
Setelah sampai di ruang tamu, Tonson mempersilahkan Jayadi dan rekan kerjanya yang lain untuk duduk.
“Aku sangat senang karena Pak Jayadi akhirnya bisa memenuhi undangan saya untuk datang ke sini.” Ucap Tonson basa-basi.
Jayadi hanya tersenyum menanggapi.
“Terlebih lagi nona Sarah dan Bu Dania juga bersedia untuk ikut.” Lanjutnya.
“Tentu saja kami akan ikut Pak, akan tidak sopan bila kami menolak undangan dari kolega bisnis kami yang terhormat.” Sarah menyanjung.
“Ah, anda bisa saja nona Sarah, selain cantik anda juga sangat berbakat untuk memuji.” Jawab Tonson.
“Tentu saja Pak Tonson, nona Sarah selain cantik juga sangat professional dalam pekerjaannya.” Jayadi melirik Sarah.
Sarah tersenyum mendengar pujian itu.
“Dan Bu Dania juga.” Sambungnya.
“Terima kasih Pak.” Ucap Dania.
“Baiklah, ku rasa kalian perlu beristirahat dulu, pukul 20.00 nanti kita akan makan malam bersama.”Tonson mengakhiri percakapan itu.
“Baiklah.” Jawab Jayadi yang sudah berdiri dari duduknya, Sarah dan Dania mengikuti.
“Mari Pak Jayadi, saya sendiri yang akan mengantar bapak.” Tonson mempersilahkan.
“Dan untuk nona Sarah dan Bu Dania, asisten ku akan menunjukkan kamar kalian masing-masing.” Lanjutnya.
“Baik Pak, Terima kasih.” Ucap Sarah dan Dania bersamaan.
…
Sarah lantas membaringkan tubuhnya saat telah sampai di kamar yang ditunjukkan oleh asisten Pak Tonson. Ia segera sibuk kembali dengan ponselnya. Berfoto ria dan akan ia unggah ke media sosial. Tapi sialnya, ternyata jaringan internet di tempat tersebut tidak ada.
Ia kembali memikirkan Dania yang merasa gelisah sejak kemarin. Entah apa yang terjadi dengan rekan kerjanya itu, apa ia hanya sedang merindukan putrinya, atau itu sebuah pertanda?
Jauh di lubuk hatinya pun dia merasakan hal yang sama dengan Dania, walau tidak terlalu terasa. Hatinya juga menginginkan agar ia tidak datang ke tempat ini, tapi apa mau di kata, ia tidak ingin ada sedikit saja kesalahan atau sesuatu yang tidak berkenan di hati clientnya. Walau tidak begitu suka pada Jayadi, nyatanya laki-laki yang suka menatapnya dengan tatapan mesum itu adalah bosnya.
Perempuan itu cemberut, dari pada terus memikirkan hal-hal yang membuatnya akan sakit kepala, Sarah akhirrya memilih untuk memejamkan matanya saja, ia perlu istirahat barang 1 jam saja, setelah sebelumnya telah memasang alarm di ponselnya.
Sementara Sarah sudah tertidur, Dania masih sibuk melihat seluruh isi kamar itu. Sangat ia sayangkan karena tidak bisa sekamar saja dengan Sarah. Jika di suruh memilih tentu saja ia tidak ingin sendiri, lebih baik ada Sarah yang bisa menemaninya mengobrol atau berdiskusi, walau jarak kamar mereka hanya dipisahkan oleh 3 kamar.
__ADS_1
Setelah mengelilingi seluruh isi kamar, Dania terduduk di tempat tidur, mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ia berniat untuk menghubungi Indah. Ingin berbicara dengan putrinya itu sebentar, sekedar ingin mengingatkan untuk tidak lupa makan malam, atau mengobrol ala kadarnya. Namun kecewa kembali melanda ibu itu karena di tempat tersebut tidak ada signal.
“Huufftt… baru saja mama mau bicara lagi sama kamu nak, ternyata di sini tidak ada jaringan, maafin mama yah yang tinggalin kamu. Untung saja ada Sinta dan keluarganya yang bisa menjaga kamu untuk sementara. Kalau kamu di rumah sendirian... mama pasti gak akan tenang di sini, mama udah kangen banget sama kamu nak.” Ucap Dania pelan.
Dania melirik jam yang melingkar ditangannya, satu jam lagi ia harus sudah siap untuk makan malam bersama dengan yang lain. Ibu itu lalu merebahkan dirinya dan memilih untuk tidur sebentar.
…
Pukul 20:01
Tok tok tok
“Dania!”
Tok tok tok
“Dania!”
Dania terbangun saat mendengar ketukan pintu dan teriakan dari luar. Mengucek matanya dan duduk sebentar, mengembalikan seluruh kesadarannya.
