Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Salah Paham


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Adit yang sedari tadi melihat perdebatan kecil dua sahabat itu hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah sejak tadi dia memperhatikan bagaimana Sinta yang terus hampir tertidur saat pelajaran Bu Ara. Adit tertawa pelan melihat Sinta begitu kesal saat Indah mencubit lengannya dengan kuat.


Beberapa saat kemudian, saat kelas sudah tampak sepi, ia berjalan mendekat ke arah Sinta dan duduk di bangku yang berada di depan gadis itu.


Adit menjadikan lengannya sebagai tumpuan untuk dagunya. Ia terus memperhatikan gadis yang kini tengah terlelap dalam mimpi. Sebuah senyum kembali terukir di bibirnya saat melihat cairan bening di sudut bibir Sinta yang menempel di meja.


"Bagaimana bisa aku suka sama gadis seperti kamu, hah?" Gumamnya kecil.


"Udah jorok, tomboi, berisik lagi." Sambungnya.


15 menit berlalu, para siswa mulai berdatangan kembali masuk ke kelas Adit yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Sinta menghentikan kegiatannya tersebut, namun masih duduk di tempat yang sama, berpura-pura memandang ke sekelilingnya.


Radit yang baru masuk dari kelas nampak bingung melihat teman sebangkunya itu duduk di sana dengan wajah salah tingkah.


"Eh, kamu ngapain di sini?" Tanya Radit yang kini berdiri di samping Adit.


"e... enggak ngapa-ngapain kok, huusstt... kamu jangan ribut, Sinta lagi tidur." Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung ingin mengatakan apa jika di tanya lagi, akhirnya terucaplah kalimat yang ada di kepalanya saat ini.


Radit mengalihkan pandangannya pada Sinta, dan tersenyum jahil.


"Wah... pulas banget nih tidurnya nenek sihir. Kalau dikerjain pasti seru." ucap Radit memegang dagunya.


"Eh, kamu mau ngapain?" Adit berusaha menahan Radit saat temannya itu mendekat ke arah Sinta.


"Udah deh lo liat aja." Katanya mendorong Adit pelan.


"Sin! Sinta! Bu Fatma datang. Assalamualaikum Bu." Teriak Radit kencang.


Sinta yang terbangun begitu terkejut. Tanpa melihat situasi, ia berdiri dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum Bu." Teriaknya kencang, dengan mata yang masih memicing setengah.


"Ppfftt..... Hahaha...." Tawa Radit dan semua teman kelas yang menyaksikan kekonyolan Sinta. Apalagi dengan air liur yang masih menempel di bibir dan pipinya, membuat teman-teman kelasnya semakin tertawa terbahak-bahak, sementara Adit juga tak punya pilihan lain dengan memaksakan tawanya, meski hatinya merasa tak suka dengan situasi tersebut.

__ADS_1


"Hahh..." Tawanya kikuk dengan matanya yang memancarkan penyesalan.


"Hahahh... dasar nenek sihir, kamu jelek banget sih. Hapus dulu tuh liurnya yang belepotan." Ejek Radit menunjuk bibir Sinta.


"Ih, cewek ko tapi jorok gitu sih " Ejek salah satu siswa.


"Bisa lari terbirit-birit tuh kalau ada cowok yang suka sama dia, liat bagaimana mukanya pas baru bangun tidur, hahah..." Timpal yang lain.


Sinta hanya diam mendengar semua ejekan mereka dengan mata berkaca-kaca. Bukannya tak berani melawan, namun ia sudah terlanjur dibuat sangat malu. Rasanya ia kehabisan kata-kata untuk membela diri.


"Memangnya kenapa?" Teriak seorang wanita di ambang pintu.


"Indah..." Sinta berkata pelan.


Indah berjalan dengan santai menuju bangkunya. Memperhatikan wajah setiap teman-teman yang mengejek sahabatnya itu.


"Memangnya ada yang salah yah? Emang kalian gak pernah liat muka kalian sendiri pas bangun tidur? Aku yakin pasti banyak tuh yang ileran juga. Itu kan manusiawi, kenapa kalian heboh banget." Ucap Indah tegas.


