Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Perhatian Roy


__ADS_3

“Lakukan tugas kalian sekarang!” Perintah Jayadi pada seseorang di seberang telepon.


“Baik Tuan.” Jawabnya.


Malam semakin larut, Adnan masih setia menunggu dengan melihat langit-langit kamar Indah yang sudah gelap karena lampu yang ia matikan. Hanya menyisakan lampu belajar kecil yang masih menyala dengan remangnya cahaya yang dihasilkan.


Sementara David asyik bermain dengan ponselnya, namun ia tetap awas dengan keadaan di sekitarnya. Cowok itu masih setia di ruang tamu, terus duduk di sana, mendengarkan perintah Adnan untuk melarangnya berbaring. Lampu-lampu di rumah itu pun sudah di matikan, hanya menyisakan lampu teras rumah yang masih menyala dengan terang.


Tepat pukul 01:15 pagi…


Adnan dan David masih terjaga. Sesekali mereka saling berkirim pesan untuk mengetahui bagaimana keadaan di sekitar mereka, tentu saja dengan ponsel mereka yang sudah di silent.


Tiba-tiba David mendengar suara sebuah mobil yang sepertinya berhenti tepat di depan rumah Indah. Ia yang masih berada di ruang tamu itu, dengan hati-hati melihat dari balik jendela.


Rupanya benar, mobil hitam itu berhenti di sana, David melotot kan matanya saat melihat tiga pria dewasa turun dari mobil tersebut. Dengan memakai topi dan jas hitam.


“Tenyata memang benar, ada yang tidak beres dengan hilangnya tante Dania.” David berkata pelan.


Ia lalu mengirimkan Adnan pesan dan memberitahu keadaan yang terjadi.


[Waspadalah, misi kita di mulai.]


Mendapat pesan tersebut, Adnan lalu berbaring membelakangi arah pintu, dengan masih mengenakan mukenah Indah.


[Berhati-hatilah, dan jalankan rencana kita]


“Bismillah, ya Allah jagalah aku dan David.” Do’a Adnan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


“Ayo Vid, malam ini kita akan bermain dengan mereka, salam karate!” David bersemangat.


...***...


Malam itu Asisten Roy masuk ke kamar Sarah, membawakannya beberapa lembar pakaian yang terlihat sangat Indah dan mahal.


Roy menatap Sarah yang masih tertidur, setelah dokter mengobati semua luka-lukanya tadi. Lelaki itu melihat dengan seksama, ia mendekat, sebuah senyum terukir di bibirnya.


“Mengapa aku merasa tenang saat melihatmu nona Sarah? Sejak kita pertama bertemu di kantor. Aku terus memikirkan dirimu. Apa yang telah kau lakukan padaku? Hingga hatiku begitu tersayat saat Tuan Jayadi menyakitimu? ini perasaan apa?” Roy berkata lirih masih memandang wajah damai Sarah.


Namun tiba-tiba, Sarah terbangun…


Ia begitu terkejut melihat Roy yang sekarang terduduk di samping tempat tidurnya.


“A… apa yang ka… kamu lakukan?” Sarah reflek mundur ketakutan, menarik selimut lebih tinggi menutupi badannya.


“Te… tenanglah nona, nona Sarah tidak perlu takut. Aku tidak ingin berbuat jahat kepada nona. Aku datang ke sini hanya untuk memberikan baju ini.” Roy memperlihatkan beberapa baju yang tergantung.


Meski baju itu sangat Indah dan pastinya begitu mahal, ia sama sekali tidak tertarik. Baju itu tampak sangat terbuka. Mirip dengan gaun yang selalu ia pakai.


“Bawa saja kembali, aku tidak ingin memakainya.” Sarah menunduk, wanita itu tampak sedih.

__ADS_1


“Pakailah nona, aku tidak mau jika kamu sampai di pukul lagi oleh Tuan Jayadi.” Roy menyarankan.


“Apa hubungannya denganmu? Biarkan saja dia memukulku, bahkan jika dia ingin membunuhku sekalipun aku tidak peduli. Hidupku sudah tidak berarti. Dan berhenti memanggilku nona, aku benci mendengarnya!” Marah Sarah.


“Jangan mengatakan itu Sa… Sarah.”


Sarah menatap lelaki yang kini tengah berdiri di depannya itu.


“Hidupmu sangat berarti, kau hanya sedang berada di tempat yang salah. Jangan pernah putus asa, dan yakinlah akan


ada jalan keluar dari semuanya.”


“Jangan berpura-pura bersikap baik padaku, kau sama bejatnya dengan bosmu itu.”


“Iya, aku memang bukan lelaki yang baik, tapi aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu maupun Dania. Aku hanya menjalankan perintah dari bosku.”


“heh… lalu apa bedanya?”


Roy terdiam mendengarnya.


Ia sadar, apa yang ia lakukan memang salah, awalnya ia hanya mengira kalau bosnya itu hanya akan membalaskan dendamnya tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Ia tidak mengira kalau bosnya itu akan melakukan semua ini? Berniat membunuh seseorang, bahkan melecehkan seorang wanita. Sungguh, ia sangat menyesal akan semua yang terjadi.


