
Flashback malam itu di rumah Sinta…
Adit yang tengah duduk di ruang tamu terus saja memainkan jemarinya karena gugup. Entah, sejak ia menyadari perasaannya pada Sinta, cowok itu selalu saja merasa jantungnya tak pernah sehat jika bertemu dengan gadis itu. Namun anehnya, perasaan senang pun akan segera memenuhi hatinya saat melihat Sinta.
“Ekkhmm… ekhhmm… duh kenapa tenggorokanku rasanya jadi kering begini sih? Masa ketemu sama Sinta aja aku segugup ini? Oh, ayolah Adit, kamu harus memperjuangkan cintamu.” Ucapnya lirih namun semangat, reflek mengangkat kepalan tangannya memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Namun beberapa detik kemudian ia merasakan perutnya mulas.
“Adduhh… kok mules sih? Ini kenapa bisa tiba-tiba begini?” Omelnya.
“Apa karena aku gugup yah? Aduuhh penyakitku sepertinya nambah, bukan hanya jantungku yang akan berdetak tak karuan, sekarang perutku pun malah ikut-ikutan tak karuan seperti ini.” Masih memegangi perutnya.
Beberapa saat kemudian, Sinta turun dari tangga di lantai dua rumah itu, Adit yang melihatnya malah membuat perutnya semakin sakit saja.
“Adduhh…” Ringisnya, namun perlu di catat dalam ekspresi menahan rasa sakit itu, ia juga terus saja tersenyum ke arah Sinta, meski kini gadis itu menghampirinya dengan raut wajah yang sangat kesal.
Sinta menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri di depan Adit, menatap cowok itu garang.
“Ngapain kamu di sini?!” Tanyanya jutek.
Adit berdiri dari tempatnya duduk, menatap senang pada gadis itu.
“Aku… tentu saja aku ingin bertemu dengan iisstt… kamu.” Jawabnya.
‘Duh, aku jadi tidak bisa tidak konsen.' Batinnya kesal, memegangi perutnya.
‘Jantungku, kembali berdendang.’ Bergantian memegang jantungnya.
Sinta yang melihat tingkah aneh Adit mengerutkan keningnya.
‘Nih anak kenapa lagi?’ Batin Sinta bingung.
“Bertemu denganku untuk apa? Aku tidak ingin menerima tamu yang tak di undang sepertimu.” Sinta kembali berkata jutek.
Namun Adit masih sibuk dengan apa yang kini ia kerjakan tadi…
Sinta pun bertambah kesal di buatnya.
“Addiitt!! Kamu ini kenapa sih?!” Teriak Sinta.
Adit kini mengelus dadanya karena terkejut.
“Sin, kamu membuatku kaget saja.”
“Lagian kamu gak jelas banget, aku kan lagi ngomong sama…”
“Adduuhh… Sin aku sudah tidak tahan nih.” Adit memotong ucapan Sinta.
Sinta menatapnya heran.
__ADS_1
‘Apa maksud makhluk aneh ini?’
“Kamu kenapa sih? Dari tadi megangin perut dan dada terus.”
“Duhh, Sin, aku mau numpang ke toilet boleh gak?” Adit memohon.
“Gak, gak boleh! Sudah sana pulang, ngapain juga ke rumah orang cuma untuk numpang ke toilet.” Ucap Sinta ketus.
“Sin… aku, udah gak tahan nih…” Adit memegang erat perutnya.
“Aku bilang engg…”
Puuuupppppp…..
Bunyi itu sukses membuat Sinta membulatkan matanya.
Dengan wajah memerah, Adit tersenyum malu, hilang sudah harga dirinya di depan wanita yang ia sukai.
“Hehe maaf yah… kelepasan.” Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ADIITT!!!! Kamu jorok banget sih. ” Teriak Sinta, gadis itu menutup hidungnya kerena bau yang luar biasa kini menerobos masuk.
“Ya maaf, aku kan udah bilang aku udah gak tahan kamu gak dengerin ak….”
“Ya udah cepat ke sebelah sana, di sana ada toilet tamu.” Tunjuk cepat Sinta masih menutup hidungnya.
“Cepat sana!”
“Iya… iya.” Dengan langkah setengah berlari Adit segera masuk ke kamar itu.
…
Adit berjalan kembali ke ruang tamu dengan ragu. Mau di simpan di mana wajahnya kini, dia sungguh telah kehilangan harga dirinya.
