Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Tawar-Menawar


__ADS_3

"Maksud kamu apa Indah? Tante Dania?? Tidak mungkin! Tidak... Tidak... Jelaskan pada kakak sekarang Indah!" Tak terima.


Indah menatap Farid yang menunggu jawaban darinya, dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan, gambaran kesedihan, marah, bingung, dan penuh tanda tanya.


"Mama sudah pergi untuk selamanya kak. Di hari senin, setelah sholat subuh. Mama pergi dengan senyum yang Indah." Indah tersenyum menatap Farid, namun air matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan itu, ia kembali menangis.


Farid terdiam, ia tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Indah. Ruangan itu sunyi, Indah mengalihkan pandangannya keluar jendela, tepatnya pada langit yang cerah di luar sana. Warna biru yang menawan, dengan awan putih bersih turut menemani. Farid? Farid kini tak kuasa menahan tangisnya, meski tanpa isakan, air mata itu tak henti berjatuhan di pipinya. Pilu penyesalan itu meraung dalam diam, menahan perasaan yang kini begitu sesak, seakan batu tak kasat mata kini tengah menghimpit tubuhnya.


Indah tahu kakaknya itu sedang menangis, membiarkannya meluapkan kesedihan itu dengan tidak menatapnya kini.


10 menit berlalu, suasana di ruangan itu masih sama.


Hening...


15 menit berlalu...


Farid menatap Indah yang masih termenung melihat keluar jendela. Gadis itu, adiknya... Kini tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, dia masih lebih beruntung karena masih memiliki kakek dan nenek yang sayang padanya, tapi Indah... Hanya dia seorang yang bahkan tidak tahu kalau dia adalah kakaknya, pikir pemuda tersebut.


Berusaha menguatkan hatinya, Farid akhirnya membuka suara.


"Apa yang sebenarnya terjadi Indah? Apa yang sudah terjadi pada tante?" Suaranya bergetar.


Indah mengalihkan tatapannya, kini menatap Farid dengan sorot mata yang lembut, tersenyum tulus ke arahnya.


"Mama begitu terpukul melihat keadaan kak Farid yang semakin memburuk. Kak Farid juga membutuhkan donor ginjal secepatnya, yang sayangnya sedang tidak ada di rumah sakit ini, mama..." Tersengal.


"Mama akhirnya mengajukan diri untuk melakukan tes apakah dia bisa mendonorkan ginjalnya untuk kak Farid, dan hasilnya cocok kak."


"Indah... jangan bilang sama kakak kalau pendonor ginjal itu adalah Tante..." Ucapnya lirih, Farid benar-benar berharap bahwa apa yang ada di pikirannya saat itu salah.


Namun tidak, Indah menganggukkan kepala.


Tubuh Farid semakin lemas saja mendengar kenyataan itu.


"Mama bersikeras ingin mendonorkan ginjalnya untuk kakak walaupun dokter sudah melarangnya karena kesehatan mama juga belum sepenuhnya membaik." Indah meremas jemarinya.


"Akhirnya dengan segala pertimbangan, dokter mengizinkan mama menjadi pendonor untuk kak Farid. Indah menunggu mama dan kakak dari balik pintu operasi, Indah selalu berdoa agar kalian baik-baik saja. Doa Indah di kabulkan, namun sehari setelah operasi itu kondisi mama menurun. Mama sempat sadar hari itu dan menceritakan beberapa hal pada Indah, yang Indah pun masih berusaha untuk menerimanya sampai sekarang." Melihat Farid dengan seksama.


"Mama juga bilang dia tidak pernah menyesal sudah melakukan semua ini, Indah kira dengan sadarnya mama maka mama akan baik-baik saja, tapi ternyata hal itu menjadi pertemuan dan kata-kata terakhir yang Indah dengar dari mama kak, hiks... hiks .." Indah tersedu, sekali lagi hatinya tersayat karena kembali mengingat hari itu.


Farid memejamkan matanya, buku-buku tangannya menggenggam kuat hingga memperlihatkan deretan urat-urat di tangannya, darah mulai mengalir dari selang infus.


...***...

__ADS_1


Buliran bening itu kembali terjatuh di pipi Farid, lelaki itu menghapus jejaknya.


"Terima kasih untuk semuanya... Ma.' Menatap foto yang ia genggam.


