
Seluruh penjaga Tonson dan Jayadi menyebar di sekitar daerah tersebut, ada yang mencari di hutan, perkampungan, dan mengunjungi satu per satu rumah warga di sana.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Farid yang berlari menerobos pintu kayu rumahnya. Nafasnya tak beraturan.
Semua yang ada di rumah tersebut terkejut, begitu pula Dania yang sedang membantu nenek menghidangkan makanan.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab mereka serempak.
“Kamu ini loh kenapa datang-datang lari-lari begitu, sampai buat kita semua kaget, nenek sama kakek ini sudah tua, kalau jantungan bagaimana!” Ucap nenek agak marah.
Di usianya yang sekarang ia sangat tidak suka jika ada sesuatu yang mengagetkannya, sebab ia bisa saja pingsan, seperti kejadian sewaktu terjadi gempa bumi di daerah tersebut. Nenek yang terkejut langsung pingsan di tempat dan Farid-lah yang harus menggendong neneknya itu untuk keluar dari rumah.
“Maaf nek, kek, tante… tante harus cepat sembunyi, aku melihat beberapa orang sedang mendatangi dan memeriksa setiap rumah warga yang ada di sini, aku dengar dia mencari seorang wanita. Aku pikir mereka sedang mencari tante.” Reflek kakek, nenek dan Dania berdiri dari tempatnya duduk.
Dania yang keadaannya sudah mulai membaik itu kembali merasa ketakutan. Tangannya bergetar. Nenek yang melihat hal tersebut lantas menenangkannya.
“Kamu jangan takut ndo, kita semua pasti akan menolong kamu.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang nek, orang-orang itu semakin mendekat ke rumah kita.” Farid khawatir.
“Hhmm.. bagaimana kalau kamu membawa Ibu Dania ke hutan belakang rumah dulu, kalian bersembunyi dulu di sana sampai mereka pergi.” Usul nenek.
“Tidak bisa nek, ku dengar mereka juga menyebar di sana mencari tante di hutan, siapa tahu saja kami ke sana dan mereka malah menemukan kita.” Farid memijit dahinya.
“Kakek tau harus apa.” Tiba-tiba si kakek angkat bicara.
“Kita kan punya ruang penyimpanan bawah tanah di halaman belakang, tempat kita menyimpan barang-barang lama. Sekarang kamu bantu kakek Farid untuk mengeluarkan beberapa barang tersebut dan Ibu Dania akan bersembunyi di sana.”
Farid dan nenek tersenyum mendengar ide itu.
“Benar sekali kek, bagaimana mungkin kita melupakan ruangan itu, baiklah Farid akan lakukan sekarang.” Farid dengan cepat menuju halaman belakang.
Nenek masih memegang tangan Dania, berusaha menenangkannya.
“Bagaimana ini nek, bagaimana kalau mereka menemukan aku? Aku takut sekali.” Ucap Dania cemas.
“Sudah… sudah… Insya Allah mereka tidak akan menemukan kamu, kita sama-sama berdo’a.”
Beberapa saat kemudian Farid kembali.
“Tante semuanya sudah siap, cepat tante sembunyi sekarang.”
Dania mengangguk, nenek membantunya berjalan menuju halaman belakang.
Ternyata yang mereka maksud sebagai ruang bawah tanah itu, adalah sebuah lubang berukuran 1x2 meter. Dania sedikit ngeri melihat lubang gelap di bawah sana, tapi ia tidak punya pilihan.
“Mari Tante aku bantu untuk turun.” Farid membantu Dania, Dania mengangguk.
__ADS_1
Sebelum menutup pintu lubang tersebut.
“Apapun yang terjadi, kamu jangan sampai bersuara yah ndo.” Pesan si kakek.
“Baik.”
Pintu lubang yang terbuat dari kayu itu pun di tutup, lubang tersebut seketika berubah menjadi gelap gulita.
“Sebaiknya kamu mengambil rumput di sana Farid, kita harus menutupi pintu kayu ini.” Ucap kakek.
Farid mengangguk, benar… jangan sampai si penjaga akan curiga jika melihat lubang dengan pintu kayu tersebut.
Setelah menumpuk cukup banyak rerumputan di sana, mereka bertiga pun kembali masuk ke rumah. Menunggu dengan was-was orang-orang itu akan datang ke rumah mereka.
...***...
