
Namun beberapa detik kemudian raut wajah Indah kembali menyenduh.
"Udah kamu jangan sedih terus, aku akan temenin kamu di sini sampai tante Dania pulang." Hibur Sinta.
"Beneran ya sin." Indah berucap lemah.
"Iya." Sinta membalasnya dengan senyuman.
...***...
"Ayo Dania sekarang kita harus keluar dari sini." Ucap Sarah.
Dania mengangguk, meski keadaannya masih lemah, namun demi memenuhi janji pada putrinya bahwa ia akan pulang, Dania akan melakukan apapun.
'Indah pasti sudah menungguku sekarang.' Batin Dania sedih, ia termenung.
"Dania! Ayo!"
"Hm." Sekali lagi Dania mengangguk.
Sarah dan Dania awas memperhatikan sekeliling. mereka berdua beberapa kali bersembunyi saat seorang penjaga ataupun asisten rumah tangga ada yang lewat di sekitar mereka.
sejauh ini pelarian mereka masih lancar. Sampai kemudian, saat tiba di ruang tengah villa itu langkah Kaki Dania dan Sarah terhenti saat melihat 3 penjaga yang berjaga di sana. Belum lagi penjaga yang berdiri di depan kamar Sarah. Dia belum tahu saja kalau Sarah sudah tidak ada di dalam sana, dan juga jangan lupakan penjaga yang berdiri di dekat pintu yang ada di sana.
"Bagaimana ini? kita tidak mungkin bisa melewati mereka." Dania yang berucap khawatir.
Sarah menggigit bibirnya, memang benar sangat sulit bagi mereka untuk melewati tempat itu.
Akhirnya mereka kembali ke taman belakang, tempat di mana Dania disekap, mencari dan melihat ke sekeliling namun tak ada jalan, hanya tembok setinggi 2 meter yang kini ada di sekeliling mereka.
"Tidak ada jalan keluar Sarah." Dania berkata putus asa.
"Ada." Sarah berucap mantap.
Dania mengerutkan keningnya.
"Di mana? Di sekeliling kita hanya ada tembok ini, bagaimana kita bisa keluar?"
"kita panjat temboknya Dania, kau ini semakin tua, pemikiranmu pun semakin kolot, huh. " Ejek Sarah.
Denia menyipitkan matanya menatap tajam Sarah.
Ditatap seperti itu membuat sarat tergelitik.
"Udah ah, marahnya nanti saja. Sekarang kita manjat dulu, kamu bisa kan?" Sarah mengalihkan.
"Caranya bagaimana? Tembok ini sangat tinggi."
Sarah melihat sekeliling, sampai kemudian pandangannya tertuju pada sebuah tangga di sudut taman itu.
"Alhamdulillah, Allah selalu membantu kita." Ucap Sarah.
__ADS_1
Dania ikut memandang ke arah pandang Sarah, bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Ayo!"
Dania mengangguk.
Mereka pun mengambil tangga itu.
"Kamu naik duluan, aku pegangin tangganya." Ucap Sarah setelah mereka memasang tangga itu di dekat tembok.
"Tidak, kamu duluan yang naik." Dania menolak.
"Udah Dania, kamu naik duluan, dari dulu kamu tuh paling nggak bisa manjat, jadi mau manjatin tangga ini aja kamu pasti akan ketakutan kalau nggak ada yang pegangin. " Sarah menatap Dania dalam.
Dania yang mendengarnya merasa begitu terharu.
"Kamu masih ingat ya..." Ucap Dania lirih, air mata sudah tergenang di pelupuk matanya, begitupun dengan Sarah wanita itu menghapus air mata di pipinya
Sarah tersenyum tulus.
"Udah sana naik. " Perintahnya.
Dania mengangguk, ia mulai menaiki tangga itu sampai akhirnya ia sampai di atas pagar tembok tersebut namun tiba-tiba....
"Hei kalian! Jangan kabur!" Tiga orang penjaga kini sudah berlari menuju mereka.
Dania dan Sarah berbalik bersamaan, mereka begitu terkejut, ketakutan.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu." Dania menolak.
"Dania! cepat! tidak ada waktu lagi, Indah sedang menunggumu di rumah, cepat loncat! "
"Sarah..." Dania kembali menangis.
"Cepat, pergilah." Ucap Sarah lirih.