"Farid janji akan selalu menjaga Indah dengan baik. Aku janji akan selalu membuat dia bahagia, dan aku pasti akan melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan beberapa tahun yang lalu. Farid pasti bisa mendapatkan bukti rekaman itu " Ucapnya yakin.


Malam itu, seutas janji kembali lelaki itu ucapkan untuk yang sekian kalinya kala menatap ataupun mengingat tentang Dania. Kelabu-nya hati yang telah menyembunyikan luka selama bertahun-tahun kini mulai menampakkan amarahnya.


...


Dengan tergesa-gesa Indah memakan sarapannya. Sepertinya ia sangat takut jika akan terlambat berangkat kerja di hari pertamanya di sekolah yang baru.


"Pelan-pelan Indah, kalau kamu tersedak bagaimana? Kenapa kamu terburu-buru begitu?" Farid yang duduk di depannya bertanya, menggelengkan kepala melihat adiknya yang makan dengan kecepatan tinggi. 🤣


"Aku sudah hampir terlambat kak, ini adalah hari pertamaku di tempat itu, aku tidak mau meninggalkan kesan yang buruk di hari pertama bekerja di sana." Celotehnya dengan mulut penuh roti.


"Kamu tenang saja, kalau mereka marahin kamu kakak akan tutup sekolah itu " Farid berkata mantap.


Seketika Indah menatap Farid dengan tajam. (tapi gak sampai setajam silet kok.)


"Kakak! Isstt.... jangan macam-macam loh yah. Aku mau kerja dengan baik di sana, dan aku tidak mau kalau sampai orang-orang tahu identitas aku yang sebenarnya. Aku mau bekerja seperti orang biasa, dan tidak mau orang-orang memperlakukan aku istimewa karena mereka tahu aku adalah adik kak Farid." Ngegas panjang lebar.


"Ck." Farid berdecak.


Di perjalanan...


"Kakak kenapa sih harus anterin aku? Aku kan bisa sendiri kak, aku bukan anak kecil lagi." Sewot membuang pandangan ke luar jendela mobil.


Farid menggeleng melihat Indah manyun.


"Kakak cuma mau pastiin kamu sampai dengan selamat ke tempat kerja Indah." Jawabnya santai.


"Ok ok, aku ngalah lagi, tapi kak Farid gak boleh nurunin aku di depan gerbang sekolah. Aku tidak mau perhatian orang-orang akan tertuju pada kita, bisa-bisa penyamaranku terbongkar lagi." Mensedekapkan tangan.


"Penyamaran apanya sih...." Garud berkata pelan.


"Kakak!!"


"Iya... Iya, kakak akan turunin kamu 5 meter dari gerbang." Sekarang malah fokus dengan ponsel di tangannya.


Indah membulatkan mata.


"Hah? 5 meter? Itu sama saja di depan gerbang kak Farid." Gemas pada kakaknya itu

__ADS_1


"Ya udah 10 meter."


"Kak Farid!" Menatap tajam.


"Apa?" Menatap balik Indah, memasang wajah tak bersalah.


"30 meter." Ucap Indah cepat, menurutnya itu sudah lumayan jauh lah dari pada 10 meter hadeehh...


"Hah! Itu terlalu jauh Indah." Tidak terima.


......................


"15 meter." Farid berucap.


"25." Indah belum menyerah.


"15."


"25 kak...." Merengek.


David yang sekarang makin gemas dengan tawar-menawar itu menghela nafas panjang.


'Kalau kamu gak mau, kita kembali ke 10 meter." Ia tidak ingin Indah berjalan kaki sampai ke gerbang.


"Ya udah deh..." Jawab Indah lemas.


Farid tersenyum mendengarnya.


Sampai akhirnya...


"Ya udah deh 20 meter..." Sambung Indah.


Farid yang tadinya ingin protes mendadak berhenti saat Indah memasang wajah puppy eyes nya. Yah.... Walaupun sebagian wajah adiknya itu tertutup cadar, dari sorot matanya saja Farid sudah tahu bagaimana ekspresi gadis itu sekarang. Jurus itu selalu di pakai Indah untuk membujuknya. Hadeehh...


"Yah kak... Please..." Memohon.


"Yah... Yah..." Menggoyangkan lengan Farid.


"Kembali menghela nafas, lelaki itu mengangguk mengiyakan.


"Yas!" Mengangkat tangannya penuh kemenangan.


Akhirnya perdebatan itu di menangkan oleh Indah setelah berhasil nego dengan jurus wajah memelasnya.

__ADS_1


__ADS_2