Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Sore Manis


__ADS_3

Silakan tinggalkan jejak dengan vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


Setelah mendengar penjelasan Sinta di kantin kelas David jadi merasa bersalah karena sudah membuat Indah bersedih. Jadilah ia sekali lagi meminta bantuan kepada Sinta agar Indah mau menemuinya di taman belakang rumahnya sore ini. Sebenarnya ia bisa saja menghubungi gadis itu sendiri lewat ponsel, tapi bagaimana lagi, Sinta begitu pelit padanya, meski sudah memohon dan meminta, tetap saja adiknya itu tak mau memberikan nomor ponsel Indah. Baiklah, mungkin nanti ia harus memikirkan sebuah cara agar bisa mengambil nomor ponsel Indah di ponsel Sinta, tanpa ketahuan adiknya yang pemarah itu.


Sembari menunggu Indah, David tampak menikmati pemandangan kebun mawar di taman itu. Yah, ibunya sangat menyukai berbagai jenis dan warna bunga mawar. Jadilah Siska menyulap taman belakang rumahnya menjadi sebuah kebun mawar yang begitu Indah. Jujur saja, David juga sangat menyukai pemandangan itu. Cowok itu berdiri sambil mensedekapkan kedua tangannya di dada. Menikmati aroma bunga yang memenuhi indra penciumannya.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara seorang gadis yang memanggil namanya. Cowok itu lantas menoleh dengan senyum sumringah di wajahnya.


“Kak David!” Panggil Indah.


“Aku di sini Indah.” Jawabnya.


Indah lantas berjalan ke arah sumber suara.


“Hay kak, Sinta bilang kakak manggil aku yah?”


Gadis itu tampang anggun sore ini, dengan gamis putih polos dan jilbab ungu tua yang menutupi mahkota di kepalanya.


"Cantik, sangat cantik." Gumam David.


"Iya kak, kenapa?" Indah tak mendengar.



“Ah, tidak apa-apa. Ayo duduk dulu yuk.” David dan Indah duduk di sebuah kursi mini dengan meja kotak yang menjadi penghalang mereka.


“Ada apa yah kak?” Tanya Indah langsung pada intinya, ia merasa tak nyaman kalau harus bicara berdua seperti ini dengan seorang pria, apalagi kondisi di sana cukup sepi.


“Kamu gak sabaran banget yah, hehe.” David terkekeh.


“Nikmatilah dulu pemandangan yang ada di depan mu, sambil kita mengobrol dengan santai.” Sambungnya.


Indah tersenyum kikuk dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia yang sedari tadi hanya fokus pada David itu seketika membelalakkan matanya saat melihat hamparan bunga mawar di depannya.


__ADS_1


“Masya Allah, cantik sekali.” Indah menutup mulutnya dengan tangan karena begitu takjub sekaligus terkejut dengan mawa-mawar yang ada di depannya. Tanpa sadar, ia sudah berdiri dari tempatnya duduk, memilih menyentuh kelopak bunga mawar merah yang begitu Indah.


“Apa kamu menyukai bunga?” David sudah berdiri di belanga Indah yang sedang berjongkok itu.


Indah menoleh.


“Aku menyukainya kak. Kenapa Sinta tidak pernah cerita yah kalau dia punya kebun mawar seindah ini di rumahnya.” Indah berdiri, mengerucutkan bibirnya.


“Jangan terlalu mengharapkan dia, dia itu tidak suka dengan bunga, makanya dia jarang sekali ke sini.”


“Hmm… pantas saja aku ajak ke sini gak mau.” Indah bergumam pelan.


“Ya?”


“Eh, tidak kak.” Indah tersenyum, ia berjalan kembali ke kursi kayu dan duduk lagi di sana, David mengikuti.


Gadis itu tampak diam menatap lurus ke depan, menunggu David berbicara.


“Indah…”


Indah menoleh,


“Aku minta maaf yah soal tadi pagi.” Ucap David ke inti pertemuannya sore ini dengan Indah.


“Kakak minta maaf soal apa? Kak David gak punya salah kok sama aku.”


“Aku minta maaf soal pembahasan aku waktu di mobil pagi ini. Tanpa sengaja pertanyaanku sudah membuatmu sedih.” Cowok itu berkata tulus.


Indah tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada David.


