
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
"They look very happy well depressed."
( Mereka terlihat sangat bahagia yah ).
Ucap Celine yang sedari tadi memperhatikan keluarga di depannya itu.
"Hhmm..." Adnan hanya bergumam.
"Suatu saat nanti aku juga ingin seperti mereka Adnan. Have a happy, harmonious family, and...... bersama dengan pria yang ku cintai."
( Memiliki keluarga yang bahagia, harmonis, dan.... ).
"Suatu hari nanti kamu pasti akan bertemu dengan lelaki yang mencintaimu dengan tulus." Adnan yang sadar akan arah pembicaraan Celine berusaha untuk bersikap biasa saja.
'Sepertinya gadis ini akan menyatakan cintanya lagi.' Gumam Adnan.
"Yah... tapi bagaimana kalau aku tidak mencintainya dan hanya mencintai kamu saja?"
Celine menatap Adnan lekat, pandangan mereka tak sengaja bertemu namun Adnan memutuskannya lebih dulu.
"Sebaiknya kita pulang sekarang Celine."
"Tunggu sebentar Adnan." Celine mencegah Adnan yang hendak beranjak dengan memegang tangannya.
__ADS_1
Adnan melepaskan tangan Celine yang memegangnya. Berusaha mengalah dan kembali duduk di bangku itu.
"Adnan you know how I've always felt for you. Dan sampai sekarang itu tidak pernah berubah. Aku pun sudah menutup hatiku untuk pria lain selain kamu. Aku sangat mencintaimu, tolong beri aku kesempatan untuk bisa ada dalam hati kamu. I'd do anything for that, please." Mohon Celine.
Adnan menatap Celine, wajah yang telah lama ia kenal itu kembali memohon padanya untuk kesekian kalinya. Namun sungguh, apa yang ia rasakan pada gadis itu hanyalah perasaan seorang kakak kepada adiknya.
Dulu Adnan sangat memperhatikan Celine karena ia menganggap bahwa Celine juga menganggapnya sebagai kakak, dan bukan perasaan seorang wanita kepada seorang pria. Tapi rasa sayangnya pada gadis itu lantas hancur saat Celine menyatakan cintanya pada Adnan. Perasaan kecewa... pasti. Namun ia juga merasa bersalah karena selama ini mungkin sikapnya membuat Celine salah paham padanya. Maka setelah mengetahui perasaan gadis itu, Adnan yang selalu bersikap ramah dan hangat layaknya seorang kakak berubah menjadi pribadi yang tertutup dan dingin kepada Celine. Semua itu ia lakukan agar Celine bisa memahami perasaannya yang hanya menganggap dia sebagai adik, tidak lebih.
"Maafkan aku Celine, tetapi jawabanku masih sama. aku tidak bisa mencintai kamu. Aku sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri, tidak ada perasaan lain selain itu "
"Kenapa kamu tidak bisa mencintai ku Adnan, bahkan setelah kita sudah mengenal selama ini? Apa tidak ada benih cinta sedikit saja... yang tumbuh di hatimu untuk aku?" Celine menatap Adnan sedih, ada perasaan bercampur amarah di matanya.
"Maafkan aku Celine, aku tidak bisa."
"Apa yang kurang dariku Adnan, apa aku kurang cantik? Atau aku kurang baik? Atau kamu tidak suka dengan penampilanku yang seperti ini? Kalau memang begitu aku berjanji akan mengubah semuanya. Kamu suka kan dengan perempuan yang memakai pakaian tertutup. Aku.... aku akan berpakaian seperti yang kamu inginkan, meski aku tidak suka, tapi demi kamu aku akan melakukannya, aku janji Adnan." Celine kembali memohon kepada Adnan, sekali lagi memegang tangan pria itu.
"Celine! Ada apa denganmu! Kenapa kamu bertingkah seperti ini?" Tanpa sadar Adnan meninggikan nada suaranya.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka reflek memandang pada Adnan dan Celine.
Celine yang melihat Adnan pergi meninggalkannya segera menyusul pria itu. Ia juga tidak mau menjadi bahan tontonan dan gosip di tempat itu.
Celine membanting pintu mobil dengan keras, membuat lelaki yang telah duduk kembali di kursi kemudi itu cukup terkejut.