“Dania, kamu udah siap belum?” Sembari masih mengetuk pintu.
“Astagfirullah, aku terlambat.” Ucapnya kaget.
Dania dengan cepat melompat dari tempat tidur, membukakan pintu untuk Sarah.
“Oh ya ampun!! Kamu belum siap Dania? Ini udah jam berapa... kan gak enak kalau kita terlambat dan malah membuat bos dan client kita menunggu.” Sarah langsung heboh di depan pintu.
“Iya maaf, aku baru bangun.” Ucap Dania dengan tampang menyesal.
“Ya udah… aku mandi dulu yah… gak akan lama kok, kamu duluan aja, nanti aku nyusul.”
Belum mendengar jawaban Sarah, dengan langkah cepat Dania menuju kamar mandi.
“Nah… jadi linglung gitu kan dia. Bisa-bisanya masuk kamar mandi tanpa menutup pintu kamarnya, bagaimana kalau ada orang lain yang masuk. Ck, dasar Dania.” Sarah mengomel.
Setelah menutup pintu kamar Dania, ia pun segera menuju ruang makan malam yang telah dipersiapkan oleh sang tuan rumah, tentu saja dengan arahan dari salah satu pekerja di sana.
…
“Di sini nona, silakan.” Pekerja itu mempersilahkan Sarah masuk di sebuah ruangan.
__ADS_1
“Terima kasih.” Ucapnya.
Pekerja itu hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman tipis.
Saat masuk Sarah begitu tertarik dengan ruangan tersebut. Ruang makan yang luas dengan cat abu-abu tua dan cream, terdapat satu meja panjang di bagian tengah dengan lima kursi di masing-masing sisinya dan satu kursi utama di depan. Tak ketinggalan pula lukisan-lukisan Indah di sisi kanan dinding, beberapa interior dan bunga-bunga yang tertata rapi di pot yang indah. Lampu-lampu gantung Kristal juga turut andil dalam keindahan ruangan tersebut. Dan jangan lupakan sebuah jendela besar di sebelah sisi kiri ruangan itu, yang memperlihatkan pemandangan malam taman di samping villa tersebut yang masih nampak terang dengan puluhan lampu di luar.
“Pemandangan yang Indah,” Pengamatan Sarah berakhir saat melihat langit yang dipenuhi taburan bintang.
Asyik menatap sekeliling hingga ia tak terlalu memperhatikan bahwa di sana telah ada Jayadi dan Tonson yang tengah duduk di salah satu sofa di sudut ruangan itu.
“Selamat malam nona Sarah.” Ucap Jayadi yang membuyarkan keasyikan Sarah yang menatap sekeliling.
“Eh, malam Pak Jayadi, malam Pak Tonson. Maafkan saya, saya terlalu asyik menikmati keindahan Villa ini hingga tidak menyadari kehadiran Bapak.” Sarah melihat bergantian pada Jayadi dan Tonson, merasa tak enak.
“Tidak apa-apa nona, pemandangan di tempat ini memang akan sangat indah, apalagi jika di lihat di malam hari.” Ucap Tonson.
“Mari duduk.” Ajak Jayadi.
Sarah mengangguk.
Sarah duduk dengan sungkan, ia menatap jam dinding di rungan tersebut.
“Duh… Dania kemana sih, belum datang-datang juga.” Ia tampak gelisah.
Jayadi dan Tonson tersenyum licik.
“Oh yah nona Sarah, malam ini anda terlihat sangat cantik, bisa ku katakan anda adalah wanita paling cantik yang pernah saya temui.” Jayadi memuji.
“Bapak terlalu berlebihan memuji saya.” Sarah tersenyum kaku.
Sarah memang terlihat cantik malam itu, seorang perempuan dewasa yang selalu tampil dengan pakaian yang agak terbuka. Malam ini ia tampil dengan menyanggul rambutnya, mengenakan baju hitam yang cukup terbuka pada bagian bahu dan punggungnya, serta belahan panjang pada bagian kakinya. Dia terlihat sangat cantik, namun tentu akan mengundang hasrat laki-laki hidung belang yang melihatnya.
“Seandainya saja aku belum memiliki istri dan anak, pilihanku pasti akan jatuh kepada nona.” Sambungnya.
Sarah mengangguk sungkan, pembahasan ini mulai membuatnya gelisah.
“Oh iya Pak, saya minta maaf karena Dania terlambat datang, dia tidak sengaja tertidur dan baru bangun saat saya datang ke kamarnya, mungkin sebentar lagi dia akan datang Pak.” Sarah mencari topik pembicaraan lain.
Visual Sarah Evelyn
__ADS_1