Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Tidak Bisa Memenuhi Janji


__ADS_3

...***...


Di sebuah desa kecil, Seorang kakek, nenek, dan cucunya tengah berada di teras rumah. Mereka duduk di dipan kayu, tengah membicarakan sesuatu yang sepertinya serius.


“Kakek nemuin perempuan itu di mana?” Tanya seorang wanita tua.


“Di tengah hutan nek, ibu itu pingsan, kakinya berdarah sepertinya habis menginjak benda tajam, paku mungkin. Kasihan sekali, jadi aku dan kakek membawanya.”cucunya yang menjawab, karena kakek tengah menyeruput kopi panasnya.


“Dari penampilannya sepertinya dia bukan berasal dari desa ini.” Ucap si nenek.


“Iya nek, sepertinya ibu itu datang dari kota, tapi kenapa yah dia sampai berada di hutan? Apa dia sedang dikejar-kejar seseorang?”


“Kamu kenapa berpikiran seperti itu Farid?” Si kakek angkat bicara.


“Mungkin saja kan kek, wajahnya penuh dengan luka.” Farid menebak.


Si kakek berpikir.


“Iya, kamu benar juga. Kalau begitu kasihan sekali dia.” Si kakek prihatin.


“Tapi bagaimana kalau ternyata dia yang orang jahat, kan bahaya kakek, Farid.” Si nenek berpendapat.


“Husstt… nenek jangan berpikiran buruk dulu, dia orang jahat atau bukan kita tetap harus bantu dia. Mana mungkin kita tega meninggalkan dia di hutan dalam keadaan seperti itu.” Kakek mengingatkan.


“Iya juga yah kek.” Nenek dan Farid manggut-manggut.



Di kamar kecil yang usang, samar-samar Dania membuka matanya perlahan. Begitu kesadarannya terkumpul wanita itu meringis memegangi kakinya.


“Arrgghh…” Dania meringis.


Ia memperhatikan sekelilingnya, dinding kayu yang usang, tempat tidur kayu yang sudah tua juga lantai yang beralaskan tanah.


Dania memegangi kepalanya yang sakit.


“Aku di mana?” Ucapnya lirih.


Dania mencoba untuk berdiri, namun kepalanya yang pusing kembali membuatnya terjatuh di lantai tanah itu.


“Arrgg…” Teriaknya.

__ADS_1


Mendengar itu. Farid, kakek dan nenek segera masuk ke dalam rumah.


“Ya ampun ndo, kamu kenapa bangun? Kamu kan masih sakit.” Ucap nenek segera membantu Dania bersama dengab Farid untuk kembali naik ke tempat tidur. Dania terduduk di tempat tidur sederhana itu. Ia menatap satu persatu wajah-wajah baru di depannya.


Wanita itu mengukir senyum melihat kakinya yang terbalut dengan kain yang telah di obati dengan dedaunan herbal.


“Terima kasih banyak telah menolongku, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika kalian tidak ada.” Dania berkata sendu.


“Sudah kewajiban kita untuk saling menolong sesama manusia ndo, jadi kamu tidak perlu berterima kasih kepada kami.” Ucap Kakek, Farid dan nenek manggut-manggut.


Tiba-tiba Dania menangis, ia tidak bisa membendung perasaannya ketika mengingat Sarah dan nasibnya saat ini.


“Kamu kenapa menangis? Apa masih ada yang sakit?” Nenek bertanya khawatir.


Dania menggeleng.


“Aku begitu sedih mengingat nasibku saat ini nek, mengapa hidupku malang sekali.” Ucap Dania seakan putus asa. Dia merasa dia tidak akan bisa untuk kembali ke kota, dan menepati janjinya kepada Indah untuk kembali. Dia di manapun saat ini, tak tahu.


“Kenapa kamu berbicara seperti itu ndo?” Nenek mengelus rambut Dania kasihan.


“Setiap yang terjadi pada diri kita, itu semua sudah menjadi takdir Allah. Apapun yang terjadi padamu saat ini pasti ada hikmah yang besar dibaliknya. Kamu jangan pernah putus asa, terus berdo’a kepada Allah.” Nenek menasehati.


“Sebenarnya apa yang terjadi kepada tante? Kenapa bisa berada di hutan dalam keadaan terluka?” Tanya Farid lelaki berusia 25 tahun itu.


