
Indah menelan salivanya, tertegun melihat minuman dingin itu ditangannya. Botol itu mengeluarkan embun kecil tanda jika baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin. Indah memasang wajah bingung dan malu.
Adnan melihat paras cantik Indah sejenak, kemudian tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Kalau kamu haus diminum saja!" Ucap Adnan menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa melihat ekspresi Indah.
"Eh... i... iya kak." Ucap Indah gugup, membuka tutup botol air itu.
'Duh Indah, malu-malu aja deh, tapi bagaimana caranya minum, aku kan risih.' Batin Indah.
Sebenarnya Indah bisa saja langsung meneguk air itu, tapi ia terlalu malu untuk minum dihadapan Adnan. Apalagi dengan posisi duduk yang berhadapan seperti sekarang, walaupun cukup ada jarak diantara mereka. Namun tetap saja dia merasa risih, berbeda dengan waktu ia memakan ice cream, setidaknya dia bisa menghadap ke arah lain waktu itu.
Adnan yang mengerti apa yang dipikirkan Indah langsung menunduk, berpura-pura memperbaiki tali sepatunya.
Melihat ada kesempatan, secepat kilat Indah meneguk air itu.
"Huufftt..." Indah menghembuskan nafas lega, rasa hausnya telah hilang.
'Duhh... malu banget, semoga kak Adnan gak liat.' Batin Indah.
Adnan kembali menggigit bibir bawahnya, menahan tawa melihat tingkah gemas Indah yang sangat pemalu. Setelah ia rasa Indah telah selesai, Adnan kembali menegakkan badannya memandang ke sembarang arah, melihat ke sekeliling ruangan.
"Kak Adnan tidak masuk ke kelas? Sebentar lagi bel akan berbunyi." Ucap Indah mengakhiri senyap.
"Iya, sebentar lagi aku... Astaghfirullah!!!" Adnan terperanjat dari duduknya setelah mengingat sesuatu.
Indah pun terkesiap mendengar istighfar dan ekspresi Adnan.
"Ada apa kak?" Tanya Indah kaget.
"Aku sampai lupa kalau tadi meletakkan buku-buku teman kelasku di tangga depan ruang guru."
Indah ingat, sewaktu melihat Adnan dari lapangan, pria itu sedang membawa tumpukan buku ditangannya.
"Aku sangat khawatir ketika melihatmu pingsan, sampai tidak mempedulikan lagi apa yang ku bawa." Ucap Adnan begitu saja.
Beberapa detik kemudian...
"Eh..." Adnan yang sadar apa yang tadi ia ucapkan menjadi salah tingkah, dengan senyum kaku menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eehmm..." Indah menstabilkan tenggorokannya, semakin merasa gugup dengan keadaan ini, ia hanya bisa tertunduk.
"A... aku pergi dulu yah, mau mencari buku itu. Ka... kamu sudah merasa lebih baik kan? Tanya Adnan gugup.
"I... iya kak... a... aku sudah merasa lebih baik." Jawab Indah tak kalah gugupnya.
"Hhmm... aku keluar dulu, assalamualaikum." Pamit Adnan.
"Waalaikumsalam."
...***...
__ADS_1
Saat istirahat pertama...
"Sinta!"
Sinta yang sedang berdiri memandang keluar jendela kelasnya itu reflek ke arah sumber suara. Berbalik ke belakang dan terlihat Adnan yang sedang berada di luar kelasnya.
"Eh, kak Adnan." Ucapnya sembari berjalan menuju pintu kelas.
"Ada apa kak?" Tanya Sinta
"Ini , eemmm... Indah sudah pulang ke rumahnya yah? Tadi aku ke UKS mau lihat dia, tapi sudah tidak ada orang." Adnan bertanya ragu.
"Ohh... iya kak, tadi pihak sekolah menelpon mamanya Indah supaya menjemputnya pulang." Jawab Sinta.
"Hhmm... kalau begitu aku balik ke kelas dulu yah." Adnan sedikit cemas memikirkan gadis itu.
"Kak Adnan tidak perlu cemas, Indah baik-baik saja kak. Tadi dia maunya lanjut belajar saja, tapi aku yang maksa dia buat pulang dulu, supaya bisa istirahat di rumah. Takutnya dia malah pusing lagi kalau di kelas mendengarkan pelajaran yang bikin sakit kepala." Sinta tiba-tiba menjelaskan saat Adnan akan beranjak ke kelas namun dengan ekspresi wajah yang tidak tenang.
Merasa Sinta dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan, Adnan hanya tersenyum kikuk. Cukup malu karena ketahuan namun juga merasa lega karena Indah baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya." Ucap Adnan salah tingkah
Sinta membalas dengan senyuman.
Setelah Adnan pergi...
"Ada-ada saja kak Adnan ini, kalau khawatir mah bilang aja, pakai malu-malu lagi, hihii..." Sinta terkekeh mengingat ekspresi Adnan yang tadi salah tingkah.
