
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
"Tapi lain kali kamu jangan seperti itu lagi Indah. Mama sangat mengkhawatirkan kamu nak. Kalau kamu mengulanginya lagi mama gak akan mengizinkan kamu untuk pergi sendirian lagi, kamu ngerti kan?!" Ada ketegasan dalam nada bicara Bu Dania. Tapi Indah juga memahami bila ibunya mengatakan semua itu karena begitu khawatir padanya.
"Iya ma, Maafin Indah yah. Indah janji Insya Allah Indah tidak akan seperti itu lagi."
Bu Dania tersenyum, namun ia menyadari bila Indah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ya sudah, habiskan makananmu dan setelah itu kamu istirahat yah sayang."
"Iya ma." Indah mengangguk, melanjutkan menyendok makan malamnya.
Di Kamar
Indah kembali ke kamar setelah banyak pertanyaan yang ia terima dari ibunya. Ia sangat sedih dan merasa bersalah karena telah berbohong. Mengambil posisi nyaman di tempat tidur, bersandar di sana. Ia begitu gelisah, dadanya serasa sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya. Saat ia menutup mata, bayangan Sinta terlintas di benaknya. Ia teringat ucapan Ayu bila Sinta lah yang sengaja membawanya ke tempat itu atas perintah darinya. Indah meneteskan air mata.
Dengan tidak sabar ia meraih handphone di atas meja di samping tempat tidurnya, membuka kontak panggilan dan mencari nama Sinta, menghubunginya...
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.......'
"Tidak aktif." Indah meletakkan handphone itu sembarangan.
"Ternyata benar apa yang di katakan orang-orang. Disakiti oleh musuh memang sangat menyakitkan, namun dikhianati oleh orang yang kita percaya jauh lebih menyakitkan. Mengapa kamu melakukan ini kepadaku Sinta? Apa tanpa sengaja aku telah menyakitimu atau membuatmu tersinggung?"
"Tapi Tidak, aku tidak akan percaya semua perkataan kak Ayu, sampai kamu sendiri yang mengatakannya padaku. Aku butuh penjelasan darimu."
Indah menghapus air matanya, merebahkan tubuhnya. Mata gadis itu terpejam, ia ingin istirahat, hari ini adalah hari yang berat untuknya.
...***...
"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan anak-anak?" Tanya Bu Musdalifah setelah selesai menjelaskan materi hari ini.
Siswa-siswi tidak menjawab.
"Baiklah, ibu anggap semuanya sudah mengerti yah. Sekarang kalian catat materi yang ada di papan tulis setelah itu ibu akan memberikan kalian tugas."
"Baik Bu." Siswa-siswi menjawab bersamaan termasuk juga Indah.
__ADS_1
Indah mulai mencatat materi yang ada di papan tulis. Sesekali ia melihat ke arah bangku Sinta yang ada di sampingnya. Yah, bangku itu kosong, hari ini Sinta tidak masuk sekolah. Dan tidak ada keterangan ataupun surat yang ia atau keluarganya kirimkan, Indah tampak sangat sedih.
Tok tok tok
"Assalamualaikum, permisi Bu."
"Waalaikumussalam." Bu Musdalifah dan seluruh siswa di kelas menjawab bersamaan.
Seorang siswa berseragam OSIS masuk menemui Bu Musdalifah, mereka berbicara sebentar.
"Indah Nur Aisyah." Bu Musdalifah memanggil.
Indah yang mendengar namanya disebutkan segera mengangkat tangannya.
"Iya, Bu."
"Kamu di panggil ke ruang BK nak."
Indah tercengang...
'Ruang BK? Apa aku sudah membuat kesalahan?' Indah bergumam dalam hati, mulai berjalan ke depan kelas.
Yah, bagi sebagian siswa ruang BK adalah hal yang cukup menakutkan untuk mereka di sekolah, karena mereka menganggap jika mereka di panggil ke ruang BK maka itu berarti mereka telah melakukan kesalahan, dan itulah yang dirasakan oleh Indah.
"Kamu ikuti dia yah." Bu Musdalifah mengarahkan pandangannya ke arah siswa yang datang memanggil Indah.