“Kak David gak salah apa-apa. Hanya saja, aku yang masih belum bisa berdamai dengan hatiku sendiri. ku rasa aku belum sepenuhnya mengikhlaskan semua kejadian buruk yang terjadi dalam hidupku. Makanya saat ada yang mengingatkanku kembali dengan hal itu, aku menjadi sedih. Aku memang payah.” Indah merutuki dirinya sendiri.


“Hei kenapa berkata seperti itu? Semua orang pasti akan merasakan hal yang sama jika ada di posisimu sekarang, dan kamu harus yakin kalau kamu bisa mengikhlaskan semuanya nanti. Ini hanya soal waktu saja.” David menghibur.


“Hhmm… kak David benar aku janji akan berusaha untuk bisa menjadi orang yang ikhlas kak.” Indah tersenyum, sedikit banyak hatinya merasa lebih baik setelah berbicara dengan David.


“Itu harus.” David terkekeh.


“Jadi aku udah dimaafin kan yah.”


“Hehe, tentu saja, seperti yang ku bilang kan kak David gak salah apa-apa kok.”

__ADS_1


“Hhmm… syukurlah aku merasa tenang sekarang. Oh iya untuk melengkapi permintaan maafku hari ini, bagaimana kalau aku memetikkanmu bunga mawar itu?” David hendak beranjak dari duduknya namun Indah mencegah cowok itu.


“Jangan kak!” Indah setengah berteriak.


“Kenapa? Bukannya kamu suka mawar yah?”


“Aku memang sangat menyukai mawar, tapi tidak untuk memetiknya. Jika kita memetiknya kesegarannya hanya akan bertahan beberapa jam atau beberapa hari. Setelah itu mawarnya akan mati dan tampak tak Indah lagi. Mereka juga makhluk hidup, pasti akan merasakan sakit saat kita memotongnya.” Indah menatap sedih pada bunga-bunga di depannya.


“Biarkan mereka hidup di sana, dan orang-orang akan bisa selalu menikmati keindahannya.”


David tertegun, kebanyakan perempuan akan merasa sangat senang jika dihadiahi setangkai atau sebuket bunga. Namun gadis ini, malah mempedulikan perasaan si bunga.


“Kamu memiliki hati yang sangat lembut Indah, aku janji akan selalu merawat taman bunga ini, agar kalau kamu ingin melihatnya lagi, kamu bisa datang ke sini kapan pun.” Rasanya David semakin jatuh cinta saja pada Indah, jika perasaan Indah sebegini menghargainya setangkai bunga, bagaiamana nanti dengan pasangan hidupnya. Ia yakin gadis ini pasti akan mencintai pasangannya dengan sangat tulus.


Indah hanya membalasnya dengan senyum kecil.


‘Aku berharap aku juga bisa menjadi seseorang yang kau sayangi Indah.’ Batin David.


“Oh iya kak. Kalau gitu aku balik ke kamar Sinta yah… kami akan mengerjakan tugas bersama.”


“Baiklah, semangat yah. Dan ingat, jangan memberi contekan kepada Sinta kalau dia tidak bisa mengerjakan tugasnya sendiri.”


“Hehe, ok kak.” Indah terkekeh lalu berlari menuju kamar Sinta.



Malam hari di kamar hotel…


Setelah sholat isya Dania dan Sarah tampak sedang bersantai di tempat tidur. Mereka berada dalam kamar yang sama atas permintaan dari Sarah sendiri.


Dania memainkan ponselnya, saling beririm pesan dengan putrinya Indah, menanyakan bagaiamana keadaannya? Apakah sudah makan? Apakah tidak menyusahkan Sinta dan orang tuanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan ibu itu. Sementara Sarah, tampak masih melamun dengan menyandarkan kepalanya di headboard tempat tidur.


“Dania…” Sarah menepuk lengan Dania.


Dania berbalik, meletakkan hpnya di meja di samping tempat tidurnya.


“Ada apa?”


“Aku merasa Pak Jayadi itu pria yang tidak baik.” Ucap Sarah langsung pada intinya.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Dania bingung.

__ADS_1


“Sewaktu di mobil tadi, dia melihatku dengan sangat intens, aku jadi merasa sangat tidak nyaman. Dia terlihat seperti pria hidung belang. Tatapannya itu sangat menakutkan dan seakan penuh nafsu, aku sangat takut dekat-dekat dengannya.” Sarah bergidik.


__ADS_2