saat berada di dekat Adnan. Namun kali ini kekhawatirannya mengalahkan rasa gugupnya. Ia memberanikan diri untuk berbicara kepada Adnan.
Indah mendekat beberapa langkah. Ia berdiri di depan tempat tidur yang ada di sisi kiri ruangan itu, namun mereka tetap berhadapan. Adnan terlihat salah tingkah, dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ba... bagaimana keadaan kakak?" Indah bertanya ragu-ragu.
"Aku sudah merasa lebih baik." Jawab Adnan tanpa menatap ke arah Indah.
Indah menatap laki-laki di depannya itu sebentar, melihat luka lengan kirinya. Lengannya tampak tergores dan membiru, Indah semakin merasa bersalah.
"Aku minta maaf kak, gara-gara aku kak Adnan terluka." Ucap Indah menunduk.
" Tidak apa-apa, ini juga bukan salah kamu, jadi tidak perlu minta maaf."
"Bagaimana keadaan kakak sekarang? Apa lukanya masih sakit?"
"Ini hanya luka kecil hanya terkilir sedikit. Bu Eka juga sudah mengobatinya tadi, beberapa hari juga akan sembuh." Kali ini Adnan menjawab cukup panjang.
Suasana hening sejenak, Indah dan Adnan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Aku..." Indah dan Adnan berucap bersamaan, membuat pandangan mereka tak sengaja bertemu.
"Kakak saja dulu." Ucap Indah.
"Enggak, kamu aja duluan."
Indah mengangguk.
"Aku mau bilang..." Belum selesai Indah berbicara, seorang siswi tiba-tiba masuk ke ruangan itu dengan tergesa-gesa.
"Adnan!" Panggil siswi itu yang langsung berlari ke arah Adnan.
"Kamu gak apa-apa kan? Katanya kamu keserempet motor di gerbang sekolah, kamu terluka?" Ucapnya yang sekarang berdiri di hadapan Adnan, memegang pundaknya, mencari bagian tubuh Adnan yang terluka.
"Apaan sih Ayu, jangan pegang aku." Adnan menyingkirkan tangan Ayu dari bahunya lalu melihat ke arah Indah.
Namanya Ayudya, dia adalah teman sekelas Adnan. Sejak awal dia masuk ke sekolah itu, dia sudah menyukai Adnan, dan hampir semua teman seangkatan mereka mengetahui hal itu. Dia juga salah satu siswi yang cukup terkenal di sekolah karena pengaruh orang tuanya, selain itu parasnya yang cantik membuatnya di sukai oleh banyak siswa di sekolah tersebut. Namun berbeda dengan Adnan, Adnan sama sekali tidak menyukai Ayu. Dia bahkan sudah sering kali berusaha untuk menjauhinya, dan beberapa kali menolak Ayu saat dia menyatakan cinta pada Adnan. Namun, sikap Adnan yang dingin dan berbeda dengan laki-laki yang lain membuat Ayu semakin terus berusaha untuk mendapatkan Adnan.
Indah sangat terkejut melihat perlakuan Ayu kepada Adnan, dia merasa seperti orang ketiga di dalam ruangan itu. Indah tersentak, membisu.
"Tangan kamu masih sakit gak? Aku obatin yah..." Ucap Ayu sembari duduk di samping Adnan.
"Gak perlu, Bu Eka sudah mengobatiku tadi." Jawab Adnan cuek.
"Kamu kenapa bisa sampai keserempet gini sih? Aku khawatir banget tahu pas dengar kamu terluka." Satu terus saja berbicara. Sementara Adnan, berkali-kali menatap ke arah Indah. Khawatir jika Indah berpikir macam-macam tentang dirinya dan Ayu.
Indah yang tidak bisa lagi menahan dirinya akhirnya menyerah. Perlahan melangkah jauh dari Adnan dan Ayu, lebih baik ia pergi sebelum sebelum ia tidak bisa lagi membendung air matanya.
"Ind..." Ucap Adnan tertahan.
Adnan melihat kesedihan di mata Indah, dan itu membuatnya sangat gelisah.
Indah berlari menuju toilet. Saat ini, itu adalah tempat terbaik untuk menyembunyikan kesedihan yang sedari tadi ia tahan.
Berkali-kali Indah mengusap air matanya yang terus saja mengalir. Saat ini hatinya begitu sesak, entah mengapa dia sangat sedih melihat kedekatan antara Adnan dan Ayu. Hingga bel masuk berbunyi, Indah Masih enggan meninggalkan toilet. Matanya masih merah karena terus menangis, akhirnya ia memutuskan untuk tetap berada di sana dan melewatkan pelajaran yang akan masuk.
__ADS_1