...***...
Tok... tok... tok
"Indah..." Panggil Bu Dania dari luar.
"Iya Ma, dibuka aja, pintunya tidak terkunci kok." Jawab Indah.
Perlahan Bu Dania membuka pintu kamar anaknya itu. Terlihat Indah sedang berbaring dengan sebuah novel ditangannya.
Bu Dania berjalan masuk dan memilih duduk di tepi tempat tidur Indah. Yah, hari ini ia meminta izin di kantor saat mendapat telepon dari pihak sekolah bila anaknya itu pingsan.
"Kamu nih, mama kan suruh istirahat bukan baca novel." Seraya mengelus rambut Indah.
"Ini Indah lagi tiduran Ma, kan istirahat juga." Ucap Indah dengan pandangan masih ke arah bukunya.
"Iya, tapi yang mama maksud itu kamu tidur indah, jangan ngapa-ngapain lagi. Nanti kepala kamu sakit lagi loh kalau tiduran begitu sambil baca buku." Bu Dania mencubit pipi Indah, merasa gemas dengan anaknya itu.
"Iya Ma, sebentar lagi yah. Nanggung ini, Indah selesaikan dulu satu bab. Hehe.."
"Dasar..." Bu Dania tersenyum kemudian memilih untuk bersandar pada headboard tempat tidur Indah.
"Sayang, memangnya kamu tadi mikirin apa sampai melamun saat praktik itu?" Bu Dania kembali membuka percakapan setelah beberapa menit suasana tampak senyap.
__ADS_1
"Melamun? Mama tau dari mana kalau Indah melamun?" Indah spontan menjawab dan mengakui dirinya sendiri yang melamun saat praktik hingga bola mengenai dirinya.
"Eh... siapa yang bilang Indah melamun. Indah cuma tidak perhatikan bolanya saja ma." Elak Indah saat sadar ia sudah salah menjawab pertanyaan Bu Dania.
Terlihat ia sudah tidak fokus lagi dengan bukunya.
"Ih, anak mama udah pintar bohong yah, orang tadi Sinta yang bilang ke mama."
"HAH!!! Sinta!? Sinta bilang apa ke mama?" Indah yang panik reflek bangun dari tidurnya, ikut menyandarkan dirinya pada headboard. Memandang Bu Dania dan menunggu jawaban dengan jantung yang berdegup kencang.
Bukan apa-apa dia hanya merasa sangat panik jangan sampai Sinta keceplosan lagi seperti kejadian waktu di UKS.
"Eh, kenapa kamu jadi kaget begini nak?" Bu Dania sedikit terkejut dengan Indah yang tiba-tiba seperti melompat duduk di sampingnya.
"Hhmm... hehe tidak Ma. Cuma mau tahu aja." Indah yang terlihat salah tingkah hanya bisa tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya.
"Dia cuma bilang tadi kamu tidak fokus waktu praktik dan malah melamun. Jadi kenna bola kan!" Bu Dania menjelaskan.
"Huffftt.... syukurlah." Indah berucap pelan sambil menghembuskan nafas lega, mengelus dadanya.
"Syukur? Syukur kenapa Indah?" Bu Dania menjadi heran melihat tingkah putrinya itu.
"Emm.... gak kok Ma." Indah kembali tersenyum kaku.
"Tapi kenapa kamu melamun? Hhmm.... apa sedang melamunkan seseorang? Atau lagi liatin seseorang? Hhmm... hhmm..." Bu Dania menggoda Indah dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Indah yang merasa ketahuan hanya bisa berusaha kembali mengelakkan rasa gugupnya dibalik buku yang masih ia pegang.
"Ayo mengaku, atau jangan-jangan kamu tidak fokus praktik karena sedang melihat kakak kelasmu yang ganteng itu yah?" Bu Dania kembali mencolek pipi kiri Indah dengan satu jarinya.
"Ih... mama, apaan sih. Kakak kelas yang mana lagi..."
"Itu, anak laki-laki yang ada di ruang BK waktu mama di sana."
Indah kembali mengingat kejadian itu, hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Eh, anak mama kok malah melamun sih." Bu Dania menepuk pelan pipi Indah.
"Tidak Ma, hanya mengingat kembali kejadian itu, Indah...."
"Sudah sayang, yang sudah berlalu jangan biarlah berlalu. Maaf yah, mama jadi mengingatkan kamu pada hal buruk itu. Jangan sedih lagi yah...." Bu Dania merengkuh tubuh putrinya ketika melihat raut kesedihan di wajahnya.
"Iya Ma."
Mereka berdua kembali hanyut dalam kasih sayang antara Ibu dan anak.
Beberapa saat kemudian...
"Jadi, siapa nama kakak kelasmu itu, Hah?"
"Ihh... mama, mulai lagi deh." Indah kembali memeluk Ibunya dengan erat.
__ADS_1