
"Ya udah, kamu nginep di sini saja. Kita bakalan begadang buat ngerjain tugas ini." Indah memberi usul.
"Boleh juga tuh ide kamu." Sinta tersenyum sumringah.
Kebetulan, ia juga sangat bosan di rumah, tak ada yang bisa di ajak bicara, kakaknya sibuk di kamar, ayahnya pasti masih ada di kantor sekarang, dan ibunya...juga pasti sudah tertidur karena lelah melakukan pekerjaan rumah.
Meski mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga, tetap saja ibu Sinta melakukan perkejaan yang lainnya, walau hanya sekedar memasak untuk suami dan anak-anaknya.
"Eh, tapi seragam kamu buat besok gimana?"
"Tenang, aku bisa suruh Pak Budi buat bawain barang-barang yang ku butuhkan ke sini."
"Hhmm... oke." Indah mengangkat jempolnya.
Sinta pun menelpon pak Budi, supir pribadi keluarganya untuk membawakan barang-barang yang ia perlukan.
Sebelumnya ia meminta izin kepada kedua orang tuanya melalui pesan, agar tidak mengganggu mereka, tak lupa juga kepada David kalau-kalau ayah dan ibunya tidak melihat pesannya, masih ada satu kakaknya yang rese' itu. Terakhir ia menelpon salah satu asisten rumah tangganya untuk membantunya mengambilkan barang-barang pribadi miliknya sebelum diberikan kepada Pak Budi.
...
Kruk kruk
Indah dan Sinta lantas saling berpandangan. Indah mengerutkan keningnya sementara Sinta tersenyum memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.
"Hehe... sepertinya cacing di perutku sedang mengadakan demo."
"Hah! Cacing? Kamu cacingan Sinta? Kenapa tidak minum obat. Pantas saja kamu tidak pernah diam di satu tempat dengan tenang, selalu saja bergerak ke sana-sini, ternyata itu penyebabnya?" Indah berkata dengan polosnya. Maklum otaknya masih belum fokus pada Sinta karena sedari tadi di buat fokus dengan soal matematika di depannya.
Dengan kesal Sinta menyentil dahi Indah.
"Enak aja bilang aku cacingan. Lagian apa hubungannya cacingan dengan aku yang selalu banyak bergerak."
"Aku banyak bergerak karena aku bosan,bukan karena cacingan." Menatap Indah kesal.
Indah masih meringis memegangi dahinya. Rasanya sakit, sungguh.
"Ini sakit tahu, kamu menyebalkan sekali."
"Lagian, masa' kamu gak ngerti sih maksud aku. Aku tuh tadi mau bilang kalau aku lapar Indah."
"Oohhh...." Indah ber o ria.
Sedetik kemudian, dia baru menyadari maksud sahabatnya itu.
"Astaghfirullah." Indah kembali menepuk dahinya.
"Aduh-aduh, kenapa aku pukul lagi sih." Ia meringis sendiri, sementara Sinta masih cuek.
"Maafkan aku, aku jadi lupa kalau kita belum makan malam yah, padahal kamu di sini sejak sore tadi. Hehe..." Indah terkekeh.
__ADS_1
"Ck, kamu adalah tuan rumah yang buruk, ayo ke dapur." Sinta melenggang keluar.
"Galak sekali, mau minta makan aja harus pakai perumpamaan dulu. Kalau lapar kan bisa tinggal bilang aja, supaya aku juga bisa langsung ngerti gitu." Indah bergumam pelan.
"Aku dengar Indah, awas yah kamu." Ancam Sinta.
"Kuping besar."
"Aku juga dengar."
Indah hanya terkekeh saat Sinta menatapnya tajam.
Sungguh sahabat yang galak, apalagi kalau sedang lapar.
Sesampainya di dapur...
"Aku panasin makanannya dulu yah."
"Eh, tidak usah. Aku udah lapar banget, kita makan yang ini saja." Sinta mencegah Indah yang akan beranjak dari duduknya.
"Ya sudah."
Indah tersenyum melihat Sinta yang sudah mengambil nasi ke piringnya dengan tidak sabar.
Kalau kebanyakan teman akan malu-malu kucing jika makan di rumah temannya, berbeda dengan Sinta yang tidak memiliki malu sama sekali. Eh, maksudnya dia bukanlah tipe perempuan pemalu yang akan duduk dengan anggun.
