Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Marah


__ADS_3

Di meja makan...


"Bagaimana hari pertamamu bekerja di sekolah itu Indah?" Akhirnya Farid menanyakan hal yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.


Indah menatap Farid yang duduk di depannya sekarang, menunggu makanan habis di mulutnya untuk menjawab pertanyaan kakaknya.


"Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar kak, rekan-rekan kerjaku juga baik-baik semua aku rasa aku akan betah bekerja di sana." Ucapnya senang.


Farid mengerutkan keningnya.


'Indah terlihat senang, tapi Mas Rinto bilang....'


"Apa semuanya baik-baik saja sampai kamu pulang?" Kembali bertanya, mungkin Indah melupakan sesuatu.


Dan benar saja, beberapa detik kemudian, raut wajah Indah berubah. Gadis itu tampak kesal, ia mulai memanyunkan bibirnya.


"Ada apa? Apa ada yang menyakiti kamu dek?" Farid gusar, meletakkan sendok dan garpunya.


Indah menghela nafas kasar.


"Bukan seperti itu kak, tidak ada yang mengganggu, semuanya baik-baik saja sampai aku selesai mengajar dan akan pulang."


Farid diam, mendengarkan.


"Waktu di jalan menuju gerbang aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki, iya aku memang kurang berhati-hati waktu itu, tapi aku kan sudah minta maaf. jilbab dan cadarku juga kotor karena terkena es krim yang pria itu bawa. Begitu juga dengan jas dan sepatu pria itu, dia.... intinya aku ingin bertanggung jawab dengan meminta nomor ponselnya karena sudah membuat jas dan sepatunya kotor, tapi...ck, tapi bukan di situ titik menjengkelkannya." Bercerita dengan cemberut.


"Lantas..."


"Pria itu menuduh kalau aku hanya modus menabraknya, dia mengira aku ingin mendekatinya."


"Memangnya siapa dia?, Prak!" Reflek memukul meja.


Indah terkejut.


"Berani sekali menuduh adikku seperti itu, akan kakak cari orangnya, akan kakak pastikan, dia minta maaf sama kamu."


"Kak, tidak perlu seperti itu..." Indah jadi khawatir.


"Tidak perlu bagaimana maksud kamu? Pokoknya kakak akan tetap cari laki-laki itu." Mengambil ponsel hendak menghubungi seseorang.


Melihat kakaknya yang sudah sangat marah Indah menyadari sudah melakukan kesalahan, mengapa juga dia harus menceritakan hal kejadian itu, sementara ia sangat tahu bagaimana reaksi Farid saat seseorang menyakitinya atau membuatnya bersedih.


"Kak Farid selalu saja seperti ini, kalau kakak begini terus aku tidak mau lagi bicara sama kakak." Marah, melipat kedua tangannya di depan dada.


Farid terdiam, melihat Indah yang marah padanya, hatinya melunak.


"Huufftt.... Maafkan kakak Indah."


Indah tetap acuh, melihat ke arah lain.


"Indah...."


Indah tidak bergeming, tidak menjawab.


"Indah, kakak minta maaf."


Masih tak ada jawaban.


"Ya sudah, kamu maunya kakak bagaimana???" Pertanyaan inilah yang Indah tunggu-tunggu.

__ADS_1


Indah kembali menatap Farid, masih dengan raut wajah cuek gadis itu menjawab.


"Indah mau kakak tidak perlu mencari laki-laki itu. Lagian peristiwa itu sudah berakhir, aku tidak mau mengingat-ingatnya lagi kak. Walaupun aku kesal sama dia, aku sudah maafin dia, lagian itu juga bukan sepenuhnya salah pria itu, aku juga salah. Jadi Indah mohon kakak jangan berbuat yang aneh-aneh." Memohon.


Farid tampak berpikir.


'Semoga kak Farid berubah pikiran ya Allah.' Harap Indah.


"Baik kakak akan menuruti permintaan kamu itu, tapi kakak punya satu syarat."


Indah mengerutkan keningnya.


"Syarat? Syarat apa kak?" mendekatkan wajahnya.


Perasaan Indah mulai tak enak, Indah menatap Farid dengan mata memicing.


"Kenapa lihat kakak seperti itu?"


"Ya aku curiga saja kakak pasti mengajukan syarat yang tidak akan aku suka kan?" Kembali menyilangkan tangan di dada.