“Kalian semua hanya tahu bagaimana cara membunuh dan melecehkan seorang wanita, kalian semua tidak memiliki hati, pengecut!” Sarah menangis.


Roy yang tidak tahan melihatnya itu, segera meninggalkan Sarah, keluar dari kamar tersebut.


“Maafkan aku, Sarah…” Roy bersandar di balik pintu kamar Sarah.


...***...


Dania yang sedang asyik memandang langit sedikit terkejut dengan kehadiran nenek.


“Eh, nek…” Tersenyum.


“Aku belum mengantuk.” Jawabnya.


“Tapi kamu harus tidur, pagi-pagi sekali kan, kamu dan Farid akan ke kota.” Nenek ikut duduk di tempat tidur itu.


Lagi-lagi Dania mengukir senyum lebar, ia kembali menatap jendela kayu di sana, yang dengannya bisa memperlihatkan gugusan langit yang Indah.


“Aku begitu senang, hingga aku tidak bisa tidur nek, aku tidak sabar menantikan hari esok.”


Nenek juga ikut senang mendengarnya, memegang tangan Dania dengan hangat.


“Kalau nanti kamu sudah sampai di kota, kamu jangan melupakan nenek dan kakek di sini yah…” Nenek berkata sedih.


Mendengar itu, Dania membalas genggaman tangan nenek.


“Nenek ini berkata apa? Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan kalian semua, nenek, kakek, dan Farid. Nenek dan kakek sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri.” Dania tersenyum.

__ADS_1


Nenek mengangguk, air matanya jatuh, namun wanita tua itu dengan cepat menghapusnya.


“Kamu tahu ndo, dulu nenek juga punya seorang anak perempuan yang cantik, lebih tua darimu. Berapa umurmu sekarang ndo? Tanya nenek.


Dania mulai tertarik dengan cerita sang nenek.


“Kalau anak nenek sudah berumur 48 tahun.” Wanita tua itu tampak sedih karena kembali teringat anaknya.


“Lalu di mana anak nenek sekarang?” Tanya Dania hati-hati.


“Dia sudah tenang di sana ndo.” Nenek melihat ke arah jendela, di antara langit malam itu.


Dania turut sedih mendengarnya.


“Maafkan aku yah nek, kalau nenek jadi sedih."


Nenek kembali mengarahkan pandangannya pada Dania.


“Tidak apa-apa. Nenek sudah lebih lapang menerima semuanya.” Nenek kembali mengukir senyum. Meski air mata kesedihannya belum sepenuhnya hilang dari pipi yang telah keriput di makan usia.


“Kalau aku boleh tahu, apa yang terjadi dengan anak nenek?”


“Dia meninggal sewaktu ia melahirkan Farid, dia mengalami pendarahan. Di desa ini hanya ada alat-alat sederhana, tidak seperti di kota yang pasti banyak alat canggih di sana. Saat kami ingin membawanya ke kota, dia sudah pergi.”


Dania sangat prihatin mendengarnya.


“Anak nenek pasti adalah wanita yang sangat baik dan cantik, sehingga ia bisa melahirkan seorang anak yang berbudi luhur seperti Farid.”


Nenek tersenyum mengangguk.


“Kamu memang benar ndo, nenek sangat bersyukur memiliki Farid, dia adalah kebanggaan kami. Anak yang sangat berbakti, sopan dan baik hati.”


“Dan ayahnya nek? Ke mana ayah Farid? Ayahnya juga pasti sangat tampan, karena itu Farid juga memiliki wajah yang menawan.”


Nenek terdiam.


“A… ada apa nek?”


“Kalau nenek tidak ingin cerita tidak apa-apa.”


Dania menatap nenek lekat.


“Kamu sudah seperti keluarga juga bagi kami ndo.”


Dania mengangguk mendengarnya.


“Setelah anak nenek meninggal, ayah Farid merantau ke kota. 3 tahun merantau di sana, dia sudah mendapatkan pekerjaan yang baik apalagi meskipun dia tinggal di desa, dia adalah lelaki yang berpendidikan. Dan 3 tahun pertama itu juga dia selalu mengirim surat, ataupun uang untuk Farid. Namun setelah itu ia menghilang.”


“Maksud nenek?”

__ADS_1


“Yah, setelah itu ia tidak mengabari kami lagi, dia tidak pernah lagi mengirimkan surat kepada kami. Kami sudah mencoba mencarinya ke kota, karena kasihan melihat Farid yang juga merindukan orang tuanya. Kami mencarinya berdasarkan alamat surat terakhir yang dia kirim. Tapi hasilnya tidak ada… sampai sekarang kami tidak pernah bertemu dengannya lagi."


"Gemerlapnya kota dan kehidupan senang di kota mungkin sudah membuatnya lupa dengan anaknya yang ada di desa kecil ini.” Tersirat kemarahan dalam nada bicara nenek.


__ADS_2