
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
Indah masuk ke kelas setelah pelajaran ke-2 berakhir. Sinta yang melihatnya dengan tidak sabar langsung mengajukan pertanyaan.
"Kamu dari mana saja Indah?" Tanya Sinta ketika Indah duduk di sampingnya.
"Bu Rahma tadi nyariin kamu loh. Dia berpikir hari ini kami bolos karena tidak mengikuti pembelajarannya sementara tas kami ada di sini." Sambung Sinta.
"Iya, tadi perutku sakit sekali, aku bolak-balik masuk ke toilet. Dan sampai bel berbunyi perutku masih sakit, akhirnya aku tetap di sana saja sampai pelajaran Bu Rahma selesai." Jawab Indah berbohong.
"Pantas saja gak ketemu. Aku tadi nyariin kamu di UKS karena tadi kamu bilang mau ke sana. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa."
"Kamu ke UKS? Apa kak Adnan masih ada di sana?" Tanya Indah menatap Sinta dengan serius.
"Gak ada, tidak ada siapa-siapa di sana."
"Hhm..."
"Kamu... baik-baik aja kan Indah?" Sinta khawatir melihat keadaan sahabatnya yang tidak biasa itu.
"Iya, aku gak apa-apa kok."
"Terus perut kamu? Apa masih sakit?"
"Sudah mendingan, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir yah." Indah tersenyum tipis.
"Iya... tapi kalau kamu merasa sakit lagi, bilang yah."
"Iya... iya." Indah mengangguk meyakinkan.
...***...
Sejak pulang dari sekolah Indah hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, banyak melamun di sana. Memikirkan tentang kejadian hari ini. Ia duduk di dekat jendela kamarnya, menatap keluar dengan tatapan kosong. Hatinya masih saja gelisah, ada banyak pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk di batinnya. Bahkan hari ini pun dia tidak pergi untuk sholat di Masjid, seperti yang selalu ia lakukan.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu? Kak Adnan tadi memanggilnya Ayu, Mengapa dia terlihat sangat dekat dengan kak Adnan? Dia sangat peduli padanya, sangat mengkhawatirkannya. Apa dia adalah pacar kak Adnan? Mengapa aku merasa sangat sesak saat melihat kamu sanggar dekat dengan dia Adnan? Bahkan air mataku jatuh begitu saja, perasaan sedih menyerang hatiku. Mengapa? Mengapa aku merasa seperti ini? Bukankah aku hanya seseorang yang mengagumi dirimu? Lalu mengapa aku merasa cemburu saat kamu bersama dengan perempuan itu tadi?" Indah terdiam sejenak, menatap bulan dari balik jendela kamarnya. Namun ia sadar atas apa yang ia katakan tadi.
" Aa... apa? Apa yang ku katakan tadi? Cemburu? Apa tadi aku mengatakan itu? Apa aku cemburu? Apa aku menyukaimu? Apakah rasa kagumku padamu kini berubah menjadi cinta?" Indah berucap pelan dengan nada suara yang serak. Menahan sesak yang ia rasakan di hatinya.
...***...
"Oohh... Jadi perempuan yang waktu itu aku lihat di UKS, gara-gara nyelamatin dia Adnan jadi terluka. Siapa tadi namanya?" Ayu bertanya pada seorang siswi yang mengetahui banyak hal tentang Indah. Terlihat 2 perempuan lainnya yang masing-masing berdiri di sisi kanan dan kirinya sambil memegang tangannya erat.
"Indah " Jawab perempuan itu.
"Indah.... Hee... kamu sudah buat orang yang aku sayang terluka. Aku pastikan kamu akan mendapatkan balasan dariku."
"Apa yang akan kamu lakukan? Jangan berbuat macam-macam pada Indah." Perempuan itu sempat memberontak, teriakannya menggema di sebuah toilet siswa.
"Heiii!!!" Ayu membentak dengan nada yang tinggi, menaikkan telunjuknya dan mendekatkannya pada wajah perempuan itu.
"Berani sekali kamu berbicara dengan nada yang tinggi padaku. Memangnya kamu siapa?" Sambung Ayu.
Perempuan itu hanya diam, dengan tatapan marah dan khawatir di wajahnya.
"Kamu tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan pada Indah, tugas kamu hanya melakukan apa yang aku perintahkan, kamu mengerti?"
Yang ditanya hanya diam, berusaha menahan amarahnya.
...***...
Kembali ke kamar Indah
"Ada apa denganmu Indah? Ingatlah kalau kamu bukan siapa-siapa untuk kak Adnan, buang jauh-jauh perasaanmu itu. Kamu hanya mengaguminya, bukan mencintainya, ingat itu." Indah berusaha menenangkan perasaannya.
Indah berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya di sana. Menatap langit-langit kamarnya.
"Aku tahu mungkin kak Adnan sudah memiliki perempuan yang istimewa di hatinya. Walaupun begitu setidaknya aku harus berterima kasih karena dia sudah menolongku. Tapi bagaimana caranya? Kalau aku bertemu dengan kak Adnan mungkin aku tidak akan sanggup berbicara dengannya. Apalagi setelah kejadian di UKS tadi, aku bahkan pergi begitu saja. Dan mungkin perempuan yang bersama kak Adnan tidak akan suka jika melihat aku berbicara dengannya. Lagi pula dia seorang wanita, dia bisa saja merasa cemburu melihat orang yang dia sayang berbicara dengan Perempuan lain. Aku tidak mau menyakiti perasannya. " Indah berpikir sejenak, menarik guling yang ada di sampingnya, lalu menenggelamkan wajahnya di sana, Masih berbicara dengan dirinya sendiri.
