Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Kota Kenangan


__ADS_3

...***...


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar dari kamar Indah, Indah yang baru saja selesai menunaikan sholat isya segera membukanya.


“Eh kak Farid, ada apa kak?”


“Kakak cuma mau panggil kamu untuk makan malam, ayo kita ke bawah!” Ajaknya


“Iya kak sebentar, aku ganti mukenah dulu terus ke bawah.”


Farid mengangguk, berjalan terlebih dahulu menuju ruang makan.


Setelah mengganti mukenah-nya dengan hijab panjang, Indah segera menyusul kakaknya ke ruang makan, dia tahu Farid mungkin akan menyampaikan hal yang penting sehingga ia sendiri yang memanggil Indah ke kamarnya.


Sesampainya di ruang makan…


“Maaf yah kak Indah agak lama.” Indah duduk di depan Farid.


“Tidak lama kok.” Tersenyum


Farid memberikan perintah kepada pelayan untuk menyajikan makanan, Indah tidak memakai cadarnya saat akan makan bersama kakaknya, sebelum makan Farid pasti sudah memerintahkan agar semua penjaga dan asisten rumah tangga laki-laki untuk berada di luar rumah sampai adiknya itu selesai makan, ia tidak ingin Indah merasa tidak nyaman saat makan.


“Indah Insya Allah besok kita akan segera berangkat ke kota J. Kamu siapkanlah barang-barangmu malam ini yah, bibi akan membantumu.” Ucap Farid di tengah-tengah makan malam mereka.


Gerakan Indah terhenti, ia tahu tentang hal itu, beberapa bulan yang lalu ia sudah membicarakannya dengan Farid, bahwa merea akan kembali ke kota J, ada yang harus mereka selesaikan di sana.


Perasaan senang memenuhi dirinya saat tahu ia akan kembali ke kota tersebut, karena di sanalah sahabat-sahabatnya tinggal, di sanalah separuh hatinya tertinggal. Entah mereka masih tinggal di sana atau tidak, setidaknya jikalaupun tidak ia akan merasa lebih dekat dengan mereka, karena tempat tersebut menyimpan kenangan bersama mereka. Namun disisi lain Indah juga merasa khawatir kalau Jayadi dan para pembunuh ayahnya mengenalinya dan Farid. Gadis itu termenung dalam pikirannya sendiri, tak merespon ucapan Farid.


“Indah, kalau kamu belum siap untuk kembali ke sana kakak bisa…”


“Tidak kak. Insya Allah Indah siap.” Langsung menjawab.


Farid tersenyum mendengarnya, baiklah kalau begitu kita harus cepat-cepat menghabiskan makanan ini, ada banyak hal yang harus dikerjakan bukan.”


Indah mengangguk, membalas senyum Farid.



Seorang pria tengah duduk di ruang kerjanya, ia tampak sibuk dengan memperhatikan setiap berkas yang ia baca. Dengan seragam jas putihnya ia terlihat begitu menarik namun mimik wajah yang datar, membuatnya tampak dingin. Dokter tampan yang misterius.


Tok tok tok


“Masuk.” Ucapnya saat pintu ruangannya di ketuk seseorang.


Pintu itu terbuka, dan tampaklah seorang pria dengan kemeja biru sedang menenteng jas putihnya, sepertinya ia adalah rekan kerjanya.

__ADS_1


“Aku mampir sebentar karena melihat lampu di ruang kerjamu ini masih menyala, apa kamu tidak pulang?” Tanyanya.


Pria tersebut tidak menjawab,


“Ck, selalu saja. Ayolah Vid jangan mengacangiku seperti ini, aku bertanya padamu.” Kesal duduk di sofa yang ada di sana, tanpa dipersilakan.


Pria itu yang tidak lain adalah David menghentikan aktivitasnya, menutup salah satu berkas yang sedari tadi ia baca. Melihat ke arah Adit, cowok yang dulu selalu Sinta panggil si makhluk aneh.


“Keluarlah, aku tidak pulang, aku akan menginap di sini.” Ucapnya dingin.


“Lagi? Memangnya apa yang membuatmu sangat betah di ruangan ini, mengapa selalu menginap di sini?”


“Aku tidak harus menjawab pertanyaannmu bukan?” Kembali ke aktivitasnya, membuka berkas selanjutnya.


"Ck, kalau ditanya jawabannya selalu saja seperti itu. Baiklah... baiklah terserah kamu saja, nanti akan ku bilang pada Sinta yang sebenarnya." Beranjak dari duduknya, merapikan kemeja yang ia gunakan sebentar.


" Coba saja kalau kamu berani, aku ini seniormu sopan-lah sedikit. Kalau sampai kamu mengadukan hal ini pada Sinta, aku akan persulit urusan kamu di rumah sakit ini." Ancam David.


"Ya ya ya, hanya itulah yang kamu tahu. Mengancam ku setiap hari, padahal aku kan juga sudah janji sama Sinta untuk jadi mata-matanya." Mengecilkan suaranya.


"Aku dengar bod*h." Berucap tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas.


"Ck, dunia tidak adil sekali, kenapa juga aku harus bertemu dengan mu di rumah sakit ini, heh.... aku pulang saja." Adit berjalan menuju pintu ruangan itu.