"Tentu, masakan mamaku memang sangat enak." Indah tersenyum bangga.
Mereka menikmati makan malamnya. Makanan dingin, namun terasa begitu enak.
...
Setelah makan malam, Indah dan Sinta kembali ke kamar, dengan buku dan sebuah pulpen di tangan mereka..
"Oh yah, Tante Dania belum pulang yah? Aku sampai tidak menyadari kalau dari tadi kita hanya berdua di rumah ini.
"Iya, hari ini mama lembur. Mungkin akan pulang pukul 10 atau 11 malam nanti." Indah berucap sedih.
Sinta menyadari itu, ia mendekat dan duduk di samping Indah.
"Tante Dania adalah perempuan yang pekerja keras, dan sangat kuat. Kamu tidak perlu khawatir." Sinta meyakinkan.
"Yah, mamaku adalah perempuan yang kuat." Air mata menetes di pipinya.
Sinta memeluk gadis yang kini tengah terisak itu. Indah pernah menceritakan tentang keluarganya pada Sinta, dan ia tahu betul apa yang sedang di rasakan dan telah di lalui Indah bersama Bu Dania tanpa sosok ayah dan suami di sisi mereka.
"Sudah... jangan menangis lagi." Sinta menghapus jejak air mata Indah.
"Hhmm... maaf aku jadi cengeng begini." Indah tersenyum kecut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, bukankah kamu memang gadis yang cengeng." Sinta menaikkan kedua alisnya, mencoba menghibur Indah.
"Ck." Indah berdecak memukul lengan Sinta.
"Hehe, aku hanya bercanda." Sekarang ia sudah melihat senyum itu kembali di wajah Indah.
"Baiklah, mari! Kita kembali mengerjakan tugas dari guru tampan kita yang galak."
"Iya." Jawabnya tersenyum.
...
Pagi harinya pukul 05:15 suara jam weker di kamar Indah kembali berbunyi. Sayup-sayup ia mendengarnya, namun ia begitu sulit untuk membuka mata.
"Indah, jam kamu kenapa berisik sekali sih, cepat matikan, atau aku akan melemparnya hingga hancur berkeping-keping." Ucap Sinta kesal tidurnya terganggu. Matanya masih terpejam saja saat ia mengomel.
Indah tak menjawab.
"Indah!" Mengguncang tubuh Indah.
"Iya... iya... ih, bawel."
Andai sedang dalam mode normal ia mungkin akan menggetok lagi kepala Indah saat mengatakan dirinya bawel.
Dengan nyawa yang masih terkumpul setengah. Indah memicingkan matanya dan meraih jam weker yang ada di sampingnya. Mematikan jam tersebut dan kembali menutup matanya. Yah, maklumlah, mungkin efek begadang semalam.
Sedang di kamar sebelah, Dania yang baru saja selesai menunaikan sholat subuh itu segera menuju kamar putrinya, ia yakin Indah dan Sinta pasti belum bangun.
Dan benar saja, saat ia membuka pintu kamar. Hal yang pertama ia lihat adalah Indah dan Sinta yang tidur dengan gaya yang aneh.
Satu kaki Indah sudah ada di atas tubuh Sinta. Sementara satu tangan Sinta berada di atas wajah Indah. Sungguh pemandangan yang membuat Dania tergelitik pagi ini.
"Anak-anak ini seperti sedang berkelahi saja." Dania terkekeh.
Ia lalu mendekat ke arah ranjang.
"Anak-anak ayo bangun, sholat subuh dulu." Dania menepuk lengan Indah dan Sinta bergantian.
"Indah! Sinta! Ayo bangun!"
"Hm..." Terdengar lenguhan kecil dari Sinta.
"Sinta bangun nak, sholat subuh dulu."
Dania mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Buku-buku berhamburan di mana-mana. Ia pun memunguti buku itu satu persatu, sambil terus memanggil nama Indah dan Sinta.
Sinta yang mendengar itu akhirnya membuka matanya, ia duduk dengan mata yang setengah terpejam. Sayup-sayup ia melihat seseorang berbaju putih memunggunginya.
"Aaaaaaa..... Hantu." Seketika suasana yang tadinya hening mendadak gempar.
__ADS_1