
...
"Kamu sudah ketemu sama David nak?" Bu Ratih bertanya sesaat setelah menelan makanannya.
Adnan yang dengan telaten menyuapi ibunya itu mengangguk. Beberapa menit yang lalu ibunya terbangun saat ia dan Humairah tengah membahas hal yang entah di mana topiknya, langsung meminta untuk makan.
"Sudah ma."
"Kamu pasti senang bertemu dengan teman masa SMA mu, bahkan dia yang sekarang merawat mama, padahal dulu dia anaknya jahil sekali, tidak di sangka sekarang jadi dokter yah." Bu Ratih tersenyum. Ia pun baru tahu hal itu, namun begitu melihat David untuk pertama kalinya, ia langsung mengenalinya. Bagaimana tidak, anak jahil itu dulu hampir setiap hari mengunjungi rumahnya.
"Iya ma, aku juga tidak menyangka bertemu dengan David lagi di sini, ternyata dia memang benar-benar ingin menjadi dokter, aku kira itu hanya omongan ngawurnya saja." Adnan tertawa kecil.
Humairah yang nyatanya sejak tadi menguping pembicaraan kakak dan ibunya itu menimpali. Menyimpan ponselnya di sofa dan mendekat ke ranjang ibunya.
"Kak Adnan kenal sama dokter David?" Humairah tampak begitu penasaran.
"Iya." Jawabnya pendek.
"Kakak kenal di mana?" Malah antusias.
"Dulu kan David selalu main ke rumah kita nak, waktu Adnan dan David masih SMA. Kalian juga sering main bersama waktu kamu masih TK, kamu sudah lupa nak?" Bu Ratna nampaknya sudah lebih baik keadaannya, ia banyak berbicara dan mengobrol kali ini, wanita itu lantas meminum air yang diberikan oleh Adnan, ia sudah selesai.
Humairah terdiam, berusaha keras mengingat-ingat. Ia terbayang wajah seseorang tapi sudah terlalu buram di ingatannya. Tapi yah... Dia mengingat anak laki-laki itu. Yang biasa ia panggil kakak, teman kakaknya Adnan yang selalu main ke rumah, yang sering membawakannya sebatang coklat.
"Oh ya ampun, apa itu dia ma?" Heboh sendiri, Bu Ratih sampai terkejut mendengarnya.
"Humairah, jangan berteriak begitu mama jadi kaget." Adnan memegang tangan ibunya.
Bu Ratih menggeleng mengatakan tidak apa-apa, ia juga senang melihat Humairah yang ceria.
Humairah meminta maaf kepada ibunya karena sudah membuatnya terkejut. Begitu Bu Ratih mengangguk ia kembali pada topik yang begitu membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Apa dia kakak yang selalu memberiku cokelat dulu? Aku tidak terlalu ingat wajahnya, tapi masih ingat dengan cokelat yang selalu dia bawa." Tersenyum manis.
"Ia benar, dia orang yang sama adikku yang cerewet. Sekarang kamu sudah puas kan? Sudah sana jangan ganggu mama lagi, mama harus istirahat." Adnan mencubit pipi Humairah.
"Tapi kak, aku masih ada pertanyaan lain..." Cemberut.
Baru saja ia kembali ingin protes Adnan sudah mengisyaratkan padanya untuk diam, ibunya harus beristirahat.
Humairah memanyunkan bibirnya, baiklah ia menyerah, ibunya memang harus istirahat. Gadis itu memilih untuk kembali ke sofa, berbaring di sana. Ia masih berusaha mengingat bagaimana wajah David dahulu. Namun sekuat apapun ia mencoba, ia masih tidak melihatnya dengan jelas, yang ia ingat hanya lelaki manis yang selalu membuatnya tersenyum dengan sebuah cokelat yang ia bawa.
"Tidak apa-apa, setidaknya aku sudah tahu siapa kamu. Oh ternyata kamu adalah kakak manis itu." Tersenyum malu-malu sendiri.
"Dokter David." Bergumam.
...
Kembali pada rutinitas awalnya, Indah bangun-bangun pagi-pagi untuk sholat subuh, setelahnya mandi dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Sarapan bersama Farid yang tampak sedikit berbeda hari ini, kakaknya itu terus saja tersenyum dan melamunkan sesuatu.
