Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Laki-Laki Angkuh


__ADS_3

"Astaghfirullah." Indah ,terkejut mendapati hijab dan cadarnya yang kotor karena eskrim yang dipegang oleh orang yang bertabrakan dengannya itu.


Mengibas-ngibaskan jilbabnya dengan tangan dari sisa es krim yang menempel.


"Kamu bisa jalan tidak sih? Kamu tidak tahu berapa harga jas dan sepatu saya ini, hah?" Marah pria itu, membuka kacamata hitam yang ia gunakan. Tampak kesal melihat jas dan sepatunya yang juga kotor karena es krim yang ia bawa.


Pria berkulit sawo matang itu menatap Indah tajam, dia cukup tampan dengan bola mata hitam legam.


Indah yang menyadari kalau dia memang kurang hati-hati memilih untuk meminta maaf.


"Maaf, aku minta maaf karena kurang berhati-hati." Ucapnya tak enak.


"Maaf-maaf, perempuan bisanya hanya meminta maaf setelah berbuat salah tapi tidak dengan mempertanggungjawabkan kesalahannya." Sindir pria itu.


"Saya akan bertanggung jawab untuk jas dan sepatu anda, anda bisa memberikan nomor ponsel anda agar saya bisa...." Ucapan Indah terhenti.


"Heh... sudah ku duga, aku sudah terbiasa dengan modus perempuan seperti kamu ini." Memandang remeh.


"Berpura-pura menabrak pria kaya, meminta maaf lalu meminta nomor ponsel dengan alasan akan bertanggung jawab, tapi maaf nomor ponselku lebih mahal harganya dari pada perempuan modus seperti mu."


Indah mengerutkan keningnya, maksud hati ingin menanggapi semuanya dengan kepala dingin, namun kesalnya naik juga karena ucapan pria itu. Sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya menghadapi pria sombong di depannya sekarang.


Pria itu lalu beranjak, berjalan beberapa langkah meninggalkan Indah. Indah yang tidak terima dengan ucapan pria itu menghentikannya.


"Tunggu sebentar." Berucap santai.


Pria itu menghentikan langkahnya, membalikkan badan.


Indah menatap mata pria tersebut.


"Ada apa? Apa lagi sekarang? Aku tidak akan memberikanmu nomor ponselku, kamu itu sa..."


"Cukup." Tegas Indah mengangkat satu tangannya di depan wajah pria itu, sementara pria itu tampak begitu tak suka ucapannya di potong.


"Yang pertama, saya sudah minta maaf karena memang tadi saya kurang hati-hati, tapi kalau anda tidak melakukan hal yang sama mungkin anda bisa menghindar dan tidak akan bertabrakan dengan saya kan." Menyinggung.


"Kamu!" Mengangkat tangannya menunjuk.


"Yang kedua, saya juga ingin bertanggung jawab atas kesalahan saya, tapi anda malah menuduh saya yang tidak-tidak."

__ADS_1


Keduanya masih saling pandang, pria itu melihat Indah dengan tatapan benci.


"Dan satu lagi, anda terlalu percaya diri sehingga menganggap semua perempuan akan melakukan hal seperti itu hanya untuk mencari perhatian anda, saya adalah salah satu guru di sekolah ini, kalau anda ingin meminta ganti rugi anda tinggal mencari saya, saya tidak ingin sebuah nomor ponsel akan membuat anda semakin menganggap rendah seorang perempuan, permisi." Setelah mengatakan semua itu, Indah berlalu dari tempat tersebut tanpa menoleh sedikitpun kembali.


"Hei kamu!!!" Teriak pria itu marah." Saat akan mengejar Indah seorang anak kecil memanggilnya.


"Paman Satrio!!!" Anak perempuan itu berlari ke arahnya


Pria itu, Satrio menghentikan langkahnya untuk mengejar Indah. Mengatur mimik wajahnya menyembunyikan rasa kesal dan marah pada yang sedari tadi ia tahan, berganti senyum manis menyambut anak perempuan berumur 5 tahun yang kini memeluk erat kedua kakinya.


...***...


"Nyebelin!!! Nyebelin nyebelin, huufftt....." Mengatur nafas.


Indah yang baru saja sampai di kamar, menatap dirinya di depan cermin, cermin besar yang memantulkan seluruh bayangannya. Membuka cadar dan jilbab yang kotor terkena es krim, gadis itu masih tampak kesal.


"Laki-laki yang angkuh, aku kan udah minta maaf dan ingin bertanggung jawab juga sama kesalahanku, tapi dia malah berpikir yang tidak-tidak, lagian percaya diri sekali dia. Dia pikir dia siapa? Ganteng juga enggak."