'Adikku ini tahu saja.' Tertawa dalam hati.


"Tidak... Tidak."


"Hhmm... terus syaratnya apa?"


"Syaratnya, setiap hari kakak yang akan antar jemput kamu buat kerja, deal?"


Indah membulatkan matanya.


"Tuh kan... Syaratnya aku gak suka. Kak Farid kan sudah janji aku akan di antar jemput sama mas Rinto saja." Tak terima.


Indah memanyunkan bibirnya, keputusan David tidak bisa di ganggu gugat.


"Baiklah, kak Farid yang akan antar jemput aku bekerja." Berucap dengan berat hati.


Farid menghembuskan nafas lega.


"Gitu dong dek, kalau begini kan kakak bisa tenang." Melanjutkan sarapannya.


Indah tidak menanggapi masih memasang wajah cemberutnya.


...


Tok tok tok


"Mama." Humairah memanggil dari luar, gadis itu tak berhenti tersenyum membayangkan wajah bahagia ibunya saat dia melihat Adnan.


"Ma, aku boleh masuk? Aku punya kejutan loh buat mama."


Adnan menggelengkan kepala melihat Humairah, pria itu juga sama tak sabarnya, begitu rindu dengan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.


"Ma..." Masih mengetuk pintu.


"Apa mama tidur yah kak..." Menatap Adnan.


Adnan mulai khawatir, akhirnya dia sendiri yang kembali mengetuk dan memanggil ibunya.


"Ma... ini Adnan, Adnan sudah pulang." Sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


Masih tidak ada jawaban.


Kedua adik kakak itu semakin cemas.


"Mama tidur yah?" Humairah kembali berteriak.


Masih tak ada jawaban.


"Mama tidak mau ketemu sama Adnan, ma buka pintunya."


"Kak, mama kenapa tidak jawab panggilan kita." Takut.


"Kak aku takut terjadi sesuatu sama mama."


Adnan yang risau dan juga sama khawatirnya dengan Humairah tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Humairah kamu minggir dulu, kakak akan dobrak pintunya!" Perintah Adnan


Humairah mengangguk.


Bugh bugh


Adnan berusaha mendobrak pintu kamar Bu Ratih. Sampai percobaan ketiga akhirnya pintu itu pun terbuka. Ia dan Humairah segera masuk ke dalam, mencari Bu Yana.


"Ma.... Mama!!" Panggil Humairah.


Mereka tidak mendapati Bu Ratih di tempat tidur atau di sudut ruangan itu sampai akhirnya Adnan membuka pintu kamar mandi, mencarinya di sana.


"Mama!" Adnan begitu terkejut melihat Bu Ratih yang kini sudah tidak sadarkan diri di bathtub, sekujur tubuhnya terendam air hanya menyisakan kepalanya saja yang masih berada di permukaan.


Dengan cepat Adnan mengangkat tubuh ibunya yang sudah basah kuyup itu ke tempat tidur, ia begitu panik.


"Mama! Kak mama kenapa??" Humairah menangis ketakutan.


Mendengar keributan dari kamar majikannya, beberapa asisten rumah tangga mulai berkumpul, mereka pun terkejut melihat Bu Ratih yang kini terbaring di ranjang.


"Nyonya? Apa yang terjadi dengan nyonya Non, den." Salah seorang dari mereka mendekat. Dia yang tadi bercanda dengan Humairah.


"Gak tahu bi, kami menemukan mama di kamar mandi sudah pingsan seperti ini."


"Nyonya bangun nyonya!" Menggosok kedua tangan Bu Ratih.


Humairah berusaha membangunkan ibunya dengan menepuk-nepuk pipinya.


"Mama, bangun ma." Semakin menangis.


"Kuyta harus segera membawa mama ke rumah sakit Humairah." Bersiap menggendong Bu Ratih.


Humairah mengangguk cepat.


"Iya den, sebaiknya cepat, bibi boleh ikut yah...." Asisten rumah tangga itu memohon.


"Baik bi, ayo."


Adnan segera keluar dari kamar tersebut dengan menggendong ibunya, bersiap menuju rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Assalamualaikum, terima kasih udah mampir kembali ke kisah cinta Indah dan Adnan, jangan lupa tinggalkan jejak yah. Like dan komennya, di tunggu. 😊🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2