Lama terdiam sampai akhirnya Indah memikirkan sesuatu.
"Apa ku tuliskan saja surat untuknya... tapi...adduuhhh....Indah!! ini sudah tahun 2021 dan kamu masih mau menggunakan surat, mungkin saja kak Adnan hanya akan mentertawakan mu, huufftt..." Indah menarik nafas panjang.
"Tapi tidak ada cara lain Indah, biarlah dia akan berpikir apa, yang penting kamu sudah berterima kasih padanya. Dan setidaknya hatimu akan merasa tenang dan tidak merasa bersalah lagi." Indah bangkit dari tidurnya, meraih pena dan buku yang ada di atas meja. Mengambil posisi yang nyaman dengan bersandar di tempat tidur lalu meletakkan sebuah bantal di atas pangkuannya.
*To: Kak Adnan
__ADS_1
Assalamualaikum
Sebelumnya aku minta maaf kak karena telah lancang memberikan surat ini kepada kakak. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan kakak. Aku juga tidak enak dengan pacar kakak. Oh iya, lewat surat ini aku ingin mengatakan yang tidak sempat aku katakan waktu itu di UKS. Aku hanya ingin bilang terima kasih karena sudah menyelamatkan dan menghawatirkan keadaanku waktu itu. Sekali lagi terima kasih.
Wassalamu'alaikum
^^^Indah*^^^
"Aku berharap di sekolah besok bisa bertemu denganmu. Jadi aku bisa memberikan surat ini." Ucap Indah dalam hati dengan tersenyum.
...***...
Indah memandang pantulan bayangannya di cermin. Merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Lalu mengambil tasnya yang sudah ia siapkan atas tempat tidur, dan hendak keluar kamar. Namun saat akan membuka pintu, ia mengingat sesuatu. Indah mengalihkan pandangannya pada meja di samping tempat tidur. Melihat kertas berwarna biru muda yang telah terlipat kecil dengan rapi. Ia hampir saja lupa, surat untuk Adnan. Indah segera mengambilnya, kemudian meletakkannya di saku seragam.
"Ibu pasti sudah menungguku dari tadi." Ucap Indah pelan, sambil melangkah keluar kamar.
"Ada apa Indah? Aku perhatikan hari ini kamu selalu terlihat sedih." Tanya Sinta menoleh sebentar ke arah Indah lalu kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Yah, hari ini mereka akan belajar matematika di jam terakhir, Yang sebentar lagi akan masuk. Sinta sibuk mengerjakan PR yang seharusnya ia kerjakan di rumah. Sebenarnya bukan mengerjakan, tapi menyalin tugas itu dari buku Indah. Sedari tadi ia memohon kepada Indah untuk menyalin tugasnya. Indah yang tidak tega melihat sahabatnya itu akan kena marah oleh Bu Fatma, guru Matematika akhirnya memberikan tugasnya kepada Sinta.
"Tidak Sin, aku tidak apa-apa kok." Indah tersenyum datar.
"Apa kamu sedih karena aku melihat tugasmu?" Sinta mencoba menggoda sahabatnya itu. Namun dia tahu betul Indah sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa kamu bilang seperti itu Sinta. Aku sama sekali tidak merasa keberatan kamu menyalin tugasku."
"Hehe.. iya... iya... aku tahu kok. Aku cuma bercanda." Sinta terkekeh.
"Kamu ini." Indah tersenyum lebar sembari memukul pelan tangan sahabatnya itu.
Sebenarnya Indah cukup sedih karena hari ini tidak berpapasan dengan Adnan. Baik di gerbang, perpustakaan atau pun di lingkungan sekolah lainnya. Sempat terpikir oleh Indah untuk ke kelas Adnan. Tapi saat akan melangkah ke sana, ia mengurungkan niatnya. Indah berpikir akan banyak orang-orang yang mungkin saja memperhatikan mereka, lagi pula bisa saja kak Ayu juga ada di sana.
"Hufftt..." Indah menghembuskan nafas panjang.
...***...
Allahu Akbar Allahu Akbar
...
Terdengar adzan berkumandang, menandakan waktu sholat Maghrib telah tiba. Sedari tadi Indah sudah bersiap-siap, hari ini ia akan sholat Maghrib di masjid lagi. Ia cukup rindu dengan suasana Masjid, karena beberapa hari ini ia tidak pergi ke sana. Dan siapa tahu Indah bisa bertemu dengan Adnan, dia akan memberikan surat itu di sana. Walaupun di Masjid tidak ada teman lain ataupun kak Ayu, rasanya Ia tidak akan sanggup bila harus berhadapan dengan Adnan, apalagi setelah kejadian di UKS itu. Indah melangkah keluar rumah dengan surat itu berada di kantong gamisnya.
Namun sayang, hasil yang ia dapatkan malam ini, sama seperti tadi pagi. Ia juga tidak melihat Adnan di sana. Indah pulang dengan raut wajah murung.
__ADS_1
"Mengapa saat aku mencarimu, kamu seolah sulit sekali untuk ditemui." Inah berkata pelan dalam langkahnya menuju rumah.