Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Bilang Saja Kalau Kau Cemburu


__ADS_3

Pagi itu mentari kembali menampakkan dirinya di ufuk timur, menyongsong hari menggantikan Indahnya cahaya bulan. Setelah sholat subuh bersama Dania, Indah kembali tertidur dalam pelukan ibunya. Sementara itu Dania tetap terjaga, termenung memikirkan banyak hal, dan apa yang akan ia lakukan hari ini.


Melirik jam weker Indah di atas meja, sudah pukul 06:02 pagi. Dania beranjak membereskan pakaian-pakaian milik Indah, ia juga akan memasukkan pakaiannya ke dalam tas setelah Farid bangun. Hari ini ia akan membawa Indah kembali lari dari orang-orang yang mengincar mereka.


Setelah memasukkan pakaian Indah ke tas dan hal-hal penting yang akan mereka bawa, Dania keluar dari kamar tersebut dengan tas berukuran besar di tangannya.


“Kamu sudah bangun nak.” Dania menyapa Farid yang tengah duduk dengan segelas teh hangat di tangannya.


“Eh, tante, aku sudah bangun sejak tadi. Maaf aku membuat teh duluan.” Berdiri dari duduknya, merasa tak enak.


Dania tersenyum.


“Tidak apa-apa, anggap saja rumah sendiri.” Berucap ramah.


“Oh yah tante, itu…” menunjuk pada tas yang telah di simpan Dania di atas sofa.


“Ini baju-baju Indah nak, sekarang tante akan mempersiapkan baju-baju tante, setelah itu membuat sarapan dan bekal untuk di perjalanan nanti.”


“Iya tan, kita memang harus secepatnya meninggalkan rumah ini, tentu ini untuk keselamatan tante dan Indah, tidak ada jaminan kalau Jayadi tidak akan mengirim kembali anak buahnya ke sini, apalagi dia sudah tahu alamat ini.”


“Iya.” Dania mengangguk. Sebenarnya ia pun tak ingin jika ia dan Indah kembali lari dan pindah dari sana, apalagi Indah sudah sangat senang di kota ini, ia memiliki teman-teman yang jauh lebih baik, teman-teman yang menyayanginya. Tapi mau bagaimana lagi, tak ada opsi lain untuknya.


Farid memasukkan tas Indah ke bagasi mobil saat Dania kini tengah mempersiapkan pakaian dan barang-barangnya yang lain.



Indah terbangun pukul 07:10 pagi, gadis itu begitu terkejut saat melihat matahari yang telah terik di luar sana. Pikirannya kacau, gawat ia terlambat ke sekolah, untung saja sejak semalam ia kedatangan tamu bulanannya, jadilah Dania tidak membangunkannya untuk sholat subuh tadi. Indah membuka lemarinya, ingin mengambil seragam sekolahnya, namun bukannya pakaian, ia malah mendapatkan kejutan lain di sana.


“Ke mana semua baju-baju ku?” Gadis itu bingung.


“Mama…” Indah mencari keberadaan Dania.


“Ma! Mama!” menuju ke ruang tengah, dan terkahir di dapur. Rupanya Dania berada di sana, menyiapkan sarapan di meja makan.


Indah setengah berlari menghampiri ibunya.

__ADS_1


“Ma, mama kok tidak bangunin Indah sih? Jadinya kan Indah terlambat ke sekolah ma.” Duduk lesu di meja makan.


Dania berusaha mengukir senyum di bibirnya.


“Terus baju Indah juga, kok semuanya gak ada di lemari?” kembali bertanya.


Dania yang sudah selesai menyiapkan bekal dan sarapan itu lalu ikut duduk di meja makan, di samping putrinya.


“Sayang, kamu mau kan kalau hari ini kita akan pergi meninggalkan kota ini?”


Deg


Mata Indah membulat diikuti degup jantungnya yang sudah tidak beraturan. Ia mulai memikirkan semuanya, gadis itu terdiam.


“Indah… sayang, kamu mau kan?” Ulang Dania kembali.


Indah tertunduk sedih.


“Mengapa harus hari ini ma?” Ucapnya lirih.


“Kalau itu memang sudah menjadi keputusan mama, Indah akan ikut kemanapun mama pergi.” Gadis itu akhirnya menjawab setelah terdiam cukup lama.


Dania memeluk Indah dengan erat. Menyampaikan permohonan maaf yang tersirat. Dalam pelukan ibunya, setetes cairan bening itu berhasil jatuh dari pipi putih Indah, ia harus kuat meninggalkan orang-orang yang ia sayangi di kota tersebut. Meninggalkan teman-temannya, sahabatnya, orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya, dan juga orang yang sangat ia cintai.


Pukul 08:20 Dania sudah membereskan barang-barang yang akan mereka bawa. Semuanya telah siap, tinggal menunggu Indah yang kini masih berada di dalam kamarnya. Setelah ia membantu ibunya, Indah kembali masuk ke kamar, meminta izin kepada Dania untuk berada di sana sebentar, entah apa yang dilakukan gadis itu, ia hanya berada di sana, menatap keluar dari balik jendela. Sementara Dania sudah menunggu di ruang tamu.


“Indah masih ada di kamar tan?” Tanya Farid yang baru saja selesai memasukkan semua barang ke dalam mobil.


Dania mengangguk.


“Biarkan dia di sana dulu sebentar, tante tahu ini pasti sulit untuk dia.” Tampak sedih.


Farid mengangguk mengiyakan.


__ADS_1


“Aku sangat senang melihatmu datang Sinta, apa karena kau sangat bersemangat hari ini untuk menemuiku?” Adit yang memang sudah menunggu Sinta di gerbang masuk sekolah itu terus mengikuti langkah Sinta.


Sinta memutar bola matanya jengah, tak berniat untuk menanggapi ocehan Adit.


“Aku juga sangat bersemangat hari ini, wahhh…, ternyata kita sama. Oh iya, apa kamu ingin ke kantin bersamaku nanti?”


Sinta masih diam.


“Atau kamu mau ku kenalkan dengan adikku?”


Langkah Sinta terhenti, menatap pria yang kini tengah tersenyum seperti orang bodoh di sampingnya itu.


“Ada apa denganmu? Mengapa aku harus mengenal gadis itu?”


Mendengar pertanyaan itu, Adit tersenyum malu-malu sendiri, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sinta yang melihatnya pun di buat bingung dengan sikap cowok itu.


‘Ada apa dengannya sekarang?’ Batinnya.


“Oh ayolah, sekarang apa lagi?” Kesal Sinta.


“Hhhmm… itu, bukankah kau marah padaku karena… hehe karena kau cemburu.”


“Uhuk… uhuk.” Mendadak Sinta terbatuk mendengar kalimat itu.


“Ehh… Sinta ada apa denganmu ? kamu tidak apa-apa kan?” Adit khawatir, saat ia akan menyentuh bahu Sinta, lebih dulu kepalan tangan gadis itu mendarat di perutnya.


“Jangan coba-coba menyentuh ku yah… awas saja kamu!”


Adit memegangi perutnya yang keram, sedikit meringis, namun senyum itu masih menghiasi bibirnya.


Sinta berjalan meninggalkannya, sambil mengoceh.


“Cemburu? Heh… mengapa dia terus mengatakan hal itu.” Menyilangkan tangan di dada.


“Bilang saja kalau kau cemburu, wahh… aku jadi semakin semangat mengejar cintamu kalau begini, hehe.” Adit berkata kecil, terkekeh sampai akhirnya menyusul langkah Sinta.

__ADS_1


__ADS_2