Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Mengungkap Penyamaran


__ADS_3

Indah dan David saling melempar senyum, sampai kemudian David kembali teringat kejadian kemarin saat ia menyatakan cintanya dan gadis itu menolaknya. Senyum itu memudar bersamaan dengan wajahnya yang kembali sendu. David mengalihkan pandangannya. Mencoba kembali bersikap biasa saja. Menyadari hal itu, Indah pun kembali merasa bersalah.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini Indah.” Ucap David.


“Iya kak.” Jawabnya singkat.


Mereka berdua berjalan keluar dari lorong tersebut.


“Aku akan mengantarmu pulang, jangan sampai preman-preman itu akan kembali lagi untuk menyakitimu.” Cowok itu berkata datar. Indah hanya menganggukkan kepala. Ingin menolak pun sepertinya tidak, ia memang terlalu takut kalau-kalau 2 preman itu kembali lagi, atau mungkin mengikutinya.



Di mobil…


Suasana canggung masih menyelimuti David dan Indah di mobil itu, 5 menit berlalu tak ada percakapan di antara mereka. Indah beberapa kali terus mencuri pandang pada David. Sejujurnya sejak tadi Ia sedang sibuk menyusun permohonan maaf di kepalanya, juga mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.


“Mmmm… kak David.” Akhirnya ia membuka suara.


“Yah?” David menjawab singkat.


“Terima kasih yah sudah menyelamatkan aku.” Indah malu-malu, melakukan kebiasaannya dengan menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal.


“Tidak perlu berterima kasih, seseorang akan melakukan hal yang sama jika melihat seorang gadis sedang di ganggu preman kan.” David mencoba untuk tersenyum.


‘Oh ayolah David bersikaplah cool dan biasa saja, tolong jangan melibatkan perasaanmu lagi.’ David bergumam.


“Apa boleh aku bertanya kak?” Indah berbicara serius, ia tertunduk memainkan kedua jemarinya yang bertaut.


“Tanyalah.”


“Apa mmm… apa kak David marah sama aku?” Butuh keberanian yang tinggi untuk Indah mengatakan hal itu. Bisa gawat kan kalau David tersinggung dan menurunkannya dari mobil. Gak tahu sih David tega apa enggak, kan siapa tahu.


Hening, David belum juga menjawab.


Indah menghembuskan nafas kasar, merutuki dirinya dalam hati mengapa harus bertanya soal itu sekarang. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Indah…” David memanggil, reflek Indah menatap cowok itu, tatapannya mengatakan iya, ada apa?


“kamu tidak perlu merasa bersalah padaku, aku baik-baik saja kok.” David tersenyum, tapi senyum itu tidak setulus biasanya.


“Aku mau kamu lupakan semua yang terjadi kemarin. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu, kita kembali seperti dulu, yah…”


Indah tersenyum mendengar hal itu, cowok di depannya ini sangat baik padanya, walau ia sudah menyakiti perasaannya David tetap mau menolongnya tadi.


Indah mengangguk mengiyakan.


“Bolehkah aku menganggap kak David sebagai kakakku?”Indah sudah tampak girang kembali.


“Tentu saja, mulai sekarang aku punya 2 adik, satu si tomboy bar-bar tapi penyayang, dan yang kedua si manis gigi kelinci yang cerewet.” David bergurau.


“Si manis? Kok aneh yah, seperti si manis jembatan ancol aja, hahhh.” Indah tertawa begitupun dengan David.


...***...

__ADS_1


Dania yang sudah putus asa itu hanya bisa menangis, berkali-kali mencoba membuka ikatan di tangannya tapi hasilnya nihil.


“Indah… maafkan mama sayang, sepertinya mama tidak akan pulang hari ini.” Ucapnya sendu, isak tangisnya kembali terdengar.


Sayup-sayup terdengar langkah kaki di luar ruangan, Dania tegang. Suara putaran kunci terdengar di pintu.


Krek


Pintu terbuka, 2 orang masuk ke dalam. Dania mencoba untuk melihat wajahnya tapi masih samar, ruangan di sana sangat gelap.


“Siapa kamu? Mengapa kamu menculik ku, apa salahku? Lepaskan aku.” Teriak Dania.


“Nyalakan lampunya.” Ucap seorang pria.


Deg


Dania mengenal suara itu, namun saat lampu telah menerangi ruangan itu, sosok lain tampak di sana, seseorang yang begitu ia kenal, seseorang yang sangat ia benci.