Adnan yang sejak tadi bimbang itu terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sekarang sudah pukul 11 malam, biasanya ayahnya akan pulang pada pukul 12 atau 1 malam. Sedari tadi ia mencoba untuk menata hatinya agar ia lapang untuk berhadapan dengan ayahnya itu. Demi Indah, ia akan melakukannya,
“kamu harus bisa Adnan, kamu tidak mau kan mengecewakan Indah, setidaknya aku sudah mencobanya. Apapun jawaban dan sikap ayah nanti aku harus siap menerimanya.” Ucap Adnan lirih.
“Huufftt…..”
Setelah menunggu 1 jam lagi, sebuah mobil terdengar masuk ke halaman rumahnya. Adnan yang mendengarnya segera melihat dari balik jendela.
“Akhirnya papa datang juga. Huh, ayo Adnan semangat, buang jauh-jauh terlebih dahulu rasa dendammu padanya.” Ucap Adnan lirih. Cowok itu pun segera membuka pintu kamarnya menuju ke lantai bawah, ia akan berbicara dengan ayahnya untuk pertama kalinya sejak Celine telah kembali ke amerika.
“Papa di mana?” Tanyanya lirih.
Saat akan mencari ke ruang tengah, langkahnya terhenti saat mendengar dentuman sendok dan garpu di dapur.
Ia melangkahkan kakinya ke sana, dan melihat ayahnya yang sedang makan malam di layani oleh dua orang asisten rumah tangga mereka.
Agak ragu, namun ia tetap mendekat…
Adnan duduk di depan ayahnya, sementara ayahnya sama sekali tak menghiraukan kehadiran Adnan, ia masih sibuk dengan makanan di depannya, atau lebih tepatnya ia tidak mau menghiraukan putranya itu.
10 menit berada di sana tidak ada percakapan yang terjadi, sampai akhirnya….
“Pa, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.” Ucap Adnan agak ketus.
Mendengar hal tersebut ayah Adnan menghentikan gerakan tangannya. Menyimpan sendok dan garpu itu ke piring. Menatap wajah putranya kini.
“Setelah sekian lama kamu tidak mau berbicara dengan papa akhirnya kamu melakukannya juga. Pastilah yang ingin kamu tanyakan itu adalah sesuatu yang penting bukan?” Ayah Adnan berucap datar.
“Yah, ini sangat penting.”
“Kita bicarakan besok pagi, papa sangat lelah malam ini.” Ayah Adnan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Tapi, hanya sebentar…” Adnan mencoba menghentikan.
Ayah Adnan tidak mendengar dan berlalu begitu saja meninggalkan Adnan yang masih menatapnya dari belakang.
“Huufftt…” Adnan menghembuskan nafas kasar.
...***...
Tok tok tok
“Permisi.” Seseorang mengetuk pintu kayu sebuah rumah yang sederhana.
Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka, tampak pemuda dengan rahang tegas di depan pintu.
“Iya, ada apa yah?” Tanya Farid berpura-pura tak tahu.
3 orang penjaga dengan tubuh tegap dan otot yang besar khas tukang pukul itu kini berdiri di depannya, namun pemuda itu masih tampak tenang dan bersahabat.
“Kami sedang mencari seorang wanita, ini.” Salah seorang penjaga memperlihatkan foto Dania.
“Dia menghilang sejak kemarin di sekitar kampung ini, apa kamu pernah melihatnya?”
“Tidak, aku tidak pernah melihat wanita itu.” Ucapnya tenang.
“Mengapa kalian mencarinya? Apa dia kerabat kalian?” Farid bertanya basa-basi.
“Iya, dia kerabat kami, dia setengah gila dan sangat berbahaya, suka menyerang orang yang tidak ia kenal. Karena itu kami harus menemukannya.” Jawab pimpinan penjaga tersebut.
Farid manggut-manggut.
“Sayangnya aku tidak pernah melihatnya Pak, maaf.”
Saat Farid akan menutup pintunya, penjaga tersebut menahannya.
“Dengan siapa kau tinggal anak muda?” Tanya penjaga tersebut.
“Aku tinggal bersama nenek dan kakekku.”
“Benarkah? Boleh kami memeriksa rumahmu, sekedar memastikan apa kau memang mengatakan hal yang sejujurnya.” Penjaga tersebut curiga.
“Tentu, silakan.” Ucap Farid mulai ragu.
Para penjaga tersebut pun masuk ke rumah itu, mendapati nenek dan kakek yang sedang duduk di dipan sambil meminum secangkir teh dan kopi.
“Eh, ada tamu toh.” Ucap kakek.
Sementara nenek terlihat takut-takut melihat orang-orang berbadan kekar dan berwajah ganas tersebut.
__ADS_1