"Maafkan aku..." Sekali lagi tetesan air mata itu jatuh di pipi Dania begitu ia berkata, berbisik.
Saat penjaga itu mulai mendekat dengan cepat Dania melompat dari tembok tersebut
...***...
Indah duduk bersandar di headboard tempat tidur di kamarnya. sedari tadi matanya terus tertuju pada ponsel yang ada di sampingnya. setiap beberapa menit ia kembali menghubungi Dania, gadis itu tak bisa lagi menutupi kekhawatirannya. Sedang Sinta, ia duduk di kursi kecil yang ada di sana, terus memperhatikan indah, ia juga selalu menghubungi Dania tapi memang belum tersambung ia pun memberitahu kakaknya tentang keadaan indah begitu juga dengan Adnan.
( Kak David, Indah sekarang lagi sedih karena mamanya belum kembali juga, padahal kemarin tante Dania bilang akan pulang pagi ini, Indah sangat khawatir sekarang karena ponsel tante tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi). Bunyi pesan singkat Sinta pada David.
'Sekarang aku chat kak Adnan.' Sinta berucap pelan.
(Kak Adnan aku sekarang ada di rumah Indah, dia sedih karena tante Dania belum pulang. Kata Indah tante bilang mau pulang pagi ini tapi sampai sekarang Tante belum datang kak. Indah sangat khawatir sekarang, dia menangis terus. Aku jadi bingung mau hibur dia gimana, ponsel tante juga nggak bisa dihubungi.) Bunyi pesan Sinta yang hampir sama dengan David
...
__ADS_1
"Sin ini udah jam 04.00 sore tapi mama belum ada kabar, aku sangat takut sin." Indah mulai menangis lagi.
Sinta mendekat duduk di samping indah.
"Kamu sabar ya, tunggu sebentar lagi, siapa tahu ponsel Tante udah bisa dihubungi." Sinta menghibur kembali.
"Tapi sin aku takut, bagaimana kalau mama sedang dalam masalah? Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada mama? Aku tidak mau mama ninggalin aku seperti papa, aku tidak mau sendiri. " Lirih Indah.
Sinta yang mendengar itu merasa iba, ia memeluk indah.
"Insya Allah, itu tidak akan terjadi. Tante Dania adalah orang yang baik, Allah akan melindunginya." Ucap sinta dalam pelukannya
indah yang mendengarnya mendongak menatap Sinta dengan tetapan bingung. Melihat itu Sinta bertanya.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Sinta.
"Aku bingung aja."
"Bingung kenapa?"
"Tumben kamu ngomongnya bener." Ucap Indah dengan polosnya.
Sinta menutup matanya, menahan kekesalannya sekali lagi.
'Oke, sabar sin sabar, kalau nggak urusannya bisa panjang nanti.' Batin Sinta.
Akhirnya Sinta hanya membalas perkataan indah dengan senyum kakunya.
...***...
"Kak Adit, ini bagus nggak?" Tanya seorang gadis berwajah manis.
Adit melihat-lihat sebentar adiknya itu yang kini tengah berputar-putar di depannya memperlihatkan pakaian yang ia pilih, gaun indah dengan motif bunga mawar sebatas lutut.
"Hm... bagus sih dek tapi kayaknya bawahannya kependekan deh, kalau panjangan dikit pasti lebih cantik. " Komentar adit.
"Iya yah kak, aku tanya mbaknya dulu deh, siapa tahu ada yang lebih panjang."
Adit menunggu, sejujurnya ia sudah cukup bosan. Sejam lebih adiknya itu terus saja mondar-mandir dari satu tokoh ke toko lain untuk membeli eh lebih tepatnya mencari baju yang ia inginkan.
Beberapa saat kemudian adiknya itu kembali lagi dengan baju yang bermotif sama. Hanya kali ini lebih panjang di bawah lutut, ia kembali bergaya di depan kakaknya.
"Gimana kak?" Tanyanya kembali meminta pendapat.
"Nah, ini baru oke, adik kakak terlihat semakin cantik." Adit mengacungkan jempolnya.
"Iya a dong, aku memang cantik." Gadis itu mengibaskan rambutnya.
"Ya udah aku ambil ya kak."
"Iya, nih. "Untuk kesekian kalinya Adit memberikan kartu kreditnya itu kepada adik satu-satunya tersebut, yang hanya berjarak 1 tahun lebih muda darinya.
__ADS_1