"Kalau Sinta bertanya... katakan padanya aku baik-baik saja dan selalu pulang ke rumah." David berucap saat Adit telah membuka pintu, bersiap untuk keluar.


...***...


"Kamu tidak apa-apa kan?" Farid memegang tangan Indah, gadis itu terlihat tegang. Mereka baru saja tiba di kota J, sedang dalam perjalanan menuju rumah yang akan mereka tinggali. Rumah yang baru Farid beli sebulan yang lalu untuk persiapan kepindahan mereka kembali ke kota ini.


Indah melihat kakaknya kecemasan nampak dari mata gadis itu.


"Tidak apa-apa, kakak ada di sini. Kakak akan menjaga kamu, kamu jangan takut yah..." Farid tersenyum menenangkan.


Indah mengangguk.


Beberapa saat kemudian, gadis itu terlihat lebih tenang. Kembali memilih untuk menikmati pemandangan lewat kaca jendela mobil, walau sejauh mata memandang, kebisingan dan hiruk-pikuk kendaraan-lah yang jauh lebih dominan. Indah menatap mentari yang bersinar terang, kembali ke kota kenangan itu tidaklah mudah baginya, tapi ia akan berusaha melakukan semua yang terbaik.


Indah juga melewati pantai dimana ia dan Adnan dulu duduk bersama menikmati indahnya laut biru dan senja sore itu. Gadis itu tersenyum dari balik cadarnya, mengenang kenangan masa lalu.


'Apa kak Adnan masih ada di kota ini? Mengapa aku kembali merindukan dia? Astaghfirullah tidak boleh Indah, jangan... hust... hust... hust...", Menampar-nampar pelan udara.


"Kamu kenapa Indah? Tanya Farid, merasa lucu melihat tingkah adiknya sekarang ia tahu kalau Indah sedang memikirkan sesuatu.


"Eh, tidak kok kak, tidak ada apa-apa." Tersenyum kaku. Walau tidak dapat melihat seluruh wajah Indah, Farid sudah hapal betul hanya dengan melihat mata gadis itu.


Farid menggeleng, lalu kembali sibuk dengan ponsel di tangannya.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah yang besar dan megah, lebih mewah dibandingkan dengan rumah mereka di kota sebelumnya.


Melihat mobil tuannya datang, dengan sigap penjaga yang ada di sana segera membukakan pintu mobil untuk Farid dan Indah.


Indah turun dari mobil dengan memperhatikan rumah yang ada di depannya, halaman yang sangat luas.


Foto Rumah


"Ini rumah kita kak?" Tanya Indah saat Farid sudah berdiri di sampingnya.


"Iya tentu saja, apa kamu tidak suka rumahnya? Kakak bisa cari rumah yang lebih baik lagi." Berkata enteng.


"Tidak kak, bukan begitu. maksudku ini sangat besar, apa tidak berlebihan untuk kita berdua?" Masih memandang rumah di depannya.


Farid tersenyum, yah... Indah memang menyukai semua hal yang sederhana sejak ia ditinggal oleh ayahnya, sejak Dania mengajarkannya untuk hidup seadanya, ia sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan hal tersebut. Tapi untuk sekarang, Farid menginginkan semua yang terbaik untuk adiknya.


"Tidak Indah, menurut kakak ini cocok, lagipula kita tidak hanya tinggal berdua kan, ada pengurus rumah, dan penjaga yang akan tinggal di rumah ini juga." Garis memegang kepala gadis itu.


Indah mengangguk kecil.


" Hhmm... baiklah kalau kak Farid bolang begitu, berarti itulah yang terbaik untuk Indah." Tersenyum.


"Tentu." Mencubit pipi Inda.


"Ayo, kita masuk." Indah mengangguk, mengikuti langkah kakaknya.


...***...


Takdir adalah ketentuan dari yang Maha Kuasa. Saat dua hati kini kembali didekatkan, akankah pertemuan akan menjadi cerita Indah dalam sebuah penantian dan pengharapan?


"Huuffttt..." Menghembuskan nafas lega. Menarik nafas panjang sambil menutup mata, lalu menghembuskan ya kembali penuh perasaan.🤣


"Aku rindu sekali dengan udara di Indonesia, akhirnya kita pulang juga." Uacp Daniel merentangkan tangan. Ia berjalan di samping Adnan, mereka berdua baru saja turun dari pesawat, Adnan tak henti-hentinya mengulum senyum, bukan karena tingkah laku Daniel tapi hatinya yang merasa begitu bahagia.


"Bukankah kamu tetap ingin berada di London, selama beberapa hari atau Minggu mungkin?" Mengikuti kata-kata Daniel beberapa hari yang lalu.


"Aku mengatakan itu karena masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai Tuan."


"Bilang saja kalau kamu tidak rela meninggalkan Kareen."


Daniel terkejut, bosnya itu begitu tahu isi hatinya. Mencoba menyembunyikan salah tingkahnya saat ini, ia menatap ke sembarang arah.


"Siapa bilang? Kamu jangan sok tahu."


"Sudahlah, aku tahu kamu suka sama dia, tidak perlu ditutup-tutupi sudah sangat jelas terlihat dari wajah mu itu." Mengejek.


Wajah Daniel memerah.

__ADS_1


Eh, kenapa dengan bosnya hari ini, mengapa dia sangat humoris?


__ADS_2