
Saat Jayadi akan meninggalkan ruangan itu Dania menghentikannya.
“Baiklah, aku akan memberitahu kau dimana dokumen dan barang bukti itu berada.” Ia menyerah, demi putrinya.
“Sayangnya aku sudah tidak tertarik lagi dengan tawaranmu itu sial*n, akan ku dapatkan apa yang ku cari, dan ku pastikan kau akan menyesal telah bertindak arogan seperti ini. Putrimu lah yang akan membayar semuanya, ingat itu.” Ucap Jayadi sambil membersihkan wajahnya.
“Tidak! Tidak aku mohon! Jayadi aku mohon jangan sakiti putriku, Jayadi!!” Dania terus berteriak, memohon. Namun Jayadi tak mendengarkannya.
Suara gema permohonan dan isak tangis itu kembali terdengar di ruangan tersebut.
...***...
“Terima kasih yah kak udah anterin aku.” Ucap Indah saat ia dan David telah sampai di depan rumahnya.
“Iya sama-sama. Ibu kamu udah datang?” Tanya David.
“Maksudku kalau tante Dania belum kembali, kamu tinggal di rumahku saja, berbahaya jika berada di rumah sendirian.” kenyataannya kemarin ia membiarkan Indah sendirian di rumah.
Note: kan lagi patah hati.
“Tidak usah kak, terima kasih. Hari ini mama akan pulang, untuk itu tadi aku belanja bahan-bahan makanan, aku ingin menyiapkan masakan spesial untuk mama.” Indah berucap girang.
David tersenyum, merasa lega mendengar penjelasan gadis itu.
“Baiklah, kamu hati-hati yah di rumah.”
“Iya.” Indah turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada David.
Skip
Indah mulai menyiapkan bahan-bahan makanan, memotongnya dan memasaknya. Dengan ceria gadis itu melakukan hal tersebut.
Dua jam kemudian, masakannya telah selesai, melirik jam dinding, pukul 10:05. Ia mulai resah.
“Mama kok belum datang yah?” Ucapnya lirih.
Indah mengambil ponselnya, memencet nomor ibunya, melakukan panggilan.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…
Hanya suara operator yang terdengar di seberang sana.
Gadis itu termenung, menjadikan satu tangannya sebagai tumpuan, meletakkannya di dagu. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya.
“Hush… hush… jangan berpikiran yang tidak-tidak Indah. Insya Allah mama baik-baik saja. Mama mungkin masih dalam perjalanan sekarang.”
“Mungkin saja ponselnya lobet, jadi tidak bisa menghubungimu.” Indah berusaha berpikir positif.
Indah masih setia menunggu di meja makan, sampai kemudian gadis itu tertidur di sana.
...***...
__ADS_1
Dengan amarah yang memuncak Jayadi meninggalkan ruangan tersebut. Ia menuju ke taman belakang villa yang tak jauh dari gudang tempat ia menyekap Dania, di sana sudah ada Tonson yang terlihat sedang duduk santai menikmati udara pagi.
Melihat Jayadi datang, Tonson segera berdiri menyambut.
“Sial*n sekali wanita itu, dia meludahi wajahku.” Jayadi yang baru datang langsung duduk dan meluapkan amarahnya.
Tonson ikut duduk kembali.
“Jadi kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan?” Tanya Tonson.
“Bukan tidak, tapi belum. Aku akan buktikan padanya kalau aku bisa mendapatkan dokumen dan barang bukti itu, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada putrinya, dia pasti akan sangat menyesal karena arogansinya itu.”
“Tapi bukankah Tuan Kuncoro menyuruh kita untuk menghabisinya hari ini? Kalaupun kita tidak mendapatkan dokumen dan barang bukti itu, kita tinggal membunuhnya saja, semuanya kan beres.”
“Ck, aku tahu itu. Tapi aku ingin melihat dia lebih menderita lagi. Akan ku siksa dan ku jual putrinya itu, agar dia menyesal karena sudah berani macam-macam padaku.” Jayadi berapi-api.
“Baiklah, terserah kau saja. Tapi aku tidak bertanggung jawab jika Kuncoro marah besar karena kita tidak melakukan perintahnya.”
“Yah, serahkan padaku, itu akan menjadi urusanku.”
“Lalu, mau kita apakan dia?” Tonson bertanya.