Cahaya lampu menerangi ruangan itu, Dania membulatkan matanya melihat siapa yang kini ada di hadapannya.


“Kau?” Dania berkata lirih, tenaganya rasanya sudah habis karena belum makan sejak kemarin.


“Yah… senang bisa bertemu denganmu lagi Dania.”


Kini di hadapannya tampak Jayadi dengan rambut palsu dan juga kumisnya, ia kembali menyamar seperti 2 tahun yang lalu.


“Lepaskan aku, dasar pengecut!” Teriak Dania


Plak


“Diam kau wanita sial*n.” Bentak Jayadi.


“Apa mau mu? Mengapa kau menyekap ku?” Dania berteriak.


“2 tahun yang lalu kau tahu betul apa yang aku inginkan Dania, dan sekarang pun masih sama, mengapa kau menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu?” Jayadi tersenyum licik.


“Lepaskan aku, aku tidak akan memberikan dokumen itu!”


“Hahahh….. benarkah?” suara tawa Jayadi menggelegar mengisi kekosongan ruangan tersebut.


“Apa kau berharap aku akan percaya? Wanita bodoh yang melarikan diri, namun masuk ke kandang singa sendiri, hahhh.”


Dania mencoba memberontak.


“Cepat katakan!” Jayadi menarik jilbab Dania hingga terlepas, lalu menjambak rambutnya.


“Sampai mati pun aku tidak akan mengatakannya padamu.”


Plak


Sekali lagi tamparan di terima Dania, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


“heh! Keberanian… suamimu yang tolol itu juga memilikinya.”

__ADS_1


“Jangan pernah berbicara tentangnya, kau sama sekali tidak pantas, cuih.”


Rahang Jayadi mengeras, menahan amarah.


“Ambilkan kursi!” perintah Jayadi pada bodyguardnya yang sedari tadi berdiri di sana.


Jayadi duduk di sana, berhadapan dengan Dania, hanya berjarak 5 jengkal saja.


“Apa kau tidak mau mengikuti perintah presdirmu Bu Dania?!” Jayadi menekankan kata Bu Dania.


“Kau…?”


Dania terdiam tidak mengerti, pikirannya mencoba menebak-nebak.


“Hahaha kau memang wanita bodoh, kita terus bertemu tapi kau tidak juga mengenali pembunuh suamimu.”


Dania masih bingung.


Jayadi lalu membuka kumis dan rambut palsu yang ia kenakan lalu melemparnya ke sembarang arah.”


“Kau!!!” Dania tak percaya.


“Yah, ini aku hahhhh lucu sekali bukan, kau bahkan tidak mengenaliku.” Jayadi kembali tertawa, ia menyandarkan tubuhnya di kursi itu dan menyilangkan kakinya.


“Selamat masuk ke kandang singa Dania, hahhh.”


Dania terpaku, bagaimana mungkin ia tidak menyadari akan kemiripan presdirnya itu dengan salah satu pembunuh suaminya, mengapa?


‘Kau memang bodoh Dania, bodoh.’ Dania merutuki dirinya sendiri.


“Lepaskan aku, kau pembunuh breng*ek, lepaskan aku.” Dania memberontak.


“Tentu… tentu aku akan melepaskan mu jika kau memberikan apa yang aku mau.” Jayadi mendekatkan wajahnya pada Dania.


“Cuih…” Dania meludahi wajah Jayadi.


“Sampai mati pun aku tidak akan pernah menyerahkan dokumen dan barang bukti itu, bunuh saja aku, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa.” Wanita tangguh itu berkata mantap.


“Breng*ek.” Mata Jayadi memerah karena amarah.


Plak plak plak


Tiga tamparan kembali di terima Dania, bodyguard itu yang melakukannya,


Jayadi kembali menjambak rambut Dania.


“kau memang wanita sial*n.” Dania mendongak karena jambakan tersebut.


“Baiklah kalau kau tidak ingin memberitahunya, aku akan bisa mendapatkannya sendiri. bukankah kau bekerja di perusahaan ku? Akan sangat mudah menemukan alamatmu, dan.... anakmu, heh.” Jayadi melepaskan jambakannya dengan dorongan.


Dania ketakutan, yang ia pikirkan sekarang adalah Indah. Ia tidak ingin Indah terluka.


“Sekali kau menyentuh putriku, aku tidak akan segan untuk menghabisi mu Jayadi!!!” Teriak Dania.

__ADS_1


“Hahh... lakukan saja jika kau mampu.”


__ADS_2