Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
David Menyelamatkan Indah


__ADS_3

Indah terus berjalan hingga ia tiba di sebuah lorong yang agak sepi. Dengan langkah takut-takut ia berjalan dengan cepat.


Sampai di tengah lorong itu, ia melihat 2 orang pemuda sedang duduk di sana. Dari tampilannya mereka bukanlah orang baik, pikir Indah.


‘Bagaimana ini, apa aku harus putar balik aja? Aku takut kalau lewat sana, mereka sepertinya bukan orang yang baik.’ Indah berbicara dalam hati.


Gadis itu memperhatikan satu per satu wajah pemuda-pemuda tersebut yang kini juga melihat ke arahnya. Mereka tampak seperti preman, dengan jaket jeans dan celana sobek-sobek, tato di tangan dan wajah, juga tatapan yang mengintimidasi.


‘Ya Allah apa yang harus aku lakukan?’


‘Sebaiknya aku pergi, yah aku pergi saja.’ Indah memutar balik langkahnya berjalan dengan cepat.


‘Ayo Indah cepat… cepat……’ Indah yang ketakutan terus saja menyemangati dirinya sendiri untuk sesegera mungkin keluar dari lorong itu.


Mendengar langkah kaki berlari dibelakangnya, Indah yang kepalang takut itu juga segera berlari. Berkali-kali ia berdoa memohon kepada Tuhan untuk melindunginya.


Namun tidak, langkah kakinya yang mungil kalah cepat dengan langkah kaki 2 lelaki yang mengejarnya. Secepat apapun ia berlari 2 orang tersebut kini telah ada di depannya, menghadang jalannya.


“Hai cantik, mau kemana nih?” Goda seorang yang bertato di wajahnya.


“Sendirian aja neng, mau kita temenin gak?” Ucap yang satunya lagi.


“Hahahh…” Mereka berdua lalu tertawa. Sementara wajah Indah sudah pucat pasi, terus melangkah mundur menghindari 2 preman yang juga terus mendekat itu.


“To… tolong Om, jangan ganggu saya, saya gak bawa apa-apa kecuali bahan makanan.” Ucap Indah memberanikan diri, tangannya sudah berkeringat dingin,


“Hahahhh… om? Dia panggil kita om?” Si preman bertato berkata, mereka berdua terus tertawa.


“Memangnya saya pernah nikah sama tante Lo apa?” Ucap preman yang satunya.


“Te.. terus saya… saya harus panggil apa? Bapak? Om kan bukan bapak saya, kakek juga gak cocok, rambut om kan belum ada yang putih, mau panggil cowok, kayaknya lebih gak cocok lagi karena om udah gak muda. i… iya kan?” Ucap Indah polos.


“Enak aja dia katain kita, berani amat nih anak, apa bego?” Ucap preman yang satunya.


“Nih anak emang kurang*jar, sini hp lo, cepat!”


Indah tersentak kaget saat di bentak oleh si preman bertato.


Mata Indah berkaca-kaca, ia memasang wajah puppy eyes.


“Kenapa lagi nih anak?” Bisik preman berjaket jeans ke temannya.


“Gak tahu, terlalu banyak drama dia.” Jawab yang satunya.

__ADS_1


"Lo kira kita bakalan luluh kalau lihat muka melas lu itu apa?" Si preman bertato berkata.


"Tapi om......." Indah melas.


“Siniin cepat hp lo!” Kembali memerintah.


“Tapi Om, ini ponsel saya satu-satunya.” Indah memegang erat ponselnya.


“Om-om terus, nih anak gak ngerti yah ternyata.”


“Sini in gak atau...” Preman bertato itu mengangkat tangannya hendak menampar Indah.


“Aaarrgghh…” Indah berteriak


Namun sebelum tangan preman itu menampar Indah seseorang lebih dulu menahannya.


“Pengecut!!! Beraninya sama perempuan.” Ucap seseorang.


Yah, Indah mengenal suara itu, perlahan ia membuka matanya. Kini di depannya David tengah menahan tangan si preman.


“Apa ini mimpi?” Ucap Indah pelan.


“Kak David, ini bukan mimpi kan?” Sekali lagi gadis itu bertanya.


Indah menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa yakin ini memang bukan mimpi. Merasa bersyukur karena David masih peduli padanya, padahal dia sudah mematahkan hati cowok itu.


“Siapa lo? Bocah ingusan! Mau jadi pahlawan kesiangan? Hah!” Bentak preman bertato.