'Apa gadis ini sangat marah?' Batin Adnan.
"Kenapa kamu pergi? Kita belum selesai bicara Adnan." Celine semakin marah dengan mata yang mulai menghangat.
"Sebaiknya kita pulang sekarang Celine, kamu mungkin sakit, kamu tidak terlihat seperti biasanya." Ucap Adnan yang melihat perubahan sikap Celine yang mulai nampak kasar.
"Tidak! Kamu belum menjawab pertanyaan ku. Aku gak mau pulang sampai kamu menjawabnya." Celine menyilangkan tangannya di depan dada, nafasnya kembali menggebu menahan amarah.
__ADS_1
"huufftt..." Adnan menghembuskan nafas kasar.
Melihat pada gadis yang kini duduk di samping kursi kemudi.
"Cinta bukan tentang hatiku akan berubah saat kamu mengubah penampilanmu Celine. Perasaan cinta hadir di dalam hati. Jantung akan berdetak dengan cepat kala melihat sang pujaan hati. Cinta adalah menjadi dirimu sendiri, bukan orang lain. Aku menghargai perasaanmu, tapi rasa sayang dan suka tak bisa dipaksakan. Lalu aku harus bagaimana kalau memang perasaan itu tidak ada di hatiku untukmu? Aku pun tidak ingin menyakiti perasaan kamu, kamu sudah seperti adik untukku."
"Kalau begitu belajarlah untuk mencintaiku, karena aku ingin lebih dari seorang adik Adnan. " Ucap Celine dengan nada seakan sedang menuntut.
"Maaf, aku tidak bisa."
Celine membuang pandangannya keluar jendela mobil. Ia jengah menatap lelaki yang kembali menolaknya hari ini.
"Terserah apa yang kamu katakan. Terserah... hatimu akan terbuka untukku atau tidak, tapi satu yang harus kamu tahu..." Celine kembali menatap Adnan, sementara Adnan dengan wajah datar masih menatap ke arah depan.
"Aku tidak akan berhenti untuk mencintai kamu, dan aku akan melakukan apapun itu untuk mendapatkan kamu, ingat itu."
Kata-kata Celine bagai ancaman yang terdengar ditelinga Adnan. Adnan tidak mempedulikan lagi gadis itu, ia menancap gasnya pulang ke rumah.
...***...
Tetesan hangat kembali jatuh di pipi Indah. Untuk kesekian kalinya ia mengusapnya dengan kasar. Ia merutuki kebodohannya karena kembali menangis untuk laki-laki yang bahkan tidak memiliki ikatan dengannya.
Namun, bukankah cinta tidak membutuhkan sebuah ikatan untuk bisa menghadirkan rasa senang atau pun sedih pada dia yang mencinta?
Dan bukankah perasaan menjadi semakin rumit saat yang mencintai tak kunjung mengatakan cinta? Sementara perasaan cemburu selalu saja hadir saat melihat orang yang disayang dekat dengan orang lain. Jika sudah seperti itu, lantas siapa yang salah?
"Sepertinya aku memang harus menghilangkan rasa ini untuk kak Adnan. Bagaimana bisa aku sangat berani dengan jatuh hati pada cowok terpopuler di sekolah? Dia yang tampan, pintar dan menjadi incaran para gadis cantik. Sungguh tidak tahu malu. Lihatlah dirimu Indah, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua gadis cantik yang mendekati Adnan. Lantas kenapa kamu masih saja menyimpan rasa padanya? Hiks... hiks..." Indah berucap dalam tangisnya.
Sementara di tempat lain, Sinta sedang mengkhawatirkan keadaan Indah. Ia terus saja mondar-mandir di kamarnya. Ia tahu bagaimana perasaan Indah saat melihat Adnan sedang bersama dengan gadis lain, karena sahabatnya itu menyukai Adnan. Ia merasa tidak tega jika mengingat wajah sedih Indah sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah.
Sinta mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidurnya, mencari nama Indah di kontak, dan menghubungi sahabatnya itu.
__ADS_1
Beberapa kali menekan nomor Indah, melakukan panggilan. Namun untuk ketiga kalinya Indah belum juga mengangkat telepon darinya. Sinta pun mengirimkan pesan.
[ Apa kamu baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab teleponku? ]