Sinta menatap sedih pada Indah yang masih membelanya.


"Udah ndah, aku gak papa kok."


Indah yang baru saja akan protes degan apa yang dikatakan Radit terhenti, saat Adit membela sahabatnya itu.


"Udah Radit, kamu keterlaluan tau gak." Teriaknya cukup kencang.


Sontak mereka yang ada di kelas tersebut terheran dibuatnya. Cowok yang selalu bertengkar dan ngerjain Sinta sekarang malah berteriak membela gadis itu.


"Gak usah pura-pura peduli sama aku." Sinta menatap penuh amarah pada Adit.


"Tapi Sin, aku..."


"Aku tahu ini semua pasti ide kamu juga kan? Aku salah apa sih sama kamu Dit? Kenapa kamu dan Radit selalu gangguin aku?" Teriak Sinta dengan mata berkaca.


"Sinta kamu salah paham, bukan aku yang..."


"Alah udah deh, aku udah kenal banget sama sikap jahil dan akting kamu." Sinta menepis tangan Adit yang ingin memegang lengannya.


"Kamu! dan kamu!" Tunjuk nya pada Radit dan Adit.


"Kalian sama saja, cowok nakal dan jahat yang pernah aku kenal, yang bisanya cuma gangguin perempuan aja, pengecut."

__ADS_1


Setelah mengatakan semua itu, Sinta merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke tas.


Sekali lagi ia menatap tajam pada Adit.


"Sin..." Adit kembali ingin menjelaskan.


"Selamat, kamu udah berhasil mempermalukan aku di depan semua orang." Ucap Sinta tajam dan lirih, kemudian berlalu meninggalkan kelas.


"Kalian keterlaluan." Ucap Indah lalu menyusul Sinta.


Para siswa di kelas yang tadinya heboh mendadak diam, hanya bisa saling pandang, juga beberapa dari mereka saling menyalahkan setelah Sinta dan Indah pergi.


"Lo sih... keterlaluan, gitu-gitu juga dia teman kita tau." Ucap seorang siswa.


"Eh kok gue, kan Eli yang ketawanya paling kenceng tadi."Bantah yang lain.


"Gue kan cuma ketawa aja, tapi Lo tadi ejek in dia juga kan. Siap-siap aja Lo kalau besok Sinta berubah jadi singa seperti biasa. Dia bakal jambak in rambut Lo sampai botak. Untung aja tadi dia lagi jinak kan."


"Iihh... Lo kok nakut-nakutin gue sih." Jawabnya dengan bibir mengerucut.


Akhirnya kedua siswa itu saling membuang pandangan, merasa kesal dan takut akan kejadian nanti, kalau Sinta benar-benar akan memberikan mereka pelajaran.


"Bercanda kamu kelewatan Radit. Kamu udah buat Sinta malu di depan teman-teman." Ucap Adit dengan nada dingin.


Tampak raut penyesalan di wajah Radit, namun buru-buru ia sembunyikan.


"Alah... gitu doang, nenek sihir itu gak bakal kenapa-kenapa."


"Iya gak kenapa-kenapa, tapi dia bakalan malu selama berhari-hari, dan aku gak suka itu." Kata Adit tegas.


Mendengar perkataan Adit, Radit menangkap sinyal yang berbeda dari temannya itu.


"Maksud kamu?" Tanya Radit penasaran.


"Aku gak suka kamu gangguin Sinta kayak tadi, dan biar ku beritahu, jangan pernah ulangi lagi hal seperti tadi. Atau kamu, akan berhadapan denganku."


Setelah mengatakan hal demikian, Adit berlalu dari hadapan Radit. Mengambil tasnya, lalu berjalan keluar kelas. Sementara Radit masih terperangah dengan kata-kata Adit. Ia berusaha untuk mencerna setiap kata yang diucapkan teman sebangkunya itu.


"Maksudnya?" Tanya Adit pada dirinya sendiri.


"Adit suka sama Sinta? Hah?" Seketika pertanyaan itu membuat dia dongkol sendiri.

__ADS_1


__ADS_2