
"Kamu kenapa mengejekku terus sih nan? Kamu sendiri kenapa bahagia sekali, dari tadi aku perhatikan kamu tidak berhenti senyum-senyum sendiri. Sudah di tungguin yah sama calon kakak ipar?" Gantian Daniel yang menggoda.
Mendengar itu, Adnan seketika menghentikan senyumnya, kembali memasang wajah datar.
"Ekhm... siapa yang senyum-senyum? Mata kamu itu harus di periksa ke dokter." Mengelak.
"Ayolah... bilang saja kalau kamu bahagia karena akhirnya kamu bisa ketemu sama dia, iya kan?" Berbisik lebih dekat ke telinga Adnan.
Adnan terdiam mendengarnya, tanpa disadari langkahnya terhenti, sementara Daniel tidak menyadarinya, terus berceloteh di depan.
"Bertemu? Aku bahkan belum tahu dia ada di mana sekarang" Adnan berucap lirih.
...***...
Pukul 01:05 dini hari, Farid baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya di ruang kerja, namun meski sudah selarut itu, ia masih belum mengantuk sedikitpun, mungkin kesibukannya membuat ia terbiasa. Banyaknya hal yang harus ia handle di perusahaan membuatnya hanya memiliki sedikit jam tidur, ia terlalu berkerja keras.
Farid menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap bingkai foto di atas meja kerjanya. Di foto itu ia, Dania dan Indah tampak bahagia. Indah memeluk Dania, sementara Farid ikut tersenyum di sebelah mereka.
Tangannya meraih bingkai itu menatap wajah Dania. Senyum itu... senyum itu masih sama Saat Farid melihatnya dari wajah Dania untuk terakhir kalinya.
...
Beberapa pekan setelah keluar dari rumah sakit, keadaan Dania semakin membaik. Ia sudah mulai beraktivitas seperti biasa, meski terkadang Indah masih saja cerewet memarahinya kalau ia mengerjakan pekerjaan rumah yang berat. Yah, gadis itu yang akan mengambil alih.
Sejak mengetahui ibunya menderita penyakit jantung, Indah begitu protektif padanya, menjaganya dengan baik.
" Ma, Indah ke sekolah dulu yah. Ingat mama gak usah ngapa-ngapain, Indah yang akan mengerjakan semuanya nanti." Ucap Indah saat mereka bertiga tengah menyantap sarapan di meja makan.
Dania tersenyum, mengangguk.
Hanya 3 menit, Indah sudah menghabiskan sarapannya, berpamitan pada Dania dan Farid.
"Kamu gak mau kakak antar aja Indah?" Tanya Farid khawatir untuk pertama kalinya sejak pindah ke kota itu, ia tidak mengantar Indah. Cukup khawatir karena kota ini lebih besar, dan pastinya kendaraan lebih banyak di jalan raya.
......................
"Tidak usah kak, Desi bawa motornya hati-hati kok, dia sudah di depan sekarang." Memperlihatkan pesan Desi di ponselnya.
"Ya sudah tidak apa-apa, bilang sama Desi jangan ngebut yah." Dania mengizinkan.
"Siap ma." memberi hormat, Dania tersenyum.
Indah mencium tangan ibunya.
"Kamu yakin gak mau bareng kakak aja ndah?"
"Aku sama Desi aja kak, kakak tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Indah pergi yah kak, ma, assalamualaikum." Melambaikan tangan.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Dania dan Farid bersamaan.
Kendaraan berlalu-lalang membuat kebisingan di jalan raya. orang-orang kembali beraktivitas seperti biasa, ada yang hendak berangkat kerja, dan banyak pula para orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah. Ada yang terjebak macet, berkali-kali menengok jam yang melingkar di tangannya, berharap waktu berbaik hati agar ia tidak terlambat.
Setelah sarapan tadi, Farid beranjak menuju kamarnya. Pemuda itu mengambil sebuah tas berukuran sedang, memasukkan baju-bajunya ke sana. Dan sebuah ransel untuk memasukkan barang-barang lain.
Saat akan keluar dari kamar dengan tas itu, ia menghentikan langkahnya.
"Sebaiknya aku pergi saat Indah dan Tante Dania sudah tidur. Aku tidak mau membuat tante kembali sakit kalau dia tahu aku akan meninggalkan rumah ini."
Berbalik arah, Farid meletakkan tasnya di sudut ruangan di samping lemari, ia akan menunggu sampai malam tiba.
...
Tok tok tok (Ketukan pintu di kamar Farid).
"Kak Farid!" Panggil Indah.
"Kak Farid, mama panggil buat makan malam kak!" teriak kembali gadis itu.
Pintu terbuka.