Tak lama kemudian, Indah tiba di depan ruang BK, sementara siswa yang mengantarnya tadi telah pergi.
Tok tok tok
Indah mengetuk pintu ruangan itu dengan ragu
"Masuk." Teriak seseorang dari dalam ruangan.
Indah menggeser pintu itu, membukanya. Dan betapa terkejut ia melihat Adnan, Ayu, Widia dan Dewi juga ada di sana.
"Indah?" Tanya Pria yang duduk di kursi itu, si pemilik ruangan. Ia tampak berwibawa dengan usia kisaran 40-an. Yah, dia adalah Pak Setya, guru BK di sekolah tersebut.
"I... iya Pak." Indah melangkah masuk perlahan,setelah menutup pintu.
Ayu menatap Indah penuh kebencian, seolah ia siap untuk memukul gadis itu. Sementara Dewi dan Widia berusaha menahan Ayu dengan memegang tangannya.
Mereka semua berdiri di hadapan Pak Setya. Ayu dan teman-temannya berada di sisi kiri, Adnan berdiri di tengah dan Indah di sisi kanannya. Pak Setya menatap tajam pada mereka semua.
"Kalian tahu kenapa kalian semua di panggil ke sini?" Pak Setya mulai berbicara.
__ADS_1
"Tidak Pak." Semua menjawab serentak kecuali Adnan.
"Ayu, Widia, Dewi, kalian tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan?"
"Tidak Pak." Ayu dan teman-temannya kembali menjawab bersamaan.
"Baiklah, bapak akan beri kalian kesempatan untuk mengakui kesalahan kalian."
"Kesalahan apa Pak? Kami tidak melakukan kesalahan apapun." Ayu menjawab dengan nada tegas.
Dewi dan Widia tampak cemas, mereka merasa Pak Setya mengetahui peristiwa kemarin.
"Baiklah jika kalian tidak mau mengakuinya, mungkin video ini bisa menyadarkan kalian dari lupa ingatan kalian itu."
Ayu dan teman-temannya saling memandang satu sama lain.
Pak Setya mengambil handphone yang ada di kantong bajunya, tampak mengotak-atik handphone itu, kemudian memperlihatkan sebuah video kepada mereka semua.
Ayu, Dewi dan Widia terbelalak melihat video tersebut. Ketakutan, yah itulah yang mereka rasakan sekarang. Indah tampak menangis menyaksikan video itu, sementara Adnan terlihat sangat sedih.
Pak Setya tampak semakin marah.
Video tersebut memperlihatkan bagaimana Ayu, Dewi dan Widia menyakiti Indah. Semua terekam dalam video tersebut dan berakhir pada saat Ayu akan membuka jilbab Indah.
"Apa kalian sudah ingat kesalahan kalian? Ingatan kalian sudah kembali bukan?" Pak Setya kembali bertanya dengan nada tinggi.
"Pak, itu semua tidak benar." Ayu ketakutan.
"Kamu sudah melihat buktinya, dan mengatakan ini semua tidak benar? Bapak sangat malu atas perbuatan kamu Ayu. Ini sekolah, buka ajang untuk memperebutkan seorang laki-laki. Dan kalian berdua." Pak Setya menunjuk ke arah Dewi dan Widia.
"Sebagai teman Ayu, seharusnya kalian bisa menasehati dia agar tidak melakukan hal yang buruk. Tapi tidak, bukannya melakukan hal itu kalian malah mendukung perbuatan Ayu." Widia dan Dewi menunduk cemas.
"Bapak mendapatkan video itu dari mana?"
"Kamu masih bisa bertanya tentang video ini kepada bapak tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajah kamu Ayu?" Pak Setya menatap tajam Ayu.
"Kamu tidak perlu tahu bapak mendapatkan video ini dari mana. Kalian hanya perlu tahu jika orang tua kalian sudah melihat video ini. Yah, mereka semua sudah tahu kelakuan kalian di sekolah." Sambung Pak Setya.
Semua cemas termasuk Indah. Ia sangat takut jika ibunya mengetahui semuanya.
'Apa mama juga?' Tanya Indah dalam hati.
"Dan..."
Tok tok tok
__ADS_1
Pak Setya terhenti saat ketukan pintu terdengar.