“Biarkan dia menderita di gudang itu, beri ia makan hanya sekali dalam sehari, aku ingin dia tetap hidup dalam penderitaan. Dan sisanya terserah kamu apa yang akan kamu lakukan.”
Tonson mengangguk, tersenyum licik.
“Huh, baiklah.” Jayadi beranjak.
“Mau kemana kamu?” Tanya Tonson.
“Aku ingin bersenang-senang dengan wanita cantik itu untuk menghilangkan sakit kepalaku ini.” Jayadi tersenyum licik.
“Ck ck ck, terserah kamu saja lah.”
Jayadi pun berlalu dari tempat tersebut.
Di kamar…
“Di gudang… Dania di sekap di gudang, aku harus menyelamatkan dia. Tapi bagaimana? Aku sendiri tidak tahu di mana gudang itu.” Sarah berjalan mondar-mandir, berpikir.
Ceklek
Pintu kamar di buka, Jayadi masuk dengan raut wajah datar. Sarah mundur beberapa langkah.
“Oh, ternyata kau sudah bersiap. Sangat cantik, apa kau berniat untuk menggodaku lagi nona Sarah?” Jayadi mendekat.
“Mundur Jayadi, atau aku akan…” Sarah ketakutan.
“Akan apa? Hah?”
__ADS_1
Sarah yang melihat pisau buah di atas meja itu buru-buru mengambilnya.
Mundur atau pisau ini akan menusuk mu.” Sarah mengacungkan benda tajam itu.
Nyali Jayadi sedikit menciut. Tapi lelaki itu tidak kehabisan akal.
“Bersikaplah baik padaku Sarah, atau nasibmu akan sama seperti Dania, apa kau mau aku menyiksamu seperti dia?” Ancam Jayadi.
Mendengar nama Dania, Sarah mulai kehilangan fokusnya. Wanita itu termenung sesaat. Mengambil kesempatan itu Jayadi dengan cepat merebut pisau buah itu dari tangan Sarah, dan mendorong Sarah ke tempat tidur.
Saat akan menyentuh Sarah, ponsel Jayadi berdering. Laki-laki itu awalnya ingin mengabaikan namun melihat nama si penelpon ia mengurungkan niatnya. Dengan cepat ia mengangkat telepon itu dan menjauh ke sudut kamar. Sementara Sarah meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lututnya, ia ketakutan.
Dalam ketakutannya, ia mencoba mendengar dengan baik percakapan Jayadi, siapa tahu ada pembicara penting yang akan memberinya petunjuk lain di mana Dania.
“Halo...”
“Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku?” suara seseorang di seberang sana marah.
“Maaf, tadi ada yang sedang ku kerjakan.” Jayadi beralasan.
“apa kamu sudah menghabisi perempuan itu?”
“I… iya aku sudah… aku akan melakukannya segera.” Jayadi berbohong. Sementara Sarah tampak shcok, menduga apakah yang dimaksud Jayadi adalah Dania?
“Aku akan melakukannya di gudang belakang Villa ini.”
Sarah masih fokus mendengarkan, dia mendapat petunjuk baru.
'Dania.....'Sarah membatin, khawatir.
“Bagus, lalu apa kamu mendapatkan dokumen itu?”
“Belum, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Sampai mati pun aku rasa dia tidak akan mengatakannya.”
“Bodoh, melakukan hal seperti itu saja kamu tidak bisa, apa kamu terlalu sibuk dengan teman wanitanya itu, hah!” Suara di seberang sana semakin marah.
“Ck, bukan seperti itu Kuncoro, dia memang benar-benar tidak mengatakannya. Tapi kamu tenang saja. Aku punya alamat dan dia masih memiliki seorang putri kan, dia pasti menyembunyikan dokumen itu di rumahnya.”
“Baiklah kali ini kau ku maafkan, cepat dapatkan dokumen itu, kalau tidak kamu akan tahu sendiri akibatnya.” Ancam Kuncoro.
“Baiklah.”
"Dan lakukan apa yang ku perintahkan hari ini."
"Iya, aku akan melakukannya."
Jayadi menutup telepon, raut wajahnya nampak gusar.
Lelaki itu kembali mendekati Sarah.
“Kali ini kamu beruntung, tunggulah sebentar aku akan segera kembali.” Ucapnya mencengkram dagu Sarah.
__ADS_1
Sarah hanya diam, menatapnya dengan kilatan amarah.