Indah penasaran, ingin bertanya tapi segera ia urungkan saat melihat jam di tangannya, setengah jam lagi, ia tak ingin terlambat, apalagi jarak antara rumah dan tempat kerjanya berjarak 15 menit perjalanan jika tak macet.
Setelah menunggu beberapa saat dan melihat sarapan di piring kakaknya sudah habis, Indah beranjak dan menarik tangan Farid untuk segera ikut dengannya menuju mobil, ia harus cepat.
Di sekolah
Indah menghabiskan waktunya di jam istirahat untuk makan di kantornya. Mengeluarkan bekal makan siang yang ia bawa. Dari dulu ia memang selalu membawanya, sejak di tinggal ibunya beberapa tahun yang lalu, Indah jadi punya kebiasaan baru, memasak masakan kesukaannya yang selalu di buatkan oleh ibunya Dania. Baginya itu membuat ia merasa Dania selalu berada di dekatnya.
"Mana guru yang tidak bertanggung jawab itu, hah! Cepat suruh dia keluar!"
"Maaf Pak ibu Indah sedang beristirahat, saya akan menyampaikannya terlebih dahulu, bapak tenang dulu, silakan duduk dulu di sini saya akan memanggilnya." Mencoba menenangkan.
"Halah.... Saya tidak mau tahu, saya mau masuk sekarang juga."
__ADS_1
"Pak, pak!" Mencoba menghentikan.
Indah yang mendengar keributan di dalam kelasnya itu menghentikan makannya, berniat untuk melihat apa yang terjadi. Namun belum juga ia menyadari sesuatu itu, seorang pria tiba-tiba membuka pintu ruangannya dengan cepat. Indah yang belum menggunakan kembali cadarnya terkejut bukan main.
Melihat laki-laki itu masuk begitu saja, dengan cepat Indah membalikkan badan dan mengenakan kembali cadar yang ia lepas saat makan tadi.
Dengan terburu-buru Indah memasang cadarnya, sementara pria itu masih memandangnya, terpaku.
"Maafkan saya Bu, saya sudah melarang beliau untuk masuk, tapi beliau tetap memaksa dan menerobos begitu saja." Ucap rekan kerja Indah yang juga seorang guru.
Sebelum kedatangan pria tersebut, ia baru saja keluar dari ruangan Indah, berpapasan dengan pria itu yang datang dengan tampang marah. Penasaran, ia pun bertanya, tapi tidak, pria itu tak ingin mendengarkan siapapun terus saja menerobos masuk, membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Wajah Indah merah padam, ia begitu marah atas apa yang terjadi, ia juga sangat malu. Sejak ia berikhtiar menggunakan cadar, tak ada satu laki-laki pun yang bukan mahramnya pernah melihat wajahnya. Namun hari ini pria yang tidak ingin ia temui lagi dalam hidupnya muncul di hadapannya, masih dengan cara yang membuatnya kembali semakin membenci pria itu.
Sekuat tenaga Indah mengendalikan perasaannya.
'Ya Allah lapangkanlah hati hamba.' Doanya dalam hati.
"Tidak apa-apa Bu, saya akan mengatasi ini." Ucapnya tenang kemudian.
Guru itu mengangguk merasa tak enak. Ia pun pamit untuk kembali ke ruangannya, menatap pria sombong di sampingnya itu sekali lagi dengan kesal, lalu berlalu dari tempat tersebut.
Indah beralih menatap laki-laki di depannya. Di tatap seperti itu pria tersebut menjadi salah tingkah, berdehem sebentar lalu duduk di kursi yang ada di depan Indah tanpa di persilahkan terlebih dahulu.
Inda masih mengatur suasana hatinya. Mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa tadi, kembali pada mode guru, ia harus profesional.
Laki-laki itu masih terdiam, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Ada perlu apa bapak mencari saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya datar.
"Ekhm...." Berdehem.
__ADS_1
"Sa... Saya... Ekhm... pertama saya mau minta maaf karena tadi sudah..."
"Tidak perlu membahas hal yang tadi, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Langsung saja, apa yang bisa saya bantu?" Indah memotong perkataan pria itu.