“Siang? Ini masih pagi om, siangnya nanti pukul 13 atau 14, iya kayaknya.” Indah menggaruk pipi kanannya, tampak berpikir.


Bibir David berkedut mendengar ucapan Indah, dalam suasana tegang begini gadis itu masih bisa melucu. Sementara 2 preman itu semakin di buat kesal dengan celotehan Indah.


Pagi itu David dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Pagi-pagi sekali saat matahari masih menampakkan secuil cahaya, ia pergi dari rumah. Cowok itu masih nampak murung, sejak semalam ia tidak berbicara kepada siapapun, David menuju pantai tempatnya kemarin. Yah memang, ada perasaan sakit saat berada di tempat itu, tapi bagaimana pun juga ia harus menerima semuanya bukan. David berada di sana, duduk di pasir dan menatap hamparan lautan yang luas, mencoba mencari ketenangan. Di sana, ia bebas mengeluh, tanpa ada seorang pun yang mendengarnya.


Saat matahari telah sempurna menampakkan dirinya, ia pun memilih untuk kembali pulang, sampai kemudian ia tak sengaja melihat Indah yang sedang berjalan masuk di sebuah lorong yang sepi. David yang sudah mengenal tempat itu merasa khawatir, ia pun menyusul Indah, dan di sinilah dia sekarang.


“Aku masih memberikan kalian kesempatan untuk pergi dari sini” David menatap tajam.


“Hahhahh… anak bau kencur kayak lo sok-sokan ngancam kita.” 2 preman itu tertawa.


David hanya terdiam, tetap berdiri dengan gagah di depan Indah. Indah sesekali mengintip dari balik punggung David melihat 2 preman itu.


Di pikirannya saat ini adalah….

__ADS_1


‘Apa kak David bisa menghadapi 2 preman itu? Mereka kan besar-besar. Kalau kak David kalah gimana? Aku harus apa? Ya Allah aku pasrahkan semuanya kepada Engkau.’ Gadis itu terus berceloteh dalam hati dan berdo'a.


“Sebaiknya lo pergi sebelum lo babak belur di tangan gue.” Ucap si preman bertato.


“Coba saja kalau berani.” David berkata mantap.


“Ooh, lu nantangin gue, rasain ini.” Si preman bertato mendaratkan tinjunya, namun David berhasil menangkis serangan itu.


“Indah sebaiknya kamu menyingkir dulu.” Perintah David.


Indah mundur, dan malah berdiri di dekat preman berjaket jeans. Ia harap-harap cemas jika sesuatu terjadi pada pria yang baru saja ia tolak cintanya itu kemarin.


Preman bertato itu terus saja menyerang David namun David dengan cekatan menghindar dan berhasil memukulnya beberapa kali. Sampai yang kesekian kalinya, sebuah bogem yang keras menghantam perut si preman bertato.


Ia mundur memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


"Hahh, teman om kalah tuh, cemen." Ucap Indah pada preman di sampingnya.


Dahi preman itu berkerut,


'Nih cewek aneh banget, tadi takut sama gue... eh sekarang malah berdiri di samping gue, ngajakin ngobrol lagi.' Ucapnya dalam hati menatap Indah.


“Lo ngapain cuma liatin cewek itu?!" Marah si preman bertato.


"Jangan diam aja, hajar dia!” Perintahnya pada temannya yang sedari tadi hanya menonton perkelahian itu bersama dengan Indah.


“Hyaaaatttt...“ Ingin memukul.


Tapi baru saja ia maju, David sudah lebih dulu menendang bagian bawah tubuhnya. Si preman berjaket jeans tersungkur memegang inti tubuhnya.


Saat David ingin kembali menghajar kedua preman tersebut, si preman yang ketakutan pun akhirnya memilih mundur, dan melarikan diri dari sana.


Prok prok prok


Indah bertepuk tangan, merasa bangga pada cowok yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu, ia mendekat ke arah David.


“Waahhh... kak David hebat sekali, aku sangat bangga pada kakak.” Indah berkata girang, melupakan kecanggungannya soal kejadian kemarin.


David tersenyum, hatinya memang masih merasa tak rela, namun demi melihat senyum manis itu ia akan berusaha untuk bersikap biasa saja dan berusaha untuk tidak melibatkan perasaannya kali ini.


“Makanya kamu juga harus berlatih bela diri, supaya kamu bisa melindungi dirimu sendiri, kamu bisa melawan mereka yang punya niat jahat sama kamu." David menasehati.


Pandangan mereka bertemu dan saling melempar senyum?

__ADS_1


__ADS_2