Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Kuncoro Maharendra


__ADS_3

Lelaki itu, Kuncoro, kembali menyesap sebatang rokok yang ada di tangannya. Tampak gusar sembari memandang ke luar jendela dari lantai 15 di kantornya.


Ia mulai terbiasa dengan benda itu tujuh tahun yang lalu, saat rumah tangga yang ia bangun tidak lagi baik-baik saja. Sejak ia merasa istrinya tak lagi mendukung setiap langkah dan keputusan yang ia ambil.


Kuncoro kembali menyesap benda nikotin itu, hingga tandas untuk yang ketiga kalinya. Setelah ia mendapat telepon dari seseorang, mendadak pikirannya kacau, mencoba menenangkan diri dan merencanakan sesuatu di kepalanya.


Baru saja ia hendak kembali ke meja kerjanya, asistennya menerobos masuk, tampak di wajahnya terjadi sesuatu, lelaki itu cemas, buru-buru menghampiri Kuncoro.


"Apa-apaan ini? Kau kira ini kantor milikmu? Apa hak mu masuk tanpa mengetuk pintu, hah? Ambil surat pengunduran dirimu sekarang! Aku tidak mau melihat karyawan seperti mu lagi ada di kantorku!" Membentak.


"Ma.... Maafkan saya Tuan, saya terpaksa karena, ini keadaan yang genting." Menyeka keringat di dahinya, takut-takut.


Kuncoro mengangkat satu alisnya, mencoba menebak, namun amarahnya masih belum hilang.


"Cepat katakan! Kalau itu tak sepenting yang kau bilang, aku tidak ingin melihatmu lagi di kantor ini."


Asistennya itu mengangguk cepat.


"Maaf pak, perusahaan tiba-tiba dalam kondisi yang kritis, beberapa investor besar menarik saham mereka dari perusahaan kita, kami sudah melakukan berbagai cara untuk membujuk mereka, tapi mereka tetap mencabut investasinya.


Kuncoro membulatkan matanya, lelaki itu beranjak dari duduknya.


Asisten itu mendekat, menunjukkan beberapa data yang ia bawa dan menjelaskan duduk perkaranya.


"Seorang pengusaha muda kaya raya telah menarik para investor kita Pak, dia menawarkan keuntungan yang jauh lebih besar. Para investor sangat tertarik dan antusias ingin bekerja sama dengan beliau."


Plak


Sebuah tamparan keras di terima asisten itu, tersungkur.


"Berani sekali kau memuji orang lain di depanku, memangnya siapa dirimu, hah!" Wajah Kuncoro merah padam.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk...." Berdiri kembali memegang pipinya yang sakit.


"Perlu kau ingat aku Kuncoro Maharendra." Menepuk dadanya keras mendekat ke arah si asisten.


"Tidak ada yang bisa menandingi kejayaanku, sebentar lagi perusahaan itu akan jatuh ke tanganku, ingat itu, hah!"


Di bentak seperti itu, asisten tersebut hanya bisa menunduk takut-takut. Ia tahu betul bagaimana watak pimpinan perusahaan itu ketika sedang marah.

__ADS_1


"Keluar kau, cepat!!" Menunjuk pintu.


"Ba... Baik tuan."


"Cepat!!"


Tak perlu di suruh dua kali, dengan langkah cepat asisten itu keluar dari ruangan tersebut.


"Aarrggg!"


Prak


Kuncoro melempar sebuah vs bunga yang ada di atas meja. Pecahan keramik berhamburan di mana-mana.


Bugh


Belum puas melampiaskan amarahnya, ia kembali menendang meja. Beralih pada meja kerjanya, melempar semua yang ada di atas meja tersebut.


Dalam sekejap mata, kantor yang rapi menjadi berantakan karena amukan lelaki itu.


"Siapa dia? Berani sekali dia mencari masalah denganku, dia belum tahu saja sedang berhadapan dengan siapa, lihat saja apa yang akan ku lakukan, aarrgghh!" Memukul meja dengan keras.


...


"Bagus, sedikit lagi aku akan mendapatkan apa yang selama ini ku cari. Sebentar lagi Kuncoro akan datang padaku dengan sendirinya." Tersenyum jahat, yang dia ajak bicara pun tak kalah senangnya.


"Aku sangat puas dengan kerja kalian, aku akan memberikan bonus untuk semuanya."


"Terima kasih tuan." Lelaki itu tersenyum antusias.