"Kak, ayo makan. Mama masakin makanan kesukaan kita loh, coba tebak apa!" Malah berceloteh di depan pintu.
"Kepiting rebus balado." Farid tersenyum menebak. Itu memang makanan kesukaannya, dan ternyata ia dan Indah memiliki selera yang sama.
Indah dan Farid makan dengan lahap. Sesekali pemuda itu memperhatikan adiknya yang makan dengan riang, tersenyum lucu melihat banyaknya saus yang sudah sampai ke pipinya, meminta maaf dalam hati karena harus meninggalkannya.
...
Pukul 22.17 sejak tadi Indah sudah terlelap di kamarnya. Gadis itu tidur lebih awal hari ini, setelah makan malam, mungkin karena terlalu kekenyangan.
Rembulan masih menggantung Indah di angkasa. Semakin malam terlihat semakin mempesona, cahaya indah yang dengan mudahnya dapat membuat perasaan seseorang menjadi lebih tenang, bagi orang-orang yang menatapnya takzim.
Farid masih terjaga, berdiri di dekat jendela dengan tangan menyilang. Walau di luar jalanan masih tampak cukup ramai oleh lalu-lalang-nya kendaraan.
Pemuda itu sudah mempersiapkan semuanya. ia suah siap, tinggal keluar dari kamar itu saja, sejak tadi ia hanya menunggu Indah dan Dania terlelap.
Farid keluar dari kamar dengan hati-hati, berusaha sebaik mungkin agar langkahnya tidak menimbulkan suara. Berhasil, pemuda itu telah berada di luar, menutup pintu perlahan lalu menuju pintu depan melewati ruang tengah dan ruang tamu yang gelap.
Saat akan memutar gagang pintu, lampu di ruang tamu itu tiba-tiba menyala. Farid yang terkejut berbalik.
"Farid kamu mau ke mana malam-malam begini nak? Kamu..." Pandangan Dania beralih pada tas yang ada di tangan Farid.
Rupanya Dania yang belum bisa terlelap itu memilih untuk tetap berada di ruang tengah, sampai kemudian ia melihat Farid yang keluar dari kamarnya menuju pintu depan, khawatir ia pun mengikuti pemuda itu.
__ADS_1
Farid terdiam.
"Kamu mau pergi nak?" Dania mendekat.
"Maafkan aku tante, aku harus pergi, aku tidak bisa terus berada di sini?"
"Kenapa? Kami keluarga kamu, Indah adik kamu, kamu mau meninggalkan dia?"
Farid mengepalkan tangannya erat, berbalik dan membuka pintu.
"Farid tunggu nak, Tante mohon kamu jangan pergi. Tante tahu kamu masih marah sama Tante, maafkan Tante nak." Menghentikan Farid.
"Kamu juga anak Tante, ia kan?"
"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi tan. Aku hanya memiliki satu ibu, dan dia adalah perempuan yang telah tiada saat melahirkan aku. Dia adalah ibuku, aku tidak pernah memiliki ibu lain selain dirinya. Maaf aku tidak bisa tetap berada di rumah ini, rumah ini membuatku sesak, aku seperti telah mengkhianati ibuku dengan tinggal di rumah simpanan ayahku." Tak berniat menyakiti Dania, namun amarah yang menguasainya membuat ia mengatakan hal-hal yang menyakitkan.
......................
"Farid..." Lirih Dania berucap, hatinya sungguh sakit mendengar hal itu, wanita itu menangis.
Namun sesakit apapun itu ia akan mencoba untuk menahannya, ia tidak mungkin membiarkan Farid pergi. Bagaimanapun pemuda baik hati itu memiliki hal atas peninggalan almarhum suaminya, sama seperti Indah ia memiliki tanggung jawab untuk memberikannya kepada Farid.
Farid berbalik, ia mulai kehilangan kontrol atas dirinya, berjalan cepat keluar rumah.
"Farid tunggu nak! Tante mohon jangan pergi!" Mengejar, berusaha menghentikan Farid.
Farid tak menghiraukan panggilan Dania.
"Tante mohon jangan pergi Farid!" Memegang lengan Farid.
"Tante lepaskan aku, tolong jangan membuat semuanya semakin rumit." Melepaskan tangan Dania.
Faris menyalakan mesin motornya, dengan terburu-buru menancap gas.
"Farid jangan pergi nak!" Berteriak.
Dania terduduk, manangis melihat kepergian pemuda itu, namun saat saat akan tertunduk, pemandangan lain justru membuatnya begitu terkejut.
BRUKKK
Sebuah hantaman keras terdengar,
"Aarrgghh...." Dania berteriak, reflek menutup mata dan telinganya saat melihat kejadian itu.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
"FARIIIDDD!!!!!" Teriak Dania.