Cukup lama ia terdiam, hingga Farid, nenek dan kakek saling melempar pandang bingung.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita, kami tidak akan memaksamu.” Akhirnya kakek angkat bicara.


“Tidak, bukan seperti itu kek, tolong maafkan saya, saya hanya… huuffttt…” Dania menghembuskan nafasnya, mengekspresikan beban berat yang kini ia rasakan.


“Kalau kamu belum siap untuk menceritakannya, nda papa ndo.” Nenek berucap.


“Tidak nek, nenek sekeluarga sudah sangat baik padaku, kalian sudah menyelamatkan hidupku. Jadi aku akan menceritakan semuanya.”


Dania mulai menceritakan kisahnya dari awal ketika suaminya meninggal atau tepatnya di bunuh oleh 3 orang, sampai kemudian ia lari dan pindah ke kota baru, sampai kepada bosnya sendiri yang tidak lain adalah pembunuh salah satu suaminya, dan rencana Jayadi yang menculiknya, sampai Sarah yang berkorban untuknya.


Isakan tangis terdengar di gubuk tua itu, Dania kembali menangis pilu.


Farid, kakek dan nenek begitu sedih mendengarnya, nenek sampai ikut meneteskan air mata. Perempuan 65 tahun itu ikut tersentuh.


“Hiks… hiks… kenapa ini semua terjadi padaku nek? Mengapa nasibku begitu buruk.?” Ucap Dania pilu.

__ADS_1


“Aku sangat mengkhawatirkan putriku sekarang, para pembunuh itu pasti akan menyakitinya, aku sangat takut, bagaimana?” Menghapus air matanya yang kembali terjatuh.


“Bahkan aku tidak bisa memenuhi janji kepada putriku untuk pulang pagi ini.” Lirih Dania.


Sungguh Dania kini begitu mengkhawatirkan keadaan Indah, ia harus pulang secepatnya… tapi caranya?


Nenek menggenggam jemari Dania. Menguatkannya.


"Sabarlah ndo, berdoalah semoga semuanya baik-baik saja. Semoga anakmu di sana juga baik-baik saja.”


“Apapun yang terjadi itu sudah menjadi takdir yang maha kuasa. Kita sebagai makhluk-Nya harus menerima semuanya, dan bersabar. Insya Allah jika kita percaya, Allah pasti akan menolong kita, menyiapkan sesuatu yang Indah untuk kita, sebagai buah kesabaran dan ketabahan kita selama ini.” Kakek menasehati.


“Tante tenang aja, kita pasti akan bantuin tante kok. Insya Allah, aku akan bantu tante untuk pulang secepatnya ke rumah Tante.” Janji Farid.


Dania menatap pemuda yang duduk di dekatnya itu, memegang tangannya.


“Benarkah nak?” Tanyanya terharu dan penuh harap.


“Insya Allah tante, untuk sementara Tante sembunyi saja dulu di sini. Sampai orang-orang yang mengejar tante tidak mencari lagi di hutan ini.”


Dania mengangguk. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya mendengar perkataan Farid..


“Nah sekarang, kamu makan dulu yah nak, supaya ada tenaga dan cepat sembuh.” Ucap si nenek. Mulai berdiri mengambilkan makanan untuk Dania.


Dania tersenyum, mengangguk.


...***...


Indah keluar dari kamar menuju ruang tamu dengan mata sembabnya. Adnan yang melihat itu merasa khawatir begitu pula dengan David.


“kak Adnan…” ada perasaan tenang saat melihat Adnan di sana.


“Kak David.” Perasaan tidak enak mendadak memenuhi hatinya.


“Kita duduk dulu yah Ndah.” Sinta menuntun Indah untuk duduk di sofa bagian tengah, tidak di samping Adnan ataupun David.


“Kamu baik-baik saja Indah?” pertanyaan pertama yang Adnan tanyakan saat melihat gadis itu.


“Kamu gak lihat Indah sangat sedih, kenapa mesti di tanya lagi.” David menimpali.


Adnan menatap tajam ke arah David, begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


Melihat itu Indah bertanya.


“Kak Adnan dan kak David ada apa datang ke rumah Indah? Perasaan aku gak ngundang siapa-siapa deh, cuma Sinta aja.” Ucapnya polos.


__ADS_2