“Oh Adit, apa yang sudah kamu lakukan? Sangat memalukan, bagaimana aku harus menghadapi Sinta sekarang.” Ocehnya, ia terhenti saat akan sampai di sana, melihat Sinta yang kini duduk dengan kaki yang bersilang di sofa.
“Oh Tuhan, bisakah aku menghilang dan tiba di rumah sekarang, aku sungguh malu.” Menggosok wajahnya dengan keras.
Tak ada pilihan, setelah cukup lama berdiri di sana, Adit akhirnya menghampiri gadis itu. Malu-malu duduk di sofa, tersenyum kaku pada Sinta.
Sinta memutar bola matanya jengah.
“Udah?” Dengan penekanan.
“Hehe, ia sudah.” Terkekeh.
“Ck, to the point aja yah, kamu ke sini ada maksud apa?” Jutek.
“Ekhm…” Adit memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
“Yah… jadi aku, aku ke sini untuk melihat keadaanmu saja.” Ucapnya agak gugup.
Sinta mengerutkan keningnya.
“Kenapa?” Tak mengerti.
“Tadi kan kamu gak masuk sekolah, lalu tidak ada pemberitahuan dari kamu ataupun orang tua kamu, jadi ku pikir kamu sakit, atau ada hal lain, jadi aku ke sini untuk memastikan hal tersebut.”
‘Aku juga mengkhawatirkan keadaan kamu.’ Lanjutnya dalam hati.
Sinta hanya terdiam, memandang Adit bingung.
“Sin… kamu baik-baik saja kan?” Adit mengibaskan tangannya ke udara, menyadarkan gadis yang duduk di depannya itu.
“Eh… aku… aku baik-baik saja, memangnya apa yang terjadi padaku?” Sinta gugup.
‘Kenapa aku jadi gugup begini yah… mendengar Adit berkata seperti itu aku jadi kepikiran sama yang Indah bilang, apa betul cowok ini suka sama aku? Ahh… gak mungkin Sin, sadar… sadar, dia ini musuh kamu, dia pasti hanya ingin mempermainkan aku saja, mengambil hatiku, lalu meninggalkanku. Atau mungkin dia sedang dalam misi taruhan dengan temannya untuk mendapatkan aku, dan setelah dia menang dia akan membuang ku dan mengejekku begitu saja, seperti Yanga da di film-film itu. Ayolah Sinta, jangan tertipu dengan ucapan manisnya.’ Batin Sinta bergejolak.
“Lalu kenapa tadi kamu tidak datang ke sekolah?”
“Oh… itu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan.” Jawabnya menutupi.
“Apa?”
“Hei, memangnya kamu harus tahu semuanya, pokoknya sesuatu kamu tidak perlu tahu. Lagian kenapa sih, kamu kepo banget urus aja urusanmu sendiri, kenapa sibuk banget sama kehidupan orang lain.”
“Aku kan khawatir sama kamu Sin, aku takut kamu sakit makanya aku ke sini.” Keceplosan.
Sinta tertegun mendengar itu….
Adit membulatkan matanya menyadari ucapannya.
‘Aduh… keceplosan lagi, kalau sudah kayak gini ya udah, udah terlanjur juga.’
“Kamu apa-apaan sih, gak jelas banget. Kenapa malah tanya-tayain keadaan aku, lebih baik kamu tanyain tuh cewek yang selalu sama kamu.” Sinta yang gugup malah salah bertanya, bisa-bisanya ia mengatakan hal itu, hal yang membuatnya kesal selama berhari-hari.
“Cewek? Cewek yang mana?” Adit tidak mengerti.
‘Aduh… Sinta ngapain juga kamu malah ngomongin perempuan itu sih.’
“Gak lupain aja.” Membuang wajahnya ke sembarang arah, tak berani menatap Adit yang kini malah tampak berpikir.
“Cewek apa yang kamu maksud? Aku tidak pernah dekat sama… OOWWW……” Adit ber ‘Oh’ ria.
“Maksud kamu, adik kelas kita itu, yang selalu bersamaku di taman ataupun di kantin?” Tanyanya.
Sinta tak menjawab, memilih untuk diam, ia menyesali perkataannya tadi.
“Ekhmm… ekhmm… kamu cemburu yah……. Hayo ngaku.” Goda Adit tersenyum lebar.
__ADS_1