Farid mengangguk, si asisten pamit untuk kembali bekerja.


Sekali lagi menatap berkas yang berisi data perusahaan orang yang ia benci, Farid tersenyum sinis. Lelaki itu menyatukan jemarinya, menjadikan tangannya tumpuan pada dagu.


"Selangkah demi selangkah aku akan menjatuhkan mu Kuncoro, bukan.... Bukan dengan cara yang kotor, karena aku tidak akan bermain seperti permainanmu. Akan ku dapatkan apa yang ku cari, dan akan ku buat kau dan orang-orang di belakang mu mendapatkan hukuman atas apa yang telah kalian lakukan pada keluarga ku."


...


Adnan menatap langit malam dari balik jendela rumah sakit. Beberapa waktu yang lalu orang-orang yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan Indah kembali menghubunginya. Rupanya mereka sudah berhasil menemukan informasi di mana gadis itu sekarang. Hatinya begitu bahagia saat mendengar kabar baik itu. Yang berbicara lewat telepon akan mengirimkan alamat Indah yang sekarang.

__ADS_1


Setelah mematikan telepon dan menerima pesan dari orang kepercayaannya, Adnan tertegun. Informasi dari pesan tersebut menuliskan bahwa Indah berada satu kota dengannya saat ini beserta alamatnya,juga baru pindah bertepatan saat dia juga kembali ke Indonesia, pria itu terdiam.


Adnan tidak menyangka jika ia saat ini begitu dekat dengan Indah. Perasaan bahagia dan haru menyelimuti hatinya, namun ia pun bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini? Harus bagaimana bertemu dengannya? Bagaimana kalau Indah sudah memiliki seseorang yang berada di sisinya? Lalu, bagaimana jika Indah tidak lagi menaruh hati padanya? Bahkan mungkin sudah melupakannya? Lelaki itu dilema dengan perasannya sendiri.


"Takdir mungkin sedang bermain denganku, dengan membawamu kembali ke sini, dengan membawaku kembali pulang ke negara ini? Apakah kisah ini akan berjalan seperti yang aku inginkan? Ataukah takdir hanya ingin mengatakan kalau kamu bukanlah untukku."


"Kak Adnan lagi mikirin apa? Murung gitu." Humairah yang sudah menghabiskan makan malam yang di bawakan kakaknya lantas menghampiri, ikut berdiri di sampingnya.


Adnan hanya menggeleng pelan, pandangannya masih menatap ke luar.


Melihat kakaknya yang terus menatap ke depan, Humairah yang penasaran pun melakukan hal yang sama.


"Kakak lihatin apa sih? Hayo ngintip kamar pasien lain yah..." Menggoda.


Adnan mengerutkan keningnya, adiknya itu ada-ada saja.


"Kamu ini sembarangan saja, udah sana di dekat mama, jangan ganggu kakak."


"Ck, mama masih tidur kak, nanti aku malah ganggu lagi, jadi lebih baik di sini kan." Setengah berbisik di dekat telinga Adnan.


Adnan hanya bisa pasrah adiknya itu terus menempel padanya. Tapi yah.... itu bukan masalah, mungkin Humairah masih rindu, selama ini Adnan pulang hampir setahun hanya sekali, jadi wajar jika sekarang Humairah merasa senang, setidaknya ada yang bisa ia ganggu kan.


"Humairah... Menurutmu apakah salah jika kita belum menepati janji yang kita buat untuk diri kita sendiri?"


Humairah menatap kakaknya sebentar.


"Janji yang seperti apa kak?" Gadis itu tidak mengerti.


"Saat kita berjanji untuk mendapatkan sesuatu suatu hari nanti, tapi kakak malah sibuk dan mencoba menunda janji itu, kakak sudah melakukannya, tapi kakak rasa itu sangat terlambat." Adnan menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kalau kita mampu memenuhinya kenapa kita menundanya? Bukankah itu janji kak, janji adalah utang kan? Dan tentu harus kita tepati. Cepat atau lambatnya kita menyadarinya itu masih sebuah hal yang harus kita lakukan, dan setidaknya kakak sudah melakukannya kan, hm."


Adnan mengangguk. Humairah tak bertanya kembali, mungkin kakaknya perlu waktu untuk menceritakan hal yang kini nampaknya membuat ia dilema.


Assalamualaikum gaes, dapat salam dari si ganteng Farid nih.



Like dan komen yah...

__ADS_1


Thank you udah mampir ❤️


__ADS_2