"Ekhhmm... yah... Sedikit sih." meralat.


"Tapi mau seganteng apapun itu, kalau sifatnya kayak gitu, CK, mana ada perempuan yang mau."


Setelah berganti pakaian Indah kembali duduk di meja rias, gadis itu mulai menyisir rambut panjangnya yang lurus.


Cemberut.


"Huugfttt ayolah Indah, kendalikan dirimu, hilangkan rasa kesalmu, lupakan laki-laki itu, dia hanya tamu menyebalkan yang tidak sengaja lewat dalam hidupmu, okey." Menatap dirinya di cermin.


"Maafkan hamba ya Allah, karena tidak bisa menahan emosi hanba tadi." Indah berucap merasa bersalah.


...


Di kantor


Tok tok tok


"Masuk."


Cekrek

__ADS_1


"Maaf Bu Sinta, ada Pak Adit di depan, katanya dia ingin bertemu ibu." Sekretaris Sinta memberitahu.


"Ck, huufftt...." Menghembuskan nafas panjang.


"Dia selalu saja menggangguku, suruh pulang aja Mira aku masih sibuk sekarang." Acuh, kembali mengetik di komputernya.


"Dia bilang tidak akan pulang sebelum Bu Sinta menemuinya." Menggaruk tengkuknya, tersenyum kaku. Mira sudah menjadi asisten Sinta selama 3 tahun ini, dan sebenarnya dia pun sudah cukup tahu tentang kedekatan Adit dan bosnya itu.


"Ya sudah biarkan saja dia tetap duduk di ruang tung..."


"Siapa yang mau kamu biarin menunggu, hhmmm...." Tanpa di persilakan Adit masuk ke ruangan tersebut dengan santainya, duduk di sofa.


"Loh Pak, saya kan suruh tunggu di luar dulu." Mira merasa tak enak pada Sinta.


Adit memutar bola matanya, seandainya saja Mira tidak menahannya di luar, dia sudah masuk sejak tadi.


"Gak papa Mir, kamu keluar saja." Masih sibuk mengetik.


"Baik Bu." Menundukkan badan, meminta izin untuk keluar.


"Ngapain lagi ke sini?" Sinta memulai pembicaraan dengan cowok itu tanpa melihat ke arahnya.


"Kenapa sih kamu selalu tanya itu terus, aku ke sini hampir setiap hari loh, dan tujuannya selalu sama, ngajakin kamu makan siang bareng." Adit tak terima, cowok itu bersandar pada sofa, menutup matanya.


Sinta melirik sebentar.


"Seharusnya kalau kamu ada waktu kamu istirahat, bukan malah ngajakin aku makan siang." Perempuan itu akhirnya luluh, mematikan komputernya, dan beralih duduk di sofa yang berhadapan dengan Adit.


Adit menegakkan posisi duduknya, tersenyum lebar di hadapan Sinta.


Sinta tahu, bahkan sudah sejak lama tahu bahwa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini sudah begitu lama menaruh hati padanya, sejak mereka duduk di bangku SMA. Meskipun sampai sekarang Adit tidak pernah mengatakan perasaan cintanya secara langsung, cara dia memandang, memperhatikan dan sangat peduli padanya menunjukkan rasa cinta itu sendiri. Sinta tidak pernah tahu mengapa Adit sampai sekarang tidak pernah mengatakan cintanya, namun apapun itu dia juga merasa tak bisa jauh dari lelaki itu.


"Istirahat bagi aku itu kalau sudah ketemu sama kamu Sin, sudah lihat muka galak kamu itu hiburan setelah aku hadepin banyaknya pasien, dengerin Omelan kamu itu kayak lagi di tempat wahana, menegangkan tapi seru." Adit mengoceh tak jelas, ia tampak semangat menjelaskan.


Sinta tahu Adit pasti sangat lelah, tapi dia selalu saja menyempatkan dirinya untuk mampir ke kantor Sinta walau sebentar, mengajaknya makan siang atau sekedar mengobrol di ruangan itu.


"Huusstt.... Udah deh, aku tahu kamu itu suka gombal, dari pada gombalan kamu itu makin random, sekarang kita makan siang dulu, aku juga sudah lapar." Berdiri.


"Yakin udah laper? Terus kenapa tadi suruh aku pulang?" Adit kembali menggoda.

__ADS_1


"Cepet Pak dokter, atau aku akan berubah pikiran." Berjalan.


"Eehhh iya iya." Menyusul cepat.


__ADS_2