
"Indah…” Panggil David lirih saat kini melihat Indah tampak shcok.
Indah tak menjawab, perlahan ia melangkah mundur dari tempatnya berdiri.
“Indah… ada apa?”David bertanya, kali ini ia berdiri.
“A… aku… aku tidak bisa kak.” Ucap Indah akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
“A… aku tidak bisa, ma… maafkan aku.”
Perlahan raut wajah David yang tadinya berbinar kini tampak sendu, ia menunduk begitu pun dengan gadis di depannya itu.
“Ma… maafkan aku kak.” Ucap Indah sedikit merasa bersalah melihat David yang kini tampak begitu sedih.
David tak menjawab, untuk beberapa saat hanya terdengar suara desiran ombak di antara mereka.
“Kenapa Indah?” David bertanya dengan suara pelan.
“Kak David… aku…”
“Kenapa kamu tidak menyukaiku?”
“A… aku… Aku…”
David memandang wajah Indah.
“Apa karena Adnan?” Tanyanya, sontak saja hal itu membuat Indah terkejut.
__ADS_1
Reflek ia melihat ke arah David, dengan tatapan tak percaya.
“Heh…” David tersenyum sinis, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana, angin dingin senja itu mengibaskan rambutnya, merasuk ke setiap sendi tulang membuat David yang tadinya tidak mempedulikan kini merasakannya, karena hatinya yang telah patah.
“Aku bener kan?!”
“Tidak… Itu tidak benar kak. memangnya apa hubungannya dengan kak Adnan, mengapa kak David membawa-bawa nama kak Adnan.” Jawab Indah berusaha berbohong untuk menjaga perasaan David.
“Mulutmu bisa saja berbohong Indah, tapi matamu tidak.”
“Aku sudah tahu dari awal kalau kamu memang menyukai Adnan, tapi aku hanya ingin berusaha Indah…” David menjeda perkataannya.
“Aku berpikir barangkali masih ada kesempatan untukku, aku berpikir jika aku berusaha mungkin namaku akan ada di hatimu, seperti kamu menyimpan nama Adnan di sana. Tapi ternyata aku salah, heh.”Cowok itu kembali tertawa sinis.
Indah hanya diam, ingin mengelak pun rasanya tidak akan sanggup. Satu hal yang pasti, apa yang dikatakan oleh David memang benar, ia menyukai Adnan, dan bahkan mencintainya.
Indah kembali menunduk.
“Dan… Begitu pula sebaliknya.” Lanjut David yang sukses membuat Indah menatapnya tak percaya.
"Maksud kak David?" Indah bingung.
“Aku berdoa semoga kalian benar-benar berjodoh. Dan aku berjanji satu hal sama kamu Indah, kalau aku tidak akan menyukai seseorang lagi, selama ia memiliki lelaki lain di hatinya." David menyindir.
"Dan aku akan tetap sendiri sampai kamu dan Adnan memang benar-benar bersama dalam sebuah ikatan yang suci. Aku berjanji padamu, akan tetap menunggumu sampai kemudian kamu memang benar-benar telah menjadi milik orang lain. Itu janjiku Indah. ”Ucap David sungguh-sungguh.
Meski terlihat berusaha tegar, tetap saja ada sedikit kekesalan di diri David pada Indah, ia menyukai perempuan itu. Dan sebagaimana halnya kita ketika mencintai sesuatu, kita ingin orang yang kita cintai itu juga membalas perasaan yang sama. Tapi apa yang dia alami hari ini membuatnya berpikir bahwa perkataan orang-orang memang benar. Dalam hal mencintai kita tidaklah boleh egois, karena ada beberapa orang yang hadir dalam hidup kita tidak untuk dimiliki, jika memang dia bukan yang dijodohkan untuk kita, sekuat apapun kita menggenggamnya, se berusaha dan sebesar apa pun kita mempertahankannya, tetap saja ia akan terlepas.
__ADS_1
Kunci tertinggi dari semua yang David rasakan hari ini adalah… belajar melepaskan seseorang yang dia cintai untuk melihatnya bahagia dengan orang yang memang juga mencintainya. Tapi meski begitu ia tetap masih menyimpan sedikit harapan di hatinya, ia akan menunggu, menunggu sampai kemudian penantiannya benar-benar tak memiliki harapan lagi.
“Aku minta maaf kak, aku tidak bermaksud menyakiti perasaan kak David, kak David adalah laki-laki yang sangat baik, tampan dan aku yakin banyak wanita yang menyukai kakak, tapi...."
"Tapi itu tidak cukup untuk membuatmu menyukaiku." Ucapnya cepat.
"Maafkan aku kak, aku hanya….” Indah menghentikan ucapannya.
“Hanya mencintai Adnan.” Lanjut David.
“Siapapun yang aku sukai itu bukan urusan kak David, jangan terus membawa nama kak Adnan dalam pembicaraan ini.”Ia yang tadinya berusaha untuk menghibur cowok itu mendadak kesal.
“Apa kamu kesal Indah?” David bertanya dengan senyum terpaksa di bibirnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak membawa namanya, sementara dialah alasan mengapa kamu tidak bisa menyukaiku." Sambung David.
Dengan bibir cemberut, Indah segera meninggalkan tempat itu, berlalu menjauh dari David. Dengan setengah berlari ia pergi bersama air mata di pipinya.
Ia sedih, yah… bukan hanya pada David tetapi pada dirinya sendiri. Ia pikir ia sudah cukup pandai untuk menyembunyikan perasaannya pada orang lain, tapi ternyata tidak.
“Maafkan aku Indah, aku tidak sanggup untuk mengejar kepergian mu. Aku tidak bisa menggapai seseorang yang tidak mungkin bisa menjadi milikku, aku tidak mau perasaanku menjadi tak rela melepas mu saat aku kembali melihat wajahmu, Karena aku telah kalah, aku kalah.” Ucap David lirih melihat kepergian Indah.
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir.